B. Analisis MICMAC (Matrix of Cross Impact Multiplications Applied to a
1. Direct Influence/Dependence Map
Indikator yang dianggap sebagai faktor kunci ditentukan berdasarakan keberadaan atau letak setiap indikator, pada kuadran yang ditunjukkan dalam Direct Influence/Dependence Map. Indikator yang berada pada Kuadran I menjadi faktor atau variabel yang dicari dalam penelitian, karena dianggap sebagai faktor kunci, atau dapat diasumsikan sebagai Variabel X dalam suatu penelitian. Berikut ini hasil Direct Influence/Dependence Map yang diperoleh dari 3 Provinsi:
Gambar 4. 2 Direct Influence/Dependence Map
Provinsi Jawa Barat
Gambar 4. 3 Direct Influence/Dependence Map
Provinsi Jawa Timur
Sumber: MICMAC Sumber: MICMAC
106
Gambar 4. 4 Direct Influence/Dependence Map Provinsi Jawa Tengah
Sumber: MICMAC
a. Kuadran I
Berdasarkan hasil penelitian yang diolah melalui MICMAC seperti yang terlihat pada Gambar 4.2, Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 menunjukkan bahwa secara umum setiap wilayah memiliki beberapa faktor kunci yang hampir serupa, yang ditunjukkan pada Kuadran I. Secara keseluruhan terdapat 7 faktor yang dianggap dapat mempengaruhi pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua. Ketujuh faktor tersebut terdiri dari Pendapatan Per Kapita (Pdkap), Sumber Penghasilan Utama (SPU), Jumlah Penduduk (JP), Pertumbuhan Penduduk (PP), Transportasi Publik (TP), Aksesibilitas Wilayah (Akses) dan Topografi Wilayah (TW).
1) Pendapatan Per Kapita (Pdkap)
Faktor kunci yang pertama adalah Pendapatan Per Kapita (Pdkap) yaitu sebuah indikator yang dapat dilihat melalui PDRB Per Kapita, sehingga dapat digunakan untuk melihat gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh penduduk di suatu wilayah. Dengan adanya pendapatan perkapita yang tinggi, cenderung akan mendorong naiknya tingkat konsumsi perkapita, sehingga menyebabkan sebuah kondisi dimana permintaan atas barang manufaktur dan jasa menjadi lebih tinggi dibandingkan permintaan terhadap produk pertanian (Todaro, 2000).
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat penelitian yang dilakukan oleh (Amin et al., 2017), yaitu dengan semakin tingginya Pendapatan Per Kapita
107
dapat menyebabkan semakin meningkatnya daya beli masyarakat pada kendaraan bermotor roda dua.
Dengan begitu, Pendapatan Per Kapita yang terus meningkat juga dapat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat Pulau Jawa, khususnya konsumsi kendaraan bermotor roda dua yang saat ini menjadi salah satu transportasi yang telah melekat di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah kendaraan bermotor roda dua, seiring dengan terjadinya peningkatan pendapatan per kapita pada ketiga Provinsi di Pulau Jawa seperti yang terlihat pada Gambar 4.5 dan 4.6.
Gambar 4. 5 Pendapatan Per Kapita ADHK (Ribu Rupiah) Pada 3
Provinsi Tahun 2017-2018
Gambar 4. 6 Jumlah Kendaraan Bermotor Roda Dua (Unit) Pada 3
Provinsi Tahun 2017-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Sumber: Statistik Transportasi Darat, Badan Pusat Statistik, diolah
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Kresnanto, 2019) bahwa model pertumbuhan sepeda motor di Pulau Jawa, memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan Pendapatan Per Kapita. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika terjadi peningkatan Pendapatan Per Kapita, maka jumlah kepemilikan sepeda motor juga ikut mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena di sebagian wilayah dengan penduduk yang memiliki PDRB
27970.92 37724.29 26088.91
29161.39 39588.24 27287.37
J A W A B A R A T J A W A T I M U R J A W A T E N G A H
2017 2018
9556210 14258074 14337648
10899031 18016051 15069428
J A W A B A R A T J A W A T I M U R J A W A T E N G A H
2017 2018
108
Per Kapita kurang dari 45 juta per tahun, masyarakatnya masih memiliki keinginan yang tinggi untuk memiliki kendaraan bermotor roda dua.
