TRANSAKSI-TRANSAKSI YANG DILARANG DALAM MU’AMALAH
2. Macam-Macam Riba
Rasulullah saw melaknat para pemakan riba, yang memberi makan dengan cara riba, para saksi dalam masalah riba, dan para penulisnya. (HR. Abu Daud).
Rasulullah saw melaknat para pemakan riba, yang memberi makan dengan cara riba, para saksi dalam masalah riba, dan para penulisny (H.R. Muslim).
Demikian secara jelas Allah telah memberikan penjelasan dalam Al-Quran maupun sunnah tentang pelarangan riba pada segala bentuk transaksi bisnis. Selain adanya unsur penambahan riba juga menimbulkan adanya kezaliman pada salah satu pihak.
2. Macam-Macam Riba
Para ulama fikih membagai riba kepada tiga macam, yaitu riba al-fadhl, riba an-nasia’ah, dan riba jahiliyah.
1) Riba al-fadhl adalah riba yang berlaku dalam jual beli, yang didefinisikan oleh ulama fikih dengan:
Tambahan/kelebihan atas harta dalam akad pertukaran (jual beli) dengan ukuran syara’.
Yang dimaksud dengan ukuran syara’ disini adalah timbangan atau takaran tertentu. Dengan demikian, riba fadhl merupakan pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi. Dapat juga diartikan bahwa riba fadhl adalah pertukaran barang sejenis dengan adanya tambahan pada salah satu barang yang dipertukarkan. Misal, menjual satu kilogram kentang dengan satu setengah kilogram kentang. Barangnya sama berupa kentang, namun dipertukarkan dengan timbangan yang berbeda.
Menurut Imam Ahmad Ibn Hambal, riba al-fadhl ini hanya berlaku dalam timbangan atau takaran harta yang sejenis. Bukan terhadap nilai harta. Apabila yang dijadikan
adalah ukuran nilai harta, maka kelebihan yang terjadi tidak termasuk riba fadhl. Misalnya, seekor sapi yang berumur tiga tahun di jual dengan sapi yang berumur empat tahun. Kelebihan pada jual sapi seperti ini tidak termasuk riba fadhl dan tidak
diharamkan.59 Alasannya, sekalipun obyek yang dipertukarakan/diperjualbelikan adalah
sama, tetapi nilainya sudah berbeda dan diperjualbelikan bukan dengan timbangan atau takaran. Dasarnya adalah hadis Rasulullah SAW sebagai berikut:
Artinya:
Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah SAW bersabda: (memperjualbelikan) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, anggur dengan anggur, kurma dengan kurma, garam dengan garam (haruslah) sama, seimbang, dan tunai. Apabila jenis yang diperjualbelikan berbeda, maka juallah sesuai dengan kehendakmu (boleh berlebih) asal dengan tunai( H.R. Muslim).
Selanjutnya dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:
Janganlah kamu memperjualbelikan emas dengan emas, kecuali jika seimbang (sama beratnya) dan janganlah kamu melebihkan yang satu dari yang lainnya dan jangan pula kamu jual sesuatu yang ada dengan yang belum ada (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id Al-Khudri).
Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, yang menjadi ’illat keharaman riba al-fadhl itu adalah kelebihan barang atau harga dari benda sejenis yang diperjualbelikan melalui alat tukar al-wazn dan al-kail. Mereka tidak mengharamkan kelebihan pada jual beli yang bukan berdasarkan al-wazn atau alkail, seperti jual beli rumah, tanah, hewan, dan benda lain yang di jual dengan satuan.
Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, dasar keharaman riba fadhl ini dititikberatkan kepada sadd al-zari’ah yaitu menutup segala kemungkinan yang membawa kepada kemudharatan bagi umat manusia, yaitu agar tidak terjadi penipuan.
59
2) Riba An-Nasi’ah, arti dari nasi’ah adalah menangguhkan. Yang dimaksud dengan menangguhkan disini adalah apabila terjadi jual beli pada barang ribawi dengan barang ribawi yang sama atau berlainan dan masa pembayarannya ditangguhkan. Pengertian menurut ulama fikih antara lain adalah sebagai berikut:
”memberikan kelebihan terhadap pembayaran dari yang ditangguhkan, memberikan kelebihan pada benda dibanding utang pada benda yang ditakar atau ditimbang yang berbeda jenis atau selain dengan yang ditakar dan ditimbang yang sama jenisnya.
Maksudnya, menjual barang dengan sejenisnya, tetapi yang satu lebih banyak, dengan pembayaran diakhirkan, seperti menjual satu kilogram gandum dengan satu setengah kilogram, yang dibayarkan setelah dua bulan. Contoh jual beli yang tidak ditimbang, seperti membeli satu buah semangka dengan dua buah semangka yang akan dibayar setelah sebulan.
