• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yesus Kristus sebagai Pemenuhan Wahyu Allah

Dalam dokumen YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP KONTEKS: (Halaman 106-117)

BAB II SEMBILAN GAMBARAN YESUS KRISTUS DI ASIA:

3.4 Gagasan Kristologi Joseph Ratzinger

3.4.1 Yesus Kristus sebagai Pemenuhan Wahyu Allah

Pemahaman Ratzinger tentang pewahyuan tidak statis, abstrak namun dinamis. Karakteristik wahyu berkembang dalam sejarah sehingga menjadi dialogis dan stukturnya berbentuk naratif. Puncak dari wahyu Allah yang berlangsung dalam sejarah merupakan jalan masuk ke dalam narasi tentang sosok Yesus Kristus. Yesus Kristus merupakan dialog, pertemuan antara Allah dan manusia. Ratzinger melihat Yesus Kristus sebagai kepenuhan wahyu Allah sehingga Ratzinger mendefenisikan kristologi dengan kata menjadi (to be).

Menurut Ratzinger, definisi kristologi menjadi (to be) menjadi kunci hermeneutis

26

bagi keseluruhan teologi. Yesus Kristus merupakan dasar bagi seluruh pengalaman Kristen dan untuk setiap aspek refleksi teologis dalam tradisi Kristiani.27

Teologi Ratzinger tidak ingin menggambarkan Yesus Kristus dalam bentuk antroposentrisme yang terjadi dalam teologi Katolik abad kedua puluh, yang mencoba memahami misteri Kristen dalam pandangan egosentris Cartesian.

Sebaliknya, Ratzinger menekankan sentralitas dari hermeneutika Kristiani tentang sejarah keselamatan. Manusia dapat dipahami dengan benar dalam terang Yesus Kristus dan bukan sebaliknya.28

Menurut Ratzinger, sentralitas Yesus Kristus menjadi jelas justru karena sifat dialogis dari seluruh teologinya. Ratzinger menjelaskan bahwa kristologi adalah subjek dan fondasi baru dari semua teologi. Menurut Ratzinger, tidak hanya Allah berbicara kepada umat manusia melalui Yesus Kristus, tetapi umat manusia sekarang dapat masuk ke dalam subjektivitas baru yang berkenaan dengan Allah. Ratzinger melihat pengalaman Paulus sebagai paradigma dari subjektivitas baru ini dengan pernyataan tentang identitas barunya: “Aku hidup, bukan lagi aku, tetapi Kristus hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Hal ini bukan

27 Emery de Gaál Gyulai, The Theology of Pope Benedict XVI: The Christocentric Shift (New York: Palgrave Macmillan, 2010), 300-301; Christoper S. Collin, The Word Made Love: The Dialogal Theology of Joseph Ratzinger/Benedict XVI (Collegeville, Minnesota: Liturgical Press, 2013), 77.

28 Emery de Gaál Gyulai, The Theology of Pope Benedict XVI, 300; Christoper S. Collin, The

hanya pengalaman Paulus tetapi pengalaman mendasar dari semua orang Kristen.29

Penginjil Yohanes menjelaskan sabda Yesus kepada murid-murid-Nya:

“Jika sebutir gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, itu tetap tinggal sebutir gandum; tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24).” Para murid akan datang untuk melihat teladan sempurna dari orang yang mati dan menghasilkan banyak buah dan bagaimana mereka dapat melakukan hal yang sama dalam kehidupan mereka sendiri dan meniru-Nya. Buah baru di antara umat beriman berasal dari persatuan dengan Yesus Kristus sehingga masuk ke dalam subjektivitas baru yaitu Yesus Kristus. Hal ini yang diperlukan dari diri manusia lama untuk menjadi hidup kembali sebagai ‘Aku’ yang baru di dalam Kristus.30

Dari seluruh sejarah keselamatan yang memuncak dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, metode refleksi teologi Ratzinger melihat kembali seluruh narasi dengan kembali mempelajari sejarah keselamatan. Kita dapat mengatakan bahwa pendekatan kristologi ini sebagai ‘dialogis’ karena bentuknya mengikuti sabda Allah dan tanggapan manusia sepanjang sejarah.

