• Tidak ada hasil yang ditemukan

Drama di Boven Digul dan peleburan identitas melalui narasi politik

Tumbuh-kembangnya Wacana Pribumi-Non-Pribumi dari Masa ke Masa

A. Drama di Boven Digul : Kolonialisme dan masyarakat Cina 1. Drama di sekitar Drama di Boven Digul

A. 3. Drama di Boven Digul dan peleburan identitas melalui narasi politik

Di masa segregasi, yang memisah-misahkan manusia berdasarkan bangsa, menulis tentang bangsa (golongan) lain bukanlah perkara mudah karena wacana segregasi, sebagai wacana Simbolik, jelas tidak menyediakan bahasa untuk hal tersebut dan seandainya pun tersedia tentu akan bersifat me-liyan-kan golongan lain tersebut. Dengan wacana Simbolik yang memisah-misahkan ini, tentu kesatuan identitas bangsa-bangsa yang ada di Hindia Belanda bukanlah sesuatu yang diinginkan. KTH tampaknya

109 menyadari betul kenyataan tersebut. Karenanya ia mencoba mengangkat satu wacana yang menurutnya dapat digunakan untuk mengaitkan dan menyatukan semua golongan: Pemberontakan PKI. Pemberontakan PKI tahun 1926 adalah sebuah isu nasional karena memang PKI beroperasi di tingkatan Hindia Belanda. Pemberontakan tersebut bukanlah isu kedaerahan atau golongan bangsa tertentu. Itulah kenapa pihak Pemerintah Kolonial mengatasinya dengan cukup serius (baca: sadis).119

Dengan mengangkat cerita pemberontakan PKI, KTH, yang merupakan seorang Cina Peranakan dan termasuk dalam golongan Vreemde Oosterlingen, ingin menyatukan diri ke dalam identitas Indonesier (pribumi). Dengan menuliskan novel DBD, ia membuat pemberontakan PKI sebagai hal yang perlu ia cermati juga meskipun diposisikan sebagai sebuah entitas asing. Dengan begitu, ia mencoba menerobos dinding-dinding tiga golongan masyarakat. Ia menjadikan paling tidak membuat dua golongan besar (Indonesier dan Vreemde Oosterlingen) luruh dalam satu identitas. Tapi, bagaimana sesungguhnya perdebatan tersebut disajikan dalam DBD?

Perdebatan seputar baik tidaknya pemberontakan di tahun 1926 tersebut muncul, pada awalnya, hanya sebatas di ruang-ruang pribadi Moestari dan Noerani. Perdebatan ini muncul semenjak awal novel. Saat itu Moestari tidak mengetahui apa yang akan terjadi di Hindia Belanda. Noerani yang mengetahui akan terjadi pemberontakan dari ayahnya mengabari Moestari dengan cara yang metaforis. Ketika Noerani melanjutkan ceritanya dengan lebih gamblang, perdebatan diantara keduanya pun memanas. Masing-masing mengemukakan apa yang didapat dari lingkungannya. Hingga pertengahan novel hanya terdapat dua sudut pandang ini. Kemudian, di pertengahan novel, saat Noerani pergi menyepi untuk menenangkan diri, bertemulah ia dengan sepasang ayah-anak yang penulis: Tjoe Tat Mo dan Dolores. Walhasil, Tjoe Tat Mo dan Dolores ikut dalam perdebatan seputar Pemberontakan 1926.

119

110 Setelah pertemuan Noerani dengan dua orang dari kelompok Bangsa Asia Asing ini, terdapat tiga golongan masyarakat yang masing-masing memiliki sudut pandang tersendiri terkait dengan PKI dan pemberontakannya. Yang pertama adalah Moestari.

Moestari adalah pemuda pribumi yang merupakan “Assistant-Wedana yang lagi belajar

di Bestuur school dan ada putra dari Bupati di Sukabuwana”.120

Yang kedua adalah Noerani. Noerani adalah seorang pemudi pribumi yang merupakan anak dari seorang pemimpin PKI, yang mantan guru, bernama Mas Boekarim. Yang ketiga adalah Tjoe Tat Mo dan anaknya yang merupakan keluarga Cina dengan latar belakang pendidikan otodidak yang di atas rata-rata.

Ternyata dari tiga golongan ‘resmi’ hasil kebijakan Pemerintah Kolonial di masa itu, hanya dua yang terlibat dalam perdebatan: Pribumi dan Cina (Bangsa Asia Asing). DBD tidak menghadirkan tokoh, sekaligus sudut pandang, kulit putih terkait dengan masalah ini. Moestari, yang, menggunakan istilah sekarang, pegawai negeri jelas menentang keras pemberontakan PKI. Saat pertama kali mendengar rencana pemberontakan dari Noerani, ia hendak melaporkannya pada polisi. Saat itu dengan tegas ia berkata:

[i]ni perkara ada terlalu penting, Noer, Kau musti tau yang aku ini ada satu bestuur ambtenaar yang sudah mengangkat sumpah aken bersetia pada gouvernement, hingga tida boleh tinggal diam sesudahnya mendapet dengan resia besar. Aku musti kasih tau pada politie aken ambil aturan buat menangkis ini bahaya.”121

Jelas bahwa Moestari di sini membela kepentingan Pemerintah Kolonial karena ia adalah golongan pribumi yang diuntungkan dengan pendidikan dan jabatan.

