TRANSAKSI-TRANSAKSI YANG DILARANG DALAM MU’AMALAH
2. Gharar atau Taghrir
Gharar secara bahasa berarti bahaya khathar), cenderung pada kerusakan (al-ta’ridh lilhalak), penipuan (al-khida`), ketidakjelasan (al-jahalah) atau sesuatu yang lahirnya disukai tetapi batinnya dibenci.
Beberapa ulama memberi pengertian terhadap gharar ini sebagai berikut: Menurut Sayid Sabiq, gharar ialah semua jenis jual-beli yang mengandung ketidakjelasan (jahalah),
spekulasi (mukhatharoh) dan atau mengandung taruhan (quumar).63 Menurut al-Shan’ani,
62 Adi Warman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: Rajawali Press, 2004. 63
gharar ini memiliki beberapa bentuk, yaitu barang yang diperjualbelikan tidak dapat diserahkan, barang yang tidak ada atau tidak diketahui secara pasti, dan barang yang tidak dimiliki. Sedangkan menurut al-Zarqa, gharar adalah menjual sesuatu yang diragukan keberadaan dan spesifikasinya. Jual-beli tersebut dilarang karena terdapat unsur-unsur penipuan dan spekulasi seperti dalam judi. Gharar ini dapat terjadi karena ada keraguan mengenai bendanya atau tidak jelasnya karakteristik dari benda tersebut. Dengan demikian, gharar bisa terjadi pada kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa gharar merupakan suatu keadaan atau situasi dimana tidak jelas mengenai objek atau transaksi yang dijalankan dalam kegiatan usaha. Ketidakjelasan ini akan menimbulkan ketidakpastian. Ketidakjelasan tersebut terjadi karena adanya informasi yang tidak lengkap (incomplete information) diterima oleh para pihak menyangkut objeknya tersebut sehingga adanya ketidakpastian bagi para pihak tersebut (uncertainty to both parties). Dengan adanya ketidakpastian menjadikan para pihak yang melakukan kegiatan atau transaksi akan mengalami kerugian, penyesalan, dan bahaya.
Dengan adanya ketidakpastian ini, menimbulkan adanya pihak-pihak yang mendapat perlakuan tidak adil atau adanya pihak-pihak yang dianiaya. Hal ini bertentangan dengan prinsip al-‘adalah (bersikap adil) dan la tazlimuna wala tuzlamun (tidak dianiaya dan tidak menganiaya). Karena melanggar prinsip tersebut, maka gharar dilarang dalam Islam. Rasulullah bersabda: Rasulullah melarang melakukan transaksi/kegiatan yang gharar (Naha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ‘an al-bai’ al-gharar).
Berdasarkan definisi di atas, unsur-unsur gharar adalah bahwa benda yang menjadi objek akad itu tidak ada ditangan atau dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, tidak dapat diserahkan pada waktunya, sehingga mengakibatkan pembeli mengalami kerugian, penyesalan, dan bahaya. Sedangkan bagi pelaku yang melakukan transaksi gharar, ia dianggap memakan harta secara batil. Oleh karenanya, gharar ini bisa dalam bentuk barang/objek akad dan bisa pula dalam bentuk shighat akadnya.
Dikalangan fukaha ada yang mencoba melakukan kategorisasi dan klasifikasi terhadap sesuatu yang dianggap gharar dan jahalah ini dalam tiga bagian, yaitu gharar atau jahalah yang besar, yang sedikit, dan pertengahan. Gharar yang dianggap besar adalah benda yang diperjualbelikan belum atau tidak dimiliki seperti burung yang masih di udara. Sedangkan gharar kecil adalah benda yang sifatnya belum jelas kecuali setelah
dilihat. Gharar kecil oleh sebagian ulama (hanafiyah) dibolehkan. Sedangkan menurut Maliki dan Hanbali dilarang. Ketiga gharar yang menengah. Gharar ini adalah diikutkan
kepada mana yang paling condong, apakah yang sedikit ghararnya atau yang banyak.64
Terhadap gharar besar para ulama sepakat mengharamkannya.