Dialog antara Allah dan manusia membentuk narasinya sendiri sepanjang sejarah keselamatan. Pribadi Kristus merupakan kesempurnaan dan kepenuhan dialog ini,

29 Joseph Ratzinger, The Nature and Mission of Theology: Essays to Orient Theology in Today’s Debates (San Francisco: Ignatius Press, 1995), 50-51.

30

baik sebagai Allah yang berbicara kepada manusia maupun manusia yang menanggapi Allah.31

Untuk menelaah historisitas Yesus Kristus, Ratzinger mendekatinya dengan yang ia sebut hermeneutika iman. Dalam kata pengantar volume kedua buku Jesus of Nazareth, Ratzinger menyatakan bahwa dia tidak berusaha untuk menulis kristologi. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa maksudnya yaitu membuat risalah teologi tentang misteri kehidupan Yesus. Ratzinger membandingkan tulisannya dengan risalah Santo Thomas Aquinas, dengan penekanan yang terletak dalam konteks historis dan spiritual yang berbeda dari Aquinas. Ratzinger juga memiliki tujuan batin yang berbeda yang menentukan struktur teks dalam cara penting. Ratzinger lebih menitikberatkan isinya mengenai meditasi tentang misteri kehidupan Kristus, atau lebih mengarah pada bentuk kristologi Alkitab.32

Bukan sebuah kebetulan Ratzinger menyatakan karya-karyanya sebagai pencarian pribadinya terhadap wajah Yesus. Sejak awal, Ratzinger memperkenalkan dua dasar kristologinya. Refleksinya tentang misteri Yesus berfokus sebagai orang yang melihat Allah dari muka ke muka dalam doa, dan Yesus merupakan orang yang sungguh dapat menyatakannya: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dia-lah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Ratzinger melihat Yesus sebagai nabi terakhir, orang yang melampaui Musa, nabi terbesar dari Perjanjian

31 Christoper S. Collin, The Word Made Love, 78-79.

32 Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth, Holy Week: From the Entrance into Jerusalem to the

Lama. Musa berbicara kepada Allah ‘dari wajah ke wajah’ sebagai seorang teman (Kel. 33:11 dan Ul. 34:10). Musa masuk ke dalam awan tempat Allah hadir, tetapi Ia tidak bisa melihat wajah Allah. Allah tersembunyi di celah batu dan Musa hanya melihat punggung Allah (Kel. 33: 20-33). Yesus melihat Bapa dari wajah ke wajah, karena Ia adalah yang paling dekat dengan Bapa, Ia dapat membuat Bapa dikenal secara pasti.33

Menurut Ratzinger, untuk memahami Yesus dalam Perjanjian Baru, kita harus melihat relasi-Nya dengan Bapa dari wajah ke wajah. Semua yang diberitahukan kepada kita tentang sabda, perbuatan, penderitaan, dan kemuliaan-Nya dalam relasinya dengan Bapa. Ratzinger menyatakan bahwa doa Yesus merupakan hal yang penting untuk pemahaman kita tentang siapa Dia. Penjelasan dalam Injil tentang Yesus yang berdoa sendirian dengan Bapa-Nya merupakan bagian fundamental untuk pemahaman kita tentang Dia.34

Ratzinger memahami bahwa karena sosok Yesus itu historis, Ia dengan tepat didekati dengan metode analisis kritis. Namun, pendekatan historis-kritis yang terpisah dari pendekatan hermeneutika iman tidak cukup untuk mengetahui sepenuhnya tentang Yesus Kristus. Dalam kata pengantar jilid kedua Jesus of Nazareth, Ratzinger mengatakan kepuasannya bahwa sejak penerbitan jilid pertama tampaknya ada wacana keilmuan yang semakin kuat tentang sudut pandang teologi baru yaitu metodologi eksegetis. Ratzinger mengatakan bahwa

