• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Dampak La Nina pada Padi Gogo

Dalam dokumen prosiding jilid1 bkl2016 (Halaman 96-100)

67 Serangan Organisme Pengganggu Tanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN Dampak La Nina pada Padi Gogo

Fenomena La Nina merupakan fenomena alam dimana ada anomali suhu di samudra pasific (Copotondi, 2015). Fenomena ini diduga terjadi pada tahun 2016. Kondisi dimana hujan masih berlangsung pada kondisi musim kemarau bulan April merupakan salah satu gejala adanya La Nina ini. Kondisi La Nina di bidang pertanian memiliki beberapa dampak diantaranya meningkatnya curah hujan sehingga dapat merangsang pertumbuhan produksi tanaman pangan, meningkatkan kadar air pada hasil panen, resiko kebanjiran, dan peningkatan serangan OPT (Wahyoo dan Subamar, 2012; Irawan, 2006; Tim Sintesis Kebijakan, 2008) .

80

Gambar 1. Kejadian curah hujan (mm) pada bulan Maret-Juli 2016 di Kabupaten Sumenep. Sumber: Bandara Udara Kalianget Kabupaten Sumenep

Gambar 1 memperlihatkan intensitas curah hujan pada bulan April meningkat dibandingkan dengan bulan Maret. Hal ini menjadikan petani mulai mencoba untuk melakukan budidaya tanaman padi. Ketersediaan air yang dirasa cukup oleh petani Sumenep menjadikan petani mencoba tanaman padi gogo sehingga dapat melakukan produksi padi dengan asumsi dapat tahan meskipun curah hujan akan menurn pada bulan-bulan berikutnya. Asumsi petani ini tidak seluruhnya benar curah hujan dan intensitas matahari pada suatu tempat sangat mempengaruhi hasil pada padi gogo. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum padi gogo menginginkan curah hujan tinggi dengan intensitas cahaya yang relatif tidak sebesar padi sawah. Ideotipe padi gogo menjadi kunci besarnya pengaruh perubahan cuaca pada hasil tanaman (Gupta and O’Toole, 1986). Wilayah Asia Selatan dan Asia tenggara curah hujan sangat berpengaruh besar. Hal tersebut dikarenakan wilayah ini mengikuti iklim muson. Padi non irigasi seperti padi gogo mengikuti kapan mulai terjadinya turun hujan di wilayah tersebut (Vergara, 1976). Hal ini menjadikan pertanaman padi gogo di luar musim hujan akan memiliki dampak terhadap hasil yang diperoleh.

Pertumbuhan dan Hasil 4 Varietas Padi Gogo yang di Tanam pada Kondisi La Nina

Pertumbuhan tanaman padi gogo yang di tanam pada kondisi El Nina nampak jelas pada umur 74 hari. Umur tanaman di usia ini sudah mencapai umur vegetatif maksimal dimana tidak akan melakukan pertumbuhan yang signifikan dalam waktu kedepan. Berdasarkan uji lanjut BNT yang dilakukan terlihat bahwa Inpago-5, Inpago-9, dan Inpari-4 memiliki tinggi yang sama namun Inpago 4 memiliki jumlah anakan total yang lebih rendah. Situ petenggang memiliki tinggi tanaman dan jumlah anakan total yang lebih tinggi dibandingkan ketiga varietas tersebut.

Gambar 2. Pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah anakan total umur 74 hari Keterangan: grafik yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5% Purwoko (2010) menyatakan tinggi tanaman memiliki korelasi dengan panjang malai dan jumlah anakan total berkorelasi dengan jumlah anakan produktif. Hal ini belum bisa berlaku pada

Cu rah H u jan ( m m ) M aret Ju li Ti n g g i Tan am an (c m ) Ju m lah An akan To tal

Tinggi Tanaman Anakan Total

a a b b b b b c

81

pertumbuhan vegatatif yang ada pada empat varietas diatas. Hal ini karena jumlah anakan produktif dan panjang malai di empat varietas yang diuji memiliki rerata yang sama (Tabel 1). Hal ini dapat dikarenakan kondisi lingkungan yang berbeda dengan penelitian sebelumnya sehingga meskipun ada perbedaan pada tinggi tanaman dan anakan total namun komponen hasil jumlah anakan produktif dan panjang malai memiliki rerata yang sama.

Tabel 1. Rerata dan CV Jumlah Anakan Produktif dan Panjang Malai

Jumlah anakan produktif Panjang Malai

Rerata 8,08 21,55

CV (%) 19,35 8,39

Kondisi iklim dengan suhu yang tinggi (Gambar 3) berkisar 28oC dan kelembaban diatas 70% selama pertumbuhan menjadikan perkembangan OPT meningkat terutama walang sangit. Serangan walangsangit tertinggi terdapat pada varietas Inpago-5 sehingga varietas ini tidak dapat dikaji lebih lanjut karena seluruh tanaman rusak terkena walang sangit. Kesimpulan sementara dari fenomena ini adalah Inpago-5 memiliki kerentanan terhadap walang sangit dibanding dengan Inpago 9, Inpari-4 dan Situ Patenggang.

