V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN
5.6. Hasil Kegiatan Operasional
Periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dibandingkan periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015
Pendapatan – bersih
Pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 9,7% menjadi Rp648,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp591,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan per kunjungan pada jumlah kujungan pelanggan. Pendapatan per kunjungan juga naik sebesar 8,9% menjadi Rp544.340,1 untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, terutama sehubungan dengan meningkatnya harga atas jasa Perseroan. Perseroan meningkatkan harga pemeriksaannya dengan rata-rata tertimbang sebesar sekitar 8,7%, dibandingkan dengan tingkat inflasi pada semester pertama tahun 2016 sebesar 3,5% per tahun. Jumlah kunjungan pelanggan naik sebesar 0,7% menjadi 1,2 juta untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebanyak 1,18 juta untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Perseroan mengalami peningkatan jumlah pelanggan individu (sebesar 4,0%) dan pelanggan dengan rujukan dokter (sebesar 4,4%), sementara Perseroan mengalami penurunan pada jumlah klien korporasi (sebesar 14,9%) dan rujukan eksternal (sebesar 2,5%). Pendapatan per kunjungan atas pelanggan individu dan pelanggan dengan refensi dokter biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan segmen pelanggan lainnya, yang membantu Perseroan dalam meningkatkan pendapatan secara keseluruhan, walaupun pertumbuhan pelanggan Perseroan secara keseluruhan cenderung datar antar periode. Jumlah klien korporasi berkurang karena banyak pelanggan Perseroan yang memindahkan jadwal pemeriksaan kesehatan karyawan dari semester kedua 2014 menjadi semester pertama 2015, sebagai akibat dari ketidakpastian perekonomian pada tahun 2014 terkait pemilihan umum presiden, yang mengakibatkan tingginya jumlah kunjungan yang tidak biasa pada periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Sebagai tambahan, beberapa klien korporasi, khususnya yang bergerak dalam industri minyak dan gas serta pertambangan, mengurangi anggaran pemeriksaan kesehatan karyawannya pada semester pertama tahun 2016 sebagai akibat perlambatan industri.
Beban pokok pendapatan
Beban pokok pendapatan naik sebesar 8,3% menjadi Rp268,9 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp248,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama sehubungan dengan kenaikan beban terkait bahan baku dan gaji. Biaya bahan baku naik sebesar 6,8% menjadi Rp95,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir dari sebelumnya sebesar Rp89,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama sehubungan dengan kenaikan harga atas bahan baku Perseroan dan lebih tingginya harga khususnya untuk bahan baku endokrin, immonoserologi, dan mikrobiologi. Beban gaji Perseroan terkait beban pokok penjualan langsung (untuk karyawan laboratorium) naik sebesar 10,8% menjadi sebesar Rp60,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp54,6 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Beban gaji terkait beban pokok penjualan tidak langsung (untuk karyawan layanan pelanggan) naik sebesar 11,5% menjadi Rp27,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp24,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Kenaikan beban gaji tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan tahunan atas kewajiban imbalan kerja dan pembayaran tunjangan hari raya di pertengahan tahun 2016. Di Indonesia, perusahaan membayar tunjangan hari raya tahunan sesuai pilihan (contohnya Lebaran atau Natal). Pada tahun 2015, sehubungan dengan Lebaran, yang merayakan akhir dari bulan suci Ramadhan, Perseroan membayar tunjangan kepada karyawan pada bulan Juli. Pada tahun 2016, karena waktu Lebaran, Perseroan membayar tunjangan kepada karyawan pada bulan Juni 2016.
Laba Kotor
Sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya, laba kotor Perseroan naik sebesar 10,7% menjadi Rp379,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp343,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Beban usaha
Beban usaha Perseroan naik sebesar 8,5% menjadi Rp325,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp300,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan meningkatnya beban sewa bangunan, kendaraan dan peralatan kantor, biaya konsultan serta gaji dan tunjangan. Sewa bangunan, kendaraan dan inventaris kantor naik sebesar 87,0% menjadi Rp30,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp16,1 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama disebabkan oleh beban sewa yang kini dibayarkan kepada afiliasi Perseroan untuk menempati bangunan yang dijual oleh Perseroan kepada afiliasinya pada akhir tahun 2015. Total utang sewa berdasarkan penyewaan ini adalah sekitar Rp24,2 miliar per tahun. Biaya konsultan naik sebesar 24,8% menjadi sebesar Rp38,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp30,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya outsourcing yang sebagian besar berhubungan dengan biaya pemeliharaan dan perawatan untuk lokasi baru dari laboratorium klinik tertentu, yang telah diperbaharui menjadi bangunan baru. Untuk hari raya Lebaran pada tahun 2015 dan 2016, Perseroan membayar tunjangan hari raya kepada karyawan kontrak di bulan Juli. Gaji dan tunjangan naik sebesar 7,7% menjadi Rp86,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp80,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan kenaikan gaji tahunan pada pembayaran tunjangan hari raya pada bulan Juni 2015 dan Juli 2016. Pengurang atas kenaikan beban usaha adalah penurunan sebesar 35,1% pada beban imbalan kerja menjadi Rp24,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp37,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama sehubungan dengan penurunan yang signifikan atas kelebihan pembayaran imbalan kerja dari aset program untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016. Kelebihan pembayaran imbalan kerja dari aset program adalah sebesar Rp18,9 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, dibandingkan dengan sebesar Rp0,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, yang disebabkan oleh pembayaran uang pensiun untuk karyawan yang dibayar dari aset program imbalan. Perseroan memperkirakan beban usaha (selain gaji dan tunjangan dan beban sewa) sebagai persentase terhadap total pendapatan akan turun ke depannya.
