• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSISTENSI DAN PERAN KOPERASI DALAM PEREKONOMIAN NASIONAL

Dalam dokumen MELAWAN “CLIMATEFLATION” (Halaman 109-119)

EKSISTENSI DAN PERAN KOPERASI

sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Makna yang terkandung dalam ayat ini sangat dalam yaitu sistem perekonomian nasional seharusnya dikembangkan secara kekeluargaan dan tidak condong pada persaingan dan bersifat individualistik.

Harapan akan peran strategis dari koperasi dalam tatanan perekonomian nasional masih jauh dari harapan.

Hal ini bisa ditunjukkan dari pernyataan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga dalam Sarasehan Perkoperasian Nasional di Kabupaten, Sukoharjo, Kamis 26 Juli 2018 telah mereformasi dengan membubarkan sekitar 50 ribu koperasi dari 200-an ribu koperasi di seluruh Indonesia.

Dari 150 ribu koperasi yang betul-betul sehat hanya 80 ribu sisanya sekitar 75 ribu koperasi butuh dibina.

Dalam mereformasi koperasi, kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, memang dibutuhkan tiga hal, yakni re-orientasi, rehabilitasi dan pengembangan koperasi. Pembubaran koperasi yang tidak sehat merupakan bagian dari reorientasi koperasi, kemudian yang kurang sehat perlu direhabilitasi serta yang sehat didorong untuk berkembang lebih baik lagi.

Terdapat beberapa argumentasi mengapa koperasi harus ditumbuhkembangan baik yang sehat maupun yang masih perlu dibina. Pertama, sebagaimana pemikiran yang dilontarkan oleh Bung Hatta yaitu pelaku usaha kecil yang jumlahnya banyak sebaiknya diwadahi dengan Koperasi.

Kedua, demografi penduduk dengan sebaran taraf hidup dan tingkat pendidikan yang relatif rendah mendominasi struktur kependudukan nasional menjadi persoalan yang tidak gampang pemecahannya, oleh karenanya dengan berkoperasi diharapkan bisa membantu mengatasi berbagai persoalan pelik bagi masyarakat kebanyakan tersebut.

Upaya untuk menumbuh kembangkan koperasi tidak hanya menjadi tugas pemerintah semata namun setiap anak bangsa dituntut peran aktifnya dalam upaya untuk ikut mengembangkannya. Masalahnya, solusi untuk menyelesaikan persoalan koperasi harus dilihat secara menyeluruh dan perlu keterlibatan semua pemangku kepentingan. Diantara upaya nyata yang bisa dilakukan adalah melakukan identifikasi potensi dan masalah koperasi secara menyeluruh. Untuk mengurai persoalan agar koperasi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik perlu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Melalui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan akan terbangun basis data koperasi. Dengan basis data koperasi kita bisa menyusun perencanaan pengembangan koperasi ke depan menjadi lebih komprehensif dan tepat sasaran. Sehingga harapan koperasi bisa berperan sebagaimana tertuang dalam undang-undang dapat diwujudkan secara nyata. Berikut pertanyaan-pertanyaan tentang koperasi yang diajukan;

Benarkah banyaknya pembubaran koperasi merupakan indikasi menurunnya ketertarikan atau minat masyarakat untuk berkoperasi? Tidak sehatnya koperasi berujung pada pembubaran koperasi bisa jadi karena pengurus tidak jujur, pengelolaan tidak professional, pengendalian yang lemah yang mengakibatkan citra buruk pada koperasi sehingga menimbulkan respon negatif dan pada akhirnya masyarakat tidak percaya dan tidak tertarik lagi pada koperasi.

Penyebab tidak sehatnya koperasi apakah karena pengurusnya kurang paham dalam pengelolaan koperasi?

Bisa jadi, koperasi yang tumbuh di pedesaan tidak dipersiapkan dengan baik siapa yang pantas menjadi pengurus dan pengawas. Pengangkatan pengurus dan pengawas tidak berdasarkan praktek-praktek yang sehat dalam pengelolaan koperasi maupun kecakapan dalam mengelola usahanya sehingga mengakibatkan koperasi tidak berkembang dan bahkan mengalami kerugian yang terus menerus.

Stigma negatif terhadap koperasi apakah banyak disebabkan oleh karena perilaku oknum yang memanfaatkan nama koperasi untuk kepentingan pribadi atau bahkan untuk kedok penipuan? Cita-cita luhur koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya serta masyarakat pada umumnya sering kali dimanfaatkan oleh oknom-oknom yang tidak bertanggungjawab. Koperasi itu sangat memperhatikan

kepentingan anggota di atas kepentingan pribadi, sehingga berdirinya koperasi bukan untuk memperkaya segelintir orang dan bahkan jauh dari perbuatan culas, curang maupun penipuan. Perlu dicatat, penentuan jasapun tidak boleh melebihi yang ditetapkan pemerintah, akan lebih baik lagi jika lebih kecil

Lambatnya kemajuan koperasi karena pengelolaannya tidak professional dan cenderung sebagai pekerjaan sampingan? Berdirinya koperasi bukan karena kebutuhan tetapi karena anjuran atau bahkan sebagai syarat berdirinya institusi. Pengelolaan yang tidak professional dan cenderung dilakukan pada saat ada waktu senggang atau semacam sambilan mengakibatkan pengendaliannya menjadi lemah dan pada akhirnya koperasi tidak berkembang dengan baik.

Prinsip-prinsip koperasi yang merupakan manifestasi dari Rochdale principle apakah sudah dijalankan dengan semestinya? Prinsip-prinsip koperasi yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992, wajib difahami dan dilaksanakan oleh semua yang terlibat dalam gerakan koperasi.

Prinsip pertama, keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka, merupakan wujud pengamalan sila ketiga dari Pancasila. Menjadi anggota koperasi itu sebuah kebutuhan dan bukan karena dihimbau atau bahkan dipaksa. Di dalam koperasi juga mendorong tumbuhnya persatuan

karena menjadi anggota koperasi bersifat terbuka artinya siapa saja boleh menjadi anggota koperasi.

Prinsip kedua, pengelolaan dilakukan secara demokratis, artinya bahwa pengurus dan pengawas dalam menjalankan tugasnya atas dasar aturan dan keputusan dari rapat anggota. Sehingga pengurus dan pengawas maupun pembina hanya menjalankan mandat dari keputusan rapat anggota. Pada hakekatnya menjadi anggota koperasi itu juga secara otomatis menjalankan demokrasi karena kekuasaan tertinggi ditangan rapat anggota.

Prinsip ketiga, pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota, dinamika koperasi menekankan kumpulan orang bukan kumpulan modal sehingga tingkat partisipasi setiap anggota menjadi rujukan dalam penerimaan sisa hasil usahanya. Semakin besar partisipasi anggota dalam membeli barang, menjual barang serta meminjam di koperasi maka semakin besar pula sisa hasil usaha yang diterima. Prosentase Sisa hasil usaha yang diperoleh dari penyertaan modal semua anggota mendapat bagian yang sama.

Prinsip keempat, pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal, berdirinya koperasi itu esensi utamanya adalah bagaimana sekelompok orang berusaha bersama-sama mengatasi persoalannya. Sehingga apabila seseorang menjadi anggota koperasi justru bertambah masalahnya

maka sebenarnya dia tidak berada pada lingkungan koperasi.

Ciri utama koperasi yang sesungguhnya adalah apabila koperasi tersebut usaha utamanya simpan pinjam maka penentuan balas jasanya atau umum menyebut bunga tidak melebihi suku bunga yang ditetapkan pemerintah. Akan lebih baik lagi jika tingkat suku bunganya lebih kecil dari penetapan pemerintah. Tentu saja kebijakan ini akan berkorelasi dengan tingkat efisiensi dan efektivitas operasional koperasi.

Prinsip kelima, kemandirian, Di dalam koperasi itu harus tumbuh saling menguatkan diantara anggotanya.

Asas kekeluargaan menjadi pengikat dan perekat agar diantara anggota tumbuh asah,asih dan asuh sehingga bisa mewujudkan komunitas yang mandiri. Agar kemandirian ini bisa diwujudkan lebih dini, maka perlu melakukan pendidikaan koperasi yang berkelanjutan serta tumbuhnya jaringan kerjasama antar koperasi

Perhatian koperasi tidak hanya berhenti menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, namun juga perlu beradaptasi dengan era baru yaitu era digital saat ini. Era digital ini menimbulkan perubahan perilaku konsumen yang perlu dicermati oleh para pelaku koperasi. Hermawan Kertajaya mengemukakakan bahwa konsumen era digital memiliki karakter sebagai berikut : Pertama adalah golongan snob ini adalah golongan di mana konsumen menjadi sangat pemilih menentukan pilihan produk

berdasarkan kualitasnya; Kedua adalah golongan smart merupakan golongan yang perhitungan dalam memilih produk selalu memperhatikan nilai-nilai yang diberikan oleh suatu produk; Ketiga adalah golongan dumb merupakan golongan yang bukan pemilih tetapi memiliki satu prinsip yang selalu ia gunakan. Konsumen pada golongan ini tidak melihat kualitas, nilai, ataupun benefit yang akan didapatkan. Konsumen golongan ini membeli suatu produk yang dengan melihat harga yang paling murah; Keempat adalah golongan enterpreneur mulai muncul pada era digital seperti saat ini. Golongan ini menjadi lebih kreatif untuk menemukan jawaban dan aktivitas pada era digital.

Dari keempat golongan ini, koperasi bisa mengembangkan business to business maupun business to customer melalui bangunan market place sebagai media yang sangat pas untuk mewadahi kerja sama antar koperasi serta peningkatan pelayanan kepada seluruh anggotanya.

Era digital ini harus disikapi secara cerdas bagi gerakan koperasi, karena para pelaku usaha sudah berbondong-bondong bergerak menuju perdagangan elektronik (e-commerce). Dari transaksi pembelian,penjualan dan pemasaran barang dan jasa bisa dilakukan melalui sistem elektronik. E-commerce, memungkinkan pengguna melakukan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem inventori dan pengumpulan data secara otomatis. Tidak kalah

penting di era ini juga lahir alat pembayaran digital yang berupa e-money. E-money dalam kemunculannya pertama kali diperkenalkan dengan basis chip (bahkan hingga kini) yang tertanam dalam sebuah kartu atau media lainnya (chip based). Bentuk E-Money lainnya yaitu E-Wallet merujuk pada uang elektronik yang basisnya pada server, sehingga dalam penggunaannya, konsumen harus terkoneksi dengan server penerbit dan internet. Uang elektronik ini memiliki banyak keuntungan dan kemudahan bagi para penggunanya. Alat pembayaran ini juga bisa menjadi pertimbangan pilihan tehnologi bagi koperasi dalam melakukan transaksi usahanya.

Transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi bagi gerakan koperasi.

BIODATA PENULIS

Drs. Hudi Prawoto, M.M. lahir di Bantul 8 September 1957 dan merupakan dosen tetap Program Studi Akuntansi Unika Soegijapranata Semarang sejak tahun 1992. Bidang Keahlian Koperasi, Kewirausahaan dan Studi Kelayakan Bisnis.

REFERENSI

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian

Iqbal Alan Abdullah,

Tantangan_Koperasi_di_Era_Ekonomi_Digital,

diunduh dari

http://koran-

sindo.com/page/news/2018-07-17/1/3/Tantangan_Koperasi_di_Era_Ekonomi_Di gital

Ancilla Ribka, Karakter Konsumen di Era Digital,diunduh dari http://dewina-journal.foutap.com/karakter-konsumen-di-era-digital/

Henny Galla Pradana , Rebranding Koperasi Era Millenial:

Pelayanan, Produk, hingga Teknologi, diunduh dari

https://setkab.go.id/rebranding-koperasi-era-millenial-pelayanan-produk-hingga-teknologi/

MENSTIMULUS PEMULIHAN EKONOMI

Dalam dokumen MELAWAN “CLIMATEFLATION” (Halaman 109-119)