• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi tanaman, jumlah anakan total dan jumlah anakan produktif

Dalam dokumen prosiding jilid1 bkl2016 (Halaman 172-176)

155 E2 : Pemberian EM-4 satu kali (1 hst )

HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi tanaman, jumlah anakan total dan jumlah anakan produktif

Tinggi tanaman, jumlah anakan total dan jumlah anakan produktif padi gogo hanya dipengaruhi oleh sistem pengolahan tanah, sedangkan frekuensi pemberian EM-4 dan interaksi keduanya tidak berpengaruh pada ketiga parameter tersebut. Data lengkap tinggi tanaman, disajikan pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1.Tinggitanaman,jumlah anakan total dan jumlah anakan produktif padi gogo dengan sistem pengolahan tanah.

Sistem Pengolahan Tanah

(Petak Utama)

Parameter yang diamati

Tinggi tanaman (cm)

Jumlah anakan total (batang)

Jumlah anakan produktif (batang)

P1 (TOT, gulma dibakar) 68,35 ab 5,22 b 4,96 bc P2 (TOT, gulma direbahkan) 65,72 b 4,97 b 4,49 c P3 (Pengolahan tanah satu kali) 72,94 ab 5,60 b 5,44 ab P4(Pengolahan tanah dua kali) 75,31 a 6,34 a 6,12 a Sumber: Data primer (2015)

Pada Tabel 1 diatas terlihat bahwa tinggi tanaman pada perlakuan P4 (pengolahan tanah dua kali) yaitu 75,31 cm menunjukkan tinggi tanaman yang tertinggi jika dibandingkan dengan perlakuan P2 (tanpa olah tanah, gulma tidak dibakar) yang hanya 65,72 cm. Perlakuan P4 tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 (tanpa pengolahan tanah, gulma dibakar) dan perlakuan P3 (pengolahan tanah satu kali). Tinggi tanaman terbaik pada perlakuan P4 dibandingkan dengan perlakuan P3, P2 dan P1 disebabkan pada lahan dengan pengolahan tanah maksimum, pertumbuhan dan perkembangan perakaran jauh lebih baik disamping juga didukung oleh kemampuan partikel tanah yang juga lebih baik dalam menyerap dan menyimpan air dalam jangka waktu yang lama. Pada kondisi lahan yang diolah maksimum (dua kali), kemampuan perakaran lebih baik dalam menembus partikel tanah akan lebih leluasa dalam menyerap air dan unsur hara dibandingkan dengan tanah yang tidak diolah. Akibat pengolahan secara tidak langsung unsur hara dan air jadi tersedia yang menyebabkan pertumbuhan tinggi tanaman menjadi lebih baik. Menurut pendapat Forest dan Kalms dalam Nasution F.H. (2013) menyatakan bahwa kedalaman akar pada lapisan tanah juga mempengaruhi ketersediaan air bagi tanaman. Hal ini dikarenakan air meningkat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Menurut pendapat Widodo (2004) menyatakan bahwa pengolahan tanah pada tanaman padi gogo bertujuan untuk memperbaiki aerasi atau tata udara tanah, menghilangkan gas-gas atau senyawa dalam tanah, memperluas permukaan tanah yang terjangkau oleh akar dan sekaligus memberantas gulma yang

156

masih hidup atau yang masih dalam bentuk biji yang terdapat dipermukaan maupun yang berada di dalam tanah.

