ANALISIS ISU ISU STRATEGIS
IV.2. URUSAN PILIHAN 1.1. Pertanian
IV.2.1.3. Energi dan Sumber daya Mineral
Terbatasnya pasokan energi listrik di kabupaten Kampar menyebabkan belum seluruh wilayah di daerah ini dapat dialiri listrik. Persoalan yang masih dialami bidang energi adalah belum dapat dilayaninya kebutuhan energi listrik oleh jaringan PLN dibeberapa bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Kampar antara lain keterbatasan PLN dalam menjangkau sampai titik tertentu, kondisi geografis yang membuat biaya yang dikeluarkan PLN akan sangat besar untuk menjangkau masyarakat.
Karena merupakan kewajiban pemerintah untuk melayani seluruh kebutuhan masyarakatnya, maka upaya-upaya yang telah dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Kampar dilaksanakan melalui program pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan dan program geologi tata lingkungan dan sumberdaya mineral.
Sarana kelistrikan merupakan kebutuhan utama dari semua lapisan masyarakat. Energi listrik merupakan kebutuhan fital dan tak terpisahkan dalam kehidupan rumah tangga masyarakat yang terus berkembang modern mulai sekarang baik diperkotaan maupun perdesaan, belum termasuk industri, pariwisata dan lainnya, namun realitanya pelayanan ketersediaan dan
pemenuhan masih terbatas. Sementara itu, upaya penyebaran unit pembangkit desa, listrik tenaga surya bagi masyarakat wilayah pedesaan, terisolir dan daerah aliran sungai (DAS), secara fisik terus meningkat setiap tahun, namun organisasi dan pengelolaannya oleh masyarakat masih menghadapi kendala untuk menjaga keberlanjutannya. Disatu sisi bahwa banyak perusahaan industri besar yang berada di wilayah perdesaan, memiliki pembangkit listrik dengan kapasitas lebih untuk kebutuhan sendiri, sehingga perlu adanya kebijakan dan pengaturan untuk menunjang masyarakat sekitar radius 5-10 km dalam program community devolopment.
Pembangunan pertambangan diarahkan untuk menghasilkan bahan tambanga yang bukan semata-mata untuk memberi manfaat masa kini, tetapi juga harus dapat menjamin kehidupan masa depan. Pembangunan pertambangan harus dapat menghasilkan nilai tambah yang tinggi dan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya, meningkatan PAD serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat.
Masalah-Masalah Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral: 1. LPJU memerlukan investasi yang cukup besar (meterisasi).
2. Banyaknya titik lampu yg belum termeterisasi dan tersebar seluruh Kabupaten. 3. Pemakaian lampu yg tidak sesuai dengan klas jalan dan standar PLN.
4. Banyak pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum Ilegal.
5. Belum tercukupinya secara merata kebutuhan listrik baik untuk wilayah/daerah maupun kebutuhan sektor ekonomi. Karena terpencarnya desa-desa juga mengakibatkan belum berkembang dan meratanya listrik perdesaan.
6. Belum semua potensi bahan tambang dan galian dapat dieksplorasi, karena terbatasnya informasi yang lengkap dan terperinci tentang adanya potensi tersebut serta terbatasnya investor yang berminat.
7. Belum mantapnya penataan ruang, mengakibatkan pembangunan dan pemanfaatan lahan tumpang tindih, serta banyaknya kegiatan pertambangan terutama bahan galian golongan C tanpa ijin
Isu-isu Strategis Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral: 1. Penertiban LPJU illegal yang tidak memenuhi standar PLN.
2. Pelaksanaan efisiensi LPJU dengan pemasangan Alat Pembatas Pemakaian (APP) di seluruh Kabupaten Kampar.
3. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan air tanah melalui usaha pertambangan dengan prinsip good mining practice
4. Meningkatkan pemanfaatan energi alternatif dan potensi energi setempat/lokal; 5. Meningkatkan pengawasan untuk mengurangi kegiatan pertambangan tanpa ijin
(PETI).
6. Meningkatkan perluasan jaringan transmisi dan distribusi untuk meng-optimalkan penyaluran tenaga listrik ke konsumen;
7. Meningkatkan kemampuan investasi pemerintah daerah, swasta, koperasi dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan sarana dan prasarana ketenagalistrikan untuk mengurangi beban pemerintah
IV.2.1.4. Pariwisata
Pembangunan pariwisata sebagai bagian integral dari pembangunan di daerah ini adalah untuk memacu pembangunan ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat. Potensi pariwisata di kabupaten Kampar sangat besar, terutama wisata alam maupun wisata budaya dan wisata buatan. Permasalahan pembangunan pariwisata di kabupaten Kampar antara lain: kegiatan wisata yang telah berlangsung selama ini kurang terpadu secara sektoral antar pelaku (masyarakat, swasta, dan pemerintah), masih kurangnya nuansa budaya, karakter dan sifat yang spesifik dari masyarakat, kurangnya sarana dan prasarana pendukung untuk menuju ke daerah wisata, dan kurangnya promosi ke luar daerah maupun ke luar negeri. Pembangunan pariwisata adalah untuk memacu pembangunan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat. Kebijakan pengembangan pariwisata dimaksudkan untuk menata dan menggalakan pariwisata daerah sehingga mampu meningkatkan peranan pariwisata dalam perekonomian daerah. Sasaran pengembangan kebijakan pembangunan pariwisata adalah memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat serta merupakan sumber devisa untuk daerah, melalui penggalian dan pengembangan sumber daya alam dan sosial budaya daerah, untuk dijadikan aset kepariwisataan sehingga semakin memperkaya objek wisata dan menciptakan keterkaitan usaha swasta dengan usaha ekonomi masyarakat tempatan.
Pembangunan dan pengembangan bidang kepariwisataan ke depan lebih mengarah pada ekowisata yang merupakan perpaduan antara objek wisata alam dengan keunikan kesenian dan budaya serta mengikutsertakan masyarakat setempat. Kegiatan yang dilaksanakan di bidang kepariwisataan diarahkan kepada penataan dan pengelolaan serta membangun beberapa sarana dan prasarana objek wisata dan juga melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pelestarian dan pengembangan budaya dan seni, sebagai upaya untuk menarik minat masyarakat untuk lebih menyenangi budaya dan seni Melayu.
Sesuai dengan program pembangunan di bidang kepariwisataan, pelaksanaan kegiatan tentunya adalah mewujudkan Kabupaten Kampar sebagai salah satu tujuan wisata dengan keunikan dan keindahan alam serta ditunjang oleh keragaman budaya dan kesenian yang dimiliki, baik itu oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Dalam pengembangan kepariwisataan partisipasi pihak swasta maupun masyarakat memegang peranan yang sangat penting, sedangkan pemerintah lebih pada memfasilitasi dan menunjang percepatan pengembangan bidang kepariwisataan.
Masalah-Masalah Bidang Pariwisata:
1. Rendahnya daya saing obyek wisata di Kabupaten Kampar 2. Rendahnya kualitas produk wisata
4. Lemahnya pemberdayaan masyarakat sekitar obyek wisata
5. Lemahnya koordinasi guna sinkronisasi program/kegiatan agar tercapai sinergi yang baik.
Isu-isu Strategis Bidang Pariwisata:
1. Pengembangan dan peningkatan produk pariwisata yang berwawasan lingkungan yang bertumpu pada kebudayaan, peninggalan budaya dan pesona alam yang bernilai tinggi dan berdaya saing global.
2. Penyebaran informasi kepariwisataan secara efektif dan efesien
3. Meningkatkan peran serta sektor swasta dan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata.
4. Peningkatan koordinasi dengan para stakeholder bidang pariwisata didalam membangun kepariwisataan Kabupaten Kampar
5. Meningkatkan ketrampilan, keahlian dan kecakapan pekerja di sektor pariwisata
IV.2.1.5. Perdagangan
Pembangunan perdagangan tidak terlepas dari pembangunan lembaga tataniaga dalam perekonomian masyarakat. Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dengan mana barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen. Kedalam istilah lembaga tataniaga ini termasuk golongan produsen, pedagang perantara dan lembaga pemberi jasa. Perdagangan merupakan sektor yang cukup besar peranannya terutama dalam meningkatkan aktivitas perekonomian daerah, untuk memenuhi konsumsi dalam negeri dan meningkatkan ekspor. Pertumbuhan perusahaan perdagangan yang ada cukup berkembang di ber-bagai bidang dan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat Kabupaten Kampar, disamping itu keberadaan usaha perdagangan ini juga telah dapat menyerap tenaga kerja yang cukup besar.
Perdagangan dalam perekonomian masyarakat muncul sebagai kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Fenomena transaksi atau pertukaran yang lazim disebut sebagai hubungan perdagangan itu merupakan komponen dasar kegiatan manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
Tabel 33 Jumlah Perusahaan Perdagangan yang telah mendapat SIUP Menurut Golongan Tahun 2005-2009 Kabupaten Kampar
TAHUN PERUSAHAAN JUMLAH
BESAR MENENGAH KECIL
2005 12 21 469 502
2006 10 29 338 377
2007 14 45 465 524
2008 23 27 446 496
2009 20 17 527 564
Sumber: Dinas Perindag 2010
Jumlah perusahaan Perdagangan yang telah mendapat SIUP di Kabupaten Kampar sampai dengan tahun 2009 bertambah 62 perusahaan di banding tahun 2005 atau rata-rata bertambah 12 perusahaan (2,47%) tiap tahunnya. Jumlah Perusahaan Besar yang telah
mendapat SIUP sampai dengan tahun 2009 bertambah 8 perusahaan dibanding tahun 2005 atau rata-rata bertambah 2 perusahaan (13,33%) tiap tahunnya. Jumlah Perusahaan Menengah yang telah mendapat SIUP sampai dengan tahun 2009 berkurang 4 perusahaan dibanding tahun 2005 atau rata-rata berkurang 1 perusahaan (3,81%) tiap tahunnya. Jumlah Perusahaan Kecil yang telah mendapat SIUP sampai dengan tahun 2009 bertambah 58 perusahaan dibanding tahun 2005 atau rata-rata bertambah 12 perusahaan (2,47%%) tiap tahunnya.
Masalah-Masalah Bidang Perdagangan:
1. Kecilnya nilai tambah yang didapat oleh usaha perdagangan kecil kalau dibandingkan dengan usaha perdagangan berskala besar. Untuk itu perlu pengaturan hubungan antara pedagang grosir dengan pengecer, sehingga saling menguntungkan;
2. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia, kurangnya modal, belum optimalnya daya saing dan kualitas serta minimnya informasi pasar terutama untuk ekspor.
3. Kurangnya pengetahuan sumber daya manusia yang bergerak di bidang perdagangan tradisional tentang manajemen pengelolaan usaha perdagangan. 4. Keterbatasan peralatan kemetrologian untuk memantau peralatan perdagangan. 5. Keterbatasan anggaran untuk merevitalisasi kawasan-kawasan perdagangan
tradisional (pasar maupun PKL).
6. Kurangnya kesadaran pelaku usaha melengkapi diri dengan perizinan usaha maupun legalitas lainnya masih kurang.
7. Rendahnya kemampuan berpromosi bagi UKM/IKM untuk memperluas jaringan pasar
8. Rendahnya pemahaman terhadap penyelenggaran perlindungan konsumen oleh pelaku usaha maupun konsumen.
Isu-isu Strategis Bidang Perdagangan:
1. Membuat ketentuan yang mengatur persaingan usaha yang tercakup pula didalamnya penataan lokasi sehingga ada perlindungan terhadap keberadaan usaha kecil dan pasar tradisional.
2. Melakukan koordinasi dengan Dinas Perdagangan Provinsi agar dapat lebih intensif melakukan kegiatan uji kemetrologian di Kabupaten Kampar.
