Sasaran Strategis (SS) 4. Meningkatnya Kualitas SDM perpustakaan
IKU 7. Fasilitasi Sertifikasi Pustakawan
Kompetensi pustakawan terdiri atas kompetensi personal dan kompetensi profesional (Pasal 34, PP No. 24 Tahun 2014). Kompetensi personal adalah kemampuan pustakawan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kompetensi kerja yang ditetapkan. Sedangkan kompetensi personal mencakup aspek kepribadian dan interaksi sosial. Kompetensi profesional diuji melalui sertifikasi pustakawan sehingga yang bersangkutan dinyatakan kompeten dan dibuktikan dengan sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Pustakawan (LSP) atau lembaga pendidikan yang memiliki lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Indikator kinerja utama ini bertujuan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan sertifikasi pustakawan oleh Lembaga Sertifikasi Pustakawan (LSP) berdasar
pedoman pelaksanaan asesmen kompetensi kerja yang ditetapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dengan dikuasainya kompetensi tersebut oleh pustakawan maka yang bersangkutan akan mengetahui dan memiliki kemampuan tentang:
a. Bagaimana mengerjakan suatu pekerjaan,
b. Bagaimana mengorganisasikannya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan,
c. Apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula, d. Bagaimana menggunakan kemampuan yang
dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugas dengan kondisi yang berbeda, e. Bagaimana menyesuaikan kemampuan yang
dimiliki bila bekerja pada kondisi dan lingkungan yang berbeda.
Tabel 49. Capaian IKU Fasilitasi Sertifikasi Pustakawan
Berdasarkan target indikator kinerja fasilitasi sertifikasi pustakawan yang ditetapkan sebesar 170 orang dan terealisasi sebesar 204 orang, sehingga diperoleh nilai capaian sebesar 120%. Target capaian indikator kinerja dimaksud melampaui target yang direncanakan sebesar 20%. Dengan demikian capaian indikator kinerja utama fasilitasi sertifikasi pustakawan yang dihasilkan pada tahun 2016 dinilai Berhasil.
Namun demikian capaian IKU ini menurun dari realisasi tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 terealisasi jumlah peserta sertifikasi sebanyak 244 orang menurun di tahun 2016 menjadi 204 orang. Sehingga dapat disimpulkan capaian realisasi tahun 2016 turun 16.4% dari capaian tahun 2015.
Tabel 50. Perbandingan Realisasi Capaian IKU Fasilitasi Sertifikasi Pustakawan dengan Tahun Sebelumnya
Pelaksanaan sertifikasi tahun 2016 sumber APBN dilaksanakan di Jakarta sebanyak 2 (dua) kali dan masing-masing 1 (satu) kali pelaksanaan sertifikasi di daerah yaitu Mataram, Medan dan Bali.
Sementara itu lembaga atau instansi yang mengajukan pembiayaan sertifikasi pustakawan secara mandiri (swadana), antara lain: Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Airlangga Surabaya, Institut Agama Islam Negeri Mataram, Universitas Tadulako Palu. Dengan adanya pembiayaan sertifikasi pustakawan secara mandiri ini sangat membantu capaian dari IKU fasilitasi sertifikasi pustakawan sehingga dapat dinilai Berhasil.
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi Tahun s.d 2015 2016
Target Realisasi Target akhir Thn. RENSTRA % Capaian 1. Peningkatan kualitas SDM perpustakaan Fasilitasi sertifikasi pustakawan 244 orang 170 Orang 204 orang 650 orang 120%
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Realisasi
Tahun 2016 Tahun 2015 % naik/turun
1. Peningkatan kualitas SDM perpustakaan Fasilitasi sertifikasi pustakawan Orang 204 Orang 244 16.4% (turun)
82
Bab 3 Akuntabilitas Kinerja
dan Realisasi Keuangan
Pelaksanaan sertifikasi pustakawan menjadi sangat penting karena telah diamanatkan dalam PP No. 24 Tahun 2014 tentang pelaksanaan UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pasal 35 yang menyatakan bahwa Pus takawan harus memiliki ser tifikat kompetensi yang menjadi dasar pertimbangan untuk peningkatan karier pustakawan dan diberikan oleh lembaga sertifikasi. Pustakawan dinyatakan kompeten bila terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. lulus asesmen kompetensi oleh asesor kompetensi, b. tercukupinya bukti kompetensi yang mencakup
kompetensi umum dan inti meliputi ijazah, sertifikat pelatihan, dokumen hasil pekerjaan dan dokumen pendukung lainnya yang diperlukan,
c. memenuhi kriteria unjuk kerja (KUK) yang di persyaratkan oleh standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) bidang perpustakaan.
