• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yesus Kristus Menyatukan Iman dan Sejarah

Dalam dokumen YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP KONTEKS: (Halaman 117-131)

BAB II SEMBILAN GAMBARAN YESUS KRISTUS DI ASIA:

3.4 Gagasan Kristologi Joseph Ratzinger

3.4.2 Yesus Kristus Menyatukan Iman dan Sejarah

Sepanjang karya teologinya, Ratzinger menggunakan pemikiran Bonaventura untuk menjelaskan Yesus Kristus sebagai pusat sejarah. Semua sejarah keselamatan yang mendahului Yesus Kristus mengarah kepada-Nya, dan semua yang datang sesudah-Nya, dalam kehidupan Gereja, dihidupkan dengan merujuk kepada-Nya sebagai kepenuhan identitas Gereja dan sebagai penggenapan sejarah manusia. Pada bagian awal Introduction to Christianity, Ratzinger menggambarkan Kristus sebagai titik sentral dan penentu dari semua sejarah manusia. Yesus Kristus merupakan tempat perjumpaan yang terbaik (locus

46 Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, 106; Christoper S. Collin, The Word Made Love,

par excellence) dari perjumpaan yang abadi dengan dunia. Penebusan semua sejarah dimungkinkan berkat fakta masuknya yang ilahi ke dalam dunia. Lebih jauh lagi, kehidupan Gereja dan perjuangan terus-menerus untuk menemukan jalan menuju pembaruan selalu ditentukan oleh kualitas perjumpaan setiap orang dari setiap zaman dengan pribadi Yesus Kristus.47

Perjumpaan dengan Yesus dan gambaran tentang Yesus sebagai Kristus terjadi dalam konteks Gereja dalam bentuk berbagai aturan iman (symbola fidei).

Pengakuan iman (Credo) menjadi identitas Gereja. Inti dari pengakuan iman ini adalah pengakuan pribadi Yesus Kristus dan karya yang diselesaikan-Nya dalam menebus seluruh umat manusia. Buku Introduction to christianity Ratzinger disusun berdasarkan Pengakuan Iman Rasul. Dengan menggunakan Pengakuan Iman Rasul, penjelasan Ratzinger di dalam tulisan tersebut di satu sisi, Ratzinger meredam ketegangan doktrin Kristus dan di sisi lain, reduksi Kristologi menjadi sejarah atau meninggalkan sejarah merupakan hal yang tidak relevan dengan iman. Thomas Rausch menjelaskan dinamika antara Ratzinger dan beberapa tokoh yaitu pendekatan oleh Harnack dengan memurnikan iman doktrin dan pengakuan iman (credo), dan membuat rekonstruksi sejarah Yesus untuk menentukan Kristologi. Pendekatan lainnya dilambangkan oleh Bultmann dengan menjadikan

47 Joseph Ratzinger, Theology of History, 143-148; Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity,

iman di dalam Kristus saja yang penting sementara historisitas pribadi Yesus Kristus diabaikan.48

Harnack dan Bultmann disebut dalam teologi Ratzinger sebagai perwakilan dari dua pemikiran teologi modern yang bergulat dengan pertanyaan tentang iman, sejarah dan kepenuhan misteri Kristen. Ratzinger merasakan perlunya sintesis terhadap dua pandagan berbeda yang diciptakan oleh dua pendekatan modern terhadap teologi ini yang mengakomodasi perspektif iman dan pentingnya sejarah. Hal ini merupakan perdebatan yang paling signifikan dalam kristologi kontemporer mengenai Kristus iman atau Yesus historis. Di satu sisi, tantangan kritik sejarah semakin kuat dalam dunia modern, para penafsir historis melihat perspektif iman sebagai yang mengaburkan pencarian sejarah terhadap sosok Yesus yang sebenarnya. Sosok Yesus menjadi semakin banyak direfleksikan dengan metode historis-kritis, tapi di sisi lain Kristus mejadi sosok yang spiritual. Namun, kedua metode tidak memungkinkan untuk mencapai titik dalam satu pribadi yaitu Yesus Kristus.49

Ratzinger berjalan pada dua perbedaan cara pandang yaitu metode historis-kritis dan hermeneutika iman. Ratzinger mencoba untuk menanggapi dan membuat satu sintesis untuk dua pendekatan tersebut. Dalam kata pengantar Behold the Pierced One, Ratzinger menunjukkan perlunya kristologi spiritual

48 Thomas P. Rausch, Who Is Jesus? An Introduction to Christology (Collegeville, MN: Liturgical Press, 2003), 4; Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, 82-102; Emery de Gaál Gyulai, The Theology of Pope Benedict XVI, 129-143.