Adanya gharar dalam akad menjadikan akad tersebut dapat dibatalkan. Beberapa alasan dilarangnya gharar, di antaranya adalah berkaitan dengan penipuan. Suatu penjualan mewajibkan adanya pemberian kepemilikan kepada yang lain. Bila dalam penjualan tersebut tidak ada penyerahan barang, maka hal itu akan menimbulkan perselisihan antara para pihak yang melakukan akad. Sementara itu, hukum Islam menegaskan bahwa suatu kesepakatan yang dibuat oleh para pihak membawa kewajiban seketika dan mengikat bagi para pihak. Terhadap permasalahan tersebut, oleh karenanya tidak mengherankan ditemukannya larangan-larang dalam hukum Islam terhadap praktek-praktek perjanjian atau kesepakatan pertukaran yang ada pada masa sebelum Islam, karena adanya ketidakmenentuan dan ketidakjelasan atas barang atau objek akad.
Menurut penelitian Abdullah Alwi Haji Hassan, pertukaran yang termasuk gharar ini, dalam sejarah awal Islam dikenal lebih dari 20 jenis pertukaran/jual-beli. Pertukaran tersebut merupakan pertukaran yang dilarang di dalam Islam. Bentuk pertukaran tersebut
di antaranya adalah bay’ al-mulamasah,65 bay’ al-hashat,66 bay’ al-munabadah,67 bay’
al-muwashafah,68 bay’ muzabanah,69 bay’ al-mukhadarah,70 bay’ al-muhaqalah71, al-haml,72 bay’ al-hayawan bi al-lahm,73 bay’ al-samak fil ma’,74 dharbat al-ghawwais,75 bay’atan fi bay’ah atau safqatan fi safqah, bay’ al-kali bi al-kali, dan seterusnya. Semua contoh-contoh di atas merefleksikan secara jelas adanya elemen ketidakjelasan dan mengandung risiko dari barang yang diperjualbelikan, sehingga menimbulkan akad yang dibuat tersebut batal atau dapat dibatalkan.
64
Wahbah al-Zuaili, op. cit., h.440-441
65 Bai’ al-Mulamasah, yaitu jual-beli yang dilakukan dengan cara menyentuh objek yang diperjualbelikan atau saling menyentuh baju para pihak yang melakukan perjanjian.
66
Bai’ al-Hashat, disebut juga dengan ‘ilqa al-hajr, yaitu jual-beli tanah yang penentuan luasnya ditentukan oleh jatuhnya lemparan batu kecil (hashah) yang dilemparkan. Berarti pula, objek yang diperjual-belikan ditentukan dengan mengenainya batu yang dilemparkan terhadap barang tersebut.
67
Bai’ al-Munabadzah, yaitu jual-beli yang dilakukan dengan cara saling mencela objek akad di antara para pihak yang melakukan transaksi.
68
Bai’ al-Muwashafah, yaitu jual-beli yang tidak dimiliki atau jual-beli yang barangnya tidak ada dan tidak dimiliki. 69
Bai’ al-Muzabanah, yaitu jual-beli buah kurma dengan kurma yang masih ada di pohonnya. 70
Bai’ al-Mukhadharah, yaitu jual-beli kurma yang belum matang, masih ada di pohon, dengan cara ijon. 71
Bai’ al-Muhaqalah, yaitu jual-beli tanaman dengan takaran makanan yang dikenal. 72
Bai’ al-hablul habalah disebut juga dengan bai’ al-nitaj al-nitaj, bai’ al-haml, yaitu jual-beli unta yang masih ada di dalam perut.
73
Jual-beli binatang dilakukan pembayaran dengan daging tanpa diketahui jumlahnya. 74
Jual-beli ikan yang masih ada di kolam 75
Dharbat al-Ghawwas, yaitu jual-beli yang dilakukan dengan cara menyelam. Objek yang diperjualbelikan tidak ditentukan jumlahnya tetapi ditentukan berdasarkan melakukan penyelaman. Barang tersebut dihasilkan atau tidak dihasilkan pembayaran tetap dilakukan dengan transkasi jual-beli.