Tabel 51. Analisis Sasaran Strategis (SS) Peningkatan Kualitas SDM Perpustakaan
Grafik 12. Sebaran Peserta Sertifikasi Pustakawan Tahun 2016
Pencapaian indikator kinerja utama fasilitasi sertifikasi pustakawan berdasar target indikator kinerja utama RENSTRA Perubahan 2015-2019. Dalam RENSTRA Perubahan indikator ini diubah m e n j a d i T e r c a p a i n y a p e n i n g k a t a n t e n a g a
perpustakaan yang kompeten dan profesional untuk
sasaran strategisnya (SS), dan Persentase peningkatan
pustakawan tersertifikasi untuk indikator kinerja
utamanya (IKU). Perubahan ini dilakukan dikarenakan untuk sasaran strategis RENSTRA Lama belum dapat memberikan gambaran pengukuran indikator kinerja.
Oleh sebab itu perlu diubah dengan ukuran capaian sasaran strategis adalah Kompeten dan Profesional, dan ukuran capaian IKU adalah Tersertifikasi. Tersertifikasi yang dimaksud adalah pustakawan yang lulus uji sertifikasi, dinyatakan kompeten dan memiliki sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Pustakawan (LSP). Target yang dimaksud menggunakan baseline data Pangkalan Data Pustakawan sebesar 3.179 pustakawan. STRA Perubahan dipaparkan dalam tabel 49.
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi Tahun 2015 2016 Target Akhir Tahun RENSTRA Persentase Capaian Sampai Dengan 2019 (akhir Tahun RENSTRA) Target Realisasi Persentase
Realisasi 1. Peningkatan kualitas SDM perpustakaan Fasilitasi sertifikasi pustakawan 244 Orang 107 Orang 204 Orang 120% 650 Orang 68,92%
Berdasarkan realisasi capaian dari Tahun 2015 sampai dengan tahun 2016 sebesar 448 orang, apabila dibandingkan dengan target akhir Tahun 2019 sebesar 650 orang, maka nilai capaiannya sebesar 68,92%. Masih tersisa target sebanyak 202 orang atau 31,08% dari target akhir tahun RENSTRA. Sebaran peserta sertifikasi pustakawan tahun 2016. Peserta paling banyak berada di tempat uji Perpusnas sebanyak 87 orang, dan yang paling sedikit berada di IAIN Mataram sebanyak 11 orang.
Tabel 52. Capaian IKU Persentase peningkatan pustakawan tersertifikasi (RENSTRA Perubahan)
Berdasarkan RENSTRA Perubahan target indikator kinerja yang ditetapkan sebesar 7.2% dan terealisasi sebesar 10.5%, sehingga diperoleh nilai capaian sebesar 145%. Target capaian indikator kinerja dimaksud melampaui target yang direncanakan sebesar 45%. Dengan demikian bila dibandingkan dengan target RENSTRA Perubahan pun, capaian kinerja dari IKU Persentase peningkatan pustakawan tersertifikasi dinilai Berhasil.
Tabel 53. Perbandingan Realisasi Capaian IKU Persentase Peningkatan Pustakawan Tersertifikasi (RENSTRA Perubahan) dengan Tahun Sebelumnya
Namun demikian capaian tahun 2016 menurun dari realisasi tahun sebelumnya bila dihitung capaian pertahun bukan secara akumulatif dari tahun 2015. Pada tahun 2015 terealisasi sebanyak 5.3% menurun di tahun 2016 menjadi 5.13%. Jadi target capaian indikator kinerja dimaksud turun 3% dari capaian kinerja 2015.