Dalam jual beli barter, sejenis maupun tidak sejenis, riba an-nasiah pun dapat terjadi, yaitu dengan cara membeli barang sejenis dengan kelebihan salah satunya, yang pembayarannya dilakukan secara tempo waktu/tunda. Kelebihan salah satu barang, sejenis atau tidak sejenis, yang diiringi dengan penundaan pembayaran pada waktu
tertentu, termasuk riba an-nasi’ah.60 Pada riba jenis ini penundaan waktu pembayaran
berimplikasi pada keuntungan yang dapat dipastikan atau biasa disebut jenis akadnya adalah natural certainty contract.
Pendapat ulama tentang keharaman riba jenis ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw yang yang cukup populer dikenal dengan “hadis tentang enam komoditi”. Hadis ini menunjukkan tentang kebolehan melakukan transaksi terhadap komoditi tersebut, dengan syarat mitslan bi mitslin (serupa), sawaan bisawain (sama), aynan bi aynin (langsung), yang semuanya dapat dipahami dengan makna sama dalam kualitas, kuantitas, ukuran, maupun dalam semua aspeknya. Istilah lain yang digunakan adalah waznan bi waznin (sama dalam beratnya) dan kaylan bi kaylin (sama dalam ukurannya). Bunyi hadis tersebut adalah sebagai berikut:
60
Artinya:
(Jual beli ) emas dengan emas, keduanya sama, tumpang terima, (apabila ada) tambahan adalah riba, jual beli perak dengan perak, keduanya sama, tumpang terima, (apabila ada) tambahan adalah riba, (jual beli) gandum dengan gandum, keduanya sama, tumpang terima, (apabila ada) tamabahan adalah riba, (jual beli) syair dengan syair, keduanya sama, tumpang terima, (apabila ada) tambahan adalah riba, (jual beli) kurma dengan kurma, keduanya sama, tumpang terima, (apabila ada) tambahan adalah riba, (jual beli) garam dengan garam, keduanya sama, tumpang terima, (apabila ada) tambahan adalah riba.
Dua jenis pertama (emas dan perak) diperjualbelikan dengan cara timbangan khusus waznu) dan empat jenis buah-buahan diperjualbelikan dengan cara per-kilogram (al-kail). Selanjutnya dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:
Janganlah kamu memperjualbelikan emas dengan emas, kecuali jika seimbang (sama beratnya) dan janganlah kamu melebihkan yang satu dari yang lainnya dan jangan pula kamu jual sesuatu yang ada dengan yang belum ada (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id Al-Khudri).
Riba nasiah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. Adapun yang dimaksud dengan barang ribawi perlu dijelaskan ’illat atau sebab pelarangannya. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa barang ribawi berupa emas dan perak karena keduanya merupakan alat tukar (uang), sedangkan barang seperti beras, gandum, dan jagung dan
lain-lain adalah merupakan bahan makanan pokok.61
Berdasarkan hadis tersebut, prinsip keadilan dan keseimbangan dalam hal jual beli harus ada. Kalau tidak adil dan tidak seimbang, maka akan muncul kezaliman. Oleh sebab itu, kelebihan salah satu barang dalam jual beli barang sejenis merupakan kelebihan tanpa imbalan yang sangat merugikan pihak lain.
Dengan demikian, riba nasiah itu terjadi apabila pertukaran yang dilakukan - baik terhadap barang sejenis maupun tidak sejenis – mengakibatkan adanya kelebihan dari
61
salah satu barang yang dipertukarkan yang dibarengi dengan penundaan pembayaran pada waktu tertentu.
3) Riba Jahiliyah, adalah utang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan. Riba ini dilarang berdasarkan Al-Quran surat Ali-Imran ayat 130 dan juga al-Baqarah 278 di atas yang keras menetang praktik riba Jahiliah ini. Memberi pinjaman adalah transaksisi kebaikan (tabarru’) sedangkan meminta kelebihan pada pinjaman atau kompensasi adalah transaksi bisnis, dan uang itu sendiri adalah media penukaran (medium of exchange) bukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Dari segi penundaan waktu penyerahannya, riba jahiliyah tergolong Riba nasi’ah, dari segi kesamaan objek yang dipertukarkan tergolong Riba Fadhl.
Dalam perbankn konvensioanl, riba jahiliyah dapat ditemuai dalam pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit, pembiayaan atau pinjaman dan lain-lain. Dari definisi riba, sebab (illat) dan tujuan pelarangannya dalam praktik perbankan konvensional karena tergolong riba. Riba fadhl dapat ditemui dalam transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilaksanakan secara tunai (spot). Riba nasiah dapat ditemui dalam transaksi pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga tabungan/deposito/giro. Riba jahiliyah
dapat ditemui dalam transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya.62
Selain mengandung unsur kezaliman dan eksploitasi pada salah satau pihak, aktivitas riba juga akan membuat orang hidup malas dengan asumsi tanpa bekerja keras seseorang akan memperoleh rate of interest yang bersift certainty. Hal-hal lain yang berkaitan dengan risiko dinafikan hingga pada saatnya terjadi dan tidak dapat dielakkan dan diderita kerugian besar. Kebiasaan melakukan riba juga akan menghambat tumbuhnya sektor riil yang dalam kerangka makro berimplikasi pada menurunnya partisipasi kerja dan daya beli masyarakat akibat menurunnya pendapatan.