• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relevansi dengan Wacana Toleransi secara Umum

Dalam dokumen Oleh: Andi Raita Umairah Syarif (Halaman 158-0)

BAB II MEDIA SOSIAL

E. Relevansi dengan Wacana Toleransi secara Umum

Berdasar penafsiran ayat-ayat toleransi yang dikemukakan oleh Ustadz Firanda Andirja, Buya Yahya, dan Ustadz Abdullah Zaen, diketahui konsep toleransi yang ketiganya wacanakan. Konsep tersebut penulis batasi ke dalam empat poin, yang terbagi atas dua poin umum dan dua poin spesifik. Dua poin umum tersebut berkaitan dengan akidah, sedangkan dua poin spesifik lebih cenderung kepada persoalan muamalah atau sosial.

Poin umum pertama adalah bahwa toleransi berarti menerima hak setiap individu untuk memiliki dan menjalankan keyakinannya masing-masing. Pendapat ini sangat sesuai dengan konsep toleransi secara umum.

Trond Jorgensen dalam Tolerance – A Culturally Dependent Concept?, mendefinisikan toleransi dengan ‘menerima hak orang lain untuk menjalani kehidupan milik mereka dengan nilai-nilai mereka sendiri.67

Dalam penelitian berjudul Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives, disebutkan bahwa toleransi mengakui hak orang lain untuk memiliki dan mengekspresikan pendapat mereka. Jika individu dapat belajar untuk menghormati hak semua manusia untuk memiliki dan mengekspresikan pemahaman mereka tentang realitas, apakah mereka setuju atau tidak, maka setiap orang akan selangkah lebih dekat untuk hidup di dunia yang benar-benar dermawan. Orang dapat menghormati mereka yang memiliki keyakinan berbeda dengan memperlakukan mereka

67Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” dalam Fleks I, Tolerance no. 2, 2014, h. 5.

dengan sopan dan membiarkan pandangan mereka mendapat tempat dalam wacana komunitas.68

Senada dengan kedua pandangan tersebut, Bertelsmann Stiftung menyebutkan bahwa aturan mendasar dalam menangani perbedaan secara demokratis adalah setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Pengakuan atas hak ini sangat fundamental dan menjadi dasar bagi toleransi.69

Poin umum kedua dari wacana toleransi yang penulis simpulkan dari penyampaian tafsir tiga tokoh tafsir di media sosial adalah umat Islam harus berpegang teguh pada prinsip keyakinan Islam dan tanpa mencampurbaurkannya dengan prinsip keyakinan lain.

Adapun dalam konsep toleransi umum, beberapa ahli juga membicarakan terkait hal ini. Namun, konsepsi tersebut merumuskan bahwa seseorang memiliki hak untuk berpegang teguh pada prinsipnya tanpa harus menyamakannya dengan prinsip orang lain, sedang dalam Islam, hal tersebut adalah suatu kewajiban, bukan sekadar hak. Karena itu, tokoh-tokoh tafsir di media sosial dalam penelitian ini menegaskan kewajiban menjaga identitas diri sebagai seorang muslim, khususnya ketika menafsirkan QS al-Kafirun.

Dalam salah satu uraian toleransi umum dikatakan, “Toleransi dikembangkan terkait kontras yang kuat terkait keyakinan dan klaim kebenaran. Toleransi tidak berarti kesepakatan atau persetujuan, tetapi ia menyiratkan penerimaan. Karena itu, adalah hal yang memungkinkan untuk memegang keyakinan dan klaim kebenaran yang kuat dan tetap bersikap toleran. Voltaire berkata, ‘Saya sangat tidak setuju dengan apa yang kamu katakan, tetapi saya mempertahankan dengan hidup saya hakmu untuk mengatakannya.” Toleransi tidak menuntut adanya kesesuaian atau konsensus. Namun, ia adalah cara menghadapi ‘kebenaran-kebenaran’ yang saling bertentangan.70

Individu dapat toleran tanpa persyaratan untuk mengadopsi pemikiran atau keyakinan orang lain. Inklusivitas seharusnya tidak menuntut agar perbedaan ditolak atau dilarang. Toleransi seperti yang didukung di sini menggunakan rasa hormat dan kesopanan bagi orang-orang, karena setiap individu memiliki nilai yang melekat. Tidak perlu memeluk kepercayaan orang lain; hanya menegaskan haknya untuk memiliki keyakinan itu.71

68C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,”h. 92.