49 Emery de Gaál Gyulai, The Theology of Pope Benedict XVI, 140; Christoper S. Collin, The

dalam teologi kontemporer. Ratzinger membandingkan kebutuhan dunia kontemporer yang terlihat pada Konsili Konstantinopel III pada tahun 681, yang berusaha mendefinisikan doktrin kristologi dalam menempatkan misteri Kristus dalam konteks spiritual sehingga membuatnya dapat diterima oleh dunia kontemporer. Ratzinger menjelaskan penegasan dalam Konsili Kalsedon bahwa Yesus Kristus adalah sungguh manusia dan sungguh Allah tidak cukup menjelaskan bagaimana dua kodrat itu hidup dalam satu pribadi. Dua abad setelah Konsili Kalsedon, pertanyaan tentang hubungan antara kodrat kemanusiaan dan kodrat keilahian Yesus Kristus tetap ada.50 Menghadapi pertanyaan tentang kehendak Yesus Kristus, Ratzinger mengatakan bahwa Konsili Konstantinopel III mengajarkan:

Maka kami menyatakan dua kehendak alamiah di dalam Dia, dan keduanya tidak dapat dibagi, tidak dapat diubah, tidak dapat dipisahkan, tidak dapat digabungkan menurut ajaran bapa-bapa yang kudus, dan dua kehendak alamiah tidak bertentangan (semoga Allah mencegahnya!), sebagaimana yang ditandaskan oleh para bidaah, tetapi kehendak insani-Nya akan mengikuti kehendak Ilahi-insani-Nya yang mahakuasa dan tidak menolak, ini tidak melawan atau segan menuruti tetapi takluk.51

Kehendak Yesus yang sepenuhnya manusiawi digenapi dan disempurnakan dalam hubungan ketaatan dengan kehendak ilahi. Seperti yang ditulis Collin dalam bukunya, untuk alasan ini, Ratzinger berfokus pada dimensi spiritual dari kristologi, yang memiliki kapasitas untuk menunjukkan pentingnya kehidupan spiritual Yesus yang berusaha untuk melakukan kehendak Bapa-Nya.

50 Joseph Ratzinger, Behold the Pierced One: An Approach to a Spiritual Christology (San Francisco: Ignatius Press, 1986), 9.

51 DS, no 291, tersedia dari http://denzinger.patristica.net/#n1000, diakses tanggal 11 Februari

Ratzinger menjelaskan bahwa refleksi terhadap sosok Yesus Kristus akan membawa seseorang pada pengakuan bahwa inti dari kepribadian-Nya adalah persekutuan-Nya dengan Bapa dan keinginan-Nya untuk patuh kepada-Nya karena cinta kepada-Nya. Doa Yesus memungkinkan dunia kontemporer bisa melakukan seperti yang dilakukan-Nya untuk mencinta dan taat kepada Bapa.52

Ratzinger memandang bahwa pada masanya ada kebutuhan akan kristologi yang lebih baru yang tetap memperhatikan masalah-masalah kontemporer tetapi tidak mengaburkan realitas spiritual dari identitas dan karya Yesus Kristus.

Ratzinger menyatakan bahwa meskipun terjadi banyak perdebatan kristologi, namun kita tidak boleh mengaburkan misteri yang paling mendasar bahwa Allah telah masuk ke dalam sejarah manusia untuk menebusnya dari dalam sejarah.

Dengan penekanan yang muncul pada kesadaran historis dalam teologi, Ratzinger melihat bahwa hanya dengan mengambil bagian dalam sejarah manusia maka teologi-kristologi spiritual yang otentik menjadi mungkin.53

Ratzinger menolak upaya penafsiran yang terlepas dari sejarah dan hanya menggunakan Injil sebagai sarana menuju pemahaman spiritual. Misalnya, Ratzinger menolak apa yang disebut teori Injil Yohanes sebagai puisi Yesus yang terlepas dari realitas sejarah. Iman yang mengabaikan sejarah akan berubah menjadi Gnostisisme. Ia menjadi daging, inkarnasi. Menurut Ratzinger, apabila Yesus bukan Sabda Kekal yang turun dari atas dan menjadi daging dalam sejarah,

