• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehadiran Yesus Kristus selalu Baru

Dalam dokumen YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP KONTEKS: (Halaman 191-200)

BAB V PENUTUP: YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP

5.3 Paradigma Baru dalam Teologi-Kristologi Kontekstual: Yesus Kristus

5.3.2 Kehadiran Yesus Kristus selalu Baru

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Namun, manusia yang berubah mau tidak mau memikirkan Dia secara lain. Dari Surat kepada Orang Ibrani 13:8, kita dapat menggarisbawahi bahwa Yesus Kristus tetap sama, hari ini dan untuk selamanya tetapi manusia yang berubah sehingga perlu cara baru untuk merefleksikan Yesus supaya sesuai dengan konteks. Pernyataan ini membuat kita untuk merevisi cara beriman kita terhadap Yesus Kristus.20

Tentu saja tidak ada satu pun kristologi yang disusun sepanjang sejarah sungguh-sungguh memuaskan dan dapat mempertahankan diri. Hal ini terjadi bukan hanya kenyataan bahwa alam pikiran manusia berubah, tetapi juga oleh karena objek kristologi, yaitu Yesus Kristus melampaui pikiran, perkataan dan bahasa manusia. Para pemikir Kristen tidak selalu berhasil dengan baik dalam usahanya merumuskan Yesus Kristus. Para teolog tidak boleh terlalu berbangga atas ilmunya karena adakalanya para teolog dengan spekulasinya malah memasang tembok tebal antara Yesus Kristus dan mereka yang percaya

19 C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, 286.

20 C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, 206.

Nya. Mereka tidak selalu menolong umat untuk juga secara intelektual, konsepsual serta linguistis untuk semakin jelas dan jernih melihat misteri yang tak terselami tersebut.21

Situasi dewasa ini mendesak para pemikir yang beriman akan Yesus Kristus mulai secara ilmiah memikirkan sasaran iman umat. Perlu dipikirkan bagaimana Yesus Kristus nyatanya hidup dalam benak umat beriman. Bagaimana refleksi spontan umat itu dapat dijernihkan, kalau perlu dibetulkan, sehingga Yesus Kristus yang tetap sama semakin hidup dalam hati dan semakin relevan dan bermakna bagi seluruh kehidupannya. Pemikiran itu tentu saja mesti melayani pewartaan dan pemberitaan di dalam rangka umat dan di luar rangka itu. Bukan pemikiran, teologi-kristologi perlu diberitakan, melainkan Yesus Kristus. Teologi-kristologi hanya alat untuk membuat pemberitaan itu lebih sepadan, sesuai, efektif dan kena.22

5.3.3 Konteks sebagai Tempat Kehadiran Yesus Kristus

Teologi dimengerti sebagai sebuah refleksi dalam iman menyangkut dua sumber teologi (loci theologici) yakni Kitab Suci dan tradisi, yang isinya tidak bisa tidak pernah berubah dan berada di atas kebudayaan serta ungkapan yang dikondisikan secara historis. Namun apa yang membuat teologi itu kontekstual

21 C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, 285.

22 C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, 287-288.

adalah pengakuan akan keabsahan tempat berteologi (locus theologicus) yang lain yaitu pengalaman manusia sekarang ini. Teologi yang berwajah kontekstual menyadari bahwa kebudayaan, sejarah, bentuk-bentuk pemikiran kontemporer, dan lain-lain, harus diindahkan bersama dengan Kitab Suci dan tradisi sebagai sumber-sumber absah untuk ungkapan teologis. Dewasa ini, kita mengatakan bahwa teologi memiliki tiga sumber yaitu Kitab Suci, tradisi, dan pengalaman manusia sekarang ini atau konteks.23

Pada zaman ini, para teolog semakin menyadari pentingnya konteks dalam membentuk dan menata pola pikir manusia dan kesakralan konteks tersebut dalam bingkai pewahyuan Allah. Ketika kita mengatakan bahwa ada tiga sumber untuk teologi maka sebenarnya kita tidak sekedar menambahkan konteks sebagai unsur ketiga, tetapi sebaliknya kita justru kita mengakui bahwa pentingnya konteks demi pengembangan Kitab Suci dan tradisi. Ketika kita mempelajari Kitab Suci dan tradisi, kita tidak saja harus menyadari ciri kontekstualnya yang tak terelakkan tetapi kita juga harus membaca dan menafsir keduanya dalam konteks kita sendiri.24