69Bertelsmann Stiftung, “A Modern Concept of Tolerance; Basis for Democratic Interaction in Pluralistic Societies,”h. 5.

70 Trond Jorgensen, “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” h. 6.

71C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,”h. 93.

Toleransi tidak ingin mengasimilasi atau menghilangkan perbedaan, tetapi merundingkannya untuk pengembangan nilai dan visi baru. Toleransi adalah nilai inti dari masyarakat pluralistik yang memberi peluang untuk membangun interaksi dan integrasi berbagai macam budaya dan pendapat.72s

Atas hal itu, konsep toleransi ini memungkinkan seseorang dapat memegang teguh keyakinannya dan sekaligus tetap bersikap toleran. Hal ini karena penerimaan yang dimaksud adalah penerimaan terhadap ‘hak’

memiliki keyakinan berbeda, bukan penerimaan atas ‘keyakinan’ yang berbeda tersebut.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, selain dua poin umum tersebut, terdapat dua poin lain yang bersifat spesifik.

Poin spesifik pertama dari konsepsi yang dikemukakan tiga tokoh tafsir di media sosial adalah bahwa toleransi mengedepankan humanisme dengan menghindarkan diri dari perilaku yang dapat menyakiti orang lain.

Pendapat ini konsisten dengan konsepsi toleransi secara umum yang memandang bahwa toleransi menunjukkan rasa hormat terhadap kemanusiaan yang hakiki dalam diri setiap orang.73

Seorang psikoterapis terkenal, Albert Ellis, mengemukakan bahwa seseorang dapat tidak setuju dengan beberapa tindakan orang lain, tetapi harus selalu mentolerir kemanusiaan mereka. Hal serupa diungkapkan oleh Ellis. Ia berkata, “Manusia harus dianggap layak dihormati sebagai manusia, terlepas dari bagaimana nilai-nilai mereka berbeda dan apakah kita tidak menyetujui apa yang mereka lakukan. Hanya berdasarkan kemanusiaan mereka, semua orang memenuhi syarat untuk mendapatkan status martabat yang harus diakui semua orang.”74

Individu dapat tidak setuju tanpa menjelek-jelekkan mereka yang berbeda pendapat, bahkan ketika mereka mengungkapkan ide-ide yang dianggap tidak menyenangkan atau menyinggung.75

Michael R. Williams dan Aaron P. J. dalam penelitiannya bahkan mengusulkan definisi toleransi dengan ‘menghormati dan menganggap kemanusiaan seseorang lebih penting daripada ide atau cita-cita apa pun yang mungkin ‘kami’ atau ‘mereka’ pegang.’76

72Bertelsmann Stiftung, “A Modern Concept of Tolerance; Basis for Democratic Interaction in Pluralistic Societies,”h. 4-5.

73C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,” h. 91.

74C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,”h. 91.

75C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,”h. 93.

76Michael R. Williams dan Aaron P. J., “A New Definition of Tolerance,”h. 2.

Konsepsi toleransi tersebut menunjukkan bahwa perbedaan sepatutnya disikapi secara bijaksana dengan mengedepankan akal budi.

Dengan demikian, perbedaan tidak menjadi sumber pertikaian dan permusuhan antar kelompok yang berbeda. Seseorang tidak dibenarkan melontarkan kata kasar, mencela, dan melakukan perbuatan menyakiti lainnya terhadap orang atau kelompok yang memiliki pandangan atau prinsip berbeda.

Adab dalam menyikapi perbedaan ini sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat yang menjadi objek kajian tulisan ini, umat Islam diperintahkan untuk berbuat baik dan tidak bersikap zalim kepada siapa saja, termasuk kepada orang-orang kafir atau non muslim yang memiliki keyakinan berbeda.

