BAB II MEDIA SOSIAL
B. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Konsep Toleransi
3. Diskusi Mutakhir tentang Konsep Toleransi
Beberapa peneliti Barat telah melakukan rekonstruksi atas konsep toleransi karena konsep-konsep yang telah dipaparkan sebelumnya dianggap belum memadai dan perlu ditinjau ulang. Berikut uraian dari beberapa penelitian tersebut:
a. A New Approach to the Study of Tolerance
Penelitian berjudul lengkap A New Approach to the Study of Tolerance: Conceptualizing and Measuring Acceptance, Respect, and Aprreciation of Difference ini disusun oleh Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, dan diterbitkan dalam Social Indicators Research pada tahun 2020.
Sebelum memaparkan tawaran mengenai konsep baru toleransi, penelitian ini terlebih dulu menguraikan dua konsep sebelumnya, sebagai berikut:
190Konstantin Dmitrievich Goncharenko, Alexander Ardalionovich Taradanov, dan Anastasia Aleksandrovna Gizatulina, “Concept and Structure of Tolerance,”h. 89-90.
191Bertelsmann Stiftung, “A Modern Concept of Tolerance; Basis for Democratic Interaction in Pluralistic Societies,” dalam Trilogue Salzburg, h. 4.
192Anna Petrikova, dkk., “Intercultural Aspects of Concept ‘Tolerance’ and Facilities of Creating Tolerant Academic Environment,”h. 293.
193Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance: Conceptualizing and Measuring Acceptance, Respect, and Aprreciation of Difference,” dalam Social Indicators Research, 2020, h. 897-898.
1) Konsep Pertama
Pendekatan ini memahami torelansi sebagai sikap permisif terhadap kelompok luar yang tidak disukai. Dengan demikian, konseptualisasi ini dimulai dengan gagasan bahwa untuk menjadi toleran, seseorang harus berprasangka terlebih dulu.
Konsep pertama toleransi ini dapat diringkas dengan: Seseorang toleran jika ia tidak suka orang lain melakukan suatu hal. Seseorang ini memiliki sarana untuk mencegah orang itu melakukan hal tersebut, tetapi ia menahan diri untuk melakukannya. Oleh karena itu, untuk menoleransi seseorang atau sesuatu, pertama-tama seseorang perlu mengalami ketidaksetujuan atau ketidaksukaan, dan kemudian menunjukkan permisif atau penerimaan. Toleransi dalam pengertian ini menyiratkan kesabaran atau kesiapan untuk menghadapi apa yang tidak disukai.
Pemahaman tentang tolelansi ini secara teoritis bermasalah karena dua alasan. Pertama, menurut definisi ini, keberadaan toleransi tergantung pada keberadaan prasangka. Orang yang tidak berprasangka tidak mampu bersikap toleran, apalagi menjadi lebih toleran. Kedua, definisi ini mengecualikan reaksi terhadap keberadaan out-groups (di luar kelompok). Secara teori, seseorang harus dapat mencegah apa yang tidak disukai untuk menunjukkan toleransi. Karena keberadaan kelompok ras dan etnis berada di luar kendali seseorang, secara teoritis, menjadi tidak mungkin untuk toleran dalam keragaman ini.194
Di luar kekurangan teoritis ini, pemahaman tentang toleransi ini tentu mengarah pada kontinuitas empiris pada toleransi dan prasangka. Banyak studi empiris tentang toleransi dimulai dengan asumsi bahwa kelompok-kelompok tertentu secara luas tidak disukai atau setidaknya dipandang skeptis.195
Singkatnya, pendekatan pertama untuk studi toleransi ini menjadikan prasangka sebagai prasyarat untuk toleransi. Jika ketidaksukaan terhadap kelompok luar merupakan prasyarat untuk toleransi, ini berarti bahwa secara teori seseorang tidak dapat toleran tanpa berprasangka di masa sebelumnya.196
2) Konsep Kedua
Pendekatan kedua yang digunakan sebelumnya untuk studi toleransi mendefinisikan toleransi sebagai respon positif terhadap keragaman itu sendiri.197
Konseptualisasi ini secara analitis berbeda dari prasangka karena tidak dimulai dengan ketidaksukaan terhadap suatu kelompok. Sebaliknya, ia berfokus pada reaksi subjektif terhadap keberadaan nilai, perilaku dan gaya
194Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,”h. 899-900.
195Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 900.
196Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 901.
197Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 901.
hidup yang beragam. Norris mendefinisikan toleransi sebagai kesediaan untuk hidup dan membiarkan hidup, untuk mentolerir beragam gaya hidup dan perspektif politik. Dunn dan selainnya mendefinisikan toleransi sebagai orientasi umum non-negatif terhadap kelompok di luar kelompoknya sendiri.198
Chong berpendapat bahwa berdasar konsepsi ini, adalah mungkin mentolerir hal-hal yang kita sukai. Jadi, toleransi bisa berupa menahan sesuatu atau bisa berupa menunjukkan penghargaan untuk sesuatu.199
Konsepsi ini menekankan reaksi terhadap keragaman tanpa secara khusus mengidentifikasi kelompok sosial yang terpinggirkan. Namun, beberapa definisi menyamakan definisi acceptance (penerimaan) dengan tolerance (toleransi), sementara beberapa definisi lain membedakan keduanya.200
Penelitian terdahulu dari tradisi ini gagal mengoperasionalkan toleransi dengan cara yang konsisten dengan definisinya sendiri. Studi-studi ini juga memasukkan prasangka ke dalam pengukuran toleransi mereka.201
Dengan memasukkan prasangka ke dalam pengukuran toleransi, studi-studi sebelumnya ini tidak menganalisis sikap tentang keberadaan keragaman dan juga tidak menyelidiki ‘orientasi terhadap kelompok di luar dirinya sendiri’. Sebaliknya, mereka mengukur kesediaan untuk menerima kelompok tertentu sebagai tetangga, yang tentu saja berbicara tentang bagaimana perasaan responden tentang kelompok ini dan bukan keragaman secara umum.
Peneliti berpendapat bahwa memasukkan unsur prasangka ke dalam makna dan ukuran toleransi telah membuat intoleransi dan prasangka secara konseptual dan empiris tidak dapat dibedakan. Namun, ada batasan lain terhadap dua pendekatan ini yang berasal dari kurangnya abstraksi. Pertama, menggunakan sikap tentang nilai-nilai tertentu, perilaku, gaya hidup, atau kelompok sosial sebagai indikator toleransi membuat sulit mempelajari toleransi secara longitudinal. Status kelompok sosial tertentu berubah dari waktu ke waktu karena sejumlah faktor, termasuk prasangka sosial. Norma tentang apa yang dapat diterima untuk dilakukan, dikatakan, atau diyakini juga berubah. Menghubungkan toleransi dengan sesuatu yang spesifik berarti kita hanya dapat mengukur apakah sikap positif atau negatif terhadap entitas tertentu telah berubah dari waktu ke waktu.202
198Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,”h. 901.
199Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 901.
200Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly“A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 902.
201Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, A
“A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 902.
202Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 902.
Kedua, dengan berfokus pada sikap terhadap kelompok sosial atau politik tertentu, penelitian sebelumnya sering menggabungkan keyakinan konservatif dengan intoleransi dan sikap liberal dengan toleransi.203
Ketiga, para cendekiawan yang berfokus pada sikap terhadap suatu kelompok tidak hanya menyamakan prasangka dengan toleransi, tetapi juga mengabaikan kemampuan orang untuk mendukung keragaman secara abstrak. Sniderman menyebut penolakan langsung terhadap toleransi berprinsip ini sebagai pandangan yang sangat sinis dan pesimistis tentang
‘kesediaan rata-rata warga negara untuk merangkul, tanpa pamrih dan secara konsisten, nilai dasar toleransi politik demokratis.’204
Akhirnya, sebagian besar penelitian empiris sebelumnya mengabaikan multidimensi toleransi. Meskipun penelitian teoritis tentang toleransi menekankan hal ini. Walzer berpendapat bahwa ada lima jenis toleransi yang bervariasi, dari penerimaan pasrah hingga dukungan estetika.