Disisi lain, wilayah dengan penduduk yang memiliki PDRB Per Kapita lebih dari 45 juta per tahun, rata-rata telah memiliki kendaraan bermotor roda dua lebih dari 1 dan tidak lagi berkeinginan untuk menambah sepeda motornya. Hal ini dikarenakan ketika semakin tinggi tingkat pendapatan, masyarakat cenderung memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor roda empat (mobil), dibandingkan untuk menambah kendaraan bermotor roda duanya.
Jika mengacu pada Gambar 4.5 dan 4.6 terlihat bahwa Provinsi Jawa Timur yang memiliki Pendapatan Per Kapita tertinggi, menjadi wilayah dengan jumlah kendaraan bermotor roda dua paling banyak dan terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya Pendapatan Per Kapita. Sama halnya dengan yang terjadi pada Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, yaitu pada saat terjadi peningkatan Pendapatan Per Kapita, diikuti dengan pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua di kedua wilayah.
Kondisi ini dapat terjadi karena kepemilikan sepeda motor, marak digunakan oleh masyarakat dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah dan sederhana, hal ini sejalan dengan penelitian (Law et al., 2015). Namun ketika terjadi peningkatan pendapatan, maka daya beli masyarakat juga ikut mengalami peningkatan. Sehingga pada wilayah dengan pendapatan yang tinggi, memungkinkan masyarakat untuk memiliki mobil karena prestise, kenyamanan dan keamanan saat digunakan. Walaupun begitu, bagi masyarakat Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan juga Jawa Tengah, kendaraan bermotor roda dua tetap menjadi transportasi andalan, terutama dalam menempuh perjalanan jarak dekat dan keterjangkauan harga yang dapat diakses oleh masyarakat berbagai kalangan. Hal tersebut juga sejalan dengan yang dipaparkan dalam penelitian (Wen et al., 2012).
Jika mengacu kembali pada penelitian (Kresnanto, 2019), jumlah kendaraan bermotor roda dua masih dapat terus meningkat karena Pendapatan Per Kapita ketiga wilayah tersebut masih berada di bawah 45 juta per tahun. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor roda dua ini, menggambarkan bahwa minat
109
masyarakat dari ketiga Provinsi masih cukup tinggi terhadap kepemilikan kendaraan bermotor roda dua. Sehingga dapat dijelaskan mengapa Pendapatan Per Kapita menjadi salah faktor atau variabel kunci dalam penelitian.
2) Sumber Penghasilan Utama (SPU)
Sumber Penghasilan Utama (SPU) dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik dan jenis pendapatan penduduk di suatu wilayah. Sumber penghasilan penduduk yang beragam dan bervariasi, dapat mempengaruhi kemampuan atau daya beli individu yang berbeda-beda pula. Dengan sumber penghasilan yang berbeda, menyebabkan tingkat pendapatan yang diterima oleh masyarakat menjadi bervariasi.
Terdapat beberapa sumber penghasilan dengan tingkat pendapatan, yang tidak memungkinkan individu tersebut untuk memiliki kendaraan pribadi.
Namun disisi lain, individu yang memiliki sumber penghasilan dengan tingkat pendapatan yang tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki kendaraan pribadi dalam melakukan perjalanan. Penelitian (Shen et al., 2016) juga menjelaskan bahwa pekerjaan dengan jadwal yang fleksibel, juga akan mempengaruhi kepemilikan dan penggunaan transportasi.
Seperti yang dibuktikan dalam penelitian (Imtiyas et al., 2019) bahwa jenis pekerjaan menjadi faktor yang paling berpengaruh, terhadap keputusan individu dalam menentukan pilihan transportasinya. Sama halnya dengan kasus yang terjadi di Pulau Jawa terutama pada Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah, bahwa jenis pekerjaan (sumber penghasilan utama) masyarakat dapat mempengaruhi persepsi individu dalam pemilihan moda transportasi.