Tabel 54. Persentase peningkatan pustakawan tersertifikasi (RENSTRA Perubahan)
Berdasarkan realisasi capaian dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2016 sebesar 10.5%, apabila dibandingkan dengan target akhir Tahun 2019 sebesar 20.4%, maka nilai capaiannya adalah 51%. Sehingga untuk target indikator kinerja utama Persentasi Peningkatan Pustakawan Tersertifikasi masih tersisa target sebanyak 49% dari target akhir tahun RENSTRA Perubahan pada tahun 2019.
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi Tahun s.d 2015 2016
Target Realisasi Target akhir Thn. RENSTRA % Capaian 1. Tercapainya peningkatan tenaga perpustakaan yang kompeten dan profesional Persentase peningkatan pustakawan tersertifikasi 5.3% 7.2% 10.5% 20.4% 145%
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Realisasi Per tahun Tahun 2016 Tahun 2015 % naik/turun 3. Tercapainya peningkatan tenaga perpustakaan yang kompeten dan profesional Persentase peningkatan pustakawan tersertifikasi 5.13% 5.3% 3% (turun) No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi Tahun 2015 2016 Target Akhir Tahun RENSTRA Persentase Capaian Sampai Dengan 2019 (akhir Tahun RENSTRA) Target Realisasi Persentase
Realisasi 1. Tercapainya peningkatan tenaga perpustakaan yang kompeten dan profesional Persentase peningkatan pustakawan tersertifikasi 5.3% 7.2% 10.5% 145% 20.4% 51%
84
Bab 3 Akuntabilitas Kinerja
Berdasarkan realisasi capaian dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2016 sebesar 10.5%, apabila dibandingkan dengan target akhir Tahun 2019 sebesar 20.4%, maka nilai capaiannya adalah 51%. Sehingga untuk target indikator kinerja utama Persentasi Peningkatan Pustakawan Tersertifikasi masih tersisa target sebanyak 49% dari target akhir tahun RENSTRA Perubahan pada tahun 2019.
Jumlah peserta yang kompeten dibuktikan dengan sertifikat kompetensi merupakan hal yang sangat penting bagi
Gambar 19. Verifikasi Tempat Uji Kompetensi/Sertifikasi Dalam Rangka Persiapan Pelaksanaan Sertifikasi
Hasil sertifikasi tahun 2013-2016 jumlah pustakawan yang tersertifikasi belum signifikan mengingat dari 3.179 pustakawan, hanya 509 orang yang dinyatakan kompeten. Jadi masih terdapat 2.670 pustakawan yang belum tersertifikasi. Hal ini disebabkan oleh dana APBN yang terbatas, dan tidak adanya LSP di daerah sehingga sangat tergantung pada LSP Pusat yang berada di Jakarta sebagai eksekutornya.
Perkembangan jumlah pustakawan yang mengikuti sertifikasi dan peserta yang kompeten dari tahun ke tahun mengalami kenaikan pada kurun tiga tahun terakhir, kecuali pada tahun 2016 mengalami penurunan. Penuruanan ini disebabkan karena alokasi anggaran yang berkurang dari tahun sebelumnya, sehingga tempat pelaksanaan sertifikasi semakin sedikit. Namun apabila jumlah alokasi anggaran dan tempat bertambah tidak menutup kemungkinan akan jauh lebih besar capaiannya dari tahun sebelumnya.
Tabel 55. Komposisi Peserta Yang Kompeten dan Belum Kompeten Per Tahun (Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2016)
No TAHUN JUMLAH K BK %K %BK 1. 2013 78 56 22 72% 28% 2. 2014 177 113 64 64% 36% 3. 2015 244 177 67 73% 27% 4. 2016 204 163 41 80% 20% JUMLAH 703 509 194 72% 28%
Telah diuraikan sebelumnya bahwa kenaikan jumlah peserta dikarenakan jumlah lokasi yang dianggarkan setiap tahunnya berbeda, bahwa pada tahun 2013 terlaksana di 5 (lima) tempat namun untuk Jakarta hanya diselenggarakan 1 kali sertifikasi sedangkan pada tahun 2014 terlaksana di 8 (delapan) tempat dan tahun 2015 terlaksana di 9 (sembilan) tempat dengan pelaksanaan di Jakarta sebanyak 4 (empat) kali melalui pembiayaan APBN ditambah 3 kali dengan pembiayaan swadana. Sedangkan pada tahun 2016 di Jakarta hanya 2 (dua) kali dilaksanakan dan di daerah 3 (tiga) kali dengan pembiayaan APBN, ditambah 4 (empat) kali di daerah dengan pembiayaan mandiri atau swadana. Rekapitulasi data kepesertaan dan data perkembangan tempat uji kompetensi atau sertifikasi di bawah ini.
Gambar 20. Data Kepesertaan dan Data Perkembangan Tempat Uji Kompetensi
Dari uraian di atas, capaian IKU Fasilitasi sertifikasi pustakawan di tahun 2016 dinilai berhasil karena melebihi target. Hal ini diupayakan melalui berbagai cara antara lain:
a. LSP Pustakawan mengupayakan terus-menerus sosialisasi sertifikasi pustakawan dengan berbagai media atau melalui proses kerjasama dan pertemuan-pertemuan, dan forum-forum kepustakawanan.
b. Koordinasi dan kerjasama yang begitu intens membuahkan hasil yang menggembirakan sehingga beberapa instansi mempercayakan kepada LSP Pustakawan sebagai penjamin kualitas dan Perpustakaan Nasional sebagai kontrol kualitas pustakawan. Hasil dari koordinasi tersebut adalah terselenggaranya sertifikasi pustakawan secara swadana di 4(empat) tempat yaitu Universitas Gadjah Mada, Univaersitas Airlangga, IAIN Mataram dan Universitas Tadulako.
c. Proses sinergi LSP Pustakawan sebagai penyelenggara sertifikasi pustakawan yang independen dengan perguruan tinggi yang menginginkan pustakawannya tersertifikasi untuk meningkatkan grade instansinya. Sehingga antusiasme dan kebutuhan sertifikasi menjadi tinggi di perpustakaan perguruan tinggi.
d. LSP Pustakawan mengembangkan penyesuaian sistem sertifikasi yang mudah, objektif, sistematis dan tidak membuang-buang waktu dan biaya tanpa mengurangi kualitas sertifikasi, yang dituangkan dalam revisi pedoman panduan mutu, SOP, dan perbaikan materi uji sertifikasi.
e. LSP Pustakawan telah mengupayakan Perubahan metode dalam uji sertifikasi sehingga dengan dana yang terbatas dapat mencapai target peserta yang maksimal. Hasilnya satu asesor dapat melakukan uji kepada 4 (empat) orang peserta tanpa menurunkan kualitas uji sertifikasi.
f. LSP Pustakawan mengupayakan Perubahan skema pada persyaratan kualifikasi pendidikan yang semula S1 Ilmu Perpustakaan atau S1 ditambah CPTA berubah menjadi D2 Ilmu Perpustakaan.
86
Bab 3 Akuntabilitas Kinerja
Gambar 21. Suasana RCC Asesor Kompetensi oleh BNSP di Jakarta
Beberapa faktor yang dapat diidentifikasi sebagai pendorong tingkat kenaikan jumlah peserta yang kompeten pada tahun 2016 adalah:
a. Semakin mudahnya peserta mendapatkan informasi sertifikasi pustakawan dengan berbagai cara misalnya melalui web pustakawan (http://pustakawan.perpusnas.go.id) yang berisi informasi lengkap tentang sertifikasi, persyaratan peserta, proses uji sertifikasi, kluster dan asesmen mandiri yang berisi materi uji yang harus dikuasai oleh calon peserta sertifikasi.
b. Dengan bertanya kepada teman yang telah mengikuti sertifikasi sehingga mendapat gambaran pelaksanaan sertifikasi atau pernah mengikuti sertifikasi sebelumnya namun belum kompeten sehingga diberi kesempatan untuk mengulang. Dengan demikian peserta menjadi lebih siap dalam mengikuti sertifikasi.
c. Mudahnya pustakawan mendapatkan informasi melalui media, forum-forum sehingga peserta dari daerah banyak mengajukan permohonan sertifikasi di Jakarta.
d. Pimpinan lembaga sudah memahami pentingnya sertifikasi, sehingga memudahkan para peserta mendapatkan izin/rekomendasi mengikuti sertifikasi.
e. Koordinasi yang baik dengan Badan Perpustakaan Daerah Provinsi, sehingga dapat mengakomodir pustakawan di daerahnya.
f. Komposisi peserta yang berasal dari jenis Perpustakaan Perguruan Tinggi lebih besar dari perpustakaan lainnya, hal itu disebabkan, peserta dari perguruan tinggi mempunyai kompetensi yang baik dalam melayani kebutuhan mahasiswa.
Gambar 22. Suasana Pelaksanaan Asesmen Sertifikasi di Mataram
Dalam pelaksanaannya, sertifikasi pustakawan juga menemui beberapa kendala antara lain:
a. Anggaran dari APBN yang terbatas, mengakibatkan hanya sedikit tempat uji kompetensi yang dapat didatangi. Sebagai tindaklanjutnya dengan memaksimalkan kepesertaan yang berada di Jakarta. Yang kedua, mendorong dan bekerjasama dengan intansi lain baik BPAD maupun perguruan tinggi untuk melaksanakan sertifikasi secara swadana.
b. Terbatasnya jumlah asesor kompetensi. Sebagai tindaklanjutnya dengan memperbanyak diklat asesor
kompetensi bagi pustakawan yang telah lulus sertifikasi dan dinilai kompeten untuk menjadi asesor kompetensi. c. Terbatasnya LSP Pustakawan sebagai lembaga sertifikasi profesi, dimana anggarannya masih disubsidi oleh
Perpusnas. Sebagai tindak lanjutnya mendorong terbentuknya LSP Cabang di daerah sebagai perpanjangan tangan LSP Pustakawan Pusat dalam melaksanakan sertifikasi, sehingga tidak tergantung dari LSP Pustakawan Pusat dan pelaksanaan memungkinkan dapat dilakukan secara efektif dan efisien
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan percepatan pelaksanaan sertifikasi pustakawan secara masif dan merata di seluruh Indonesia. Mengingat tenaga perpustakaan yang kompeten sangat mempengaruhi terhadap jalannya pengelolaan perpustakaan. Usaha yang dapat dilakukan saat ini adalah:
a. Mendorong terbentuknya LSP Cabang di daerah sebagai perpanjangan tangan LSP Pustakawan Pusat dalam melaksanakan sertifikasi, sehingga tidak tergantung dari LSP Pustakawan Pusat dan pelaksanaan
memungkinkan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
b. Melakukan kerjasama dengan Badan Perpustakaan Provinsi Daerah dan Pengurus IPI daerah untuk mengawali terbentuknya LSP Pustakawan Cabang dan memperbanyak jumlah tempat uji kompetensi (TUK).
c. Melakukan Perubahan dan perbaikan skema sertfikasi yang mengadopsi kompetensi kekinian.
d. Melakukan upgrading kompetensi dan Recognition Current Competency (RCC) dari asesor kompetensi untuk meningkatkan kompetensi asesor kompetensi sesuai ketentuan terbaru dari BNSP.
e. Merevisi Panduan Mutu LSP Pustakawan, SOP dan Dokumen Pendukung lainnya.
f. Melakukan kerjasama yang baik semua komponen baik peserta, instansi, lingkungan dan faktor pendukung lainnya misalnya melakukan audiensi dengan Kepala Perpustakaan Nasional dalam rangka melaporkan perkembangan LSP dan menguatkan keberadaan LSP.
88
Bab 3 Akuntabilitas Kinerja