Pengenalan kita akan Yesus Kristus hanya mungkin terjadi jika mengacu pada pengenalan akan Yesus Kristus kemarin, dan pengenalan akan-Nya hari ini dan pengenalan-Nya yang kemarin, mengantar pada pengenalan akan Yesus Kristus yang abadi. Yesus Kristus hari ini adalah sama dengan Yesus Kristus saat

23 Bdk. Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 2.

24 Bdk. Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 5.

itu. Yesus Kristus bukanlah sekadar pribadi masa lalu, namun Pribadi yang senantiasa hadir serta aktual di setiap masa dan saat. Karena Sabda itu adalah Allah sendiri, dan Allah telah secara utuh memberikan keseluruhan sabda-Nya dalam Putera-Nya sendiri, maka tidak diperlukan lagi sabda lain. Karena itu, Yesus Kristus bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi senantiasa menjadi aktual di masa kini dan di masa depan sebab Ia senantiasa satu dan sama di setiap masa, meneguhkan kehidupan kita menuju keabadian. Kebenaran Yesus Kristus ada dalam diri-Nya sendiri, yang tidak berbeda, dan tidak berubah oleh perubahan zaman serta perkembangan waktu.25

5.4 Pilihan Metodologis dalam Berkristologi

Penulis mengutip pernyataan Bevans yang menarik pada akhir tulisannya,

“Apakah satu model lebih baik dari yang lain? Apakah satu cara untuk mengindahkan pengalaman masa lampau dan pengalaman masa kini lebih cocok dari cara yang lain?” Pertanyaan Bevans ini penulis modifikasi menjadi, “Apakah kristologi Amaladoss lebih baik dari kristologi Ratzinger dan begitu juga sebaliknya?” Barangkali ada beragam jawaban dari pertanyaan ini, tetapi satu hal yang menjadi jawaban penulis ketika menjawab pertanyaan ini yaitu setiap pribadi yang terlibat dalam perihal berteologi mesti menyadari ranah pilihan metodologis

25 C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, 206-213.

yang tersedia. Dalam berteologi-kristologi, kita memerlukan suatu kemajemukan yang sehat.26

Kita telah menganalisis dua pemikiran kristologi dari Amaladoss dan Ratzinger dalam terang model-model teologi kontekstual Bevans. Kristologi Amaladoss dan Ratzinger memiliki ciri khas dalam hal metodologisnya. Dalam terang model teologi Bevans, Amaladoss lebih condong pada model antropologis karena titik berangkat kristologinya dari konteks: kebudayaan (sekular, religius), lokasi sosial, perubahan sosial Asia secara khusus India. Sedangkan Ratzinger lebih mengarah kepada model budaya tandingan karena Ratzinger menyusun kristologi dengan penerimaan masa lampau (Kitab Suci dan tradisi) sebagai petunjuk makna sejarah, menggunakan pengamalan masa lampau sebagai lensa, mengintepratasi pengalaman masa kini (kebudayaan, lokasi sosial, perubahan sosial) untuk abad keduapuluh di Eropa dan dunia. Dua pemikiran kristologi ini baik dan benar sesuai dengan tempatnya. Klaim satu lebih baik dan benar daripada yang lain tidak relevan untuk menyatakan dua pemikiran kristologi ini.

Untuk penulis, dua pemikiran kristologi ini memiliki kelemahan.

Kristologi Amaladoss yang mengikuti model antropologis sangat kuat menekankan kebudayaan dalam membangun kristologi. Seperti yang penulis jelaskan sebelumnya, hal ini akan menimbulkan bahaya yaitu romantisme budaya.

Budaya yang dianggap semua baik dan benar atau dengan kata lain tidak ada

26 Bdk. Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Kontekstual, 258.

kritisi terhadap budaya yang ada. Sedangkan Ratzinger membangun teologi-kristologi melalui gagasan Eropa yang monokultural. Menurut penulis, Ratzinger tidak menyadari bahwa dunia memiliki keanekaragaman budaya dan setiap pribadi harus berdialog dengan realitas kebudayaan yang ada.27 Maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa membangun teologi-kristologi yang tepat, pada tempatnya, dan di tengah dunia dewasa ini di mana ada kemajemukan dan kemenduaan yang radikal yaitu membangun kristologi yang tergantung dari konteks.