Penduduk dengan pekerjaan yang memiliki pendapatan tinggi, mempunyai lebih besar kesempatan untuk menentukan moda transportasinya, tanpa mempertimbangkan berbagai aspek seperti aspek ekonomi. Namun penduduk dengan jenis pekerjaan yang memiliki pendapatan relatif terbatas, akan memilih moda transportasi yang lebih irit dan terjangkau seperti kendaraan bermotor roda dua.
110
Pada Provinsi Jawa Timur mayoritas penduduknya bekerja pada tiga jenis pekerjaan utama, yang mana bidang pertanian menjadi pekerjaan yang paling dominan yaitu dengan persentase mencapai 32,49%. Pekerjaan yang kedua adalah di bidang perdagangan dengan persentase mencapai 18,08% dan industri pengolahan yang mencapai 15,88%. Setiap kategori tersebut dapat menunjukkan kemampuan Provinsi Jawa Timur dalam penyerapan tenaga kerja, yang mana bidang pertanian masih menjadi pekerjaan dengan penyerapan tenaga kerja paling besar (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, 2018)
Jenis pekerjaan yang mendominasi di Provinsi Jawa Barat terdiri perdagangan besar dan eceran dengan persentase mencapai 22,24%, bidang industri pengolahan mencapai 20,93%. Serta bidang pertanian, kehutanan dan perikanan dengan persentase mencapai 13,81% (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa barat, 2018).
Sama halnya yang terjadi pada Provinsi Jawa Tengah, yaitu bidang pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan menjadi lapangan pekerjaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja, yang berhasil mencapai 24,38%.
Bidang yang kedua adalah industri pengolahan yang mencapai 21,78%, serta perdagangan besar dan eceran yang mencapai 18,69% (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2018). Berdasarkan ketiga Provinsi, dapat terlihat bahwa terdapat kemiripan jenis pekerjaan utama pada setiap Provinsi.
Dalam bidang pertanian, peran transportasi dibutuhkan untuk membantu proses pendistribusian dan pemasaran produk-produk hasil pertanian. Selain itu, terjadinya proses industrialisasi yang semakin meningkat juga mempengaruhi banyaknya jenis dan penggunaan transportasi yang digunakan untuk menunjang kegiatan industri. Kendaraan bermotor roda dua dipilih karena dianggap sebagai transportasi yang lebih terjangkau dan dapat diandalkan dalam berbagai kondisi jalan, seperti jalan yang sempit. Serta biaya bahan bakar yang lebih irit, sehingga dapat meminimalkan biaya angkut yang harus dikeluarkan.
Kondisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh (Salim, 2002) bahwa proses pemasaran hasil pertanian dan industrialisasi akan mempengaruhi
111
permintaan atas jasa angkutan transportasi. Seperti yang terjadi di Jawa Timur, yang mana terjadi kenaikkan harga
Oleh karena itu, sumber penghasilan utama (jenis pekerjaan) dapat mempengaruhi pertumbuhan transportasi, khususnya kendaraan bermotor roda dua di Provinsi-Provinsi yang berada di Pulau Jawa.
3) Jumlah Penduduk (JP)
Faktor kunci yang ketiga adalah Jumlah Penduduk (JP) yaitu untuk melihat apakah banyaknya penduduk akan mempengaruhi jumlah kendaraan bermotor roda dua di suatu wilayah. Mengacu pada penelitian (Amin et al., 2017), bahwa banyaknya penduduk di suatu wilayah, memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua. Artinya, semakin banyaknya jumlah penduduk maka jumlah kendaraan bermotor roda dua juga akan semakin bertambah.