Senada dengannya, Forst mengklaim bahwa ada empat jenis toleransi, yang berkisar dari penerimaan hingga penghargaan. Persel dan selainnya berpendapat bahwa toleransi secara penuh memerlukan pengakuan dan penerimaan, sementara versi yang lebih rendah adalah ‘keengganan untuk secara terbuka mengungkapkan intoleransi.’ Meskipun definisi yang mencakup sejumlah cara toleransi dapat diekspresikan, analisis empiris selanjutnya memperlakukan toleransi sebagai konsep unidimensional.205
Singkatnya, studi toleransi sebelumnya mengalami satu atau lebih dari tiga masalah utama berikut:206
1) Tumpang tindih konseptual toleransi dan prasangka 2) Tumpang tindih operasional toleransi dan prasangka
3) Kurangnya abstraksi dalam konseptualisasi dan operasional toleransi Selain itu, penelitian empiris sebelumnya, sebagian besar, mengabaikan multidimensi toleransi, sesuatu yang ditekankan dalam karya teoretis.207
Setelah mengurai secara ringkas dua konsep toleransi yang sebelumnya digunakan secara luas, peneliti dalam hal ini kemudian menawarkan konsepsi baru dengan mendefinisikan toleransi sebagai orientasi nilai terhadap perbedaan. Pertanyaan mendasar bukanlah ‘apakah seseorang tahan dengan sesuatu yang tidak disukai’, tetapi ‘bagaimana seseorang menanggapi keberadaan keragaman itu sendiri’. Definisi ini abstrak dan secara analitis berbeda dari konsep lain. Fokus yang dituju adalah pada reaksi subjektif terhadap perbedaan. Dengan demikian, konseptualisasi ini tidak
203Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 902.
204Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly“A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 903.
205Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 903.
206Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,”h. 903.
207Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 903.
memerlukan ketidaksukaan atau identifikasi kelompok, gagasan, atau perilaku yang berpotensi tidak menyenangkan. Dalam praktiknya, definisi ini konsisten dengan pendekatan toleransi yang memasukkan kesabaran ke dalam definisinya.208
Definisi ini –orientasi nilai terhadap perbedaan– konsisten dengan pemahaman Walzer tentang toleransi sebagai sikap atau keadaan pikiran.
Konsepsi toleransi ini juga konsisten dengan penjelasan sebelumnya yang tidak melihat prasangka sebagai prasyarat untuk toleransi (seperti pendapat Allport, Chong, dan Walzer) dan menunjukkan bahwa beberapa ekspresi toleransi dimungkinkan. Untuk mengidentifikasi kemungkinan ekspresi toleransi yang berbeda, peneliti mengadaptasi empat dimensi Forst.
Pemilihan dimensi ini tidak lain karena perbedaan di antara berbagai jenis toleransi ditarik Forst dengan cara yang cocok untuk empiris.209
Menurut Forst (2017), ada empat pengertian toleransi dan masing-masing dapat hadir dalam suatu masyarakat pada waktu yang bersamaan.
Konsepsi pertama dan kedua saling terkait karena sama-sama memahami toleransi sebagai hubungan permisif antara kelompok yang berbeda. Dalam eskpresi toleransi ini, kelompok-kelompok tidak saling mencampuri, melainkan menerima keberadaan mereka. Perbedaan konsepsi pertama dan kedua adalah struktur masyarakatnya. Dalam konsepsi pertama, kelompok memiliki kekuatan yang tidak setara. Ada mayoritas yang menoleransi kelompok minoritas. Dalam versi kedua, kelompok-kelompok tersebut memiliki kekuatan yang kira-kira sama. Peneliti tidak ingin membedakan secara teoritis antara masyarakat dengan struktur sosial dan sistem stratifikasi yang berbeda, hingga keduanya digabung. Jadi, ekspresi toleransi yang paling mendasar diidentifikasi dengan ‘penerimaan perbedaan’.210
Dalam konsepsi toleransi ketiga Forst, individu menunjukkan rasa hormat terhadap keragaman dengan memandang kelompok yang berbeda sebagai sama secara moral dan politik meskipun mereka mungkin berbeda secara mental dalam keyakinan, praktik, dan gaya hidup.
