BAB II MEDIA SOSIAL
C. Platform Youtube
2. Sejarah Tafsir
Allah SWT. mengutus rasul-rasul-Nya dengan bahasa kaumnya masing-masing. Hal ini untuk mempermudah interaksi atau komunikasi antara mereka. Karena itu, kitab yang diturunkan juga menggunakan bahasa kaum para Rasul tersebut.15
11Muhammad bin Luthfi al-Shibag, Lamhat fi ‘Ulum Qur’an wa Ittijahat al-Tafsir, h. 188.
12Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 15.
13Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 15.
14Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 15.
15Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, H. 325.
Nabi saw. hidup di Jazirah Arab, hingga kitab al-Qur’an yang diturunkan kepadanya menggunakan bahasa kaumnya, yakni bahasa Arab. Allah SWT.
berfirman dalam QS Yusuf/12: 2,16
َنوُلمقْعَ ت ْمُكالَعَل اًّيمبَرَع اًنآْرُ ق ُهاَنْلَزْ نَأ اانمإ
. Terjemahnya:
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti.
Nabi saw. merupakan mubayyin atau mufassir pertama al-Qur’an.17 Ia sebagai utusan yang dikaruniakan mukjizat al-Qur’an diberi tanggungjawab untuk menyampaikan kalam Allah tersebut kepada umat manusia. Hal ini sebagaimana tertera dalam beberapa ayat Qur’an, termasuk dalam QS al-Ma’idah/5: 67.18
ُأ اَم ْغِّلَ ب ُلوُسارلا اَهُّ يَأ اَي ُهاللاَو ُهَتَلاَسمر َتْغالَ ب اَمَف ْلَعْفَ ت َْلَ ْنمإَو َكِّبَر ْنمم َكْيَلمإ َلمزْن
مساانلا َنمم َكُممصْعَ ي
...
Terjemahnya:
Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.
Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.
Para sahabat dapat mengetahui dan memahami makna al-Qur’an karena bahasanya merupakan bahasa mereka. Meski demikian, mereka memiliki tingkatan berbeda dalam kemampuan memahaminya, sehingga apa yang diketahui oleh seseorang di antara mereka bisa jadi tidak diketahui oleh orang lain.19
Selain itu, di dalam al-Qur’an terdapat lafal atau ayat yang mujmal, ‘am, musykil, dan selainnya yang membutuhkan penjelasan tambahan.20 Karena itu, para sahabat akan menghadap kepada Nabi saw. untuk mempertanyakan
16Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 14.
17Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, (Cet.
I; Riyadh: Markaz al-Dirasat wa al-I’lam, 1997), h. 13.
18Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h. 13.
19Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, h. 326.
20Muhammad bin Luthfi al-Shibag, Lamhat fi ‘Ulum Qur’an wa Ittijahat al-Tafsir, h. 199.
ayat yang tidak mereka pahami dan Nabi saw. akan memberikan jawaban atas penafsiran ayat tersebut.21
Nabi saw. menafsirkan al-Qur’an tidak hanya jika ada sahabat yang bertanya, tetapi juga jika ia menilai bahwa suatu ayat perlu dijelaskan maknanya dan hukum yang termuat di dalamnya agar menghilangkan kebingungan atau kekeliruan.22
Penafsiran Nabi saw. atas ayat al-Qur’an berupa perkataan (qaul) dan perbuatan (fi’l). Contoh penafsiran dengan qaul seperti hadis dari Aisyah bahwa ia bertanya tentang maksud dari QS al-Insyiqaq: 8,23
ْتَلاَق اَهْ نَع ُهاللا َيمضَر َةَشمئاَع ْنَع َمالَسَو مهْيَلَع ُللها ىالَص مهاللا ُلوُسَر َلاَق :
ٌدَحَأ َسْيَل :
َكَلَه الَمإ ُبَساَُيُ
ْتَلاَق . ُتْلُ ق : ُهاللا ُلوُقَ ي َسْيَلَأ ،َكَءاَدمف ُهاللا منَِلَعَج مهاللا َلوُسَر اَي :
الَجَو ازَع :
اًيرمسَي اًباَسمح ُبَساَُيُ َفْوَسَف مهمنيممَيمب ُهَباَتمك َ متِوُأ ْنَم اامَأَف ) َلاَق (
َكاَذ :
ُضْرَعلا َنوُضَرْعُ ي
َباَسملْا َشمقوُن ْنَمَو َكَلَه
Artinya:
Dari Aisyah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak seorang pun yang dihisab, kecuali ia akan binasa’.” Aisyah berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Allah telah menjadikanku sebagai tebusanmu, bukankah Allah telah berfirman: Barangsiapa yang didatangkan kitabnya dari sebelah kanannya, niscaya ia akan dihisab dengan perhitungan yang ringan? (QS al-Insyiqaq: 8)” Rasulullah menjawab, “Itu adalah al-‘ardhu (hari ketika amal ditampakkan). Siapa saja yang hisabnya diperdebatkan, maka dia akan binasa.”