52 Christoper S. Collin, The Word Made Love, 88.

53

maka tidak ada makna spiritual di dalam diri-Nya. Justru fakta bahwa Sabda Kekal diekspresikan dalam sejarah sebagai daging (sarx) dalam Yesus Kristus yang membuat harapan keselamatan dalam sejarah menjadi nyata. Dalam Kristus, Logos yang telah dipahami sebagai prinsip kesatuan untuk semua ciptaan sekarang dilihat sebagai pribadi: Logos menjadi manusia, diwujudkan dalam cinta.54

Penyatuan metode hermeneutika iman dan metode historis-kritis untuk Ratzinger terjadi dalam sejarah diciptakan melalui Logos yang kekal dan Logos yang sama terus berulang dalam sejarah. Dalam Verbum Domini nomor 12, Ratzinger mengingat deskripsi Origenes tentang Sabda sebagai Logos yang telah terpenuhi. Kepenuhan ini membuat Sabda Kekal lebih nyata, karena telah menjadi historis untuk dipahami oleh umat manusia. Seperti yang dikatakan Ratzinger dalam homili Natal, “Sabda kekal menjadi kecil -cukup kecil untuk masuk ke palungan. Ia menjadi anak-anak, sehingga Sabda itu dapat dipahami oleh kita.”

Hal ini merupakan rumusan Ratzinger yang mengejutkan dalam teologi dan karya pastoralnya, serta menarik dunia kontemporer ke dalam pertemuan yang sangat intim. Sabda kekal yang masuk dalam sejarah manusia mengajak semua orang untuk berpartisipasi di dalamnya.55

54 Joseph Ratzinger, Jesus of Nazareth: From the Baptism, 228.

55 Paus Benediktus XVI, “Solemnity of the Nativity of the Lord: Homily of His Holiness Benedict XVI,” St. Peter’s Basilica, December 24, 2006, tersedia dari http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/homilies/2006/documents/hf_benxvi_hom_20061 224_christmas_en.html., diakses pada tanggal 03 Maret 2021; Christoper S. Collin, The Word

Dalam pemikiran Ratzinger, sejarah keselamatan tidak hanya terungkap tetapi berkembang dalam perjalanan sejarah. Seluruh teologi Ratzinger ditampilkan menurut pola naratif bukan pola hipotesis dan argumentasi.

Kebenaran tentang Logos yang kekal terus digunakan dalam sejarah kehidupan Gereja. Secara khusus, kita melihat Ratzinger mengikuti narasi sejarah gagasan yang menelusuri perkembangan tentang terminologi Logos dalam tradisi Kristen.

Perkembangan pemahaman tentang istilah Logos menjadi sangat penting. Dalam Introduction Christianity, Ratzinger menghasilkan etimologi singkat dari istilah yang telah digunakan dalam tradisi Kristen. Ratzinger menunjukkan bahwa tidak ada yang statis tentang istilah dan maknanya. Logos memiliki banyak makna dan memiliki banyak lapisan makna dalam kehidupan Gereja. Mengikuti perkembangan istilah dan tingkatan maknanya yang bervariasi merupakan metode untuk menelusuri perkembangan teologi Allah dan kristologi.56

Penggunaan Logos dalam Kristologi memiliki implikasi bagi pemahaman Kristiani tentang penciptaan dan antropologi. Dalam studinya terhadap sejarah dan perkembangan tradisi Yahudi-Kristen, Ratzinger mengatakan bahwa ada pilihan antara Logos dan mitos. Keesaan dan transendensi Allah semakin mendapat tempat dalam dunia Yunani dengan menggunakan filsafat. Namun, filsafat menghadapi pandangan berbeda dari pola pikir orang Yahudi dan orang Kristen. Interaksi antara dua cara pikir ini menghasilkan sesuatu yang baru. Mitos tidak lagi berfungsi tetapi filsafat saja tidak cukup dalam upaya untuk

56

menjelaskan realitas. Perjumpaan dua cara pikir ini memberi makna baru terhadap Logos yang diekspresikan dalam pribadi Yesus Kristus. Pemahaman baru tentang logos mendapat tempat baru dalam dunia filsafat dan teologi.57