Nabi saw. sebagai utusan dan teladan bagi umat Islam menunjukkan sikap ini dalam kesehariannya, sebagai contoh bagi sahabat dan umat Islam secara keseluruhan dari masa ke masa. Salah satu riwayat yang cukup populer terkait sikap perikemanusiaan Nabi saw. adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,

اَنَ ثمدَح َلاَق ،َةمرُم ُنْب وُرْمَع اَنَ ثمدَح ،ُةَبْعُش اَنَ ثمدَح ،ُمَدآ ِبَِأ َنْب ِنَْحْمرلا َدْبَع ُتْعَِسَ :

َلاَق ،ىَلْ يَل اوُّرَمَف ،ِةميِسِداَقلاِب ِنْيَدِعاَق ٍدْعَس ُنْب ُسْيَ قَو ،ٍفْيَ نُح ُنْب ُلْهَس َناَك :

َُلَ َليِقَف ،اَماَقَ ف ،ٍةَزاَنَِبِ اَمِهْيَلَع َلَاَقَ ف ،ِةممِّذلا ِلْهَأ ْنِم ْيَأ ِضْرَلِا ِلْهَأ ْنِم اَهم نِإ اَم

:

َمملَسَو ِهْيَلَع ُللها ىملَص مِبِمنلا منِإ ُهَل َليِقَف ،َماَقَ ف ٌةَزاَنِج ِهِب ْتمرَم

،ٍّيِدوُهَ ي ُةَزاَن ِج اَهم نِإ :

َلاَقَ ف اًسْفَ ن ْتَسْيَلَأ :

Artinya:

Adam telah menceritakan kepada kami, Syu’bah telah menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Murrah berkata: Aku mendengar ‘Abd al-Rahman bin Abu Laila berkata, “Suatu hari Sahal bin Hunaif dan Qais bin Sa’ad sedang duduk di Qadisiyah. Lalu jenazah lewat di hadapan keduanya, maka keduanya berdiri. Kemudian dikatakan kepada keduanya bahwa jenazah itu adalah penduduk asli atau ahl dzimmah.

Maka keduanya berkata, ‘Nabi saw. pernah jenazah lewat di hadapnnya, lalu dia berdiri. Kemudian dikatakan kepadanya bahwa itu adalah jenazah orang Yahudi. Nabi saw. lalu bersabda, ‘Bukankah dia juga manusia?’”

Keteladanan Nabi saw. tersebut sesuai dengan tujuan pengutusannya, yaitu sebagai rahmat bagi semesta alam, sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Anbiya’/21: 107,

َينِمَلاَعْلِل ًةَْحَْر ملَِإ َكاَنْلَسْرَأ اَمَو

Terjemahnya:

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Ibnu ’Abbas mengemukakan bahwa ayat ini menunjukkan rahmat Nabi saw. berlaku umum bagi semua manusia dalam kehidupan dunia, baik dari kalangan mu’min, maupun dari kalangan kafir.77

Poin spesifik kedua dari konsepsi tokoh tafsir media sosial yang juga merupakan poin terakhir adalah berlapang dada atas sikap tidak menyenangkan dari orang lain.

Poin ini juga sejalan dengan wacana yang diajukan dalam konsepsi toleransi yang dikemukakan oleh C. W. Von Bergen dan George Collier.

Dalam tulisan keduanya disebutkan bahwa jika orang lain mengungkapkan ide-ide yang dianggap tidak menyenangkan atau menyinggung, kita tetap tidak dibenarkan untuk membalas dengan retorika kasar, menjelekkan, dan perkataan-perkataan yang berlebihan.78

Meski demikian, berdasar penelusuran penulis, kebanyakan tulisan atau penelitian mengenai konsep toleransi secara umum tidak menyebutkan atau menyinggung wacana tersebut. Berbeda halnya dalam Islam, sikap lapang dada menjadi suatu hal yang sangat dianjurkan. Sebagaimana diungkapkan oleh para mufassir terkait QS al-An’am/6: 108, umat Islam dituntut untuk bersabar atas sikap buruk kaum lain demi menghindari kemungkaran yang lebih besar.

