BAB II MEDIA SOSIAL
C. Tafsir Ayat-Ayat Toleransi
2. Tafsir Buya Yahya
Pada channel Al-Bahjah TV, ayat-ayat toleransi dimensi akidah yang dikaji oleh Buya Yahya adalah QS Yunus/10: 99-100 dan QS al-An’am/6:
108.
a. Tafsir QS Yunus/10: 99-100
اوُنوُكَي متََّح َسامنلا ُهِرْكُت َتْنَأَفَأ اًعيَِجَ ْمُهُّلُك ِضْرَْلِا ِفِ ْنَم َنَم َلَ َكُّبَر َءاَش ْوَلَو َينِنِمْؤُم َلَ َنيِذملا ىَلَع َسْجِّرلا ُلَعَْيََو ِهمللا ِنْذِإِب ملَِإ َنِمْؤُ ت ْنَأ ٍسْفَ نِل َناَك اَمَو .
َنوُلِقْعَ ي .
Terjemahnya:
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.
Buya Yahya menafsirkan penggalan pertama dari QS Yunus/10: 99,
َلَ َكُّبَر َءاَش ْوَلَو اًعيَِجَ ْمُهُّلُك ِضْرَْلِا ِفِ ْنَم َنَم
Terjemahnya:
Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya.
Aya ini mengandung makna, ”Kamu berjuang dalam berdakwah dan jangan berhenti. Ini adalah tugasmu demi mendapat kemuliaan. Allah mengadakan kebatilan (dengan mereka tidak menyambut ajakanmu) karena Ia ingin mengangkat derajatmu. Padahal sekiranya Allah menghendaki untuk memberi hidayah kepada siapa pun, Ia bisa melakukannya. Namun, Ia tidak melakukan hal itu karena Ia ingin mengangkat sebagian yang lainnya. Karena itu, maksimalkan semangatmu, tetapi ingat bahwa hidayah dari Allah tidak bisa kamu paksakan,” sebagaimana dijelaskan pada potongan ayat selanjutnya,
َينِنِمْؤُم اوُنوُكَي متََّح َسامنلا ُهِرْكُت َتْنَأَفَأ .
Terjemahnya:
Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?
Ayat ini menunjukkan bahwa, ”Kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk beriman. Tugasmu adalah menyampaikan kebenaran dengan hujjah-hujjah dan pemahaman. Adapun reaksi mereka, menerima atau tidak menerima kebenaran tersebut, itu adalah urusan Allah. Urusanmu adalah mengajak kepada mereka. Kamu tidak boleh membiarkan kebatilan sebagai tanda keimananmu. Demi keselamatan diri, keselamatan keluarga, dan keselamatan masyarakat, perjuangan tersebut tidak ada hentinya.”
Buya Yahya kemudian berpindah ke penafsiran ayat selanjutnya, QS Yunus/10: 100,
َنوُلِقْعَ ي َلَ َنيِذملا ىَلَع َسْجِّرلا ُلَعَْيََو ِهمللا ِنْذِإِب ملَِإ َنِمْؤُ ت ْنَأ ٍسْفَ نِل َناَك اَمَو .
Terjemahnya:
Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.
Allah SWT. memberi kehinaan dan kekafiran, kepada orang-orang yang tidak mau berpikir, yakni tidak memberi kesempatan hatinya untuk merenung dan memahami kebenaran, seperti halnya yang terjadi kepada Abu Lahab. Dia sudah tahu bahwa dia disebut oleh Allah sebagai penghuni neraka. Sekiranya dia berpikir, dia akan datang kepada Nabi untuk meminta maaf. Namun, hal itu tidak dilakukannya karena kesombongannya. Demikian pula apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan sebagian orang-orang kafir Mekah. Mereka tahu kalau Nabi Muhammad adalah seorang Nabi, berdasar apa yang tertera di kitab mereka. Sekiranya mereka berpikir cerdas, mereka akan berkata, ”Ini yang aku tunggu-tunggu. Ini adalah keselamatanku.” Namun, karena kesombongan, mereka tidak bisa menerima hidayah tersebut, sekali pun mereka yakni bahwa Muhammad adalah Nabi akhir zaman.