Semua contoh-contoh di atas merefleksikan secara jelas adanya elemen ketidakjelasan dan mengandung risiko dari barang yang diperjualbelikan, sehingga menimbulkan perjanjian yang dibuat tersebut batal atau dapat dibatalkan.
3. Tadlis (penipuan)
Tadlis merupakan penipuan atas adanya kecacatan dari barang yang diperjualbelikan. Tadlis ini bisa dari penjual atau pembeli. Tadlis dari penjual berupa merahasiakan cacat barang dan mengurangi kuantitas atau kualitas barang tetapi seolah-olah tidak berkurang. Tadlis dari pembeli berupa alat pembayaran yang tidak sah.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. berjalan menuju setumpukan makanan lalu ia memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan tersebut. Tiba-tiba jari baginda terkena sesuatu yang basah. Baginda bertanya: “Apa semuanya ini wahai pemilik makanan? Orang itu menjawab: “Terkena hujan, wahai Rasulullah.” Baginda bersabda: “Mengapa tidak kamu letakkan di atas supaya orang ramai dapat melihatnya. Siapa yang menipu maka dia bukan dari kalanganku (H.R.Muslim).
Dari Abi Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw berjalan menuju kepada seorang penjual makanan. Rasulullah bertanya, bagaimana anda menjualnya, maka ia menceritakannya sambil memasukkan tangannya ke tempat makanan tersebut. Kemudian Rasulullah memasukkan tangannya dan mendapati makanan tersebut basah. Rasulullah saw bersabda, “bukan termasuk umatku, orang yang menipu” (H.R. Abu Daud).
Dalam ekonomi Islam, kondisi ideal dalam pasar yaitu penjual dan pembeli mempunyai informasi yang sama terhadap objek atau barang yang diperjualbelikan, sehingga terjadi kerelaan dari masing-masing pihak (an-taradhin minkum). Pada saat terjadi ketimpangan informasi (assymetric information) terhadap objek yang diperjualbelikan karena ada suatu keadaan salah satu pihak tidak mengetahui informasi
(unknown to one party) maka besar kemungkinan akan terjadi penipuan. Kondisi tersebut dinamakan tadlis, dan karenaya tadlis dilarang.
Bentuk tadlis ini bisa terjadi pada kuantitas dan kualitas barang. Kondisi tadlis pada kuantitas barang misalnya menjual baju bekas sebanyak satu kontainer. Karena jumlahnya banyak dan tidak mungkin untuk menghitung satu persatu, penjual berusaha untuk mengurangi jumlah barang yang dikirim kepada pembeli. Sedangkan Tadlis pada kualitas ialah menyembunyikan cacat atas kualitas barang. Misalnya dalam penjualan mobil bekas.
Bentuk lain dari tadlis dapat juga terjadi pada harga (yang disebut ghabn) dan waktu penyerahan (delivery). Dalam bentuk delivery misalnya seseorang penjahit memperoleh order untuk menyelesaikan baju selama satu minggu, padahal ia tahu bahwa tidak mungkin menyelesaikannya dalam satu minggu tersebut.
4. Ghabn (penipuan pada harga barang)
Al-ghabn menurut bahasa berarti al-khada’ (penipuan). Ghabn adalah membeli sesuatu dengan harga yang lebih tinggi dari harga rata-rata atau dengan harga yang lebih
rendah dari harga rata-rata.76 Para ulama membagi ghabn ini pada dua bagian, yaitu yang
disebut ghabn fahisy dan ghabn shugra. Ghabn fahisy merupakan penipuan yang dilakukan secara keji. Ghabn ini termasuk tadlis dalam harga.
5. Ihtikar
Ihtikar, kata dalam bahasa Arab, yang berarti menahan, menimbun, atau tindakan monopoli. Orangnya disebut muhtakir.