Konsepsi keempat menunjukkan bahwa toleransi adalah penghargaan atau apresiasi terhadap keragaman. Menurut Forst, penghargaan adalah reaksi yang lebih menuntut terhadap keragaman daripada rasa hormat. Toleransi versi ini berarti memandang keyakinan, praktik, atau gaya hidup orang lain sebagai sesuatu yang berharga dan layak untuk dihargai secara etis meskipun berbeda dari miliknya sendiri.
Jadi, ekspresi toleransi kedua dan ketiga berdasar konsepsi ketiga dan keempat Forst tersebut adalah ‘respect for difference’ (menghormati
208Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 903.
209Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,” h. 904.
210Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,”h. 904.
perbedaan) dan ‘appreciation of difference’ (penghargaan terhadap perbedaan).211
Dengan demikian, hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, toleransi didefinisikan sebagai orientasi nilai terhadap perbedaan. Kedua, berdasarkan karya teoritis sebelumnya, diidentifikasi tiga ekspresi toleransi, yaitu penerimaan, penghormatan, dan penghargaan terhadap keragaman.
Konsepsi toleransi multidimensi yang didorong secara teoritis tersebut dapat dioperasionalkan dan diukur dengan cara yang berbeda dari prasangka atau konsep lainnya dengan melihat bagaimana reaksi terhadap keragaman itu sendiri, alih-alih sikap terhadap kelompok luar tertentu.
Dengan demikian, hal ini juga mengakui kapasitas orang untuk berpikir abstrak.212
b. Tolerance - A Culturally Dependent Concept?
Penelitian oleh Trond Jorgensen ini diterbitkan di Jurnal Fleks, jurnal Skandinavia tentang teori dan praktik antarbudaya, pada tahun 2014.
Secara umum, penelitian ini mendefinisikan toleransi dengan
‘menerima hak orang lain untuk menjalani kehidupan milik mereka dengan nilai-nilai mereka sendiri.213 Dikatakan, “Toleransi dikembangkan terkait kontras yang kuat terkait keyakinan dan klaim kebenaran. Toleransi tidak berarti kesepakatan atau persetujuan, tetapi ia menyiratkan penerimaan.
Karena itu, adalah hal yang memungkinkan untuk memegang keyakinan dan klaim kebenaran yang kuat dan tetap bersikap toleran. Voltaire pernah berkata, ‘Saya sangat tidak setuju dengan apa yang kamu katakan, tetapi saya mempertahankan denan hidup saya hakmu untuk mengatakannya.’ Toleransi tidak menuntut adanya kesesuaian atau konsensus. Namun, ia adalah cara menghadapi ‘kebenaran-kebenaran’ yang saling bertentangan.”214
Sebagaimana judulnya, salah satu topik utama yang dibahas oleh Trond Jorgenson dalam penelitian ini adalah toleransi sebagai konsep yang dependen, yakni konsep yang bergantung pada budaya.
Toleransi adalah persoalan di semua society (masyarakat), budaya, dan sistem politik. Apa yang harus dan tidak harus ditoleransi dipertaruhkan di seluruh dunia. Menurut Rainer Forst, toleransi adalah konsep dependen (yang bergantung) secara normatif.215
Toleransi terkait dengan filsafat liberal Barat. Namun, praktek toleransi selalu terjadi dalam konteks budaya dan moral tertentu. Bahkan
211Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,”h. 904.
212Mikael Hjerm, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly, “A New Approach to the Study of Tolerance,”h. 913-914.
213Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” dalam Fleks I, Tolerance no. 2, 2014, h. 5.
214 Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 6.
215Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 3.
ketika kita berusaha membangun konsepsi toleransi yang universal, nilai-nilai budaya juga terlibat.216
Budaya itu dinamis. Interaksi manusia mengarah pada negosiasi makna, dan budaya adalah hasil dari interaksi dari waktu ke waktu. Orang-orang yang berinteraksi dan berbagi hidup membutuhkan minimal kesepakatan umum untuk bisa berkomunikasi dan membentuk komunitas yang berfungsi. Setiap masyarakat memiliki variasi budaya internal. Namun, orang-orang yang berinteraksi lebih banyak akan berbagi lebih banyak nilai yang sama.217
Konsep toleransi tidak memiliki kriteria terikat untuk batasan pentoleransian karena dibutuhkan norma-norma eksternal yang menentukan apa yang harus dan tidak harus ditoleransi. Karena itulah Forst menyebut toleration sebagai konsep yang bergantung secara normatif.218
Toleransi bersifat netral, dalam arti ia membutuhkan norma-norma eksternal untuk menentukan batasnya. Toleransi adalah ‘culturally dependent concept’ (konsep yang bergantung pada budaya). Budaya adalah yang perlu ketika berurusan dengan toleransi. Ketika kita berusaha mengembangkan konsepsi toleransi yang universal, ia akan melibatkan nilai-nilai yang ditentukan secara budaya, dan oleh karena itu dapat dibantah.219
Selain itu, penelitian ini juga membahas secara khusus bagaimana hubungan antara toleransi dan hak asasi manusia (human rights).
Toleransi adalah suatu prasyarat bagi hak asasi manusia dan demokrasi. Hak asasi manusia dan toleransi sama-sama bertumpu pada pondasi martabat manusia dan penghormatan atas kebebasan berbicara, hati nurani, dan beragama. Toleransi sangat penting untuk kesehatan masyarakat yang pluralistik dan demokratis, dengan kebenaran, keyakinan, dan pilihan yang bertentangan, yang ingin diamankan oleh hak asasi manusia (Perserikatan Bangsa-Bangsa, 1948).220
Pasal pertama Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB menyatakan, “Semua manusia dilahirkan bebas dan setara dalam martabat dan hak. Mereka diberkahi dengan akal dan hati nurani dan harus memperlakukan satu sama lain dalam semangat persaudaraan.” (PBB, 1948).
Klaim bahwa kita dilahirkan bebas dan setara dalam martabat dan hak adalah dasar/pondasi bagi toleransi; Kita bebas membuat pilihan secara otonom.
Oleh karena itu toleransi diperlukan untuk menoleransi bahwa orang lain membuat pilihan yang bertentangan dengan pilihan kita. Dalam konteks liberal, jika seseorang tidak bebas memilih pemimpin, mengutarakan pendapat, dan menjalankan agama, berarti martabatnya sebagai individu dibatasi. Dengan demikian, kebebasan dan toleransi merupakan konsep kunci dalam wacana hak asasi manusia.221
216Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 3.
217Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 4.
218Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 5.
219Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 6.
220Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 7.
221Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 7.
Wacana hak asasi manusia juga terkait dengan toleransi karena ia dapat berfungsi sebagai seperangkat norma global yang mungkin memberikan batas-batas toleransi. Hak asasi manusia telah memperoleh status dan otoritas global yang tinggi dan mungkin yang paling dekat dengan norma universal umum saat ini.222
Jadi, toleransi dan hak asasi manusia berhubungan setidaknya dalam dua hal: hak asasi manusia membutuhkan konsep toleransi untuk memiliki makna praktis, dan wacana hak asasi manusia adalah pembawa potensial norma-norma umum untuk menentukan batas-batas praktis toleransi global.223
c. Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives Penelitian ini dilakukan oleh C. W. Von Bergen dan George Collier dari Southeastern Oklahoma State University. Penelitian ini memberikan gagasan baru mengenai konsep toleransi sebagai perbaikan dari konsep-konsep sebelumnya.
Sebagai pengantar, dikemukakan bagaimana konsep toleransi sebelumnya, “Konsep toleransi sering kurang mendapat pengakuan luas.