33 Joseph Ratzinger, Yesus dari Nazareth, 3-5.

34

setelah dua ratus tahun penafsiran historis-kritis, buah esensialnya telah dihasilkan. Namun, penafsiran historis-kritis tidak dapat berdiri sendiri, ia harus mengambil langkah metodologis tanpa meninggalkan karakter historisnya. Dalam mengembangkan teologi dan penafsiran Alkitab, Ratzinger menegaskan bahwa penafsiran ilmiah harus mengakui bahwa pendekatan hermeneutika iman yang dikembangkan dengan baik sesuai dengan teks dapat digabungkan dengan pendekatan hermeneutika historis-kritis.35

Menurut Ratzinger, Alkitab tidak dapat dipahami di luar keseluruhan metodologis ini yang dapat menimbulkan tegangan antara pendekatan hermeneutik iman dan pendekatan hermeneutik historis-kritis. Mereka secara bersama membentuk satu perspektif otentik tentang sifat dan substansi dari wahyu dalam Kitab Suci dan tradisi. Tetapi apa itu pendekatan hermeneutika iman? Apa yang membentuknya? Menurut Ratzinger, pendekatan ini selalu mengalir dari konteks Gereja di mana Allah berbicara secara definitif dalam pribadi Yesus Kristus.36 Hermeneutika iman Ratzinger ini menggambarkan penafsiran yang berasal dari Gereja seperti diuraikan dalam Dei Verbum 12:

Akan tetapi, Kitab suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan Roh itu juga. Maka untuk menggali dengan tepat arti nas-nas suci, perhatian yang sama besarnya harus diberikan kepada isi dan kesatuan seluruh Alkitab, dengan mengindahkan Tradisi hidup seluruh Gereja serta analogi iman.

35 Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth, xv.

36

Hal ini menjadi salah satu alasan utama karya teologi dan pastoral Ratzinger. Hanya dalam konteks Gereja, Yesus Kristus dapat dikenal: dalam konteks perjumpaan dengan Dia, bersama dengan orang-orang lain yang mencari wajah-Nya. Untuk Ratzinger, persatuan Allah dan manusia yang ditemukan dalam Kristus sebagai hasil dialog.37

Dalam penjelasan pemasalahan partikularitas, Ratzinger mengatakan penggambaran Ratzinger tentang Yesus dari Injil menarik, tetapi juga memberikan batu sandungan bagi dunia kontemporer yang terbiasa dengan pola pikir objektivitas sebagai kerangka berpikir (modus operandi) dalam konteks pluralistik agama. Ratzinger menggunakan pemikiran Jacob Neusner38 untuk menjelaskan pencarian wajah Allah dalam Yesus Kristus. Neusner dan Ratzinger melihat banyak kesamaan mengenai sosok Yesus dalam tradisi bangsa Israel,

37 Joseph Ratzinger, Life in the Church and Living Theology (San Francisco: Ignatius Press, 2007), 147-53; Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity (San Francisco: Ignatius Press, 2004), 90.

38 Jacob Neusner merupakan seorang yang ahli tentang Yudaisme dari Amerika. Ia merevolusioniskan studi Yudaisme dan mengangkatnya ke bidang studi agama-agama. Neusner membangun jembatan intelektual antara Yudaisme dengan agama-agama lain dan membangun dasar-dasar bagi pemahaman dan penghormatan yang kuat antara agama-agama. Pengaruh Neusner terhadap studi Yudaisme dan agama-agama dirasakan secara luas, kuat, menonjol, dan bertahan lama. Neusner menulis sejumlah karya yang mengeksplorasi hubungan Yudaisme dengan agama lain. Karya Neusner A Rabbi Talks with Jesus mencoba untuk membangun kerangka kerja secara religius untuk pertukaran Yahudi-Kristen. Hal ini mendapat pujian dari Paus Benediktus XVI dan Neusner mendapat julukan “Rabi Favorit Paus”. Dalam buku Jesus of Nazareth, Ratzinger menyebut karya Neusner yang berjudul A Rabbi Talks with Jesus sebagai buku paling penting untuk dialog Yahudi-Kristen dalam dekade terakhir. [Lihat Aaron W. Hughes, Jacob Neusner: An American Jewish Iconoclast (New York: New York University Press, 2016), 1-7;

bdk. Jacob Neusner, A Rabbi Talks With Jesus: Revised Edition (Canada: McGill-Queen`s

tetapi Ratzinger secara khusus memberikan penekanan terhadap identitas sejati Yesus.39