Perkara ini dalam Islam disebut dengan sadd al-dzari’ah, yakni melarang sesuatu yang dibenarkan agama agar tidak timbul sesuatu yang dilarang agama, atau mencegah segala macam faktor yang dapat menimbulkan kemudaratan.79

Dasar sadd al-dzari’ah ini sesuai dengan beberapa kaidah fikih, seperti,80

افلما ُءْرَد ِدِس

ىلَع ٌممدقُم ِحِلاَصلما ِبلَج

Artinya:

77Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil Juz 5, (T.Tp.: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1997), h. 359.

78Lihat C. W. Von Bergen dan George Collier, “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,”h. 93.

79M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Vol. 4, h. 237.

80Lihat Hifdhotul Munawaroh, “Sadd al-Dzari’at dan Aplikasinya pada Permasalahan Fiqih Kontemporer,” dalam Jurnal Ijtihad 12, no. 1, Juni 2018, h. 65.

Menolak mafsadat (kerusakan) lebih utama dari pada mendatangkan maslahat (kebaikan).

Kaidah lain menyebutkan,

ُماَرَلحاو ُلَلَلحا َعَمَتْجا ام َلللحا ُماَرَلحا َبَلَغ ملَإ

Kaidah tersebut menunjukkan bahwa jika halal dan haram berbaur, maka yang haram mengalahkan yang halal.

Selain demi menjaga agama dari serangan, sikap lapang dada juga diperlukan untuk meluluhkan hati orang-orang kafir, sebagaimana yang diisyaratkan dalam QS Thaha/20: 44. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata lembut kepada Fir’aun karena perkataan halus dan lembut dalam berdakwah akan lebih berbekas dan berkesan, dan lebih dapat mendatangkan hasil yang baik. Karena itu pula, dalam QS al-Nahl/: 125, Allah memerintahkan untuk menyeru manusia dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan debat dengan cara yang baik pula.81

Berdasar uraian empat poin di atas, dapat disimpulkan bahwa secara mendasar, konsep toleransi dalam Islam, khususnya yang dikemukakan oleh Ustadz Firanda Andirja, Buya Yahya, dan Ustadz Abdullah Zaen, sangat relevan dengan konsep toleransi secara umum. Keduanya terutama sangat mengedepankan humanisme atau rasa kemanusiaan dengan menghargai hak masing orang untuk hidup dengan prinsip dan caranya masing-masing.

81Muhammad Sayyid Thanthawi, al-Tafsir al-Wasith Juz 1, (T.tp.: t.pn., t.t.), h.

2828.

‘Adhimah, Muhammad ‘Abd Khaliq. Madkhal ila Tafsir al-Maudhu’i. Kairo: T.pn., t.t.

Al-‘Akk, Khalid ‘Abd al-Rahman. Ushul al-Tafsir wa Qawa’iduh. Cet. II;

Bairut: Dar al-Nafa’is, 1986.

Aljawiy, Abdillah Yafi dan Ahmad Muklason. “Jejaring Sosial dan Dampak bagi Penggunanya,” dalam Teknologi: Jurnal Ilmiah Sistem Informasi I, no. 1, 2011.

Alpizar. “Toleransi terhadap Kebebasan Beragama di Indonesia (perspektif Islam),” dalam Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama VII, no. 2, Juli-Desember 2015.

Azis. “Metodologi Penelitian, Corak dan Pendekatan Tafsir al-Qur’an,”

dalam Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, vol. 5, no. 1, Juni 2016.

Azizah, Husnun. “Konten Kreatif Youtube sebagai Sumber Penghasilan Ditinjau dari Etika Bisnis Islam (Studi Kasus Youtuber Kota Metro),” (Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Metro, 2020).

Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud. Ma’alim al-Tanzil.

T.Tp.: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1997.

Bakar, Abu. “Konsep Toleransi dan Kebebasan Beragama,” dalam Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama VII, no. 2, Juli-Desember 2015.

Bariyah, Mufidatul. “Ayat Toleransi dalam Qur’an; Tinjauan Tafsir al-Qurthubi,” dalam Al-Mada; Jurnal Agama, Sosial dan Budaya II, no. 2, 2019.