Perlakuan sistem pengolahan tanah berpengaruh terhadap jumlah anakan total. Namun pada perlakuan frekuensi pemberian EM-4 dan interaksi kedua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap jumlah anakan total padi gogo. Dari hasil Uji Lanjut BNJ 5%, terlihat bahwa perlakuan P4 (pengolahan tanah dua kali) berbeda nyata dengan perlakuan P1, P2 dan P3. Perlakuan P4 (pengolahan tanah dua kali) merupakan perlakuan yang terbaik terhadap jumlah anakan total yaitu mencapai 6,34 batang dibandingkan dengan P1(5,22), P2 (4,97) dan P3 (5,97).Hal ini disebabkan karena dengan pengolahan tanah dua kali akan menjadikan kondisi tanah menjadi lebih baik, lebih gembur, agregat tanah menjadi lebih halus, sistem aerasi dan drainase menjadi lebih baik, akar berkembang dengan baik sehingga memudahkan akar dalam memperluas bidang serapan unsur hara dan air. Apabila tanah gembur dan air tersedia dengan baik, maka akan banyak pula jumlah anakan padi yang terbentuk.

Rendahnya anakan pada perlakuan P1, P2 dan P3 disebabkan karena tanah yang tidak diolah dan yang hanya diolah satu kali masih memiliki partikel-partikel padat, sehingga daya ikat tanah dalam menyerap dan menyimpan air menjadi kurang baik. Menurut pendapat Yoshida dalam Ritonga (2015) menyatakan bahwa tanaman yang hidup pada daerah kekeringan akan berusaha untuk mengefisienkan penggunaan air yaitu salah satunya dengan penurunan jumlah anakan sehingga akan mengurangi transpirasi dan mengoptimalkan distribusi asimilat kedalam jumlah anakan yang terbatas. Perlakuan sistem pengolahan tanah mempengaruhi jumlah anakan produktif padi gogo. Pengolahan tanah dua kali merupakan perlakuan yang terbaik dengan menghasilkan jumlah anakan produktif yang terbanyak (6,12 batang) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Jumlah anakan produktif yang terbanyak pada perlakuan pengolahan tanah dua kali disebabkan karena pengolahan sebanyak dua kali bisa membentuk perkembangan perakaran yang lebih luas dan dalam sehingga pada kondisi kekeringanpun tanaman masih mampu menyerap air secara optimal untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anakan. Seperti juga yang diungkapkan oleh Yoshida, Fores dan Kalms dalam Nasution at al.,(2013) menyatakan bahwa kedalaman akar pada lapisan tanah juga mempengaruhi ketersediaan air bagi tanaman. Selanjutnya Rachman at al.,(2006) juga menyatakan bahwa pada tanah yang diolah akan tercipta kondisi optimal bagi pertumbuhan tanaman dengan menciptakan keseimbangan antara padatan, aerasi dan kelembaban tanah.

Perlakuan sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4 serta interaksi kedua perlakuan tidak mempengaruhi umur panen tanaman padi gogo. Umur berbunga tanaman padi gogo tidak selalu sejalan dengan umur panen karena umur panen selain ditentukan oleh genetik juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Prasetyo (2003) menyatakan bahwa pemasakan yang dimulai pada saat pembungaan sampai 30 hari kemudian. Tahap ini dapat bertambah lama dengan adanya hujan atau temperatur rendah. Cahaya matahari dan suhu yang relatif tinggi dapat memperpendek tahap ini. Kondisi curah hujan pada awal hingga pertengahan April 2015 atau dua minggu menjelang panen curah hujan berada di bawah normal untuk kebutuhan padi gogo, sehingga tanaman di lapangan mengalami kekeringan. Dari data umur panen padi gogo yang diperoleh berkisar antara 109 -111 hari adalah termasuk umur panen yang tercepat kalau dibandingkan dengan data umur panen pada deskripsi tanaman padi gogo varietas Situ Patenggang bisa mencapai 120 hari (Suprihatno at al., 2012).

Panjang malai tidak dipengaruhi oleh perlakuan sistem pengolahan tanah maupun oleh frekuensi pemberian EM-4, diduga karena pengaruh faktor genetis dari tanaman tersebut lebih besar daripada pengaruh interaksi dari kedua perlakuan karena panjang malai sangat dipengaruhi oleh asupan unsur hara dan kecukupan air selama masa pertumbuhan. Menurut Yoseftabar (2013) bahwa panjang malai dan jumlah gabah isi permalai sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nitrogen selama masa pertumbuhan tanaman padi. Dalam penelitian ini nitrogen (Urea) diberikan sama untuk semua perlakuan sehingga parameter panjang malai tidak berpengaruh dengan beberapa perlakuan yang diberikan.