Adapun contoh penafsiran Nabi saw. dengan perbuatan atau tindakan seperti penafsiran atas ayat-ayat perintah shalat, seperti dalam QS al-Baqarah/2: 43. Allah SWT. berfirman,
َيمعمكاارلا َعَم اوُعَكْراَو َةاَكازلا اوُتآَو َة َلَاصلا اوُميمقَأَو
.
21Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 15.
22Ghanim Qadduri al-Hamad, Muhadharat fi ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. I; Oman: Dar
‘Ammar, 2003), h. 167.
23Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h.
13-14.
24Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar Juz 4, (Cet.
III; Bairut: Dar Ibnu Katsir, 1987), h. 1885.
Terjemahnya:
Laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.
Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat tentang shalat, tetapi tidak dijelaskan tata cara atau kaifiyyah-nya. Karena itu, Nabi saw. menjelaskan hal tersebut dengan shalat di hadapan para sahabat dan berkata kepada mereka,25
اَمَك اوُّلَص يِّلَصُأ منِوُمُتْ يَأَر
Artinya:
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.
Ulama berbeda pendapat mengenai kadar penafsiran Nabi saw., apakah ia menafsirkan seluruh ayat al-Qur’an secara sempurna atau sebagian ayat saja.27
Golongan pertama mengatakan bahwa Nabi saw. menjelaskan seluruh makna ayat al-Qur’an kepada sahabat, sebagaimana ia menjelaskan seluruh lafal ayat al-Qur’an tersebut. Ibnu Taimiyah termasuk dalam golongan ini. Ia berkata, “Wajib diketahui bahwa Nabi saw. menjelaskan makna-makna al-Qur’an sebagaimana ia mengajarkan lafal-lafalnya. Allah SWT. berfirman,
‘litubayyina li al-nas ma nuzzila ilaihim’ (untuk menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka).”28
Adapun di antara dalil yang menjadi dasar pemikiran golongan pertama ini adalah sebagai berikut:
1) QS al-Nahl/16: 44
َنوُراكَفَ تَ ي ْمُهالَعَلَو ْممهْيَلمإ َلِّزُ ن اَم مساانلمل َِّيَ بُتمل َرْكِّذلا َكْيَلمإ اَنْلَزْ نَأَو
. Terjemahnya:
Kami turunkan al-Zikr (al-Qur’an) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.
25Mushthafa Dib al-Bugha dan Muhyiy al-Din Dib Mistu, Wadhih fi ‘Ulum al-Qur’an, h. 214.
26Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar Juz 1, h, 226.
27Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h. 16.
Lihat juga Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 15.
28Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 15.
Mereka berpendapat bahwa ayat tersebut menunjukkan penjelasan al-Qur’an yang mencakup makna dan lafalnya, dan sebagaimana Nabi saw.
menjelaskan seluruh lafalnya, ia juga menjelaskan seluruh maknanya.29 2) Riwayat dari Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami
Ia berkata, “Orang-orang yang biasa membacakan al-Qur’an kepada kami seperti ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa apabila mereka belajar dari Nabi sepuluh ayat, mereka tidak melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka berkata: Maka kami mempelajari al-Qur’an, ilmu, dan amalnya sekaligus.”30
3) Argumen
Mereka berpendapat bahwa semua kalam, yang dituju adalah pemahaman maknanya, tanpa mengabaikan lafalnya, apalagi kalam tersebut adalah al-Qur’an.31
Adapun golongan kedua berpendapat bahwa Nabi saw. hanya menafsirkan sedikit atau sebagian ayat saja kepada sahabat, yaitu ayat-ayat yang dianggap perlu untuk dijelaskan. Al-Suyuthi dan Syams Din al-Khawi termasuk dalam golongan ini.32
Di antara dalil yang dijadikan landasan pendapat oleh golongan ini adalah sebagai berikut:
1) Riwayat dari Aisyah
Ia berkata bahwa Nabi saw. tidak menafsirkan al-Qur’an kecuali beberapa ayat saja, yang diajarkan oleh Jibril.33
2) Argumen
Mereka berargumen bahwa jika Nabi saw. menafsirkan seluruh ayat al-Qur’an, ia tidak akan mendoakan Ibnu ‘Abbas secara khusus dengan doanya, “Ya Allah, berilah ia pemahaman agama dan ajarilah ia takwil.”