Menurut Istilah hukum Islam, pengertian ihtikar sebagaimana didefiniskan oleh Fathi
ad-Duraini adalah sebagai berikut : 77
“Tindakan menyimpan harta, manfaat atau jasa, dan enggan menjual dan memberikannya kepada orang lain yang mengakibatkan melonjaknya harga pasar secara drastis disebabkan persediaan terbatas atau stock barang hilang sama sekali dari pasar, sementara masyarakat, negara atau pun hewan amat memerlukan produk, manfaat , atau jasa itu”.
76
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa ada seorang laki-laki mengatakan kepada Nabi saw. Bahwa dia telah menipu dalam jual-beli, maka beliau bersabda: apabila kamu menjual, maka katakanlah: tidak ada penipuan.
77
Dasar hukum pengharam ihtikar ini antara lain dari hadis Rasulullah Saw sebagai berikut:
Dari Ma’mar Bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “tidak akan melakukan penimbunan selain orang yang salah” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud).
Umar Bin Khatab berkata, bahwa Nabi SAW bersabda: ”Saudagar itu diberi rizki sedang yang menimbun dilaknat” (HR. Ibn Majah dan Hakim).
Ibn Umar Berkata, Nabi SAW bersabda: “Para pedagang yang menimbun barang makanan selama 40 hari, maka ia terlepas dari (hubungan dengan) Allah, dan Allah pun melepaskan (hubungan dengan)-nya” (HR. Ahmad).
Para penulis muslim telah banyak memberikan penjelasan mengenai ihtikar ini antara lain sebagai berikut:
- Siddiqie dan Mannan, keduanya menyatakan bahwa praktek monopoli cenderung
mengarah kepada kemungkinan dirugikannya sebagian besar masyarakat. 78
- Yusuf Qardhawi dan Taqiyuddin an-Nabhani, mereka berkesimpulan bahwa Islam
mengharamkan kegiatan monopoli tersebut. Menurut Qardhawi, praktek monopoli bersumber dari egoisme dan kekerasan hati terhadap manusia. Pelaku monopoli menambah kekayaannya dengan mempersempit kehidupan orang lain. Qardhawi mengumpamakan, pelaku monopoli bagaikan membangun istana di atas kerangka dan tengkorak manusia, dan membangun kemegahan dengan cara mengisap darah
sesamanya.79 Sedangkan an-Nabhani menjelaskan bahwa monopoli bisa dikatagorikan
dengan perbuatan menimbun (ihtikar). Praktek menimbun ini secara mutlak dilarang dan hukumnya haram. Di samping itu, menurut Nabhani, fakta bahwa penimbun umumnya menguasai pasar, dan bisa memaksakan harga kepada orang lain dengan
78
M.N. Siddiqi, Op. Cit., h. 129; M.A. Mannan, Ibid, h. 291 79
seenaknya, sehingga orang lain terpaksa untuk membelinya dengan harga tinggi, sebab
yang lain tidak mempunyai barang yang dibutuhkan.80
- Wahbah az-Zuhaili dan Sayid Sabiq.81 Mereka semua berpendapat bahwa perbuatan
menimbun termasuk perbuatan yang dilarang dan haram hukumnya.
- Afzalurrahman, menjelaskan bahwa “Islam tidak membolehkan pembentukan atau
penguasaan monopoli bersifat pribadi yang ada kemungkinan merugikan
masyarakat”.82 Dengan berlandaskan kepada Hadis Rasulallah yang diriwayatkan oleh
Ibn Abbas, dimana Rasulallah bersabda : “padang rumput adalah milik Allah dan Rasulnya dan tak seorangpun yang diperbolehkan memilikinya untuk dirinya sendiri”, juga “semua umat Islam bersama-sama memiliki tiga hal yaitu air, rumput dan api”. Berdasarkan hadis tersebut dan perilaku perdagangan (jual beli) yang dilarang oleh
Rasulullah seperti penjualan dengan cara al-hadir libad ( ), dan talqi jalab(
).83 Afzalurrahman menegaskan bahwa “ketidakbolehan individu atau
kelompok tertentu melakukan penguasaan tunggal terhadap apapun yang dianggap bermanfaat bagi masyarakat, karena dapat berbahaya atau merugikan bagi
kemaslahatan umat”.84
Dari beberapa pendapat ulama di atas dapat disimpulkan bahwa ihtikar terjadi apabila adanya pemusatan kekuatan ekonomi oleh seorang atau sekelompok orang tertentu, terutama dalam produksi dan distribusi barang. Pemusatan kekuatan ekonomi tersebut terjadi, bukan saja karena adanya praktik penahanan komoditi oleh pelaku ekonomi tersebut, tetapi juga blokade dan diskriminasi ekonomi sehingga menyulitkan pihak-pihak lain untuk mendapatkan akses terhadap komoditi tersebut, yang mengakibatkan adanya kenaikan harga yang tidak wajar dibanding dalam keadaan normal.