3. Meningkatkan monitoring terhadap aspek harga dan non harga bagi barang pokok / strategis.
4. Melakukan fasilitasi promosi produk industri kecil dan menengah.
5. Meningkatkan pengawasan peredaran barang beredar di pasar sebagai upaya perlindungan konsumen.
6. Meningkatkan kualitas pelaku usaha bidang perdagangan kecil menengah serta meningkatkan kemampuan aparatur bidang perdagangan,
7. Menciptakan langkah-langkah strategis dalam rangka antisipasi pemberlakuan perdagangan bebas di dunia,
8. Memberikan bimbingan teknologi pengolahan bagi komoditi potensi daerah serta mempermudah Akses masyarakat terhadap modal dan pemasaran,
9. Meningkatkan sarana penunjang pelayanan, pengawasan terhadap barang beredar dan aktivitas pelaku usaha industri dan perdagangan
IV.2.1.6. Industri
Dalam kondisi seperti ini, maka dikaitkan dengan pembangunan daerah di era otonomi saat ini diperlukan pengembangan industri yang berbasis perdesaan karena memang sebagian besar penduduk masih banyak yang tinggal di wilayah perdesaan. Perlu pemikiran untuk mendinamiskan sektor pertanian terutama melalui keterkaitannya dengan sektor industri (agroindustri) dan perdagangan.
Industri perdesaan cenderung dikonotasikan sebagai alat pem-bangunan desa (dengan ukuran industri kecil dan rumah tangga). Maka bila dikaitkan dengan konsep pengembangan wilayah, pengembangan industri yang terkait dengan jasa dan perdagangan di Kabupaten Kampar yang dapat dilakukan adalah pengembangan wilayah berdasarkan klaster. Klaster diartikan sebagai konsentrasi dari suatu kelompok kerjasama bisnis atau unit-unit usaha dan lembaga-lembaga, yang bersaing, bekerjasama, dan saling tergantung satu sama lain, terkonsentrasi dalam satu wilayah tertentu, dalam bidang aspek unggulan tertentu (Porter, 1998). Pada umumnya motor penggerak dalam pengembangan wilayah berdasarkan klaster adalah sektor industri. Model klaster berkembang didasarkan atas kesadaran bahwa industri utama dan unit-unit usaha disekitarnya saling terkait satu dengan lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, pengembangan wilayah berdasar-kan klaster terfokus pada keterkaitan dan ketergantungan antara pelaku-pelaku (stakeholders) dalam suatu jaringan kerja produksi, sampai kepada jasa pelayanan, dan upaya-upaya inovasi pengembangannya.
Pada umumnya masyarakat di Kabupaten Kampar bergerak di industri kecil dalam hal ini agro industri. Melihat perjalanan industri kecil sebagai salah satu “bagian” yang digeluti masyarakat lapisan bawah, dimana industri kecil mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan masyarakat serta mempunyai prospek untuk dikembangkan, maka sektor ini sangat perlu untuk mendapat sentuhan berbagai program pengembangan potensi industri dan perdagangan agar menjadikan mereka lebih memiliki daya saing untuk mewujudkan tujuannya. Sebab pada kenyataannya sektor yang sangat dekat dengan wong cilik ini masih terlalu jauh dari “profesionalisme” dan kontinuitas usahanya masih tersendat-sendat dan sangat disayangkan kalau sampai putus di tengah jalan.
Pengembangan industri berkeunggulan kompetitif, baik industri kecil, sedang/menengah, maupun besar, sangat penting untuk menghadapi per-saingan yang semakin ketat, baik di pasar dalam negeri maupun pasar ekspor dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia. Berkaitan dengan itu maka perlu ditingkatkan jaminan mutu dan layanan produk yang efisien melalui peningkatan produktifitas, serta pengembangan jaringan usaha terkait guna mendukung proses ke arah spesialisasi kegiatan. Sementara itu, untuk mewujudkan struktur produksi dan distribusi yang kukuh dan berkelanjutan, maka diperlukan pengembangan
industri yang mencakup seluruh mata rantai kegiatan produksi dan distribusi dari penyedia bahan baku, pengolahan, hingga sektor jasa.
Tabel 34 Jumlah Perusahaan Industri Menurut Kelompok Industri, Unit Usaha, Tenaga Kerja, Investasi dan Nilai Produksi Tahun 2005-2009
KELOMPOK INDUSTRI UNIT USAHA TENAGA KERJA INVESTASI (RP.000) PRODUKSI (RP.000) Industri Logam, Mesin dan
Kimia (ILUK)
306 1,419 6,061,078 16,149,539 Aneka Industri (AI) 170 797 4,300,271 16,585,150 Industri Hasil Pertanian dan
Kehutanan (IHPK) 548 16,049 31,038,485 260,000,502 Jumlah 2009 1,024 18,265 41,399,834 292,735,191 2008 1,017 18,068 24,310,834 280,892,991 2007 984 17,912 22,764,334 272,902,731 2006 951 17,527 17,957,928 116,594,361 2005 926 17,414 16,447,928 113,341,011 Sumber: BPS, 2010
Jumlah Unit Usaha industri sampai dengan tahun 2009 bertambah 98 unit dibanding tahun 2005 atau rata-rata bertambah 19 unit (2,12%) tiap tahunnya. Jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor industri sampai dengan tahun 2009 bertambah 851 orang dibanding tahun 2005 atau rata-rata bertambah 170 orang (0,98%) setiap tahunnya.
Jumlah Investasi di sektor industri sampai dengan tahun 2009 bertambah Rp.24.951.906.000,- dibanding tahun tahun 2005 atau rata-rata bertambah Rp. 4.990.381.200,- (30.34%) setiap tahunnya. Jumlah Produksi di sektor industri sampai dengan tahun 2009 bertambah Rp.179.394.180.000,- dibanding tahun tahun 2005 atau rata-rata bertambah Rp. 35.878.836.000,- (31,66%) setiap tahunnya. Persentase jumlah berdasarkan Kelompok Industri yang ada di Kabupaten Kampar sampai dengan tahun 2009 adalah Industri hasil pertanian dan Kehiutanan (IHPK) 53,52%, Industri Logam, Mesin dan Kimia (ILUK) 29,88% serta Aneka Industri 16,60%.
Masalah-Masalah Bidang Industri:
1. Kurang kondusifnya lingkungan usaha memiliki implikasi besar terhadap penurunan daya saing ekonomi, terutama bagi sektor-sektor industri sebagai lapangan kesempatan kerja utama;
2. Rendahnya efisiensi usaha pada tingkat operasionalisasi perusahaan;
3. Lemahnya iklim persaingan dalam rangka menciptakan tekanan kompetisi secara sehat;
4. Pengembangan dan penerapan IPTEK terutama untuk kepentingan produksi masih terbatas;
5. Mekanisme hubungan industrial yang terjadi belum secara proporsional menampung kepentingan pengusaha dan pekerja;
6. Standardisasi nasional produk industri, pengembangan infrastruktur yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan sektor industri, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja belum sepenuhnya berjalan optimal karena keterbatasan sumberdaya;
7. Sebagian besar produk industri rumah tangga kecil dan menengah, (IRTKM) tidak atau kurang “marketable”, serta lemahnya kemampuan finansial, manajemen dan
pemasaran, sistem produksi berdasarkan order dan tidak kontinyu, jangkauan pasar bersifat lokal dan terbatas kemampuannya dalam mengembangkan ekspansi usaha, dan penerapan teknologi masih rendah;
Isu-isu Strategis Bidang Industri:
1. Memberikan referensi produk dari daerah lain untuk meningkatkan kreativitas pengrajin
2. Penambahan aparat pembina untuk mengoptimalkan pembinaan monitoring dan evaluasi usaha industri.
3. Meningkatkan kualitas pelaku usaha bidang industri kecil menengah serta meningkatkan kemampuan aparatur bidang industri,
4. Memfasilitasi terlaksananya kerjasama antara industri besar dengan usaha industri kecil dan menengah sebagai upaya terjalinnya kemitraan antara pelaku usaha, 5. Memfasilitasi Pengembangan lingkungan industri serta kawasan industri dan
sentra-sentra industri yang ada,
6. Memberikan bimbingan teknologi pengolahan bagi komoditi potensi daerah serta mempermudah akses masyarakat terhadap modal dan pemasaran, dan menggandeng pihak perbankan.
IV.2.1.7. Ketransmigrasian
Pemerintah Kabupaten Kampar sejak Tahun 2007 s/d 2011 tidak melaksanakan urusan Transmigrasi.