Tumbuh-kembangnya Wacana Pribumi-Non-Pribumi dari Masa ke Masa
C. Masa Reformasi: Multikulturalisme dan perayaan atas hal-hal yang dipinggirkan
C.1. Sosial dan budaya
Dipandang dari sisi agama dan perayaan, naiknya Gus Dur sebagai presiden Republik Indonesia tahun 1999 membawa beberapa perubahan yang cukup berarti bagi masyarakat keturunan Cina. Segera setelah menjabat Gus Dur mencabut larangan penyelenggaraan perayaan hari-hari raya masyarakat keturunan Cina yang tertera di Keppres no. 14 tahun 1967. Bahkan, di masa ketika sentimen anti-Cina masih bergaung, Gus Dur berani berkata bahwa dirinya merupakan keturunan Cina dala wawancaranya
98
89 dengan majalah Asiaweek.99 Selain urusan perayaan, Gus Dur juga memulihkan kembali kekuatan PP no. 1 tahun 1965 dan PP no. 5 tahun 1969 yang di dalamnya tercantum pengakuan Konghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Hal yang cukup berani tersebut lantas menjadi semacam penanda bagi hubungan sosial yang baru antara kaum minoritas dan mayoritas dengan segala pemaknaannya.
Pembatalan undang-undang diskriminatif tahun 1967 dilakukan Gus Dur dengan
menyatakan “penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat
Tionghoa dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana berlangsung selama
ini” dalam Kepres No. 6 tahun 2000 yang disahkan pada 17 Januari tahun 2000.100
Artinya, pembatasan ekspresi kultural masyarakat keturunan Cina kini dapat memasukki ruang-ruang publik dan tidak terbatas dalam tembok-tembok pekarangan rumah. Hal tersebut diperkuat pada masa pemerintahan Megawati (Kepres no. 19 tahun 2000) yang menyatakan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional. Setelah kemunculan ekspresi kultural ini disahkan secara legal, di masyarakat, keran informasi dan tontonan popular berbau Cina terbuka selebar-lebarnya.
Buku yang disunting oleh Ignatius Wibowo mencatat fenomena-fenomena yang
ada. Agus Setiadi, yang menyumbang esai berjudul “Geliat Sang Naga dalam Pustaka”
di buku tersebut, berfokus pada buku-buku tentang Cina setelah Reformasi. Terdapat dua jenis buku yang bermunculan terkait dengan Cina: 1.) Buku-buku yang berhubungan dengan RRC dan 2.) buku-buku yang berhubungan dengan orang-orang keturunan Cina di Indonesia. Di kelompok pertama, kemunculan buku-buku tersebut diawali dengan karya-karya fiksi sejarah dari zaman dinasti-dinasti (Sam Kok, Tiong Ciu Liat Kok, Tepi Air dll.). Buku-buku tersebut kemudian diikuti dengan kemunculan buku-buku fiksi dan buku non-fiksi (kondisi sosial-politik) tentang kehidupan Cina kekinian. Untuk kelompok bacaan yang kedua, fenomena ini diawali dengan penerbitan karya-karya fiksi dari golongan penulis Melayu-Tionghoa, dari masa sebelum
99 Lih. (Suryadinata, Negara dan Etnis Tionghoa: kasus Indonesia, 2002, p. 192) 100
90 kemerdekaan bahkan sebelum masa Balai Pustaka, yang hingga kini telah mencapai seri ke-10. Lantas, yang paling menarik, muncul karya-karya fiksi tentang Cina yang ditulis penulis-penulis Indonesia (baik yang keturunan Cina maupun bukan). Yang terakhir ini menunjukkan adanya semacam kebangkitan-kembali sastra Melayu-Tionghoa.
Di sisi lain, berbarengan dengan diperbolehkannya perayaan-perayaan orang-orang keturunan Cina di ruang-ruang publik, bentuk-bentuk kultural yang terkandung di dalamnya pun menggeliat naik ke permukaan. Salah satu yang paling kentara adalah tarian Barongsai yang kini hadir di berbagai acara dan tidak terbatas di acara-acara milik orang-orang keturunan Cina. Bahkan, para pemainnya pun tidak hanya dari golongan mereka. Yang menarik, setelah 30 tahun dilarang muncul ke ruang publik, kemunculannya langsung dapat diterima dengan hangat bahkan terus coba dimunculkan di setiap kesempatan yang ruangnya memungkinkan.