b. Tafsir QS al-An’am/6: 108
اوُّبُسَت َلََو ِّلُكِل امنم يَز َكِلَذَك ٍمْلِع ِْيَْغِب اًوْدَع َهمللا اوُّبُسَيَ ف ِهمللا ِنوُد ْنِم َنوُعْدَي َنيِذملا
َنوُلَمْعَ ي اوُناَك اَِبِ ْمُهُ ئِّبَنُ يَ ف ْمُهُعِجْرَم ْمِِّبَِّر َلَِإ مُثُ ْمُهَلَمَع ٍةممُأ .
Terjemahnya:
Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami menjadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan, tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Ayat ini menunjukkan akhlak yang luar biasa.
Sebelum masuk ke penafsiran ayat ini, Buya Yahya terlebih dulu menerangkan tentang tidak ada paksaan dalam Islam. Allah SWT. menyeru Nabi saw., termasuk juru dakwah sebagai penerus Nabi, untuk tidak memaksa siapa pun masuk Islam. Allah SWT. seakan-akan berkata, ”Jangan paksa orang lain untuk masuk Islam, tugasmu hanyalah memberi tahu mereka tentang Islam dan mengajak mereka untuk memeluknya. Ini merupakan perkara yang selama ini digembar-gemborkan dalam Islam, toleransi yang dahsyat.
Tidak adanya paksaan ini dalam Islam ini akhirnya menghadirkan perbedaan dan ragam agama di dunia. Sekiranya Allah menghendaki semua orang memeluk Islam, Dia mampu melakukannya. Namun, Dia tidak menghendaki demikian dan menghadirkan ragam agama di muka bumi. Atas hal itu, Allah SWT. membuat rambu-rambu bagi umat Islam berkenaan dengan perkara ini. Pertama, tidak boleh bersikap memaksa dalam berdakwah. Kedua, memperhatikan tata krama bergaul dengan mereka.
Buya Yahya lantas mengemukakan bentuk tata krama tersebut dengan masuk ke pembahasan ayat ini, yaitu tidak memaki sesembahan mereka.
ٍمْلِع ِْيَْغِب اًوْدَع َهمللا اوُّبُسَيَ ف ِهمللا ِنوُد ْنِم َنوُعْدَي َنيِذملا اوُّبُسَت َلََو
Terjemahnya:
Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.
Ketidakpercayaan terhadap tuhan-tuhan mereka jangan sampai memunculkan sikap buruk dengan mencaci sesembahan-sesembahan mereka tersebut. Ini adalah adab yang diajarkan dalam Islam. Adapun dalam diskusi, misalnya itsbat atau pengukuhan tentang Tuhan yang Maha Tunggal, maka tidak apa-apa melakukan perbandingan dengan tuhan-tuhan mereka yang berbilang, demi memperkuat akidah. Namun, perbandingan tersebut tidak boleh disertai dengan kata-kata buruk atau cacian.
Buya Yahya lalu menceritakan suatu riwayat tentang orang yang dianggap mencaci orangtuanya. Riwayat tersebut adalah hadis Nabi saw.
ِهْيَلَع ُللها ىملَص ِللها َلوُسَر منَأ ِصاَعْلا ِنْب وِرْمَع ِنْب ِللها ِدْبَع ْنَع َلاَق َمملَسَو
َنِم :
ِهْيَدِلاَو ِلُجمرلا ُمْتَش ِرِئاَبَكْلا اوُلاَق .
َلاَق ؟ِهْيَدِلاَو ُلُجمرلا ُمِتْشَي ْلَهَو ،ِللها َلوُسَر اَي : ْمَعَ ن :
ُّبُسَي اَبَأ ُهممُأ ُّبُسَيَ ف ُهممُأ ُّبُسَيَو ،ُهاَبَأ ُّبُسَيَ ف ِلُجمرلا
Artinya:
61Muslim bin al-Hajjah al-Qusyairi al-Naisaburi, Shahih Muslim Juz 1, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi), h. 92.
