BAB V PENUTUP: YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP
5.2 Pergumulan Teologi-Kristologi
5.2.2 Dua Pendekatan Merefleksikan Yesus Kristus: Historis-Kritis dan
Kristologi Ratzinger yang sudah dijelaskan dalam sudut pandang model-model teologi kontekstual Bevans memiliki tiga kesimpulan yang menarik untuk dicermati. Pertama, pendidikan dan karier Ratzinger dalam bidang teologi dibentuk oleh perjumpaannya dengan metode historis-kritis penafsiran Kitab Suci,
9 Bdk. Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 108.
10 Bdk. Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 107-108.
yang pada akhir 1940-an menjadi model teoritis yang dominan dalam dunia akademis. Dalam refleksi-refleksinya, Ratzinger mengemukakan betapa yakinnya para ahli bahwa metode historis-kritis memberi mereka kata terakhir mengenai makna teks-teks Kitab Suci. Bagi Ratzinger, kepercayaan eksklusif pada metode historis-kritis memperkecil atau mereduksi tokoh Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak diimani sebagai Tuhan atau Anak Allah, tetapi dianggap hanya sebagai seorang manusia yang tidak lebih daripada seorang pembela bagi semua orang.11
Ratzinger memahami bahwa karena sosok Yesus itu historis, Ia dengan tepat didekati dengan metode analisis kritis. Namun, pendekatan historis-kritis yang terpisah dari pendekatan hermenutika iman tidak cukup untuk mengetahui sepenuhnya tentang Yesus Kristus. Ratzinger menegaskan bahwa penafsiran ilmiah harus mengakui bahwa pendekatan hermeneutika iman yang dikembangkan dengan baik sesuai dengan teks dapat digabungkan dengan pendekatan hermeneutika historis-kritis. Pendekatan historis-kritis dan hermeneutika iman akan membentuk gambaran yang utuh tentang Yesus Kristus yang hidup dalam sejarah dan yang diimani oleh Gereja.
Menurut penulis, kristologi Ratzinger ingin mendamaikan dua kutub pemikiran: Yesus historis dan Yesus Imani sehingga pola narasinya mengikuti model budaya tandingan Bevans. Ratzinger mengakui keabsahan narasi Kristen yang menjelma dalam pengalaman tentang masa lampau sebagaimana terekam
11 Joseph Ratzinger, Pilgrim Fellowship of Faith: The Church as Communion (San Fransisco:
Ignatius Press, 2005), 27.
dalam Kitab Suci dan tradisi sebagai petunjuk tentang makna sejarah manusia dan sejarah kosmis. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Ratzinger menjelaskan bahwa Yesus Kristus sebagai pemenuhan wahyu Allah yang berlangsung dalam sejarah sebagaimana terekam dalam Kitab Suci dan tradisi. Dalam perspektif sosiologi adikodrati, narasi Kristen digunakan sebagai lensa melaluinya kita menafsir, melibatkan diri, menyingkapkan dan menantang pengalaman masa kini yaitu konteks pengalaman individu, kebudayaan sekular atau religius, lokasi sosial dan perubahan sosial. Proses ini tidak dipahami sebagai satu kegiatan sederhana, sekali jalan, dan bersifat individual dan komunal. Proses pemindaian dan kritik melalui lensa Injil merupakan sesuatu yang senantiasa berlangsung baik di dalam diri orang Kristen secara individu dan jemaat secara keseluruhan maupun ketika ia melihat keluar dari sisi tilik seorang pelaku yang bertobat atau jemaat kontras.12
Dalam pandangan penulis, kristologi Ratzinger ingin terlibat dalam dan menjadi relevan terhadap konteks serta setia kepada Injil. Kristologi Ratzinger mengakui bahwa kecemerlangan agama Kristen tidak terletak dalam pengabsahan terhadap status quo atau pengembangan dari yang baru dan akan datang tetapi dalam dayanya untuk menantang dan mengubah. Kristologi Ratzinger juga mengakui kemenduaan dan karakter anti-Injil dari konteks secara khusus berkaitan erat dengan kebudayaan Barat dengan penekanannya individualisme, pilihan tak terbatas, memiliki lebih daripada berada serta kejahatan-kejahatannya seperti kekerasan, dan lain-lain sehingga Kekristenan hendaknya berbicara tentang
