• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Kondisi Usahatani Eksisting

Dalam dokumen prosiding jilid1 bkl2016 (Halaman 115-118)

67 Serangan Organisme Pengganggu Tanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Kondisi Usahatani Eksisting

Penggunaan lahan terluas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur utamanya adalah untuk lahan sawah seluas 310,05 km2 atau sebesar 25,14%. Pada tahun 2013 produktivitas padi di Tanjabtim rata-rata sebesar 3,61 t/ha (BPS Jambi, 2015) namun produktivitas tersebut masih rendah dibandingkan produktivitas padi di Provinsi Jambi pada tahun yang sama yaitu 4,56 t/ha.

Produktivitas di berbagai wilayah masih di bawah 4 t/ha. Wilayah kecamatan Geragai capaian produktivitasnya baru mencapai 3,73 t/ha sedikit lebih tinggi dari tingkat produktivitas di tingkat kabupaten yang mencapai 3,61 t/ha. Artinya melihat potensi hasil VUB yang diintroduksikan dapat mencapai kisaran 7-12 t/ha, maka peluang peningkatan produktivitas padi sawah di kabupaten Tanjabtim melalui introduksi VUB masih cukup terbuka.

Rendahnya potensi hasil yang dicapai di tingkat lapangan, tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan varietas yang diusahakan petani namun juga karena tingkat penerapan inovasi teknologi yang belum sesuai dengan kultur teknis yang tepat. Kondisi usahatani di lokasi pengujian, secara umum petani belum menerapkan komponen teknologi PTT secara lengkap, seperti jarak tanam tidak teratur, jumlah bibit per lubang lebih dari 3 bibit, umur bibit lebih dari 21 hss, dan ada kecenderungan pemberian pupuk an organik berlebihan. Dikemukakan oleh Suryana, et al. (2009), bahwa produktivitas dapat ditingkatkan melalui penciptaan teknologi sesuai kebutuhan petani dan penerapan teknologi secara baik. Implementasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah dengan beberapa komponen teknologi unggulannya (bibit muda 15-21 hss, tanam 2-3 bibit/lubang, pengairan berselang, sistem tanam legowo, pemupukan berimbang) telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi sawah di berbagai daerah.

Hasil Uji Adaptasi

Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman menunjukkan bahwa rerata tinggi tanaman pada Inpari 30 sebesar 100,6 cm, terendah pada varietas IR 42 sebesar 72,4 cm. Inpari 30 menunjukkan keragaan tinggi tanaman tertinggi dibandingkan varietas lain yang diuji adaptasikan. Secara keseluruhan tinggi tanaman VUB yang diintroduksikan rerata lebih tinggi dari varietas unggul yang biasa di tanam petani. Keragaan tinggi tanaman yang berbeda disamping merupakan ekspresi faktor genetis, juga dapat disebabkan karena tingkat pengelolaan usahatani yang berbeda. Berdasarkan deskripsi tinggi tanaman VUB Inpara berkisar antara 100 – 120 cm (BPTP Jambi, 2010), dan hanya Inpari 8 yang keragaan pertumbuhannya kurang dari yang tercantum pada deskripsi. Ketiga VUB memiliki umur panen pada kisaran 110-115 hari setelah sebar. Hanya VUB Inpari 3 yang memiliki umur lebih genjah yaitu 110 hari.

99

Tabel 2. Rerata Tinggi Tanaman, Malai Per Rumpun, Berat 1000 Biji Pada Uji Adaptasi, Tanjabtim MK 2016

Varietas Komponen Pengamatan

Tinggi tanaman gabah/malai Berat 1000 biji

Inpara-3 99,4 120 29

Inpara-8 78,2 102 29

Inpari-30 100,6 148 25

IR 42 72,4 105 27

Sumber ; Data Primer tahun 2016

Pengamatan terhadap hasil jumlah gabah per malai dan berat 1000 butir tertinggi dicapai pada varietas Inpari-30 (tabel 2), namun tingginya dua komponen hasil ini tidak di dukung dengan jumlah anakan produktif, yang diekspresikan dalam jumlah malai per meter persegi yang tinggi, sehingga hasil gabah kering giling (GKG) (t/ha) yang dicapai tidak lebih baik dari Inpara-3 (tabel 3). Varietas Inpara 3, yang dalam deskripsi varietas memiliki potensi hasil hingga mencapai 8 t/ha, namun keragaan yang ditunjukkan dalam uji adaptasi di desa Sukamaju, kecamatan Geragai Tanjabtim yang memiliki jenis tanah rawa ini masih berada di bawah kondisi optimal, yaitu baru mencapai 4,47 t/ha, sementara Inpara 8 dapat mencapai 4,67 t/ha. Faktor penyebabnya dimungkinkan karena belum terpenuhinya secara optimal berbagai faktor tumbuh yang dikehendaki varietas tersebut untuk mengekpresikan kemampuan genetisnya dalam bentuk hasil gabah.