Pendapatan lainnya
Pendapatan lainnya turun sebesar 43,6% menjadi Rp6,9 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp12,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan penurunan sebesar 43,1% pada kategori lainnya menjadi Rp6,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp11,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terkait pembayaran kepada Perseroan dari pengelola aset untuk mengembalikan pembayaran out-of-pocket atas kewajiban imbalan kerja pada enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2015. Pada enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2016, pengelolaan aset membayar dana tersebut secara langsung dari aset program imbalan, sehingga tidak diperlukan adanya pengembalian.
Beban lainnya
Beban lainnya turun sebesar 22,7% menjadi Rp1,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp2,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba usaha
Sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya, laba usaha Perseroan naik sebesar 12,3% menjadi Rp59,2 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp52,7 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Perseroan tidak membukukan bagian rugi entitas anak sebelum divestasi pada perriode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, dibandingkan dengan bagian rugi entitas anak sebelum divestasi sebesar Rp1,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 karena Transaksi Spin-off telah diselesaikan sebelum periode dimulai. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, sesuai dengan PSAK No. 38, pendapatan dan beban atas Entitas Anak yang Dialihkan tidak dapat dikonsolidasikan dengan pos-pos relevan pada laporan keuangan Perseroan ketika menyusun laporan keuangan konsolidasian. Oleh karena itu, rugi bersih atas entitas anak tersebut untuk periode sejak 1 Januari 2015 sampai dengan 30 Juni 2015 dibukukan sebagai bagian rugi entias anak sebelum divestasi, yang muncul di bawah laba usaha pada laporan laba rugi. Sehingga, tidak terdapat perbedaan antara laporan keuangan konsolidasian dengan laporan keuangan standalone Perseroan untuk seluruh pos-pos pada laporan laba rugi dan total laba konsolidasian di atas dan termasuk laba usaha. Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 menyebabkan penurunan pada laba sebelum pajak, laba periode berjalan dan total laba komprehensif periode berjalan.
Beban keuangan – bersih
Beban keuangan – bersih turun menjadi 61,5% menjadi Rp3,7 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terutama sehubungan dengan pembayaran utang jangka pendek yang digunakan untuk keperluan modal kerja dan utang bank yang digunakan untuk membiayai pembangunan bangunan-bangunan baru untuk digunakan sebagai laboratorium klinik, pada akhir tahun 2015, yang mengurangi utang bunga pada periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, dibandingkan dengan periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015
Beban keuangan – bersih Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 61,5% menjadi Rp3,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba sebelum pajak
Laba sebelum pajak naik sebesar 33,1% menjadi Rp55,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp41,7 untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015 terutama karena peningkatan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beban pokok pendapatan dan beban usaha Perseoan. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 9,7% menjadi Rp57,4 miliar, dibandingkan dengan kenaikan beban pokok penapatan sebesar 8,3% atau setara dengan Rp20,7 miliar dan kenaikan beban usaha Perseroan sebesar 8,5% atau setara dengan Rp25,4 miliar. Pendapatan – bersih Perseroan naik lebih tinggi dibandingkan dengan beban pokok pendapatan dan beban usaha, terutama akibat kenaikan pendapatan per pelanggan, sehubungan dengan kenaikan harga dari Perseroan. Selain itu, untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016, Perseroan juga mengurangi beban keuangan – bersih karena Perseroan membayar jumlah yang signifikan atas utang bank pada akhir tahun 2016 serta akibat dari Transaksi Spin-off, yang diselesaikan pada akhir tahun 2015, yang mengurangi efek atas entitas anak Perseroan terhadap hasil keuangan Perseroan.