Bergen, C. W. Von dan George Collier. “Tolerance as Civility in Contemporary Workplace Diversity Intiatives,” dalam Issue 1.

Al-Biqa’i, Ibrahim bin ‘Umar bin Hasan. Nadzm Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar Juz 3. T.tp.: T.pn., t.t.

Al-Bugha Mushthafa Dib dan Muhyiy Din Dib. Wadhih fi ‘Ulum al-Qur’an. Cet. II; Damaskus: Dar al-Kalam al-Thayyib, 1998.

Al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il. al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar. Cet.

III; Bairut: Dar Ibnu Katsir, 1987.

Cahyono, Anang Sugeng. “Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia,” dalam Jurnal Publiciana IX, 2016.

Chandra, Edy. “Youtube, Citra Media Informasi Interaktif atau Media Penyampaian Aspirasi Pribadi,” dalam Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni I, no. 2, Oktober 2017.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi,” dalam Jurnal Acta Diurna VI, no. 1, 2017.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

Doni, Fahlepi Roma, “Perilaku Penggunaan Media Sosial pada Kalangan Remaja,” dalam IJSE III, no. 2, 2017.

Al-Dzahabi, Muhammad Husain. ‘Ilm al-Tafsir. Dar al-Ma’arif, t.th.

……. al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1. Kairo: Maktabah Wahbah, t.th.

Faiqah, Fatty Muh. Nadjib, Andi Subhan Amir. “Youtube sebagai Sarana Komunikasi bagi Komunitas Makassarvidgram,” dalam Jurnal Komunikasi Kareba V, no. 2, Juli-Desember 2016.

Al-Fanisan, Su’ud bin ‘Abdillah. Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh.

Cet. I; Riyadh: Markaz al-Dirasat wa al-I’lam, 1997.

Faqih, Allamah Kamal. Nur al-Qur’an: An Enlightening Commentary into the Light of the Holy Qur’an, Jilid VII, diterjemahkan oleh Sayyid Abbas Shadr Amili dan Ahsin Muhammad. Cet. I; Jakarta: Penerbit Al-Huda, 2005.

Goncharenko, Konstantin Dmitrievich. Alexander Ardalionovich Taradanov, dan Anastasia Aleksandrovna Gizatulina. “Concept and Structure of Tolerance (Experience of Theoretical Research),” dalam KnE Social Science, 2020.

Al-Hamad, Ghanim Qadduri. Muhadharat fi ‘Ulum al-Qur’an. Cet. I; Oman:

Dar ‘Ammar, 2003.

Hamudah, Thahir Sulaiman. Jalal al-Din al-Suyuthi; ‘Ashruhu wa Hayatuhu wa Atsaruhu wa Juhuduhu fi Darsi Lughawi. Maktab al-Islami, t.th.

Hasibuan, Ummi Kalsum, Risqo Faridatul Ulya, dan Jendri. “Tipologi Kajian Tafsir: Metode, Pendekatan, dan Corak dalam Mitra Penafsiran al-Qur’an,” dalam Ishlah: Jurnal Imu Ushuluddin, Adab, dan Dakwah II, no. 2, Desember 2020.

Helpiastuti, Selfi Budi. “Media Sosial dan Perempuan (Analisis Wacana terhadap Facebook sebagai Media Komunikasi Terkini bagi Perempuan).” FISIP Universitas Jember, 2016.

Suroboyoan pada Subscribers di Surabaya,” dalam Jurnal Sprektum Komunikasi VII, no. 1, Juni 2019.

Hjerm, Mikael, Maureen A. Eger, Andrea Bohman, dan Filip Fors Connolly.

“A New Approach to the Study of Tolerance: Conceptualizing and Measuring Acceptance, Respect, and Aprreciation of Difference,”

dalam Social Indicators Research, 2020.

Holland, Margaret. “How Youtube Developed into a Successful Platform for User-Generated Content,” dalam Elon Journal of Undergraduate Research in Communications VII, no. 1, Spring 2016.