Fenomena ini diawali pada tahun 2000. Setelah Kepres Gus Dur dan Megawati, klenteng-klenteng di berbagai wilayah mulai dengan rutin menggelar latihan tari Brongsai. Dari sana kemudian terbentuklah organisasi-organisasi yang mewadahi kelompok-kelompok Barongsai yang ada. Salah satu yang paling awal, untuk organisasi bertaraf lokal, adalah Persatuan Liong Barongsai Bogor (PLBB) yang didirikan tahun 2000. Untuk tingkat nasional, yang berada di bawah struktur legal Negara, KONI di kasus ini, adalah Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Badan yang lain adalah Persatuan Kungfu Liong dan Barongsai Seluruh Indonesia (PKLBSI).101 PKLBSI seterusnya menjadi corong tari Barongsai Indonesia di kancah internasional dan tergabung dalam International Dragon and Liong Dance Federation
(IDLDF) yang berpusat di Beijing. Bahkan di tahun 2007, PKLBSI menjadi penyelenggara kompetisi Barongsai se-dunia. Sedangkan, Persobarin menjadi wadah bagi perkumpulan-perkumpulan Barongsai yang ada di daerah-daerah.
101
PKLBSI awalnya bernama Persatuan Tarian naga Barongsai Seluruh Indonesia (Pernabi). Badan ini berganti nama tahun 2006 walaupun memiliki misi yang sama. Lih. (Ignatius Wibowo, 2010, hal. 199-200)
91 Berbicara ruang dipertontonkannya Barongsai, kini ruang tersebut sangat sulit diidentifikasi. Penandan Barongsai kini dapat dilekatkan kemana saja. Akan tetapi, paling tidak, ruangnya dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan misinya. Yang pertama adalah ruang kebudayaan. Yang kedua adalah ruang komersil. Yang pertama biasanya berbentuk pawai-pawai kebudayaan atau hari-hari peringatan nasional. Sekarang sudah lazim di Indonesia untuk memasukkan tari Barongsai di acara-acara peringatan yang bersifat nasional atau lokal seperti Peringatan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus atau Peringatan Ulang Tahun berdirinya sebuah kota. Di sisi lain, beberapa kelompok Barongsai dipanggil untuk meramaikan acara-acara yang bersifat komersil seperti pembukaan pusat belanja atau pembukaan perusahaan baru. Tapi, yang penting untuk dicatat, adalah ruang untuk tari barongsai tidak terbatas pada ruang-ruang khusus kelompok masyarakat keturunan Cina.
Salah satu bentuk kebudayaan Cina yang diberangus di masa Orba dan muncul kembali ke permukaan setelah reformasi adalah bahasa sekaligus aksara Cina. Kini muncul lembaga-lembaga yang menyediakan sarana pembelajaran bahasa Cina di berbagai wilayah. Selain digandrungi oleh anak-anak muda keturunan Cina yang tidak dapat lagi berbahasa Cina, anak-anak muda dari etnis lain juga banyak mempelajarinya. Menurut catatan Assa Kaboel dan Nita Madona Sulanti, hingga tahun 2006, di wilayah provinsi DKI Jakarta, saja terdapat sekitar 141 lembaga kursus bahasa Mandarin. Jumlah lulusannya pun sudah ribuan dan terus meningkat dari tahun ke tahun.102
Maraknya tempat-tempat kursus Bahasa Mandarin ini dikarenakan sejak tahun 2001, tempat-tempat kursus tersebut telah diwadahi dalam Konsorsium Kursus Bahasa Mandarin. Konsorsium tersebut kemudian dijadikan mitra oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan kelembagaan Departemen Pendidikan Nasional. Hasilnya, kini tempat-tempat kursus tadi telah memiliki standar pengajaran (kurikulum, spesifikasi tenaga
102
92 pengajar, buku acuan dll.).103 Bahkan, sekarang ini, kursus Bahasa Mandarin telah terbagi dalam jenjang-jenjang mirip dengan yang ada di universitas-universitas. Lebih jauh, akhir-akhir ini, tidak jarang universitas-universitas pada jurusan-jurusan tertentu memiliki mata kuliah tambahan Bahasa Mandarin.
Begitulah bentuk-bentuk kebudayaan Cina yang tadinya diberangus kini diakui, diangkat bahkan digandrungi (terutama yang bersifat tontonan). Tidak ada perdebatan tentang cara mengangkat yang tadinya tertindas ini; apakah harus asimilasi atau integrasi? Sepertinya dengan pengakuan dan pengangkatan bentuk-bentuk kebudayaan di atas, masalah yang ada di belakang telah selesai. Hal serupa juga berlaku terhadap bentuk-bentuk kebudayaan dari etnis lain di Indonesia. Tidak sulit bagaimana saat ini
pemerintah sedang berusaha ‘menjual’ produk-produk daerah. Lihat saja penggabungan antara budaya dan pariwisata dalam satu departemen (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) yang mencanangkan program besar Visit Indonesia; sebuah program yang membanggakan lokalitas, perbedaan dan harmonisasinya. Inilah wacana utama terkait dengan etnisitas di masa Reformasi.