Tabel 3. Rerata Komponen Hasil Pada Uji Adaptasi, Tanjabtim MT 2016

Varietas

Komponen Pengamatan Rerata banyak malai/rumpun

% gabah isi Hasil ubinan t/ha GKP

Inpara-3 21,4 86,7 4,47

Inpara-8 22,7 78,3 4,67

Inpari-30 20,8 73,3 3,68

IR 42 13,1 90,2 3,25

Sumber ; Data Primer tahun 2016

Tingginya rerata potensi hasil yang dicapai pada varietas Inpara-3, didukung oleh komponen hasil seperti banyak malai per rumpun yang mencapai rata-rata 21,4 malai, jumlah gabah per malai dan persentase gabah isi. Untuk varietas eksisting (IR 42), walaupun prosentase gabah isi lebih tinggi mencapai 90,2% malai, namun karena rerata jumlah gabah permalai kecil (13,1), maka berpengaruh terhadap hasil gabah. Hasil tanaman padi ditentukan oleh beberapa komponen hasil penting seperti, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi dan berat 1000 biji (Taslim et al., 1993: Fageria, 1992).

Gambar 1. Rerata Produktivitas (t/ha) VUB yang di uji Adaptasikan

Pada tabel 4, terlihat bahwa rerata hasil gabah yang tinggi dicapai pada VUB yang diintroduksikan, dan lebih tinggi dari varietas unggul eksisting. Hasil tertinggi dicapai pada varietas Inpara 8, dengan rata-rata produktivitasnya mencapai 4,67 t/ha dan produktivitas terendah dicapai pada varietas IR 42 (3,25 t/ha) sebagai kontrol. Dengan hasil yang rata-rata lebih tinggi dari tiga

100

varietas unggul yang diintroduksikan, akan memberikan peluang bagi upaya peningkatan produksi padi sawah di wilayah tersebut.

Hal yang perlu dipertimbangkan apabila VUB yang diitroduksikan akan dikembangkan lebih lanjut sebagai varietas alternatif untuk meningkatkan produktivitas padi sawah pada musim-musim yang akan datang, terutama apabila akan dikembangkan pada musim penghujan. Salah satu pertimbangan yang perlu diperhatikan adalah ketahanan varietas terhadap penyakit terutama yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.

KESIMPULAN

1. Introduksi VUB dan perbaikan manajemen usahatani menggunakan pendekatan PTT mampu meningkatkan produktivitas padi sawah di desa Sukamaju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada MK 2016 pada kisaran 13,2 hingga 43,7%.

2. Produktivitas padi sawah tertinggi dicapai Inpara 8 sebesar 4,67 t/ha GKP, kemudian Inpara 3 sebesar 4,47 t/ha dan Inpari 30 sebesar 3,68 t/ha, sedangkan produktivitas pada teknologi petani dengan varietas IR-42 sebesar 3,25 t/ha.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sdr.Uus Effendi, teknisi BPTP Jambi yang telah membantu selama pelaksanaan penelitian di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

BPTP Jateng, 2010. Diskripsi Padi Sawah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Tengah. Dirjentan, 2010. Pedoman Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT)

Padi, Jagung, Kedelai dan Kacang Tanah. Kementrian Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Jakarta.

Dirjentan, 2011. Pedoman Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi, Jagung, Kedelai dan Kacang Tanah. Kementrian Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Jakarta.

Fageria, N.K. 2009. The Use of Nutrients in Crops Plant. CRC. Press. Taylor and Francis Group. Boca Raton. London. New York.

Norsalis, E. 2011. Padi gogo dan padi sawah. http://skp.unair.ac.id/repository/Guru-Indonesia/Padigogodansawah_ekonorsalis_17170.pdf [23 September] 2013.

Nurzakiah. S, Y. Lestari, dan Muhamad. 2011. Dinamika hara akibat aplikasi pupuk di lahan rawa. Jurnal Tanah dan Iklim. Edisi khusus rawa: 71-78.

Putra.I.P.C. 2012. Analisis usaha tani kentang sembalun. Prosiding seminar nasional “ Petani dan Pembangunan Pertanian”. Bogor 12 Oktober 2012. Hal 389-395.

Runtunuwu.E, H.Syahbudin,F.Ramadhani. A, Pramudia. D, Setyorini. K. Sari. Y, Apriana. E, Susanti, dan Haryono. 2013. Inovasi kelembagaan system informasi kalender tanam terpadu mendukung adaptasi perubahan iklim untuk ketahanan pangan nasional. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6 (1). Hal 44-52.

Suryana, A., S. Mardianto, K. Kariyasa, dan I.P. Wardana. 2009. Kedudukan padi dalam perekonomian Indonesia. Dalam. Suyamto, et al.(Eds). Padi Inovasi Teknologi dan Ketahanan Pangan. Buku 1. Balai Besar Penelitian tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian.

Suparwoto, Waluyo, dan Jumakir. 2004. Pengaruh varietas dan metode pemupukan terhadap hasil padi di rawa lebak. Jurnal Agronomi 8 (1) : 21-25.

Taslim, H., S. Partohardjono, dan Subandi, 1993. Pemupukan Padi Sawah. Dalam. Ismunadji, et al. (Eds). Padi. Buku 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. h.445-479.

101

IMPLEMENTASI KEUNGGULAN SISTEM INFORMASI KALENDER TANAM TERPADU

Dalam dokumen prosiding jilid1 bkl2016 (Halaman 115-118)