Ratzinger menjelaskan bagaimana Neusner menyatakan keilahian Yesus tidak hanya dalam pernyataan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30; 17:21), tetapi dalam Khotbah di Bukit, yang banyak orang anggap sebagai ajaran Yesus yang paling kontroversial dan paling menarik. Neusner menunjuk klaim keilahian ini dalam Khotbah di Bukit dengan mengingat Talmud Babilonia di mana Rabi Simelai menganalisis sintesis Hukum dari 613 perintah yang diberikan kepada Musa dan penobatan dari Daud ke Yesaya ke Habakuk dan seterusnya. Dalam dialog, Neusner bertanya kepada Simelai bagaimana Yesus cocok dengan pemahaman tentang hukum. Melalui dialog ini, Neusner menyimpulkan bahwa Yesus tidak mengambil apa pun dari Hukum Taurat dan hanya menambahkan diri-Nya sendiri ke dalamnya. Dengan kata lain, Yesus konsisten dengan tradisi Israel hingga Ia menyatakan diri-Nya sebagai penggenapan Hukum. Ia mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Allah.40

Klaim Yesus yang mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Allah menjadi batu sandungan untuk dunia kontemporer yang semakin menekankan pluralisme agama. Ratzinger lebih menampilkan gambaran yang lebih pribadi dan bahkan intim tentang wahyu Allah di dalam Kristus. Jika klaim itu lebih umum dan lebih

39 Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth: From the Baptism in the Jordan to the Transfiguration (New York: Doubleday, 2007), 103, 127.

40 Jacob Neusner, “Renewing Religious Disputation in Quest of Theological Truth: In Dialogue with Benedict XVI’s Jesus of Nazareth,” Communio 34 (2007), 328-334; Joseph Ratzinger, Jesus

bercorak filsafat, kesulitan ini akan hilang. Namun, Ratzinger mengambil pendekatan naratif terhadap teologi, sehingga ada kebutuhan untuk mengikuti polanya dengan membaca teliti dari satu kisah yang diceritakan. Kesulitan yang ditimbulkan oleh kristosentrisme dari ajaran Gereja tentang wahyu terhadap pluralisme agama menjadi sangat jelas dalam publikasi Kongregasi Ajaran Iman yang berjudul Dominus Iesus.41

Kehadiran dokumen Dominus Iesus dari Kongregasi Ajaran Iman menimbulkan gejolak. Desakan pada kesatuan Kristus dan Gereja dalam rencana sejarah keselamatan menimbulkan ketidaksesuaian dalam kerangka berpikir kontemporer yang dikondisikan oleh kerangka berpikir pluralisme agama. Tetapi, kristologi Ratzinger yang berpusat pada Logos sebagai cara menafsirkan misteri Kristen dalam hal dialog dan narasi yang terbuka tentang hubungan antara Allah dan dunia sangat penting untuk diingat ketika memahami Dominus Iesus. Gereja terus-menerus merenungkan misteri Sabda dalam Yesus Kristus. Gereja tidak menganggap dirinya sebagai pemilik monopoli kebenaran.42

Gereja menerima Yesus Kristus sebagai pewahyuan Allah sepanjang sejarah. Namun, Gereja menolak relativitas Yesus dengan menyejajarkan-Nya dengan tokoh-tokoh lain. Gereja tetap bertahan dengan pandangan bahwa universalitas keselamatan terdapat dalam diri Yesus Kristus. Sesungguhnya, Dominus Iesus yang ditawarkan tiga puluh lima tahun lalu menunjukkan bahwa

41 Christoper S. Collin, The Word Made Love, 83; DI, no. 23.

42

hanya dengan berpegang teguh pada iman Gereja, seperti yang dikatakan dalam Dignitatis Humanae, Gereja dapat menjadi sumber persatuan di dunia dan di antara semua orang. Seperti yang ditulis oleh Yohanes Paulus II dalam Fides et Ratio, inti dari iman Gereja adalah pewahyuan Kristus yang merupakan pedoman sejati dalam sejarah untuk semua umat manusia.43

Kristologi Ratzinger membentuk teologi tentang Allah dan antropologi-teologinya. Gaudium et Spes nomor 22 mengatakan,

Kristus, Adam yang Baru, dalam pewahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur. Maka tidak mengherankan pula, bahwa dalam Dia kebenaran-kebenaran yang diuraikan diatas mendapatkan sumbernya dan mencapai puncaknya.