5.5 Relevansi Teologi-Kristologi Michael Amaladoss dan Joseph Ratzinger untuk Indonesia

Dalam penulisan tesis ini, penulis condong menganalisa sisi metodologis dari kristologi Amaladoss dan Ratzinger. Ke depan, ulasan kristologi Amaladoss dan Ratzinger hendaknya menggali lebih mendalam perihal isi hubungan antara kebudayaan yang ada di Eropa dan Asia. Kebudayaan menjadi landasan mendasar bagi Amaladoss dan Ratzinger dalam membentuk pemikirannya termasuk kristologi.

Dua cara teolog menggali kristologi dapat memberikan warna bagi Indonesia. Amaladoss dengan kekhasannya menggali kristologi dengan melihat sangat mendalam kebudayaan Asia terkhusus India yang selalu berdialog dengan

27 Francisco Claver, The Making of a Local Church (Quezon City: Claretian Publications, 2009), 133.

tiga realitas: pluralitas kultural, pluralitas agama, dan kemiskinan. Sebagai bagian dari Asia, tiga realitas tersebut tentu menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari umat Katolik Indonesia. Apabila kita ingin membangun teologi pun kristologi, tiga realitas itu tidak dapat ditinggalkan. Kita juga dapat meniru cara Amaladoss dalam menyusun kristologi dengan menggunakan ungkapan mudah dan dekat dengan hal-hal yang ada dalam realitas Indonesia. Walaupun dengan cepat kita dapat menilai bahwa ungkapan terhadap Yesus Kristus itu sepertinya ingin menyejajarkan Dia dengan tokoh-tokoh lain. Namun, hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa cara tersebut sepertinya sedikit efektif dan membantu umat untuk lebih dekat dengan Yesus Kristus. Cara demikian hendaknya dapat diterapkan di Indonesia namun dengan cara-cara yang ketat dan di bawah bimbingan ahli dan magisterium. Menurut penulis, cara tersebut membuat Yesus Kristus yang pernah hidup ribuan tahun dan Tuhan kita menjadi lebih dekat bahkan bisa lebih intim mengimani-Nya.

Ratzinger membangun kristologi dengan melihat realitas dua kutub pemikiran saat ini yaitu Yesus historis dan Yesus Imani. Cara Ratzinger membangun kristologinya dengan mengakui keabsahan narasi Kristen yang menjelma dalam pengalaman tentang masa lampau sebagaimana terekam dalam Kitab Suci dan tradisi sebagai petunjuk tentang makna sejarah manusia dan sejarah kosmis. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Ratzinger menjelaskan bahwa Yesus Kristus sebagai pemenuhan wahyu Allah yang berlangsung dalam sejarah sebagaimana terekam dalam Kitab Suci dan tradisi. Cara Ratzinger yang demikian dalam membangun kristologi dapat membantu kita dalam mencari Yesus Kristus

yang sejati. Kita mengakui bahwa Indonesia memiliki beranekaragam budaya, agama dan situasi kemiskinan yang tidak dapat dihindarkan. Namun, kita perlu mengingat bahwa kita juga tidak boleh terlalu mengagungkan tiga realitas itu.

Tiga realitas itu tetap menjadi bahan pertimbangan kita dalam membangun kristologi khas Indonesia, tetapi kita tidak boleh lupa seperti yang dijelaskan Ratzinger bahwa Kitab Suci dan tradisi sebagai petunjuk tentang makna sejarah manusia dan sejarah kosmis. Menurut penulis, dalam membangun kristologi khas Indonesia, kita harus tetap berpedoman pada Kitab Suci, tradisi, magisterium dan memerhatikan realitas Indonesia yang memiliki pluralistas budaya, agama dan situasi kemiskinan.

Untuk penulis, seseorang menjadi teolog bukan karena hebat menghafal rumusan-rumusan baku dalam teologi atau mengetahui pendapat-pendapat teolog-teolog kaliber. Menjadi teolog-teolog karena keberanian menciptakan tesis baru yang dapat dijelaskan dengan dasar Kitab Suci dan tradisi. Bukankah semua teolog kaliber menjadi terkenal karena karyanya? Memang, ketakutan untuk menjadi sesat atau tidak sesuai ajaran Gereja selalu ada tetapi tidak salahkah untuk mencoba? Dalam menerapkan teologi kontekstual, kita tentu meminta dibimbing para ahli.

Menjadi teolog teologi kontekstual memang tidak gampang dan akan ada penolakan-penolakan dari beberapa pihak. Namun, sekali lagi ditegaskan, bukankah para teolog hebat seperti Amaladoss, Ratzinger, Karl Rahner, dll menjadi terkenal karena karyanya? Semua isi teologi mereka berangkat dari

konteks mereka. Lalu pertanyaannya, apakah kita diam saja dengan konteks yang ada di sekitar kita? Apakah teologi kita hanya sebatas terjemahan dari teologi Barat dan mencocokkannya dengan konteks ke-Indonesia-an kita? Seorang teolog tidak menjadi user saja, tetapi hendaknya menjadi praktisi teologi kontekstual.

Zaman sekarang ini, kita tidak cukup menjadi user tetapi harus menerapkan ilmu-ilmu teologi yang berangkat dari konteks sehingga teologi menjadi ilmu-ilmu terapan.

5.6 Usulan Pastoral: Pentingnya Pneumatologi dalam Membagun Kristologi

Dalam Kekristenan, sumber berteologi adalah Kitab Suci, Tradisi, reason.

Indonesia sangat menjunjung tinggi religius experience tetapi sedikit menyinggung reason. Ada ketakutan untuk berteologi secara kontekstual karena Kitab Suci dan Tradisi dapat dipakai sebagai sarana membenarkan atau legitimasi.

Membangun sebuah teologi bukan hal yang mudah karena dibutuhkan suatu pertanggungjawaban yang bisa dinalar dari sejumlah prespektif. Untuk membangun kristologi di Indonesia perlu memerhatikan tantangan di Indonesia yaitu banyaknya kultur, tradisi religius dan kemiskinan. Federation of Asian Bishop Conference (FABC) menyarankan untuk berteologi-kristologi di Asia

secara khusus juga di Indonesia untuk memerhatikan aspek Pneumatologi.

Pneumatologi sebagai peluang untuk membangun kristologi dalam konteks Asia secara khusus di Indonesia. Hal itu terteuang dalam FABC Papers 81 tahun 1998, The Spirit at Work in Asia Today (Peran Roh Kudus di Asia). Dalam diskursus tersebut, titik tolak untuk berteologi-kristologi adalah Roh Kristus yang hadir setelah kebangkitan sehingga dalam membangun sebuah kristologi sumbernya

dari Roh Yesus yang memberi kekuatan. Roh Yesus mentransformasi para murid yang sektarian menjadi universal (Luk. 10: 33-34).28

Dokumen FABC, No. 81, Tahun 1998: The Spirit at Work in Asia Today (Peran Roh Kudus di Asia) menyebutkan bahwa Roh Kudus menjadi sebuah semangat yang mucul di Asia. Roh Kudus bersifat universal karena mengakui atau me-recognize sejarah-sejarah atau hal-hal yang ada pada masa lalu secara khusus, masyarakat Asia yang miskin dan termarjinalisasi. Sebagai murid Yesus, kita ingin mengikuti Roh-Nya. Diskursus dalam dokumen tersebut merupakan upaya memperdalam insight dan orientasi FABC tentang Roh Kudus dan menolong Gereja Asia dalam pastoral.29

Dialog dengan Islam harus berangkat dari peran Roh Kudus karena dalam Islam juga ada penjelasan tentang Roh Kudus. Dalam kristiani, buah-buah Roh Kudus menurut Paulus (Gal. 5: 22-23) yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan. Dalam Islam, buah-buah Roh Kudus seperti yang disebutkan dalam Galatia dengan istilah lain seperti sukacita adalah sara`, kesabaran adalah sabr, kesetiaan adalah sidq, dan sebagainya.30

Perwujudan dari buah-buah Roh yang tertuang dalam Galatia itu dalam Islam dimengeti demikian, kasih dimengerti ketika satu keluarga hidup dalam ajaran Islam yaitu melatih hati nurani mereka, berdoa, lemah lembut dan sabar,

28 Federation of Asian Bishop Conference, The Spirit at Work in Asia Today: A Document of The Office of Theological Concerns of The Federation Asian Bishop of Conference, Kuala Lumpur:

Peninsular Malaysia Pastoral Secretariat, 1998, 1.

29 Federation of Asian Bishop Conference, The Spirit at Work in Asia Today, 1-2.

30 Federation of Asian Bishop Conference, The Spirit at Work in Asia Today, 26.

Dalam dokumen YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP KONTEKS: (Halaman 191-200)