Dengan demikian syarat ihtikar ini terjadi yaitu apabila produsen atau penjual mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara mengurangi supply baik dengan cara menimbun stock atau mengenakan entry barrier, lalu menjual dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga sebelum munculnya kelangkaan, dan mengambil keuntungan yang lebih tinggi dari kondisi tersebut.
80
Taqyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternaitf Perspektif Islam (terjemahan dari an-Nidham al-
Iqtishadi fi al-Islam), ( Surabaya : Risalah Gusti, 1999), h. 212.
81
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqhul Islamiyyah wa adillatuh, (Damaskus : Dar al-Fikr, 1989), Jilid III, h. 583-588; Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), Jilid III, h. 162-163.
82
Afzalurrahman, Doktrin Ekoomi Islam, (Yogyakarta : Dana Bhakti Wakaf, 1995), Jilid II, h. 83 83
Ba’i al-Hadir libad, adalah praktek makelar yang eksploitatif. Sedangkan Ba’i Talqi Jalab transaki yang dijalankan dengan melakukan disinformisi harga pasar sehingga menimbulkan adanya pihak yang dirugikan. Lihat, Ibid, h. 75 84
6. Al-Maysir
Kata maisir dalam bahasa Arab secara harfiah berarti memperoleh sesuatu dengan sangat mudah tanpa kerja keras atau mendapat keuntungan tanpa kerja. Maisir ini sering diterjemahkan juga dengan arti berjudi. Istilah lain yang digunakan dalam Al-Quran adalah
kata azlam, yang berarti praktik perjudian.85
Kata maisir dan azlam terdapat dalam Al-Quran surat Baqarah/2: 219, dan al-Maidah/5: 90. Arti ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan maisir (judi). Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. QS.Al-Baqarah/2: 219)
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah (azlam), adalah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah/5 : 90).
Ayat di atas secara tegas menunjukkan keharaman judi. Selain itu, perbuatan maisir dan azlam adalah rijs yaitu busuk, kotor, dan termasuk perbuatan setan, yang berdampak negatif pada kehidupan manusia.
85
Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
Judi pada umumnya (maisir) dan penjualan undian khususnya (azlam) serta segala bentuk taruhan, undian atau lotere yang berdasarkan pada bentuk-bentuk perjudian adalah haram di dalam Islam. Rasululullah melarang segala bentuk kegiatan usaha yang mendatangkan uang yang diperoleh dari untung-untungan, spekulasi, ramalan atau terkaan dan bukan diperoleh dari hasil kerja.
Dengan demikian, maysir adalah suatu permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak yang lain akibat permainan tersebut. Setiap permainan atau pertandingan (game of change, game of skill, atau natural events) harus menghindari zero sum game, yakni kondisi yang menempatkan salah satu atau beberapa pemain harus menanggung beban pemain yang lain. Karena apabila permainan tersebut mengandung zero sum game dapat dipastikan masuk kategori maisir.
7. Risywah (suap)
Yang dimaksud dengan risywah adalah suap. Suap yaitu memberikan sesuatu kepada orang lain untuk memberikan pelayanan dan bantuan ekstra yang seharusnya menjadi tugas, tanggungjawab dan kewajiban pemberi pelayanan tersebut. Suap ini biasanya ditentukan sebelum pelayanan atau bantuan diberikan. Dengan adanya suap ini, penerima suap sangat mempengaruhi dan menentukan seluruh pelaksanaan pelayanan, bantuan, dan transaksi selanjutnya. Bahkan dalam kasus suap, yang berinisiatif secara halus, samar-samar atau terang-terangan, adalah pihak yang mendapat suap itu. Yaitu pihak pemberi jasa. Maka dalam kasus tersebut suap menjadi alat untuk intimidasi.