Hootsuite (We are Social) Indonesian Digital Report 2020.

Huda, Khoirul. Makna Toleransi dalam Film “?” (Tanda Tanya); (Analisis Framing Model Gamson dan Mondigliani).

Huda, M. Thorokul, Eka Rizki Amelia, dan Hendri Utami. “Ayat-Ayat Toleransi dalam Qur’an perspektif Tafsir Mishbah dan al-Azhar,” dalam Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman XXX, no. 2, Juli 2019.

Ibn Hanbal, Ahmad bin Muhammad. Musnad Ahmad bin Hanbal. Cet. I;

Bairut: ‘Alam al-Kutub, 1998.

Ibn Zakariyya, Ahmad bin Faris. Maqayis Lugah. Ittihad Kitab

al-‘Arab, 2002.

Ibrahim, Musa. Buhuts Manhajiyyah fi ‘Ulum al-Qur’an. Cet. II; Oman: Dar

‘Ammar, 1996.

Intan, Siti Nurul dan Sylvana Murni D Hutabarat. “Pendampingan Penggunaan Media Sosial yang Cerdas dan Bijak berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik,” dalam Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat II, no. 1, 2020.

Jorgensen, Trond. “Tolerance – a Culturally Dependent Concept?,” dalam Fleks I, Tolerance no. 2, 2014.

Al-Judai’, ‘Abdullah bin Yusuf. Muqaddimat Asasiyyah fi ‘Ulum al-Qur’an. Cet. I; Bairut: Mu’assasah al-Rayyan, 2001.

Karman. “Media Sosial: Antara Kebebasan dan Eksploitasi,” dalam Jurnal Studi Komunikasi dan Media XVIII, no. 1, Januari-Juni 2014.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, “KBBI Daring,” diakses pada tanggal 25 April 2021 dari kemdikbud.go.id.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Sikap Toleransi di Indonesia. Jakarta: PDSPK, 2017.

Lajnah Pentashihah Mushaf al-Qur’an. Asbabun-Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu al-Qur’an. Cet. I; Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, 2015.

Lukman, Fadhli. Tafsir Sosial Media di Indonesia, Nun, Vol. 2, No. 2, (2016).

Mandjarreki,Sakaruddin. “Agresi Media dan Kematian Ruang Sosial (Tafsir Sosiologis atas Hegemoni Media Sosial,” dalam Jurnalisa IV, no. 2, November 2018.

Manshur, ‘Abd al-Qadir. Mausu’ah ‘Ulum al-Qur’an. Cet. I: Dar al-Qalam al-‘Arabi, 2002.

Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. Tafsir al-Maraghi. Cet. I; Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1946.

Mola, Ferdinandus Dominicus Ceme. “Peranan Media Sosial sebagai Media Komunikasi dan Informasi pada Generasi Muda di Pedesaan,”

(Skripsi APMD Yogyakarta, 2019).

Mudin, Miski. Islam Virtual: Diskursus Hadis, Otoritas, dan Dinamika Keberislaman di Media Sosial. Cet. I; Yogyakarta: Bildung, 2019.

Mujianto, Haryadi. “Pemanfaatan Youtube sebagai Media Ajar dalam Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar,” dalam Jurnal Komunikasi Hasil Pemikiran dan Penelitian V, no. 1, 2019.

Munawaroh, Hifdhotul. “Sadd al-Dzari’at dan Aplikasinya pada Permasalahan Fiqih Kontemporer,” dalam Jurnal Ijtihad 12, no. 1, Juni 2018.

Murni, Dewi. “Toleransi dan Kebebasan Beragama dalam perspektif al-Qur’an,” dalam Jurnal Syahadah VI, no. 2, Oktober 2018.

Al-Naisaburi, Muslim bin al-Hajjah al-Qusyairi. Shahih Muslim. Bairut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi.

Newton, Lorinda KF. “Revised Definiton of Tolerance,” artikel diakses pada

tanggal 21 April 2021 dari

https://lorindasponderings.com/2019/07/13/revised-definition-of-tolerance/

Ningsih, Trisna Septia dan Gumi Langerya Rizal. “Strategi Self Presentation pada Remaja Pengguna Instagram,” dalam Proyeksi XV, no. 2, 2020.