Tidak hanya umat manusia yang dipahami kembali dalam terang Yesus Kristus, tetapi juga Allah. Dalam pandangan Ratzinger, karena pengalaman Yesus Kristus, Allah menjadi dipahami tidak hanya sebagai logos tetapi juga sebagai dia-logos. Ratzinger mengatakan bahwa pandangan pewahyuan secara dialogis tentang Allah yang mengkomunikasikan dirinya sendiri, menantang pemahaman filsafat Yunani tentang realitas. Allah dan semua makhluk yang mengalir dari kehendak kreatif Allah harus dipahami kembali sebagai yang disempurnakan.

Namun sebaliknya, kesempurnaan yang dikaitkan dengan Allah ditafsirkan ulang secara relasional. Allah dikenal sebagai Dia yang mewahyukan diri, menunjukkan

43

diri-Nya tidak hanya secara kreatif, cerdas, dan dapat dipahami tetapi juga pada dasarnya Allah itu komunikatif dan penuh kasih.44

Pandangan kristosentris Ratzinger memberikan antropologi baru. Ketika membahas pertanyaan tentang Allah secara umum dalam Introduction to Christianity, ia menuliskan bahwa pertanyaan itu dapat didekati dengan menggunakan filsafat spekulatif melalui tema-tema keberadaan dan kebenaran tetapi juga secara eksistensial sesuai dengan tema pengalaman kesendirian manusia. Saat ‘Aku’ sebagai orang yang mengalami kerinduan akan ‘kamu’

sebagai yang lain, kerinduan akan hubungan terpenuhi hanya sebagian, ketika

‘kamu’ adalah pribadi manusia yang lain. Kerinduan sepenuhnya terpenuhi hanya ketika panggilan ke ‘Engkau’ absolut yang turun ke dalam ‘Aku’ dialami dan ditanggapi.45

Dalam antropologi-kristologi Ratzinger, Yesus merupakan satu-satunya yang secara bersamaan menunjukkan kepada umat manusia seperti apa tanggapan manusia terhadap kerinduan akan ‘Engkau yang absolut’ dan bagaimana ‘Aku’

yang absolut berbicara pada manusia yang rindu untuk ditarik keluar dari pengalaman kesepian. Pribadi manusia terpenuhi hanya ketika memasuki dialog manusia-Yang Ilahi, Aku-Engkau. Perjumpaan ini memungkinkan ditemukannya kepenuhan cinta yang memiliki pola dialog yang sempurna yaitu kasih Bapa dan Putera yang disatukan oleh Roh Kudus. Pribadi manusia diciptakan untuk

44 Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity (San Fransisco: Ignatius Press, 2004), 183.

45

berpartisipasi dalam dialog ini. Semua hubungan manusia disempurnakan ketika mengalir dari pola dialog Trinitas. Sosok Yesus Kristus membuka cakrawala baru baik untuk teologi Allah maupun untuk pribadi manusia. Dalam pengertian ini, kristologi Ratzinger menetapkan pernyataan untuk personalisme mendalam yang dapat membentuk pemahaman kita tentang antropologi Kristen. Inti dari antropologi-kristologi ini adalah bahwa sejak awal Yesus Kristus telah masuk ke dalam sejarah dan semua ciptaan terhubung dengan Yesus Kristus. Manusia dilihat melalui hermeneutika kristologis selalu bersifat historis dan transenden dalam pemenuhan.46

Dalam dokumen YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP KONTEKS: (Halaman 106-117)