Kondisi ini dapat terjadi karena semakin banyaknya jumlah penduduk disuatu wilayah, maka akan mempengaruhi banyaknya jumlah angkutan transportasi yang dibutuhkan (Salim, 2002). Begitu pula dengan pertumbuhan transportasi, khususnya kendaraan bermotor roda dua yang terjadi di Pulau Jawa.
Pola pertumbuhan dan kebutuhan transportasi yang mengikuti keberadaan jumlah penduduk, menjadikan Pulau Jawa sebagai Pulau dengan jumlah kendaraan bermotor roda dua paling banyak di Indonesia. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa sebanyak 56,46% penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2019) .
Gambar 4. 7 Jumlah Penduduk dan Volume Kendaraan Bermotor Roda Dua Menurut Provinsi
0 10000000 20000000 30000000 40000000 50000000 60000000
Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah 2016 2017 2018 KBM Roda Dua 2018
112
Sumber: Publikasi Dalam Angka, Badan Pusat Statistik, diolah
Pada Gambar 4.7 dapat terlihat bagaimana kondisi pertambahan jumlah penduduk selama 3 Tahun terakhir. Terlihat bahwa pada ketiga Provinsi penelitian, jumlah penduduk terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Dengan semakin banyak penduduk, maka akan semakin banyak pergerakkan yang terjadi dan berdampak terhadap permintaan transportasi. Terjadinya peningkatan konsumsi transportasi akan berdampak kepada volume kendaraan dan kondisi lalu lintas yang semakin padat.
Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan pertambahan populasi penduduk paling banyak, dibandingkan kedua Provinsi lainnya. Namun uniknya, Provinsi Jawa Barat berada di urutan ketiga sebagai wilayah dengan volume kendaraan yang lebih rendah dibandingkan kedua Provinsi lainnya. Fenomena ini dapat terjadi karena didukung oleh keberadaan transportasi publiknya.
Berbeda dengan kedua Provinsi lainnya, yang masih perlu banyaknya peningkatan penggunaan transportasi publik.
Jika pertambahan penduduk tidak disesuaikan dengan fasilitas penunjang seperti peningkatan penyediaan dan layanan transportasi publik, maka masyarakat akan cenderung untuk menggunakan kendaraan pribadi. Masyarakat cenderung akan beralih dengan transportasi yang efisien dan terjangkau, seperti kendaraan bermotor roda dua. Dengan begitu, volume kendaraan akan semakin bertambah dan kondisi lalu lintas menjadi semakin padat.
Oleh karena itu, tidak heran jika Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah yang menjadi 3 Provinsi dengan kepemilikan kendaraan bermotor roda dua paling banyak di Pulau Jawa. Ini dapat terjadi, karena ketiga Provinsi ini juga menjadi wilayah dengan populasi penduduk terbanyak dan terpadat di Pulau Jawa. Sehingga jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang dianggap dapat mempengaruhi pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua di Pulau Jawa.
4) Pertumbuhan Penduduk (PP)
Pertumbuhan Penduduk (PP), merupakan indikator yang dapat menunjukkan perubahan populasi penduduk di suatu wilayah. Sehingga
113
nantinya dapat menggambarkan bagaimana dan berapa besar perubahan penduduk yang terjadi dari waktu ke waktu. Sama halnya dengan pertambahan jumlah penduduk, tingginya laju pertumbuhan penduduk juga dapat mempengaruhi banyaknya transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Penelitian (Riley, 2002) menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk memiliki dampak yang besar terhadap banyaknya jumlah kendaraan di negara-negara berkembang. Hal tersebut terjadi karena umumnya negara-negara berkembang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi. Sehingga pertumbuhan penduduk, dapat mempengaruhi banyaknya volume kendaraan di negara tersebut.
Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, membuat kebutuhan mobilitas setiap individu juga akan semakin meningkat. Sejalan dengan pendapat (Salim, 2004 dalam Rakhmawati & Sasongko, 2017), bahwa pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi jumlah permintaan atas jasa transportasi yang dibutuhkan, untuk membantu mobilitas sehari-hari.