Colesante dan Biggs mencatat bahwa cendekiawan agama Barat masa awal, St. Augustine dan St. Thomas Aquinus, memandang toleransi sebagai sifat buruk yang dapat merusak masyarakat dan merugikan orang yang tidak bersalah. Belakangan, toleransi dipandang sebagai praktik permisif yang membiarkan seseorang, tindakan, atau sesuatu yang tidak disetujui.”224toleransi dianggap penting
Dalam memulai uraian tentang gagasan konsep barunya, peneliti mengemukakan bahwa sangat penting untuk melestarikan gagasan toleransi yang tidak ‘menahan’, yang menuntut terlalu sedikit, atau ‘penerimaan’, yang menuntut terlalu banyak. Mereka menawarkan toleransi yang menggabungkan kesopanan yang berada di jalan tengah antara interpretasi tradisional dan kontemporer. Pandangan ini melibatkan memperlakukan orang yang berbeda dengan kita bukan dengan penghargaan, penerimaan, atau dukungan, tetapi dengan kesopanan, martabat, dan kesopanan, bahkan ketika kita mengakui bahwa beberapa konflik dan ketegangan tidak dapat dihindari. Semua individu harus ditunjukkan rasa hormat dasar sebagai manusia bahkan jika mereka memegang keyakinan yang mungkin tidak dihargai orang lain, sebagaimana yang dikemukakan Ury (1999), “Toleransi adalah… menunjukkan rasa hormat terhadap kemanusiaan yang hakiki dalam diri setiap orang.225
Menolak ide atau praktik orang lain tidak boleh disamakan dengan tidak menghormati orang tersebut. Tidaklah pantas untuk menoleransi hal-hal seperti rasisme, seksisme, atau ujaran kebencian. Pandangan ini konsisten dengan konsep psikoterapis terkenal Albert Ellis tentang penerimaan orang
222Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 7.
223 Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 8.
224C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,”dalam Issue 1, h. 87.
225C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,” h. 91.
lain tanpa syarat, yang menyatakan bahwa seseorang tidak diharuskan untuk
‘menoleransi tindakan antisosial dan sabotase orang lain… Tapi Anda selalu menerima mereka, kepribadian mereka, dan Anda tidak pernah mengutuk diri mereka sepenuhnya. Anda mentolerir kemanusiaan mereka sementara tidak setuju dengan beberapa tindakan mereka.” Pengamatan Ellis konsisten dengan perspektif Kantian bahwa ‘manusia harus dianggap layak dihormati sebagai manusia, terlepas dari bagaimana nilai-nilai mereka berbeda dan apakah kita tidak menyetujui apa yang mereka lakukan. Hanya berdasarkan kemanusiaan mereka, semua orang memenuhi syarat untuk mendapatkan status martabat yang harus diakui semua orang.226
Toleransi seperti yang dianjurkan di sini mencakup kesopanan dan melibatkan memperlakukan orang lain dengan hormat dan bermartabat tanpa harus menyetujui atau menerima nilai-nilai, praktik, atau pentingnya praktik ini bagi cara hidup orang-orang yang terlibat di dalamnya.227
Toleransi yang terdiri dari kesopanan mengakui hak orang lain untuk memiliki dan mengekspresikan pendapat mereka. Jika individu dapat belajar untuk menghormati hak semua manusia untuk memiliki dan mengekspresikan pemahaman mereka tentang realitas, apakah mereka setuju atau tidak, maka setiap orang akan selangkah lebih dekat untuk hidup di dunia yang benar-benar dermawan. Orang dapat menghormati mereka yang memiliki keyakinan berbeda dengan memperlakukan mereka dengan sopan dan membiarkan pandangan mereka mendapat tempat dalam wacana komunitas. Orang-orang mungkin sangat tidak setuju dengan ide satu sama lain, dan dengan penuh semangat menentangnya di ruang publik, tetapi tetap menunjukkan rasa hormat terhadap individu terlepas dari perbedaan itu.228
Toleransi sebagai kesopanan tidak berarti menerima keyakinan orang lain; hanya haknya untuk memiliki keyakinan itu. Kita bisa sangat tidak setuju dengan ide atau perilaku orang lain dan secara paksa menentang mereka di ruang publik, tetapi kita tetap harus menunjukkan rasa hormat
Toleransi sebagai kesopanan tidak berarti menerima keyakinan orang lain; hanya haknya untuk memiliki keyakinan itu. Kita bisa sangat tidak setuju dengan ide atau perilaku orang lain dan secara paksa menentang mereka di ruang publik, tetapi kita tetap harus menunjukkan rasa hormat