Gambar 3. Kondisi suhu dan kelembaban selama Bulan Maret sampai dengan Juli 2016 di wilayah Kabupaten Sumenep

Sumber: Bandara Udara Kalianget Kabupaten Sumenep

Tabel 2.Keragaan Komponen Hasil dan Hasil pada Tiga Kultivar Varietas Padi di Sumenep

Varietas Gabah Isi Per Malai

Gabah Hampa

Per Malai Bobot 1.000 Biji (g) Hasil (t/ha)

Uji F tn * * *

INPAGO-9 11,6 B 29,31 b 1,96 ab

INPARI-4 11,1 B 29,21 b 1,37 b

SITU PATENGGANG 25,5 A 30,02 a 2,48 a

Rerata 82,57

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%

Komponen hasil yang berbeda dari varietas yang ditanam ada pada jumlah gabah hampa per malai dan bobot 1.000 biji. Gabah isi per malai keempat varietas memiliki jumlah yang sama yaitu 82,57. Situ patenggang memiliki jumlah gabah hampa paling tinggi namun dari bobot 1.000 biji varietas situ patenggang memiliki bobot terberat yaitu 30,02 g. Hal ini yang dapat menjadikan hasil situ patenggang paling tinggi (2,48 t/ha). Inpago-9 memiliki bobot 1.000 biji dan jumlah gabah per malai lebih rendah dibanding situ patenggang namun varietas ini masih memiliki hasil yang sama (1,96 t/ha) dengan situ patenggang.

K e le m b ab an ( % ) S u h u C) Suhu(°C) Kelembaban (%)

82

KESIMPULAN

Varietas Situ Patenggang dan Inpago 9 merupakan varietas yang cocok ditanam pada lahan kering saat terjadinya La-Nina tahun 2016 ini karena memiliki hasil yang tinggi dan lebih tahan terhadap OPT walang sangit dibandingkan dengan Inpago 5 dan Inpari 4. Hasil panen varietas Situ Patenggang (2,48 t/ha) dan Inpago 9 (1,37 t/ha) memiliki hasil yang sama dan lebih tinggi dibandingkan dengan Inpari 4. Gabah hampa varietas Situ Patenggang (25,5 gabah hampa per malai) lebih tinggi dibanding dengan Inpago 9 (11,6 gabah hampa per malai) dengan bobot 1.000 biji varietas Situ Patenggang (30,2 g) lebih tinggi dibandingkan varietas Inpago 9 (29,31 g).

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih kepada Tim UPSUS Padi Jagung Kedelai BPTP Jawa Timur, TNI-AD, penyuluh dan Dinas Kabupaten Sumenep yang telah membantu berjalannya pengkajian padi gogo di sumenep di luar musim tanam padi gogo.

DAFTAR PUSTAKA

Bernier, J., G. N. Atlin, R. Serraj, A. Kumar, and D. Spaner. 2007. Review :Breeding Upland Rice for

Drought Ressistance (Online).

http://cropwiki.irri.org/gcp/images/f/f6/Review_Breeding_upland_rice_for_drought_resis tance.pdf Diakses 12 Oktober 2014.

Capotondi, A. 2015. Atmospheric science: Extreme La Nina events to increase. Nature Climate Change, 5(2), 100-101.

Gupta, P.C. and J.C. O’Toole. 1986. Upland Rice A Global Perspective. International Rice Research Institute. Philippines. 360 pp.

Irawan, B. 2006. Fenomena anomali iklim El Nino dan La Nina: kecenderungan jangka panjang dan pengaruhnya terhadap produksi pangan. In Forum Penelitian Agro Ekonomi (Vol. 24, No. 1, pp. 28-45).

Purwoko, B. B. S. 2010. Analisis korelasi dan koefisien lintas antar beberapa sifat padi gogo pada media tanah masam. Jurnal Floratek, 5(2), 86-93.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2007. Data Penting Padi Dunia dan Beberapa

Negara Asia. 95 Hal (Online)

http://www.pustaka-deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp07001.pdf . Diakses 1 Januari 2014.

Swastika, K. S. Dewa, J. Wargiono, Soejitno, dan A. Hasanuddin. 2007. Analisis Kebijakan Peningkatan Produksi Padi Melalui Efisiensi Pemanfaatan Lahan Sawah di Indonesia. Analisis Kebijakan Pertanian. 5:36-52.

Tim Sintesis Kebijakan. 2008. Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian, serta strategi antisipasi dan teknologi adaptasi. Pengembangan Inovasi Pertanian, 1(2), 138-140. Vergara, B. S. 1976. Physiological and Morphological Adaptability of Rice Varieties to Climate.

Dalam: Climate and Rice. International Rice Research Institute. Los Baños. 67-86pp. Wahyono, T., & Subanar, S. 2012. Rancang Bangun Sistem “Permadi”: Peringatan Dini Serangan

Hama Tanaman Padi Berbasis Data Historis Klimatologi. Jurnal Sistem Komputer, 2(1), 9-16.

Sumaryanto, Sumaryanto, Wahida Maghraby, and Masdjidin Siregar. 2016. "Determinan efisiensi teknis usahatani padi di lahan sawah irigasi."Jurnal Agro Ekonomi21, no. 1 (2016). Panuju, D. R., Mizuno, K., & Trisasongko, B. H. 2013. The dynamics of rice production in Indonesia

83

UJI BEBERAPA DOSIS PUPUK MAJEMUK (NPK)

Dalam dokumen prosiding jilid1 bkl2016 (Halaman 96-100)