Kembali ke percakapan Moestari dan Noerani di suatu sore di Wilhelmina Park, reaksi Noerani atas pernyataan Moestari di atas tentu sebuah ketidaksetujuan. Ia tidak ingin Moestari membeberkan rencana ayahnya yang PKI karena ia tidak ingin sesuatu terjadi dengan ayahnya bukan karena, secara ideologis, mengamini komunisme dan PKI. Akan tetapi, meskipun ia bukan seorang komunis, seperti ayahnya, tetap ia berada

120 (Benedanto, Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 3, 2001, p. 22) 121

111 di golongan pribumi yang berbeda dengan Moestari. Noerani melihat ayahnya Mas Boekarim sebagai ayahnya yang meskipun PKI tetap satu manusia, berbeda dengan Moestari yang melihat Mas Boekarim sebagai pemberontak semata. Selain itu, Noerani juga mengungkapkan bahwa memang negeri ini butuh perubahan dengan semua penderitaan yang ditimpakan atas rakyat Hindia-Belanda. Moestari melihat pemberontakan hanya semata-mata sebagai aksi kekerasan. Singkatnya, Noerani masih melihat adanya kebaikan arah dari PKI, satu hal yang tak dilihat Moestari.

Bagaimana dengan Tjoe Tat Mo dan Dolores di perkara ini? Kembali ke pernyataan awal saya di sub-bab ini, menariknya DBD, yang ditulis di masa kuatnya wacana segregasi adalah sudut pandang Cina yang diberikan atas perkara politik di Hindia-Belanda. Secara umum, Pemberontakan PKI sangat sedikit kaitannya dengan Bangsa Asia Asing di Hindia-Belanda. Di masa sebelum pemberontakan hingga pemberontakan, sangat sedikit Bangsa Asia Asing yang menjadi anggotanya. Di titik ini terlihat keberhasilan politik segregasi yang dijalankan oleh Pemerintah Kolonial. Bagi Pemerintah Kolonial hal ini tentu sangat membantu apabila Bangsa Asia Asing tidak bergabung dengan PKI karena, tentu saja, mengurangi jumlah pemberontak dan kekuatannya. Mereka ingin urusan politik semata-mata urusan kulit putih dan pribumi karena kepentingan mereka terhadap golongan Asia Asing hanyalah kepentingan ekonomis seperti telah saya jabarkan di Bab II. Hadirnya Tjoe Tat Mo dan Dolores di arena politik Hindia-Belanda menandakan bahwa golongan Cina adalah bagian dari Hindia-Belanda dan dengan memasukki arena politik ini golongan Cina dianggap satu identitas dengan pribumi. DBD adalah sebuah penolakkan KTH atas larangan membicarakan perkara-perkara yang dianggap perkara pribumi seperti Pemberontakan PKI; sebuah penolakkan atas segregasi dan pengasingan antara Bangsa Asia Asing dan pribumi.

112 A.4. Wacana Peleburan Identitas dan politik segregasi di masa kolonial Dapat dipastikan, jika dilihat dari beberapa fakta di atas, bahwa KTH adalah seorang penulis yang tidak berada di arus utama ideologi masanya. Ia menolak menulis dengan Bahasa Melayu Resmi. Ia bercerita tentang permasalahan pribumi dan Hindia-Belanda (Pemberontakan PKI). Ia juga mengajukan sebuah ide yang tak terbayang subversifnya di masa tersebut: peleburan identitas orang-orang Hindia-Belanda. Melalui penggunaan Bahasa Melayu Pasar, ia merangkul seluruh khalayak agar dapat membaca karyanya tanpa mengenal batas bangsa seperti yang ditekankan sistem politik segregasi. Dengan berbicara lebih mengenai agama yang dianutnya (Buddha), ia ingin orang-orang lebih mengerti tentang agama-agama yang ada di Hindia-Belanda. Melalui masukan-masukannya terhadap kondisi politik Hindia-Belanda, ia memasukkan diri dan

bangsanya ke perdebatan yang ‘seharusnya’ jadi perdebatan di kalangan pribumi

semata. Semua hal tersebut diperkuatnya dengan bagian akhir novel yang menceritakan komunitas yang dibentuk Noerani dan Moestari; sebuah komunitas yang dibentuk pasangan yang tidak berangkat dari dari sebuah landasan kultural tertentu; komunitas yang dibentuk oleh orang-orang yang menanggalkan atribut-atribut konstrusi sosial yang ada di diri mereka dan berusaha hidup berdampingan dengan damai sekaligus menyelaraskan diri dengan alam.

Akan tetapi, biar bagaimanapun, KTH tetap tak dapat lepas dari jaringan kekuasaan dan kungkungan wacana segregasi kolonial yang ada. Apakah peleburan identitas yang diajukan oleh KTH adalah jalan keluar terbaik dari politik segregasi? Apakah ia, dengan tepat telah memetakan pemasalahan yang ditimbulkan oleh politik segregasi? Apakah segregasi hanya terkait dengan pemisahan semata? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas di bab selanjutnya.