Sekiranya seluruh tafsir matsur dari Nabi saw., maka alih-alih mendoakan agar ia diberi kemampuan menakwilkan/menafsirkan al-Qur’an, Nabi saw.
akan mendoakannya agar diberi kemampuan menghafal takwil/tafsir dari Nabi saw.34
29Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 15-16.
30Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h.
17-18.
31Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 16.
32Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h. 13.
33Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h.
19-20.
34Su’ud bin ‘Abdillah al-Fanisan, Ikhtilaf al-Mufassirin Asbabuh wa Atsaruh, h. 20.
Dari dua pendapat tersebut di atas, pendapat yang dianggap rajih atau lebih kuat adalah pendapat golongan kedua, yakni Nabi saw. hanya menafsirkan sebagian ayat saja.35
Pemilihan pendapat golongan kedua didasari oleh beberapa faktor berikut:36
1) Beberapa ayat dapat dipahami dengan mengetahui bahasa Arab, dan bahasa Arab adalah bahasa para sahabat. Karena itu mereka tidak butuh penafsiran atas ayat-ayat tersebut.
2) Beberapa ayat dapat dipahami menggunakan akal dengan melihat lafal ayat dan penjelasannya. Karena itu ayat-ayat tersebut tidak perlu penafsiran lebih jauh.
3) Beberapa ayat, maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT., seperti ayat tentang kiamat, hakikat roh, dan ayat-ayat gaib lainnya yang Ia tidak jelaskan kepada Nabi saw. Karena itu, ia tentu tidak bisa memberi penjelasan kepada sahabat.
4) Beberapa ayat, tidak ada faedahnya untuk dijelaskan lebih jauh dan panjang lebar, seperti mengetahui warna anjing ashhab al-kahfi, jenis kayu tongkat Nabi Musa, jenis burung yang dihidupkan Allah SWT.
bagi Nabi Ibrahim, dan lain sebagainya.
Dari poin-poin tersebut di atas, didukung oleh berbagai riwayat, dapat disimpulkan bahwa Nabi saw. tidak menafsirkan seluruh ayat al-Qur’an kepada sahabat.37
b. Tafsir Masa Sahabat
Tafsir sahabat dinilai berada pada tingkatan ketiga, yakni tingkatan setelah tafsir dengan al-Qur’an dan tafsir dengan hadis Nabi saw. Hal ini karena sahabat mendengar langsung dari Nabi saw. dan mereka memiliki tingkat keimanan yang tinggi. Atas hal itu, mereka lebih mengetahui makna al-Qur’an dan rahasia-rahasianya.38
Para sahabat memiliki tingkat pengetahuan atau pemahaman yang berbeda terhadap makna ayat-ayat al-Qur’an.39 Perbedaan tingkat
35Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 17.
36Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 17-18.
37Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 18.
38Musa Ibrahim, Buhuts Manhajiyyah fi ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. II; Oman: Dar
‘Ammar, 1996), h. 98.
39Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 29.
pemahaman mereka tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Di antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:40
1) Perbedaan pemahaman mereka terhadap ilmu-ilmu penunjang, seperti bahasa Arab. Sebagian mereka ada yang memiliki pengetahuan luas tentang bahasa Arab dan mengetahui kata-kata yang asing, dan sebagian lainnya tidak demikian.
2) Perbedaan durasi atau kuantitas kebersamaan mereka dengan Nabi saw.
3) Perbedaan pengetahuan mereka terhadap sebab turunnya ayat dan terhadap hal lainnya yang mendukung dalam pemahaman suatu ayat.
4) Perbedaan pemahaman mereka terhadap ilmu syar’i.
Ada sepuluh sahabat yang populer dalam penafsiran al-Qur’an.
Mereka adalah keempat khalifah (Abu Bakr, ‘Umar bin Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib), Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, dan ‘Abdullah bin al-Zubair.41
Dari kesepuluh sahabat tersebut, terdapat empat sahabat yang paling banyak menafsirkan al-Qur’an. Mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib,
‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Abbas, dan Ubay bin Ka’ab.42
‘Ali bin Abi Thalib masuk ke dalam golongan ini karena keluasan ilmunya dan keluangan waktunya saat tiga khalifah lainnya menjabat. Selain itu, ia juga masih hidup di masa orang-orang sedang sangat butuh penafsiran al-Qur’an.43
Adapun ketiga lainnya, mereka memiliki madrasah tafsir pada tiga tempat berbeda; Madrasah ‘Abdullah bin Mas’ud di Kufah44, Madrasah
‘Abdullah bin ‘Abbas di Mekah45, dan Madrasah Ubay bin Ka’ab di Madinah46.47
40Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 20.
41Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an Juz 1, (al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah, t.th.), h. 2325.
42Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 26.
43Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 26.
44Di antara muridnya yang terkenal adalah Masruq bin al-Ajda’, ‘Ilqimah bin Qais, al-Azwad bin Yazid, Qatadah, Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami, dan selainnya. Lihat Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 27.
45Di antara muridnya yang terkenal adalah Mujahid, Sa’id bin Jabir, Thawus bin Kaisan, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Ikrimah maula Ibn ‘Abbas, dan selainnya. Lihat Fahd bin
‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 28.
46Di antara muridnya yang terkenal adalah Abu al-‘Aliyah, Zaid bin Aslam, Muhammad bin Ka’ab al-Quradzi, al-Thufail bin Ubay bin Ka’ab (anaknya), dan selainnya.
Lihat Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 29.
Pada masa ini, sahabat menafsirkan al-Qur’an dengan tiga manhaj atau sumber penafsiran, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, menafsirkan al-Qur’an dengan hadis Nabi saw., dan menafsirkan al-Qur’an dengan ijtihad. Adapun .. dalam kitabnya, al-Tafsir wa al-Mufassirun, menambahkan satu sumber lainnya, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan riwayat dari ahli kitab, dari kalangan Yahudi dan Nasrani.48
Berikut rincian dari sumber-sumber penafsiran sahabat tersebut:
1) Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an
Sumber pertama para sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an adalah dengan al-Qur’an itu sendiri. Di dalam al-Qur’an terdapat ayat yang ijaz dan ithnab, ayat yang ijmal dan tabyin, ayat yang ithlaq dan taqyid, dan ayat yang
‘umum dan khushush. Apa yang ringkas di satu tempat, diterangkan di tempat lain. Apa yang global di satu tempat, dijelaskan di tempat lain. Apa yang muthlaq di satu tempat, di-taqyid di tempat lainnya. Apa yang umum di satu ayat, di-takhshish di ayat lainnya. Ini merupakan bentuk-bentuk dari penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an.49
Di antara contoh penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an adalah terkait ayat-ayat tentang kisah, seperti kisah Nabi Adam dan Iblis dan kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Pada satu tempat, kisah tersebut disebutkan secara ringkas, dan di tempat lain dijelaskan secara rinci.50
2) Penafsiran al-Qur’an dengan Hadis Nabi saw.
Sumber penafsiran kedua para sahabat sebagai rujukan dalam menafsirkan al-Qur’an adalah adalah hadis Nabi saw. Jika terdapat ayat yang tidak dipahami atau membingungkan, para sahabat akan menghadap pada Nabi saw. dan meminta penjelasan mengenai ayat tersebut. Selain berdasar pertanyaan sahabat, Nabi saw. juga menjelaskan suatu ayat pada sahabat jika ayat tersebut perlu diberi penjelasan lebih lanjut.
Ada banyak contoh riwayat mengenai sahabat yang bertanya terkait penafsiran suatu ayat. Di antaranya adalah yang disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim dan selainnya.51 Disebutkan bahwa saat QS al-An’am: 82 turun, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman,” para sahabat merasa berat. Mereka lantas bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?” Rasulullah menjawab, “(Hal itu) bukan
47Lihat Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 26-28.
48Lihat Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 31.
49Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 31.
50Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 22.
51Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 36-37.
seperti yang kalian katakan. (Kezaliman) yang dimaksud adalah kesyirikan.”52
3) Penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad
Apabila sahabat tidak menemukan penafsiran suatu ayat dalam al-Qur’an dan hadis Nabi saw., mereka akan melakukan ijtihad untuk menemukan makna yang dikehendaki dari ayat tersebut dengan modal mereka sebagai orang Arab murni yang mengerti bahasa Arab dengan baik dan memiliki pemahaman yang baik pula.53
Ada beberapa adawat yang menjadi pegangan sahabat dalam berijtihad, yaitu sebagai berikut:54
a) Mengetahui bahasa Arab dan rahasia-rahasianya. Alat ini digunakan untuk mengetahui makna ayat-ayat yang pemahamannya dapat dicapai berdasarkan pemahaman bahasa Arab.