Mengikuti penjelasan para Bapa Gereja, Ratzinger mengatakan bahwa terdapat permasalahan dalam menegaskan penyatuan logos dan sarx. Dalam Introduction to Christianity, Ratzinger menjelaskan bagaimana artikel kedua dari Credo memerlihatkan hubungan antara logos dan sarx. Makna yang menopang semua ciptaan telah menjadi daging; artinya, Ia telah masuk ke dalam sejarah dan menjadi satu pribadi. Ratzinger menyatakan bahwa Ia yang menjadi daging dapat menjembatani antara roh dan daging:

“Sabda itu telah menjadi manusia.” Sebelum wahyu ini sekali lagi kita bertanya-tanya: bagaimana ini bisa terjadi? Sabda dan daging adalah realitas yang saling bertentangan; bagaimana bisa Sabda yang kekal dan mahakuasa menjadi manusia yang lemah dan fana? Hanya ada satu jawaban: Cinta. Mereka yang mencintai, keinginan untuk berbagi dengan yang dicintai, mereka ingin menjadi satu dengan yang dicintai, dan Kitab Suci menunjukkan kepada kita kisah cinta yang luar biasa dari Allah untuk umat-Nya yang berpuncak pada Yesus Kristus.58

Pertanyaan filsafat tentang bagaimana Logos dan sarx dipersatukan hanya dapat dijawab dengan mengikuti narasi sejarah keselamatan. Menelusuri narasi ini membuat kita melihat makna dari Logos yang kekal dengan cara baru -bahkan Logos yang menjadi dasar realitas metafisik itu sendiri- bergantung pada bagaimana ia dikomunikasikan dalam sejarah. Dalam perjalanan sejarah manusia,

57 Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, 139-143.

58 Paus Benediktus XVI, “Urbi et Orbi Christmas Message, 2010”, tersedia dari http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/messages/urbi/documents/hf_benxvi_mes_20101

kesatuan logos dan sarx dikomunikasikan secara dialogis sebagai sebuah sabda, sebagai sosok yang mengungkapkan cintanya kepada seluruh ciptaan.59

Ratzinger menjelaskan bahwa orang Yunani memahami Logos sebagai sesuatu yang memiliki makna. Awalnya, Logos dikaitkan dalam bahasa Latin dengan ratio. Dengan kekuatan Logos, melalui ratio, Sang Pencipta menciptakan kecerdasan supaya dapat ditangkap oleh akal. Sang Pencipta mengkomunikasikan diri-Nya melalui ciptaan sehingga yang muncul hanyalah “Yang dipikirkan”.

Tentu saja, kejelasan tata ciptaan bukanlah gagasan yang berasal dari narasi Kristen. Tradisi filsafat Yunani yang selama berabad-abad menantang mitologi merupakan transisi penting dalam sejarah intelektual dan menuju cara baru memahami alam semesta degan menggunakan rasionalitas.60

Menurut Ratzinger, dalam pengertian ini, filsafat dan sains memurnikan agama pada tradisi Barat. Dalam filsafat Yunani, rasionalitas manusia mendapatkan penekanan penting. Rasionalitas yang menjadi tempat utama dalam filsafat mendapat pertanyaan terus-menerus tentang dari mana sumber manusia yang bisa berpikir. Apakah manusia yang bisa berpikir berasal dalam kebebasan, atau hanya produk dari semacam kejadian yang otomatis? Apakah Pencipta menciptakan karena kebutuhan atau dalam kebebasan? Narasi Alkitab memungkinkan pertemuan dalam sejarah antara pola pikir filsafat dan iman yang menghasilkan sintesis baru untuk memahami hubungan antara Allah dan dunia.

59 Christoper S. Collin, The Word Made Love, 91-92.

60 Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, 156; Christoper S. Collin, The Word Made Love,

Dengan Logos sebagai pusat persatuan antara filsafat dan Alkitab, baik manusia maupun sejarah dapat dipahami sebagai ekspresi dari komunikasi Yang Ilahi.61

Sintesis baru dimulai ketika Injil Yohanes menerapkan istilah Logos pada sosok Yesus dari Nazaret dalam prolog Injilnya. Ratzinger mengatakan bahwa istilah tersebut mulai memiliki makna baru dalam narasi saat ini. Hal itu tidak lagi hanya menunjukkan masuknya semua ciptaan dan semua yang memiliki makna ke dalam narasi sejarah keselamatan. Hal itu mencirikan manusia: Dia yang ada di sini adalah Sabda. Dia terus-menerus diwahyukan dan karenanya terjadi hubungan antara yang diwahyukan dengan penerima wahyu. Logos kristologi sebagai teologi Sabda membuka diri terhadap gagasan tentang hubungan. Ketika sejarah keselamatan dan filsafat bertemu dalam Kitab Suci, sebuah realitas baru muncul.