Oktaviani, Dewi. “Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Hidup Mahasiswa IAIN Metro,” (Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Metro, 2019).

XLinguae, Oktober 2017.

Purbohastuti, Arum Wahyuni. “Efektivitas Media Sosial sebagai Media Promosi,” dalam Tirtayasa Ekonomika XII, no. 2, Oktober 2017.

Al-Qaththan, Manna’. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Cet. VII; Kairo:

Maktabah Wahbah, t.th.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr. Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Cet. II; Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964.

Rahardjo, Turnomo. Memahami Kemajemukan Masyarakat Indonesia (Perspektif Komunikasi Antarbudaya).

Al-Razi, Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Amr. Mafatih al-Ghaib. T.tp.:

T.pn., t.t.

Rizal, Iqbal Aulia. “Pengaruh Media Sosial terhadap Pergerakan Sosial Masyarakat di Timur Tengah,” (Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pasundan, 2017).

Rosidi, Imron. Muslim Saleh atau Radikal: Prospek Toleransi Agama di Indonesia Pasca 2-12, Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama, Vol. 8, No. 2. Juli-Desember 2016.

Al-Rumi, Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman. Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh. Maktab al-Taubah, t.th.

... Dirasat fi ‘Ulum Qur’an Karim. Cet. VIII; Riyadh: Maktabah al-Taubah, 1999.

……. Manhaj al-Madrasah al-‘Aqliyyah al-Haditsah fi al-Tafsir. Cet. II;

Riyadh, 1983.

Al-Sa’di, ‘Abd al-Rahman bin Nashir bin. Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan. Cet. I; Bairut: Mu’assasah al-Risalah, 2000.

Samosir, Fransiska Timoria, Dwi Nurina Pitasari, Purwaka, dan Purwadi Eka Tjahjono. “Efektivitas Youtube sebagai Media Pembelajaran Mahasiswa (Studi di Fakultas FISIP Universitas Bengkulu).

Sanaky, Hujair A. H. “Metode Tafsir (Perkembangan Metode Tafsir Mengikuti Warna atau Corak Mufassirin),” dalam Al-Mawarid XVIII, 2008.

Sarayati, Hanni. “Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap Harga Diri pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh,” (Skripsi Fakultas Psikologi, Unmuha, 2019.

Setiadi, Ahmad. “Pemanfaatan Media Sosial untuk Efektivitas Komunikasi,”

dalam Cakrawala BSI, 2016.

Education II, no. 4, 2019.

Shafa, Muhammad. ‘Ulum al-Qur’an min Khilal Muqaddimat al-Tafasir.

Cet. I; Bairut: Mu’assasah al-Risalah, 2004.

Al-Shibag, Muhammad bin Luthfi. Lamhat fi ‘Ulum al-Qur’an wa Ittijahat al-Tafsir. Cet. III; Bairut: al-Maktab al-Islami, 1990.

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah. Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2011.

Stellarosa, Yolanda Sandra Jasmine Firyal, dan Andre Ikhsano.

“Pemanfaatan Youtube sebagai Sarana Transformasi Majalah Highend,” dalam Jurnal Lugas II, no. 2, Desember 2018.

Stiftung, Bertelsmann. “A Modern Concept of Tolerance; Basis for Democratic Interaction in Pluralistic Societies,” dalam Trilogue Salzburg.

Al-Suyuthi, Jalal Din ‘Abd Rahman. Itqan fi ‘Ulum Qur’an. al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah, t.th.

……. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Matsur. Bairut: Dar al-Fikr, 2011.

Tesalonica. “Jumlah Pengguna Unik Youtube di Indonesia Capai 93 Juta,”

artikel diakses pada tanggal 23 Maret 2021 dari https://www.tek.id/tek/jumlah-pengguna-unik-youtube-di-indonesia-capai-93-juta-b1ZT79iPE

Al-Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib. Jami’

Al-Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib. Jami’

Dalam dokumen Oleh: Andi Raita Umairah Syarif (Halaman 158-0)