b) Mengetahui adat-adat orang Arab dan akhlaknya. Alat ini digunakan untuk mengetahui makna ayat-ayat yang berkaitan dengan adat orang-orang Arab jahiliyah pada saat turunnya al-Qur’an.
c) Mengetahui keadaan orang Yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab saat turunnya al-Qur’an. Alat ini digunakan untuk mengetahui makna ayat-ayat tentang kedua golongan tersebut.
d) Mengetahui sebab turunnya ayat. Mengetahui sebab turunnya ayat membantu dalam pemahamanan banyak ayat al-Qur’an. Karena itu, banyak tokoh yang berpendapat bahwa pengetahuan atas sabab nuzul ayat mutlak diperlukan dalam proses penafsiran al-Qur’an.
e) Memiliki pemahaman yang kuat dan pengetahuan yang luas. Dengan alat ini, para sahabat dapat memahami ayat al-Qur’an yang tidak didapati penafsirannya dalam al-Qur’an dan hadis Nabi saw.
4) Penafsiran al-Qur’an dengan riwayat ahli kitab
Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani termasuk dalam sumber penafsiran sahabat karena sebagian ayat al-Qur’an sesuai dengan Taurat pada sebagian persoalan, khususnya terkait kisah-kisah para Nabi.55
Rujukan keempat ini bukanlah rujukan yang penting dibanding tiga rujukan tafsir sahabat sebelumnya. Rujukan ini juga bersifat sangat terbatas karena banyaknya pengubahan di dalam Taurat dan Injil. Atas hal itu, para
52Lihat Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar Juz 3, h. 1262.
53Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, h. 328.
54Lihat Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 45.
Lihat juga Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, h. 24-25.
55Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 47.
sahabat berhati-hati dan hanya mengambil dari ahli kitab apa yang sesuai dengan akidah dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an.56
Sebagian ulama berpendapat bahwa tafsir sahabat dihukumi sebagai hadis marfu’ yang disandarkan kepada Nabi saw. karena mereka tidak berkata atau berpendapat mengenai al-Qur’an kecuali berdasar apa yang mereka dengar dari Nabi saw.57
Adapun jumhur ulama, mereka berpendapat bahwa tafsir sahabat disandarkan kepada Nabi saw. apabila tafsir tersebut terkait sebab turunnya ayat atau tafsir tersebut bukanlah pandangan sahabat sendiri. Adapun jika di dalam penafsiran sahabat terdapat pandangan dan hasil ijtihad dari sahabat tersebut, maka hukumnya seperti madzhab shahabi terkait furu’ al-fiqhiyyah.
Imam al-Syafi’i berpendapat bahwa madzhab shahabi dalam hal tersebut bukanlah hujjah bagi generasi setelahnya, sedang Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa wajib mengambil pendapat sahabat dan memilih dari pendapat-pendapat mereka, dan tidak boleh keluar darinya.58
Ibnu Taimiyah berkata bahwa apabila tidak didapati penafsiran di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi saw., maka yang menjadi rujukan adalah pendapat sahabat, karena mereka lebih mengetahui hal tersebut. Mereka menyaksikan turunnya al-Qur’an dan bagaimana keadaan pada saat itu.
Mereka juga memiliki pemahaman yang sempurna dan ilmu yang shahih, terutama para pembesar di antara mereka.59
Pandangan tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh al-Zarkasyi. Ia menuturkan bahwa tafsir sahabat dijadikan pegangan karena mereka merupakan ahli bahasa dan mereka menyaksikan langsung sebab turunnya ayat dan masa turunnya ayat.60
c. Tafsir Masa Tabiin
Setelah periode sahabat berakhir, muncullah periode selanjutnya, yaitu periode tabiin. Para tabiin berguru tafsir kepada sahabat dengan menghadap langsung kepada mereka. Sebagaimana pada masa sahabat, pada masa tabiin juga terdapat beberapa tokoh yang masyhur dalam tafsir al-Qur’an.61
Tokoh tafsir yang masyhur di Madinah, sebagai murid dari Ubay bin Ka’ab, adalah Abu al-‘Aliyah, Rafi’ bin Mahran al-Riyahi, Muhammad bin Ka’ab al-Quradzi, dan selainnya. Adapun tokoh tafsir masyhur dari madrasah
56Lihat Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun Juz 1, h. 48.
57Musa Ibrahim, Buhuts Manhajiyyah fi ‘Ulum al-Qur’an, h. 98.
58Musa Ibrahim, Buhuts Manhajiyyah fi ‘Ulum al-Qur’an, h. 98.
59Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa
59Fahd bin ‘Abd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa