IMPLEMENTASI GOOD GORPORATE
perekonomi Indonesia setelah endemi mampu mengalami pertumubuhan 5,0% sampai triwulan I setelah pertumbuhan yang dicatatkan pada tahun 2021 hanya sebesar 2,9%. Hal ini membuktikan perekonomian Indonesia dapat bangkit dan masih akan terus bangkit sejalan dengan dukungan dari semua sektor perekonomian yang ada.
Dalam praktisinya, proses untuk memaksimalkan nilai perusahaan sering kali dapat menimbulkan terjadinya konflik kepentingan antara pengelola (agen) dan pemegang saham (prinsipal). Pihak agen lebih mengutamakan kepentingan pribadinya yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan dan sering mengabaikan kepentingan prinsipal. Perbedaan kepentingan antara agen dan prinsipal ini umumnya disebut sebagai konflik keagenan (agency conflict). Untuk mencapai kepentingan tertentu, agen dapat melakukan kecurangan untuk mencapai hal tersebut. Alhasil, dapat mengakibatkan turunnya kualitas laba perusahaan.
Perusahaan dalam kegiatanya menyediakan barang dan jasa dalam menunjang laju pertumbuhan ekonomi nasional maupun global. Dilansir dari kemenkeu dalam artikelnya menjabarkan kontribusi pendapatan 142 perusahaan dengan total aset Rp 8.092 triliun yang bersebar dalam berbagai bidang usaha melebihi aset salah satu perusahaan terbesar Singapura. Hal ini memberikan bukti perekonomian Indonesia dapat bertumbuh dan
bersaing dalam perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan pertumbuhan pada setiap aspek bisnis. Perusahaan sebagai salah satu sektor perekonomian negara perlu memiliki strategi dan kebijakan dalam meningkatkan perekonomian dalam sektor usahanya masing-masing. Ketika Tata Kelola dalam perusahaan (Good Corporate Governance) baik, maka nilai perusahaanpun menjadi baik.
Tata kelola dalam perusahaan mengatur sistem serta struktur yang terkait dengan perusahaan. Dalam perkembangan bisnis serta perdagangan global yang semakin berkembang dan penuh tantangan maka pelaku bisnis perlu menciptakan citra serta membangun kepercayaan para pemangku kepentingan. Sebuah perusahaan yang berkinerja baik diinterpretasikan melalui laba perusahaan yang tinggi serta dapat menjamin keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka waktu yang panjang. Oleh sebab itu, praktik tata kelola perusahaan yang baik sangat dipengaruhi oleh semua pihak yang terlibat dalam manajemen suatu perusahaan. Pihak-pihak terkait diantaranya; pemegang saham, investor, para kreditur, supplier, karyawan hingga pemerintah.
Menurut Thomas (2006) bahwa terdapat dua hal penting dalam konsep Good Corporate Governance. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya dan, kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan
pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Selain kedua hal tersebut, adapula prinsip yang menjadi indikator identik serta mendasar dari Good Corporate Governance (GCG) perusahaan, diantaranya:
a.
Transparency (keterbukaan atas perolehan informasi), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.b.
Accountability (akuntabilitas) yakni suatu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan dapat terlaksana secara efektif.c.
Sikap Responsibility (pertanggungjawaban) yang merupakan kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku.d.
Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan danperundangan-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi, organisasi atau perusahaan yang sehat.
e.
Fairness (kesetaraan serta kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan setara dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.Dalam meningkatkan esensi dari penerapan sistem tata kelola perusahaan yang baik, maka perusahaan beserta seluruh ‘aktor’ atau aspek didalamnya perlu memperbaiki
‘badan’ perusahaan sehingga menjadi lebih kokoh. Agar perusahaan menjadi kokoh, semua jaringan perlu direstrukturisasi mulai dari pembaharuan peraturan, menyesuaikan budaya perusahaan dan segala stukturnya agar sesuai dengan misi perusahaan sehingga dapat mencapai visi perusahaan dengan budaya perusahaan yang sesuai.
Perusahaan dapat menciptakan nilai perusahaan yang baik sehingga nilai perusahaan yang digambarkan dalam bentuk nilai pasar saham menjadi lebih tinggi.
Ketika nilai perusahaan yang diperdagangkan tinggi, investor akan memberikan tertarik serta memberikan feedback dengan membeli saham perusahaan. Good Corporate Governance (GCG) menjadi fondasi kuat perusahaan dalam meningkatkan nilai perusahaan dengan bertanggung jawab pada stakeholder memberikan
kepercayaan kepada para manajmen dalam mengembangkan bisnisnya.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia telah menyadari pentingnya penerapan sistem Good Corporate Governance (GCG) yang ditampilkan dan dipertanggungjawabkan dalam Laporan Tahunan Perusahaan. Tata kelola perusahaan yang baik tidak hanya memberikan dampak dalam jangka pendek, namun dampak jangka panjang. Penghargaan-penghargaan sebagai bentuk apresiasi juga bukti nyata sistem yang dijalankan diterima oleh lingkungan bisnis perusahaan. Dengan adanya sistem tata kelola, perusahaan menunjukkan tanggung jawabnya terhadap lingkungan perusahaan, karyawan yang menjadi aset perusahaan.