157

Umur panen, panjang malai, jumlah gabah total, jumlah gabah bernas, dan persentase gabah bernas.

Perlakuan sistem pengolahan tanah, frekuensi pemberian EM-4 dan interaksi keduanya tidak berbeda nyata terhadap variabel jumlah gabah total, jumlah gabah bernas dan persentase gabah bernas. Data umur panen, panjang malai, jumlah gabah total, jumlah gabah bernas dan persentase gabah bernas disajikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Umur panen, panjang malai, jumlah gabah total, jumlah gabah bernas dan persentase gabah bernas padi gogo dengan sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4.

Perlakuan Umur panen (hari) Panjang malai (cm) Gabah total permalai (butir) Gabah bernas permalai (butir) Persentase gabah bernas permalai (%) P1E1 111,0 28,3 145,5 64,7 44,8 P1E2 111,7 23,6 156,5 65,7 42,2 P1E3 110,0 23,5 151,1 67,6 45,2 P1E4 109,7 23,2 148,0 64,8 43,8 P2E1 109,7 24,0 145,6 67,7 43,1 P2E2 110,0 23,6 144,1 64,7 44,9 P2E3 111,7 24,0 165,3 63,0 38,4 P2E4 109,7 24,2 145,1 68,2 47,1 P3E1 110,7 24,0 149,3 66,7 45,0 P3E2 110,3 24,5 166,1 74,2 45,0 P3E3 110,3 24,2 157,9 69,4 44,0 P3E4 110,0 23,8 165,0 67,3 40,9 P4E1 111,0 24,4 158,0 69,0 47,5 P4E2 107,3 24,6 160,0 72,7 46,0 P4E3 109,7 24,4 156,7 70,5 45,0 P4E4 109,7 24,0 160,6 71,1 44,3

Peranan faktor iklim dan cuaca lebih cenderung yang mempengaruhi variabel jumlah gabah total, jumlah gabah bernas dan persentase gabah bernas daripada pengaruh faktor perlakuan. Intensitas matahari sangat diperlukan tanaman pada fase pematangan, hal ini terkait dengan aktivitas fotosintesis. Intensitas sinar matahari yang diterima tanaman rendah akan menurunkan asimilat yang terbentuk, akibatnya pembentukan biji terhambat. Seperti yang dikemukakan oleh Yosida dalam Usman (2015) bahwa intensitas cahaya matahari yang sangat berperan dalam pengisian gabah, terutama pada fase pemasakan. Persentase gabah benas permalai antara 38,4 hingga 47,5% dengan rata-rata sebesar 44,15%.

Tidak ada pengaruh interaksi perlakuan terhadap panjang malai, jumlah gabah total, gabah bernas dan persentase gabah bernas padi gogo karena masing-masing perlakuan tidak saling mendukung dalam proses pembentukan gabah dan kebernasan gabah. secara umum sifat genetik tanaman padi lebih dominan dibandingkan dengan perlakuan sistem pengolahan tanah dan pemberian EM-4 disamping juga faktor luar yang besar pengaruhnya terhadap jumlah gabah yang dihasilkan seperti kondisi iklim dan cuaca. Menurut Fagi at al., (2001) pengaruh suhu terhadap pertumbuhan tanaman padi cukup besar. Pada suhu yang tinggi menyebabkan pembungaan padi lebih cepat sehingga proses pembentukan malai dan pengisian gabah juga jadi lebih cepat.

