BAB II MEDIA SOSIAL
B. Media Sosial
3. Karakteristik Media Sosial
Nasrullah menyebutkan tujuh karakteristik khusus yang dimiliki oleh media sosial. Ketujuh karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:39
a. Jaringan
Media sosial terbangun dari struktur sosial yang terbentuk di dalam jaringan atau internet. Jaringan yang terbentuk antar pengguna merupakan jaringan yang secara teknologi dimediasi oleh perangkat teknologi seperti komputer, telepon genggam, dan tablet.
Karakter media sosial adalah membentuk jaringan di antara penggunanya, tanpa melihat apakah para pengguna saling kenal di dunia nyata (offline) atau tidak. Jaringan yang terbentuk antar pengguna tersebut akhirnya membentuk komunitas dan masyarakat, baik secara sadar atau tidak, dan memunculkan nilai-nilai yang ada di masyarakat sebagaimana ciri masyarakat dalam teori-teori sosial. Internet memberikan kontribusi terhadap lahirnya ikatan sosial di internet, nilai-nilai masyarakat virtual, hingga pada struktur sosial secara online.
b. Informasi
Pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya, memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan informasi.
36Lihat Iqbal Aulia Rizal, “Pengaruh Media Sosial terhadap Pergerakan Sosial Masyarakat di Timur Tengah,” h. 37-38.
37Abdillah Yafi Aljawiy dan Ahmad Muklason, “Jejaring Sosial dan Dampak bagi Penggunanya,” h. 2.
38Abdillah Yafi Aljawiy dan Ahmad Muklason, “Jejaring Sosial dan Dampak bagi Penggunanya,” h. 2.
39Lihat Ferdinandus Dominicus Ceme Mola, “Peranan Media Sosial sebagai Media Komunikasi dan Informasi pada Generasi Muda di Pedesaan,” (Skripsi APMD Yogyakarta, 2019), h. 13-17. Lihat juga Dewi Oktaviani, “Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Hidup Mahasiswa IAIN Metro,” (Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Metro, 2019), h. 27-30.
Informasi di media sosial bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, media sosial merupakan medium yang bekerja berdasarkan informasi. Dari pihak institusi, media sosial dibangun berdasarkan informasi yang dikodekan, yang kemudian didistribusikan melalui berbagai perangkat sampai terakses ke pengguna. Dari pihak pengguna, informasi menjadi landasan pengguna untuk saling berinteraksi dalam membentuk masyarakat berjejaring di internet.
Kedua, informasi menjadi komoditas yang ada di media sosial. Setiap orang yang ingin masuk ke media sosial harus menyerahkan informasi pribadi, terlepas data itu asli atau dibuat-buat untuk memiliki akun dan akses. Data yang diunggah tersebut menjadi komoditas yang dari sisi bisnis bisa diperdagangkan. Data itu pula yang menjadi representasi identitas dari pengguna.
c. Arsip
Bagi pengguna media sosial, arsip menjadi sebuah karakter yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapan pun dan melalui perangkat apa pun.
Arsip di internet tidak pernah benar-benar tersimpan. Ia selalu berada dalam jaringan, terdistribusi sebagai sebuah informasi, dan menjadi mediasi antara manusia, mesin, dan sebagainya.
d. Interaksi
Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan antar pengguna dan terbangunnya interaksi antar pengguna tersebut. Interaksi dalam kajian media merupakan salah satu pembeda antara media lama dan media baru.
Secara sederhana, interaksi yang terjadi di media sosial seperti saling mengomentari atau memberi tanda ‘suka’, seperti tanda jempol di Facebook dan Youtube.
e. Simulasi Sosial
Media sosial memiliki karakter sebagai medium berlangsungnya masyarakat (society) di dunia virtual. Pengguna media sosial dapat dikatakan sebagai warga negara digital yang berlandaskan keterbukaan tanpa adanya batasan-batasan. Layaknya masyarakat dan negara, di media sosial juga terdapat aturan dan etika yang mengikat penggunanya.
Interaksi di media sosial dapat menggambarkan realitas, tetapi interaksi tersebut merupakan simulasi, dan bahkan kadang berbeda dengan yang sebenarnya karena di media sosial identitas bisa berubah-ubah.
Perangkat pada media sosial memungkinkan siapa pun untuk menjadi ‘siapa’
saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang sangat berbeda dengan realitanya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, status pernikahan, hingga foto profil yang ditampilkan sebagai gambar diri.
f. Konten oleh Pengguna
Karakteristik media sosial lainnya adalah konten oleh pengguna yang populer disebut User-Generated Content (UGC). Term ini menunjukkan bahwa di media sosial konten sepenuhnya milik dan berdasarkan kontribusi pengguna.
UGC merupakan relasi simbiosis dalam budaya media baru yang memberikan kesempatan dan keleluasan pengguna untuk berpartisipasi.
Situasi ini jelas berbeda jika dibandingkan dengan media lama dengan khalayaknya sebatas menjadi objek atau sasaran yang pasif dalam distribusi pesan.
g. Penyebaran
Karakteristik ini menunjukkan media sosial sebagai medium yang tidak hanya menghasilkan konten yang diproduksi dan dikonsumsi oleh pengguna, tetapi juga didistribusikan dan dikembangkan oleh penggunanya.
Praktek ini merupakan ciri khas media sosial yang menunjukkan bahwa khalayak aktif menyebarkan konten sekaligus mengembangkannya.