12 Bdk. Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 230-231.
penolakan dan menawarkan cara hidup tandingan. Yesus Kristus sebagai kepenuhan wahyu Allah merupakan pusat dari semua sejarah manusia. Mengikuti narasi sejarah keselamatan melalui kebangkitan Yesus Kristus memungkinkan untuk melihat kembali urutan penciptaan, urutan sejarah dan menafsirkan kembali semuanya melalui lensa kristologi.13
Kedua, dalam hubungannya dengan pluralisme, Ratzinger menyatakan bahwa dunia kontemporer terbiasa dengan pola pikir objektivitas dalam konteks pluralisme. Pola pikir demikian menimbulkan ketegangan saat menjelaskan siapa Yesus berdasarkan Injil. Pernyataan bahwa Yesus sebagai Allah menimbulkan polemik untuk zaman ini yang semakin menekankan pluralime agama. Perihal wahyu Allah dalam Yesus Kristus, Ratzinger menjelaskannya sangat pribadi bahkan lebih intim. Apabila gambaran itu lebih uum dan bercorak filsafat, ide ini akan lebih mudah dipahami. Namun, Ratzinger memiliki pola sendiri terhadap teolog-kristologi. Ia menggunakan pendekatan naratif sehingga kita harus membaca teliti dari sebuah kisah untuk bisa mengikuti pola Ratzinger. Masalah menjadi jelas Ketika Dominus Iesus diterbitkan. Dominus Iesus menyinggung hal yang berkaitan dengan Kristosentrisme terhadap pluralism agama.14
Ide kesatuan di dalam Yesus Kristus dan Gereja dalam rencana sejarah menimbulkan ketegangan ketika dihadapkan dengan dunia kontemporer yang dikondisikan kerangka berpikir pluralisme agama. Dalam memahami Dominus
13 Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 232.
14 Bdk. Christoper S. Collin, The Word Made Love, 83; DI, no. 23.
Iesus, kita harus ingat pemikiran Ratzinger yang berpusat pada Logos sebagai cara menafsirkan misteri Kristen dalam hal dialog dan narasi yang terbuka tentang hubungan antara Allah dan dunia. Gereja tiada henti merefleksikan misteri Sabda dalam Yesus Kristus. Gereja tidak memomonopoli bahwa kebenaran hanya ada di dalam Gereha. Gereja menerima bahwa Yesus Kristus sebagai pewahyuan Allah sepanjang sejarah. Namun, Gereja menolak relativitas Yesus dengan menyejajarkan-Nya dengan tokoh-tokoh lain. Gereja tetap berpegang teguh pada pandangan bahwa universalitas keselamatan hanya terdapat dalam diri Yesus Kristus.15
Ketiga, penulis menilai bahwa kristologi Ratzinger mengarah pada anti budaya. Kristologi Ratzinger memiliki bahaya sektarianisme karena hanya berkutat pada pencarian identitas Yesus Kristus semata tanpa memikirkan apa dampak nyata dalam kehidupan sosial, budaya, dan konteks setempat. Pada hakikatnya, Gereja memanggil seluruh jemaatnya untuk terlibat secara keseluruhan dalam dunia. Kristologi Ratzinger sepertinya lebih cocok untuk konteks yang bersifat monokultural daripada konteks plural dari segi budaya, agama, identitas sosial, dan sebagainya. Kristologi Ratzinger juga memiliki bahaya ekslusivisme terhadap agama Kristen atas agama-agama lain walaupun di satu sisi memegang teguh jati dirinya.16
15 Bdk. Christoper S. Collin, The Word Made Love, 83; DI, no. 23.
16 John Mansford Prior, Membedah antara Hubungan Agama dan Kebudayaan dalam Teologi Joseph Ratzinger dalam Terang Teologi FABC (Judul asli: Dialektika Sekularisasi: Hubungan antara Akal Budi dan Iman) (Ledalero: STFK, 2011), 1-2. (Makalah).
5.3 Paradigma Baru dalam Teologi-Kristologi Kontekstual: Yesus Kristus