Dasar hukum dari perbuatan risywah ini antara lain hadis Rasulullah Saw sebagai berikut:
“Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap ” (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Umar).
Sedangkan mengenai pemberiah atau hadiah, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, bisa dikategorikan ke dalam perbuatan riba (min abwab al-riba) apabila hadiah tersebut dimaksudkan sebagai suap kepada penguasa (sulthan) atau mempengaruhi objektifitas pihak lain dalam menjalankan kewajibannya, sedangkan
apabila hadiah itu benar-benar atas dasar kebaikan seseorang atau ucapan terima kasih
(mukafaah ‘alal ihsan) maka hal itu tidak dilarang.86
Di antara hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah sebagai berikut:
“Dari Umamah, Nabi Saw bersabda: ”Barang siapa memberi pertolongan kepada seseorang, lalu ia diberi hadiah (atas pertolongan itu), kemudian ia (mau) menerimanya, sungguh ia telah mendatangi pintu yang besar di antara pintu-pintu riba” (H.R. Abu Daud).
Perbuatan suap ini dilarang karena dengan adanya praktek suap ini ada pihak-pihak lain yang tesingkir dengan cara tidak fair, dalam situasi tertentu penyuap sesukanya menentukan harga, mendikte dan merugikan konsumen. Dalam beberapa hal, praktik suap menimbulkan adanya praktek yang tidak fair, tidak adil,menimbulkan biaya tinggi, dan dalam tingkat tertentu menimbulkan ketidakadilan distributif.
Perbuatan suap berbeda dengan tips atau pemberian hadiah. Tips adalah hadiah atau pemberiaan cuma-cuma yang diberikan kepada seseorang atau pihak tertentu sebagai tanda terima kasih atas bantuan atau pelayanan yang telah diberikannya, kendati bantuan dan pelayanan itu merupakan tugas dan tanggungjawabnya. Intinya adalah bahwa pemberian sebagai tips selalu diberikan setelah pelayanan atau bantuan diberikan dan karena itu tidak menjadi syarat bagi pelaksanaan pelayanan atau bantuan tersebut. Demikian pula dalam praktek tips, yang berinisiatip memberi adalah pihak yang mendapat pelayanan atau bantuan tersebut. Maka tips adalah bentuk perilaku etis sebagai ungkapan penghargaan
yang tulus atas jasa orang lain.87 Namun demikian, tips tidak boleh menjadi alat intimidasi
baik secara halus atau samar-samar. Maka kalaupun tips tidak diberikan, pelayanan berjalan seperti biasa, termasuk pelayan-pelayan lain di kemudian hari. Pelayanan dan bantuan tidak mengalami perubahan ada atau tidak ada tip. Pihak yang memberi bantuan dan pelayanan pun tidak menggantungkan pelayanan dan bantuannya itu pada tip.
Sedangkan suap diberikan sebelum pelayanan atau bantuan diberikan dan merupakan sudah menjadi tugas, tanggungjawab dan kewajiban pihak pelaksanan itu. Dengan demikian suap sangat mempengaruhi dan menentukan seluruh pelaksanaan pelayanan,
86
Lihat, Ash-shan’ani, Subulussalam, jilid III, h. 42-43. Teks hadisnya “ Man syafa’a liakhihi syafa’atan fauhdiya lahu
bantuan, dan transaksi selanjutnya. Bahkan dalam kasus suap, yang berinisiatif secara halus, samar-samar atau terang-terangan, adalah pihak yang mendapat suap itu. Yaitu pihak pemberi jasa. Maka dalam kasus tersebut suap menjadi alat untuk intimidasi. Atas dasar tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa tip tidak menimbulkan persoalan etis, sedangkan suap justru menimbulkan berbagai macam persoalan etis.