Dari ’Abdullah bin ’Amr bin al-’Ash, bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda,: ”Di antara dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (mungkin) seseorang mencela orang tuanya?” Rasulullah menjawab, “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, dan dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.”
Perkara dalam hadis tersebut sama halnya dengan perkara yang ditunjukkan dalam ayat ini. Jika seorang muslim mencaci tuhan mereka, mereka akan merasa kecewa dan membalas dengan mencaci Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa muslim itu sendiri lah yang mencaci Allah.
Buya Yahya kemudian mencontohkan bahwa jika kita tidak mengakui tuhan Yesus, tuhan Brahmana, tuhan Siwa, tuhan Wisnu, dan selainnya, tidak mengapa mengatakan bahwa ketuhanan itu batil atau tidak benar kalau itu semua adalah tuhan dengan mengemukakan hujjah-hujjah. Bahasa yang digunakan adalah bahwa tidak benar kalau itu semua adalah tuhan berdasarkan hujjah yang ada, bukan dengan bahasa cacian.
Jika kita mengeluarkan cacian, mereka akan terpancing emosinya dan membalas cacian tersebut bi ghair ’ilm (dengan kebodohan) mereka, hingga mereka akan mengucapkan segala macam keburukan hingga melewati batas.
Karena itu, tidak boleh memicu orang-orang di luar Islam untuk mencaci Allah dan mencaci Islam.
Buya Yahya melanjutkan dengan penggalan ayat selanjutnya,
ْمُهَلَمَع ٍةممُأ ِّلُكِل امنم يَز َكِلَذَك
Terjemahnya:
Demikianlah, Kami menjadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
Setiap orang akan berbangga dengan apa yang dia lakukan. Orang Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, dan selainnya, bangga dengan sesembahannya, dan mereka tulus dengan keyakinannya tersebut, hingga saat berperang, mereka tulus membela agamanya.
Meski demikian, hitungan yang sesungguhnya adalah di hadapan Allah, sebagaimana dalam lanjutan ayat,
ْمُهُعِجْرَم ْمِِّبَِّر َلَِإ مُثُ
Terjemahnya:
Kemudian kepada Tuhan, tempat kembali mereka.
Apapun yang saat ini dilakukan di dunia, kelak akan dikembalikan kepada Allah di hari perhitungan. Bagi yang menyembah tuhan selain Allah, meski di dalam agamanya diajarkan kebaikan, kebaikan tersebut tidak diterima di hadapan Allah. Kebaikan yang mereka lakukan tersebut hanya
berlaku di dunia saja dan dibalas orang lain dengan kebaikan pula, tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apa-apa dengan kebaikan itu.
َنوُلَمْعَ ي اوُناَك اَِبِ ْمُهُ ئِّبَنُ يَ ف .
Terjemahnya:
Lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Semua yang mereka lakukan akan diberitahu oleh Allah. Di akhirat pun mereka akan diajak ber-hujjah, tapi hanya untuk menambah penyesalan mereka. Dikatakan kepada mereka, ”Lihatlah, betapa anehnya kamu menyembah batu yang kamu pahat sendiri. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan menolong dirinya sendiri saja tidak bisa. Bagaimana bisa kamu menyembahnya?” atau dikatakan, ”Kenapa kamu menjadikan manusia sebagai tuhan dan menyembahnya? Padahal dia sama saja seperti kamu.”
Mereka pun akan menyesal menyadari kesalahan mereka.
Buya Yahya menambahkan bahwa semua yang pernah kita lakukan di dunia akan diberitahukan dan ditampakkan di hari pembalasan, sekecil apa pun itu, kecuali dosa yang telah diampuni. Kebaikan yang kita lakukan di dunia, akan kita petik buahnya di akhirat kelak, begitu pun sebaliknya.
Keburukan yang kita lakukan di dunia, akan kita petik buahnya pula di akhirat kelak.