Padatnya penduduk di Pulau Jawa tidak dapat terhindar dari pertumbuhan penduduk yang selalu terjadi, dari waktu ke waktu. Provinsi Jawa Barat sendiri memiliki “ PR” dalam pengendalian penduduk, karena laju pertumbuhan penduduk di Jawa Barat itu sendiri tergolong cepat. Kondisi ini sesuai dengan proyeksi bahwa akan terjadinya bonus demografi di Tahun 2020-2030.
Pertumbuhan penduduk di Jawa Barat selama 2010-2018 mencapai 1,49 %.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi menggalakan beberapa program pengendalian laju pertumbuhan penduduk seperti KKBPK, yaitu sebuah Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga yang direncanakan pada Tahun 2019.
Hal serupa juga terjadi di wilayah Jawa Tengah. Permasalahan pertumbuhan penduduk menjadi salah satu topik yang perlu diperhatikan. Sejak Tahun 2010-2018 pertumbuhan penduduk Jawa Tengah mencapai 0,77 %. Begitu pula dengan pertumbuhan penduduk di Jawa Timur yang berada diurutan ketiga dibandingkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pertumbuhan penduduk sejak Tahun 2010-2018 mencapai 0,63 %.
114
Persentase pertumbuhan penduduk di Jawa Tengah dan Jawa Timur memang tidak setinggi beberapa Provinsi lainnya. Namun karena pertumbuhan penduduk terus terjadi pada wilayah tersebut, kemudian berdampak terhadap tingkat konsumsi dan pergerakkan masyarakat. Sehingga mempengaruhi kebutuhan atas transportasi, salah satunya jenis kendaraan bermotor roda dua.
Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian (Wijanarko & Ridlo, 2017) yang jmenyatakan bahwa, seiring dengan terjadinya pertumbuhan penduduk mempengaruhi perkembangan kegiatan usaha yang ada di Kota Semarang.
Seperti berkembangnya kegiatan perdagangan, pariwisata, industri dan lain-lain.
Hal tersebut menyebabkan semakin tingginya aktivitas yang melibatkan peran transportasi, sehingga volume kendaraan yang dibutuhkan juga ikut mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya aktivitas dan pertumbuhan penduduk.
5) Transportasi Publik (TP)
Ketersediaan transportasi publik disuatu wilayah dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong semakin maraknya penggunaan kendaraan pribadi.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa variabel transportasi publik menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan kendaraan bermotor roda dua di Pulau Jawa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wen et al., 2012), menunjukkan bahwa pelayanan transportasi publik, memiliki hubungan negatif dengan kepemilikan kendaraan bermotor roda dua. Jika semakin nyaman sistem pelayanan transportasi publik yang tersedia, maka dapat mengurangi kepemilikan dan penggunaan kendaraan bermotor roda dua.
Saat penyediaan layanan transportasi publik transportasi publik sudah tersedia dengan baik, maka penggunaan transportasi publik di wilayah tersebut juga akan meningkat. Hal ini serupa dengan yang disampaikan dalam penelitian (Hsu et al., 2007). Dengan meningkatnya penggunaan transportasi publik, maka dapat mengurangi penggunaan dan kepemilikan sepeda motor di wilayah tersebut.
115
Gambar 4. 8 Persentase Ketersediaan Transprotasi Publik
Sumber: Profil Analisis Daerah, diolah
Nyatanya, kondisi yang terjadi pada ketiga Provinsi penelitian memiliki permasalahan yang sama yakni, persoalan daya saing transportasi publik yang selalu kalah dengan keberadaan penggunaan kendaraan bermotor roda dua. Jika dibandingkan dengan penggunaan transportasi publik, kendaraan bermotor roda dua dianggap sebagai kendaraan yang lebih ekonomis dan lebih efisien baik dari segi waktu ataupun biaya. Penyediaan transportasi yang belum maksimal seperti waktu kedatangan angkutan yang tidak pasti, membuat masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor roda dua agar dapat mencapai tujuannya dengan waktu yang diinginkan.
Mengacu pada Gambar 4.8 dapat terlihat bahwa Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah dengan ketersediaan transportasi publik yang paling rendah, jika dibandingkan dengan kedua Provinsi lainnya. Ketersediaan angkutan umum dengan trayek tetap hanya mencapai 34,22 % dan yang beroperasi setiap hari mencapai 45,94 %. Dengan kondisi tersebut, bukan hal yang mengejutkan jika Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah dengan volume kendaraan bermotor roda dua tertinggi di Pulau Jawa.
Kondisi serupa juga terjadi pada Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki ketersediaan angkutan umum dengan trayek tetap mencapai 50,15 % dan yang beroperasi setiap hari mencapai 58, 64 %. Ketersediaan transportasi publik di
0 20 40 60 80 100
Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah
Ketersediaan angkutan umum, dengan trayek tetap Ketersediaan angkutan umum, beroperasi setiap hari
116
Jawa Tengah terlihat lebih memadai dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur.
Dampaknya dapat terlihat dari volume kendaraan bermotor roda dua yang jauh lebih rendah, dibandingkan Jawa Timur.
Disisi lain Provinsi Jawa Barat berada diurutan ketiga dengan volume kendaraan bermotor roda dua yang lebih rendah dibandingkan kedua Provinsi lainnya. Hal ini didukung dengan persentase penyediaan transportasi publik yang lebih tinggi, yakni transportasi publik dengan trayek tetap mencapai 58,99
% dan yang beroperasi setiap hari mencapai 92,03 %. Dapat terlihat bahwa tingginya persentase transportasi publik yang beroperasi di Jawa Barat dapat membantu dalam mengendalikan volume kendaraan bermotor roda dua.
Walaupun tetap membutuhkan peningkatan layanan, agar semakin banyak masyarakat yang berminat menggunakan transportasi publik.
Gambar 4.8 membuktikan bahwa penyediaan layanan transportasi publik dapat mempengaruhi banyaknya volume kendaraan bermotor roda dua di suatu wilayah. Ditambah lagi masih adanya persepsi masyarakat bahwa masih minimnya keterpaduan antar transportasi publik di sebagian wilayah Pulau Jawa, sehingga mengharuskan penggunanya untuk berpindah-pindah dalam mengakses transportasi publik.
Oleh karena itu, ketersediaan dan pelayanan transportasi publik yang baik perlu ditingkatkan lagi, agar mampu mengubah persepsi masyarakat untuk lebih memilih menggunakan transportasi publik. Serta, dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama kendaraan bermotor roda dua di Pulau Jawa.
6) Aksesibilitas Wilayah (Akses)
Aksesibilitas Wilayah (Akses) yang baik dapat tercapai melalui peran prasarana (sistem jaringan jalan) yang memadai. Untuk melihat baik atau tidaknya tingkat aksesibilitas suatu wilayah, dapat dilihat dengan banyaknya sistem jaringan jalan yang tersedia di wilayah tersebut. Jalan menjadi infrastruktur dengan peran yang sangat penting, dalam menjamin kelancaran arus perpindahan atau transportasi di suatu wilayah.
117
Aksesibilitas wilayah itu sendiri merupakan sebuah kondisi dimana terdapat kemudahan atau kenyamanan suatu wilayah, dalam berinteraksi dengan wilayah lainnya. Kemudahan ataupun sulitnya suatu lokasi untuk dicapai, bergantung pada ketersediaan transportasi di wilayah tersebut (Black, 1981 dalam Andriansyah,2015).
Dengan ketersediaan jalan yang baik, tentunya akan memudahkan segala aktivitas, terutama dalam kegiatan perekonomian seperti distribusi barang dan juga jasa. Kondisi jalan yang baik akan memudahkan para pengguna jalan dalam mengakses suatu wilayah. Namun apabila suatu wilayah memiliki infrastruktur yang kurang memadai seperti jalan yang belum diaspal, terdapat banyak lubang dan kerikil, maka akan membahayakan para pengguna jalan dalam mengakses wilayah tersebut.