Selain pendapat tersebut di atas, terdapat pendapat lain mengenai karakteristik media sosial, yaitu sebagai berikut:40
a. Partisipasi
Media sosial mendorong pengguna yang berminat untuk memberi kontribusi dan umpan balik hingga dapat menghilangkan batas antara media dan audience.
b. Keterbukaan
Kebanyakan media sosial bersifat terbuka dengan adanya kesempatan untuk memberi umpan balik dan berpartisipasi melalui sarana-sarana yang disediakan seperti memberi komentar dan vote.
c. Perbincangan
Karakter lain yang dimiliki oleh media sosial adalah perbincangan, yakni memberi kesempatan adanya perbincangan antar pengguna secara dua arah.
d. Keterhubungan
Kepopuleran media sosial banyaknya tercapai karena kemampuannya dalam melayani keterhubungan antar pengguna melalui fasilitas-fasilitas yang disediakan.
Selain dua klasifikasi tersebut di atas, terdapat klasifikasi lain yang dirumuskan oleh para ahli strategi media sosial mengenai karakteristik media sosial, yaitu:41
40Arum Wahyuni Purbohastuti, “Efektivitas Media Sosial sebagai Media Promosi,”
dalam Tirtayasa Ekonomika XII, no. 2, Oktober 2017, h. 216.
41Waode Sri Wahyuni R., “Analisis Pemanfaatan Media Sosial dalam Menunjang Proses Pembelajaran Siswa SMUN 1 Makassar,” h. 29-30.
a. Engaging
Media sosial memiliki karakter ‘melibatkan’ karena ia tidak hanya berorientasi pada layanan bagi pelanggan, tetapi juga melibatkan pelanggan untuk melayani orang lain. Dengan demikian, semua orang yang menggunakan media sosial dapat berbagi untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan masing-masing.
Dalam dunia bisnis, media sosial tidak hanya dijadikan sebagai ajang promosi produk, tetapi juga ia memberikan nilai sosial bagi para pengguna agar pelanggan dan konsumen dapat berbagi dengan cara memenuhi kebutuhan sosial.
b. Empati
Komunikasi sosial yang efektif adalah hasil dari kemampuan untuk menempatkan diri dalam hati dan benak orang lain. Seorang komunikator yang berempati adalah ia yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan peluang bagi orang lain untuk menemukan dirinya sendiri.
Media sosial selalu mencoba menempatkan orang lain sebagai bagian terutama dari komunikasi ‘saya’. Media sosial mengajarkan satu nilai empati dengan orang lain karena dia menghubungkan ‘I’ dan ‘you’ ke dalam ‘we’.
c. Trustworthy
Inti dari media sosial adalah kejujuran, transparansi, dan orisinalitas.
Setelah mengalami beberapa masalah dalam bidang pemasaran, raksasa ritel Walmart yang merupakan perusahaan global berkelas, terus belajar memahami masalah mereka dan menyelesaikannya dalam pemanfaatan media sosial. Walmart kemudian bangkit kembali menjadi besar karena menerapkan inti dari media sosial tersebut di atas.
d. Unique
Keunikan media sosial terletak pada ‘kebersamaan’ antara sumber dan penerima dalam membentuk konten. Media sosial menerapkan strategi sesungguhnya dengan memberikan atau memberi nilai tambah pada konten demi memperbarui dan memberi isi pada gagasan yang dibicarakan.
Dampak dari ‘kebersamaan’ tersebut adalah para sumber dan penerima dalam komunikasi bermedia sosial telah menciptakan sebuah media menjadi ‘media sosial’ atau mengubah ‘media sosial’ menjadi ‘lebih sosial’.
e. Analytical
Media sosial mendorong sesama pengguna untuk sama-sama berpikir tentang suatu ide secara analitis. Pemikiran analitis itu disadari sepenuhnya tidak dihasilkan oleh seorang pengguna saja, tetapi bersama-sama dengan pengguna lain dengan melalui proses diskusi, dialog, dan debat untuk menghasilkan suatu ‘ide sementara’ yang disepakati.
Kesepakatan tersebut disebut ‘ide sementara’ karena khalayak media sosial tidak pernah berhenti melakukan diskusi, dialog, dan debat demi selalu memperbarui ide-ide ke arah yang mendekatkan kepada kebenaran tertentu.
Dari uraian ragam klasifikasi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik media sosial mencakup:
a. Jaringan
Media sosial terbangun dari struktur sosial yang terbentuk di dalam jaringan atau internet. Jaringan yang terbentuk antar pengguna membentuk komunitas dan memunculkan nilai-nilai yang ada di masyarakat sebagaimana ciri masyarakat dalam teori-teori sosial.
b. Informasi
Pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya, memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan informasi.
c. Arsip
Arsip merupakan karakter media sosial yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapan pun dan melalui perangkat apa pun.
d. Interaksi/Perbincangan
Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan antar pengguna dan terbangunnya interaksi antar pengguna tersebut. Interaksi dalam kajian media merupakan salah satu pembeda antara media lama dan media baru.
e. Simulasi Sosial
Interaksi di media sosial dapat menggambarkan realitas, tetapi interaksi tersebut merupakan simulasi, dan bahkan kadang berbeda dengan yang sebenarnya karena di media sosial identitas bisa berubah-ubah.
f. Penyebaran
Karakteristik ini menunjukkan media sosial sebagai medium yang tidak hanya menghasilkan konten yang diproduksi dan dikonsumsi oleh pengguna, tetapi juga didistribusikan dan dikembangkan oleh penggunanya.
g. Partisipasi/Keterlibatan
Media sosial mendorong pengguna yang berminat untuk memberi kontribusi dan umpan balik hingga dapat menghilangkan batas antara media dan audience.
h. Keterbukaan
Kebanyakan media sosial bersifat terbuka dengan adanya kesempatan untuk memberi umpan balik dan berpartisipasi melalui sarana-sarana yang disediakan seperti memberi komentar dan vote.