Berat 1000 Gabah (gram)

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4 secara tunggal tidak berbeda nyata, namun interaksi keduanya memperlihatkan ada pengaruh yang nyata pada variabel berat 1000 gabah. Perlakuan interaksi dengan berat gabah yang tertinggi yaitu pada interaksi P4E2 (30,37 gram), sedangkan berat yang terendah adalah P3E1 (26,48 gram). Data disajikan pada Tabel 3 berikut.

158

Tabel 3. Berat 1000 gabah padi gogo dengan sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4

Sistem Pengolahan Tanah

Frekuensi pemberian EM-4 E1 (kontrol) E2 (satu kali) E3 (dua kali) E4 (tiga kali) P1 (TOT, gulma dibakar) 28,06 ab 27,76 ab 27,38 ab 28,74 ab P2 (TOT, gulma direbahkan) 29,28 ab 28,33 ab 26,72 b 27,33 ab P3 (Pengolahan tanah satu kali) 26,48 b 29,53 ab 28,71 ab 27,65 ab P4 (pengolahan tanah dua kali) 28,11 ab 30,37 a 29,60 ab 28,20 ab Sumber: Data primer (2015).

Terjadinya pengaruh interaksi sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4 terhadap variabel berat 1000 gabah padi gogo karena pengolahan tanah mengakibatkan tanah menjadi gembur sehingga memperlancar aerasi dalam tanah. Aerasi yang lancar akan tersedianya oksigen dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan akar menjadi lebih baik, sehingga sistem penyerapan unsur hara untuk kebutuhan tanaman juga berjalan dengan baik. Menurut Khush dalam Suardi (2002) Perakaran yang dalam dan tebal, sehat danm mencengkeram tanah lebih luas serta kuat menahan kerebahan memungkinkan penyerapan air dan hara lebih efisien terutama pada stadia pengisian gabah, sehingga bobot gabah bisa lebih berat.

Produktivitas (kg/ha)

Perlakuan sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4 serta interaksi kedua perlakuan tersebut berpengaruh tidak nyata terhadap hasil (produktivitas) padi gogo. Data lengkap disajikan pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4. Produktivitaspadi gogo dengan sistem pengolahan tanah dan frekuensi pemberian EM-4.

Sistem Pengolahan Tanah

Produksi (Kg/ha) Frekuensi Pemberian EM-4

Rerata E1 (kontrol) E2 (1 kali) E3 (2 kali) E4 (3 kali)

P1(TOT, gulma dibakar) 3637,3 2922,7 2789,3 3472,0 3205,3 P2(TOT, gulma direbahkan) 3573,3 3061,3 2544,0 2741,3 2980,0 P3(pengolahan tanah 1 kali) 3936,0 3744,0 3797,3 3589,3 3766,7 P4(pengolahan tanah 2 kali) 3509,3 4170,7 3829,3 3685,3 3798,7 Rerata 3664,0 3474,7 3240,0 3372,0

Sumber: Data primer (2015)

Berkurangnya intensitas curah hujan pada fase primordia ini, sangat berdampak pada pertumbuhan dan produksi yang dihasilkan. Peningkatan curah hujan terjadi ketika memasuki bulan ke empat penelitian ( Maret 2015) ini curah hujan sebesar 365,5 mm dengan jumlah hari hujan 21 hari. Selama masa periode tanam Desember 2014 s/d April 2015 hanya terdapat 2 bulan yang curah hujan >200 mm, sedangkan 3 bulan yang lainnya curah hujan <200 mm. kondisi yang demikian tentu akan menjadi salah satu faktor penghambat dalam meningkatkan produktivitas. Seperti yang ungkapkan Widyantoro at al.,(2012) Menyatakan bahwa tanaman padi gogo membutuhkan curah hujan > 200 mm/bulan minimal 4 bulan secara berurutan, sehingga untuk tanaman padi gogo dan gogo rancah disarankan untuk ditanam pada awal musim penghujan.

159

Dalam dokumen prosiding jilid1 bkl2016 (Halaman 172-176)