Oleh penerimaan Gereja atas sosok Yesus Kristus sebagai Logos yang berwujud dalam daging, semua ciptaan dan sejarah manusia mulai ditafsirkan ulang dalam terang verbum (Sabda) yang dikomunikasikan sebagai pribadi.62

Logos dari semua realitas mulai dipahami tidak hanya sebagai yang memiliki makna dalam arti abstrak, tetapi sebagai yang memiliki makna yaitu sebagai sabda yang menjadi pribadi. Dalam pengertian ini, terjadi penggabungan dan pemurnian arti dari mitologi agama, filsafat, dan sejarah manusia.

Konsekuensi dari pertemuan cara berpikir ini juga membuka cakrawala baru bagi

61 Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, 157; Christoper S. Collin, The Word Made Love, 92.

62

umat manusia dengan satu pribadi sebagai pusatnya. Ratzinger mengutip naskah Gregorius Nanzianzen yang memberikan pencerahan:

Pada saat orang Majus, yang dibimbing oleh bintang, menyembah Kristus Raja baru, berakhirlah astrologi sebab bintang-bintang sekarang bergerak menurut orbit yang ditentukan Kristus […] Bukan unsur-unsur dunia, hukum-hukum materi, yang akhirnya mengatur dunia dan umat manusia, melainkan Allah Pribadilah yang mengatur bintang-bintang, yakni alam semesta. Bukan hukum-hukum materi atau evolusi sebagai penentu terakhir, melainkan akal budi, kehendak, kasih: seorang Pribadi. Jikalau kita mengenal Pribadi ini dan Ia mengenal kita, maka sungguh-sungguh penguasaan tak terkalahkan unsur-unsur materi itu bukan lagi merupakan penentu terakhir. Maka, kita bukan lagi budak alam semesta maupun hukum-hukumnya; kita bebas.63

Kebebasan umat manusia dimungkinkan dengan berpartisipasi dalam cara kerja alam semesta yang adalah Sabda. Dalam pandangan Ratzinger, perkembangan makna logos dari ratio ke verbum bukan hanya permasalahan arti semantik atau linguistik. Melihat logos tidak hanya sebagai ratio tetapi sebagai verbum memiliki implikasi yang sangat besar. Hal itu terlihat dari pemahaman dinamis Ratzinger sendiri tentang misteri Kristen, yang berkontribusi pada ajaran Gereja tentang wahyu. Misalnya, Jared Wicks melihat kristologi Ratzinger memiliki sumbangan besar dalam penjelasan tentang wahyu yang ditulisnya bersama Rahner, sebagai alternatif awal dari bentuk kristologi neo-skolastik pada konsili. Pengaruh Ratzinger terlihat dalam penggambaran Kristus sebagai Sabda Allah mencari umat manusia (vivum Dei verbum quaerens nos). Sabda yang hidup yang mencari umat manusia sepanjang sejarah digenapi dalam inkarnasi. Dalam

63 Paus Benediktus XVI, Harapan yang Menyelamatkan (Spe Salvi), diterjemahkan oleh F.X.

Hadisumarta dan A.B. Sinaga (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2014), no. 5.

terang peristiwa historis inkarnasi, logos yang diungkapkan sepanjang sejarah dipahami lagi.64

Peralihan dari ratio ke verbum membuka struktur dialogis ke teologi yang dianggap penting oleh Ratzinger bagi misteri Kristiani. Ratzinger menjelaskan:

“Sabda tidak pernah berdiri sendiri; itu datang dari seseorang, ada untuk didengarkan, dan karena itu dimaksudkan untuk orang lain.” Sabda pada dasarnya adalah komunikatif dan - dan meminta tanggapan - menunjuk pada dialog. Dalam penilaian Ratzinger, karena dimensi baru teologi logos mulai disesuaikan dengan tradisi Kristen, teologi Allah dan semua metafisika membutuhkan pemahaman yang baru.65

Ratzinger menekankan bahwa perkembangan arti dari istilah logos bukanlah produk murni spekulasi manusia, melainkan “tumbuh pada tempat pertama dari interaksi antara pemikiran manusia dan iman Kristen […]”

Terjemahan logos sebagai verbum dalam Vulgata, serta deskripsi dari Logos yang yang menjadi daging sebagai prosōpon dalam debat kristologi dan trinitas Gereja perdana menunjukkan bahwa tradisi tersebut sudah ada dalam iman Kristen sejak

64 W. Jared Wicks, Professor Ratzinger at Vatican II: A Chapter in the Life of Pope Benedict XVI (New Orleans: Loyola University Press, 2007), 9; Christoper S. Collin, The Word Made Love, 94.

65Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, 210; Christoper S. Collin, The Word Made Love,

masa lalu. Tradisi itu akan terus berlanjut dengan tetap berpedoman pada tradisi iman Kristen.66

Dengan menggunakan pendekatan Bapa Gereja terhadap kristologi, Ratzinger mengoreksi tradisi neoskolastik yang cenderung memisahkan pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat keselamatan dari landasan filsafat doktrin kristologi, termasuk sifat dan cara persatuan hipostatis, pengetahuan dan kehendak Kristus, dll. Dengan menyoroti interaksi antara filsafat dan sejarah keselamatan yang diwujudkan melalui Logos, Ratzinger muncul sebagai tokoh dalam teologi pasca-konsili yang berusaha untuk menghubungkan kembali masalah kristologi dengan yang soteriologi dan menyatukan kembali refleksi teologi tentang Yesus Kristus dengan konteks Kitab Suci. Yesus Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia yang mendamaikan kemanusiaan dan keilahian dalam sengsara dan kematian-Nya di kayu salib telah menyatukan unsur kemanusiaan dan keilahian dalam diri-Nya sendiri dalam inkarnasi. Identitas dan karya-Nya adalah satu.67

Hakikat kebenaran yang dikomunikasikan oleh Logos ditafsirkan ulang dalam terang cinta dalam iman Kristiani, dari konsep statis ke konsep yang lebih dinamis. Pertanyaan tentang pengaruh Sabda dalam soteriologi tetap selalu ada.

Ratzinger menjelaskan pengungkapan bertahap dari arti Logos sebagai kebenaran sebagai utama dan mengarah pada pemahaman akan kebenaran sebagai pribadi:

66 Joseph Ratzinger, “Concerning the Notion of Person in Theology,” Communio 17 (1990): 439-54, 439; Christoper S. Collin, The Word Made Love, 95.

67

Dalam filsafat Yunani kita sudah menemukan gagasan bahwa manusia dapat menemukan kehidupan yang kekal jika ia berpegang teguh pada apa yang tidak dapat hancur -pada kebenaran yang abadi. Dia membutuhkan, seorang pribadi, untuk menjadi penuh dalam kebenaran yang di dalam dirinya mengandung hal-hal keabadian. Tetapi hanya jika kebenaran adalah seorang Pribadi, menuntun saya melewati malam kematian. Kita bergantung pada Tuhan -pada Yesus Kristus yang Bangkit. Dan dengan demikian, kita dipimpin oleh Dia yang adalah Hidup. Dalam hubungan ini, kita juga hidup dengan melewati kematian, karena kita tidak ditinggalkan oleh Dia yang adalah Hidup.68

Argumen Ratzinger bahwa “hanya jika kebenaran adalah seorang pribadi, hal itu dapat menuntun saya melalui kematian”, tentu saja bukanlah produk spekulasi a priori (pra-pengandaian). Hal ini lebih merupakan buah dari refleksi a posteriori (setelah diketahui [dilihat, diselidiki, dan sebagainya] keadaan yang sebenarnya) tentang pengalaman hidup, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus yang diberikan dalam kesaksian Kitab Suci. Yesus Kristus adalah orang yang dinyatakan sebagai kebenaran justru karena Ia memimpin melalui kematian.

Pengalaman tentang Yesus historis yang mengalahkan maut menuntun pada pemahaman tentang manusia yang sama sebagai Kristus yang dimani justru karena fakta kehancuran kematian dan pemulihan kehidupan yang terjadi dalam diri-Nya dalam sejarah.69

68 Paus Benediktus XVI, “Mass of the Lord’s Supper: Homily of His Holiness Benedict XVI,” St.

John Lateran Basilica, April 1, 2010, tersedia dari

http://www.pcf.va/holy_father/benedict_xvi/homilies/2010/documents/hf_benxvi_hom_20100401 _coena-domini_en.html., diakses pada tanggal 03 Maret 2021.

69

Dalam dokumen YESUS KRISTUS HADIR DALAM SETIAP KONTEKS: (Halaman 117-131)