Permintaan atas transportasi itu sendiri hadir karena adanya kebutuhan seseorang untuk melakukan perjalanan dari suatu lokasi menuju lokasi tujuan (Setijowarno & Frazila, 2001). Sehingga untuk mencapai keinginan tersebut, diperlukan infrastruktur jalan yang baik, agar dapat mendukung pergerakkan masyarakat di wilayah tersebut.
Ketersediaan infrastruktur menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong produktivitas suatu wilayah. Dengan adanya dukungan dari sarana transportasi yang memadai, dapat membantu tercapainya pembangunan ekonomi di wilayah tersebut (Bappeda Provinsi Jawa Tengah, 2015).
Semakin baik infrastruktur jalan yang tersedia, maka para pengguna jalan akan menjadi lebih nyaman dalam berkendara. Begitu pun sebaliknya, apabila kondisi jalannya semakin buruk dan rusak, maka akan membuat pengguna jalan semakin tidak nyaman saat melalui jalan tersebut. Kondisi jalan yang kurang baik dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti kecelakaan yang diakibatkan jalan yang berlubang.
Hal ini bukan hanya berdampak pada kondisi fisik kendaraan saja, namun juga dapat membahayakan seluruh pengendara yang melalui jalan tersebut.
Terutama pengendara kendaraan bermotor roda dua yang memiliki risiko cedera lebih besar dibandingkan pengendara kendaraan bermotor lainnya.
118
Sejalan dengan yang terjadi di Pulau Jawa, terutama pada ketiga Provinsi penelitian seperti yang terlihat pada Gambar 4.7, menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki kondisi jalan yang rusak lebih banyak, memiliki risiko kecelakaan lalu lintas yang lebih besar.
Gambar 4. 9 Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan dan Jumlah Kasus Kecelakaan
Tahun 2018
Sumber: Statistik Transportasi Darat 2018, Badan Pusat Statistik (BPS), diolah
Provinsi Jawa Timur yang memiliki angka kecelakaan lalu lintas paling tinggi yaitu mencapai 24.757 kasus kecelakaan, sebagian besar disebabkan karena masih banyaknya jalan dalam keadaan yang berlubang yaitu sepanjang 9.023 km. Namun perbaikan yang dibutuhkan pada kondisi jalan di Provinsi Jawa Timur bukan hanya dalam hal penambalan jalan saja, tetapi juga perbaikan pada struktur jalan yang miring, pada tikungan jalan serta jalan yang melintasi jalur kereta api.
Provinsi dengan angka kecelakaan tertinggi kedua berada pada Provinsi Jawa Tengah, yang sejalan dengan keberadaan kondisi jalan yang rusak dan rusak berat sepanjang 6.679 km. Dari keseluruhan total kasus kecelakaan selama Tahun 2018 yang mencapai 19.191 kasus, sebagian besar disebabkan oleh kondisi jalan yang rusak dan terjadi pada pengendara kendaraan bermotor roda dua.
21721 23328
31940
5824 7602 6679 9023
19191 24757
J A W A B A R A T J A W A T E N G A H J A W A T I M U R Baik Rusak Kasus Kecelakaan
119
Permasalahan kondisi jalan yang rusak juga terjadi di Provinsi Jawa Barat, bukan hanya menyebabkan kecelakaan lalu lintas, namun juga mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat. Sebanyak 7.602 kasus kecelakaan terjadi sepanjang Tahun 2018 di Provinsi Jawa Barat, dengan kondisi jalan rusak dan rusak berat sepanjang 5.824 km. Akibat kondisi jalan yang berlubang,
Permasalahan kondisi jalan yang rusak juga terjadi di Provinsi Jawa Barat, bukan hanya menyebabkan kecelakaan lalu lintas, namun juga mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat. Sebanyak 7.602 kasus kecelakaan terjadi sepanjang Tahun 2018 di Provinsi Jawa Barat, dengan kondisi jalan rusak dan rusak berat sepanjang 5.824 km. Akibat kondisi jalan yang berlubang,