Pengimplementasian Good Corporate Governance oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Banyak perusahaan yang sukses dalam penerapan sistem tata kelola yang baik, juga sebaliknya adapula perusahaan yang gagal dalam penerapan Good Corporate Governance.
Sebuah perusahaan dapat diibaratkan layaknya kepingan-kepingan dengan setiap kepentingan yang berbeda. Untuk menyatukan kepingan tersebut, diperlukan sistem yang baik untuk menyatukan setiap komponen dalam perusahaan. Untuk menghindari Bad Corporate Governance, maka perlu dibentuk Good Corporate Governance yang menjadi dasar perusahaan menjalankan
kegiatan usahanya dengan komitmen serta konsistensinya.
Maka, kepentingan perusahaan didukung oleh stakeholder, kepentingan perusahaan sepaham dan sejalan dengan kepentingan stakeholder. Ketika aspek-aspek yang menjadikan suatu perusahaan Good Corporate Governance tidak kokoh, maka perusahaan dapak mengalami Bad Corporate Governance yang dapat berimbas pada Collapsenya perusahaan tersebut.
Sebagai contoh, sebagai masyarakat sekitar dalam menilai perusahaan sebagai sebuah Good Corporate dari dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan atau kebijakan-kebijakan yang diberlakukan oleh perusahaan. Ketika lingkungan sekitar dirugikan akibat kegiatan bisnis yang dijalankan, maka akan berimbas pada tingkat kepercayaan masyarakat selaku salah satu stakeholder perusahaan.
Karyawan sebagai aspek penting dalam perusahaan, apabila diberikan treatmen yang baik, akan merasa loyal serta bekerja dengan baik sehingga produk atau jasa yang dihasilkan dapat diterima dan menjadi income bagi perusahaan. Sebaliknya, ketika karyawan diperlakukan dengan kurang baik maka kualitas kerja karyawan pun tidak maksimal.
Apabila prinsip-prinsip GCG ini dilaksanakan secara baik dan sungguh-sungguh, bisa dipastikan perusahaan akan memiliki landasan yang kokoh dalam menjalankan bisnisnya. Secara eksternal, perusahaan akan lebih dipercaya investor, yang berarti nilai pasar sahamnya akan
membaik dan menarik bagi investor. Mitra kerja juga merasa yakin mengembangkan hubungan bisnis lebih luas lagi. Para pemasok memiliki pegangan yang jelas dan terpercaya serta yakin akan diperlakukan secara adil sehingga bisa memberikan harga yang terbaik, yang berarti menciptakan efisiensi bagi perusahaan. Para kreditur pun memiliki kepercayaan tinggi untuk mengucurkan kreditnya yang mungkin kita perlukan buat perluasan usaha.
Secara internal, suasana kerja juga menjadi lebih kondusif dan nyaman. Karna dengan menerapkan GCG secara benar dan konsisten, berarti perusahaan sudah menerapkan sistem pengelolaan perusahaan sesuai dengan pembagian peran masing-masing, di tingkatan direksi, komisaris, komite-komite, dan lain-lain serta aturan main yang baku berdasarkan prinsip GCG tadi. Tak kalah pentingnya, terciptanya keseimbangan kekuatan di antara struktur internal perusahaan (direksi, komisaris, komite audit, dan lain sebagainya). Sehingga, pengambilan keputusan bisa menjadi lebih dipertanggungjawabkan, bijaksana dan kredibel.
BIODATA PENULIS
Penulis dengan nama lengkap Sesarina Oenunu lahir di Kiupukan (NTT) pada 25 Februari 1998. Penulis yang akrab disapa Sari, menyelesaikan studi S1 Akuntansi di Unika Soegijapranata, kemudian pada tahun 2021 melanjutkan studi Magister di Unika Soegijapranata.
REFERENSI
https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/bank- dunia-prediksi-perekonomian-indonesia-tumbuh-5-1-
persen-ditahun2022/#:~:text=Bank%20Dunia%20Prediksi
%20Perekonomian%20Indonesia%20Tumbuh%20 5%2C1%20Persen%20di%20Tahun%202022,-24%2F06%2F2022&text=Jakarta%2C%2024%2F0 6%2F2022,3%20persen%20di%20tahun%202023 pada 27 Juli.
Kaihatu, Thomas S. (2006). Good Corporate Governance dan Penerapannya Di indonesia. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol.8, No.1. Hal 1-9. Diakses melalui
https://ojs.petra.ac.id/ojsnew/index.php/man/arti cle/view/16505