Laba sebelum pajak Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 28,7% menjadi Rp55,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp43,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Beban (manfaat) pajak penghasilan
Total beban pajak penghasilan Perseroan naik sebesar 71,5% menjadi Rp16,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, terutama sehubungan dengan penurunan pajak tangguhan sebesar 38,7%, yang turun menjadi Rp6,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari Rp10,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Manfaat pajak tangguhan terutama terkait dengan biaya imbalan kerja. Beban imbalan kerja turun sebesar 35,0% untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari biaya pada periode komparasi, yang juga menurunkan liabilitas pajak tangguhan Perseroan.
Pajak penghasilan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 71,5% menjadi Rp16,4 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,6 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba periode berjalan
Laba periode berjalan naik sebesar 21,7% menjadi Rp39,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp32,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba periode berjalan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 16,5% menjadi Rp39,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp33,5 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Penghasilan (rugi) komprehensif lain setelah pajak
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak naik sebesar 308,9% menjadi rugi sebesar Rp36,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari rugi sebesar Rp9,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2015 karena kerugian sebesar Rp49,1 miliar atas pengukuran kembali atas program imbalan kerja. Sebagai perbandingan, untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015, Perseroan mengalami kerugian dari pengukuran kembali atas program imbalan kerja sebesar Rp12,0 miliar. Perbedaan antara kedua periode tersebut terutama disebabkan oleh penurunan atas kelebihan pembayaran imbalan kerja dari aset program untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dibandingkan dengan enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Kerugian ini sedikit diimbangi dengan pembukuan manfaat pajak sebesar Rp12,3 miliar dari kerugian dari pengukuran kembali.
Penghasilan komprehensif lain setelah pajak Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 308,9% menjadi Rp36,8 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp9,0 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Laba komprehensif periode berjalan
Sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, laba komprehensif periode berjalan turun sebesar 90,1% menjadi Rp2,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp23,1 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015. Laba komprehensif periode berjalan Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 90,6% menjadi Rp2,3 miliar untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2016 dari sebelumnya sebesar Rp24,5 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 dibandingkan tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014
Pendapatan – bersih
Pendapatan – bersih Perseroan naik sebesar 8,8% menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015 dari Rp1.101,0 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan volume kunjungan pelanggan dan pendapatan per kunjungan. Jumlah kunjungan pelanggan meningkat sebesar 4,3% menjadi 2,4 juta kunjungan pada tahun 2015 dari sebelumnya 2,3 juta pada tahun 2014, terutama dikarenakan pertumbuhan jumlah pelanggan individu (meningkat sebesar 14,3%), referensi pihak ketiga (meningkat sebesar 9,7%) dan klien korporasi (meningkat sebesar 14,1%). Pendapatan per kunjungan juga meningkat sebesar 5,3% dari Rp502.714 juta pada tahun 2015 dari Rp468.792 juta pada tahun 2014 terutama dikarenakan kenaikan harga untuk pemeriksaan dan layanan Perseroan. Harga pemeriksaan secara rata-rata tertimbang naik sekitar 8,1%, dibandingkan dengan tingkat inflasi pada tahun 2015 sebesar 3,4% per tahun. Pendapatan – bersih Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 10,8% menjadi Rp1.197,7 miliar pada tahun 2015 dari Rp1.080,6 miliar pada tahun 2014.
Beban pokok pendapatan
Jumlah beban pokok pendapatan Perseroan naik sebesar 10,2% menjadi Rp511,2 miliar pada tahun 2015 dari Rp464,1 miliar pada tahun 2014 terutama dikarenakan kenaikan beban terkait bahan baku, gaji dan rujukan ke pihak ketiga. Beban bahan baku Perseroan meningkat sebesar 7,2% menjadi Rp189,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp176,7 miliar pada tahun 2014 seiring dengan kenaikan volume pemeriksaan yang dilakukan Perseroan sebesar 5,3%, serta kenaikan harga bahan baku secara umum yang terjadi pada tahun 2015 yang terutama dikarenakan inflasi. Beban gaji Perseroan terkait beban pokok langsung (untuk petugas laboratorium) meningkat sebesar 14,7% menjadi Rp110,6 miliar pada tahun 2015 dari Rp96,4 miliar pada tahun 2014 sementara beban gaji Perseroan terkait beban pokok tidak langsung (untuk karyawan non-laboratorium seperti pada bagian layanan pelanggan) naik sebesar 16,9% menjadi Rp49,7 miliar pada tahun 2015 dari Rp42,5 miliar pada tahun 2014. Beban gaji tersebut meningkat terutama karena Perseroan mempekerjakan tambahan pegawai di bagian laboratorium dan layanan pelanggan, serta penerapan program jaminan hari tua nasional di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, yang mewajibkan Perseroan untuk meningkatkan pembayaran imbalan kerja iuran pasti, yang dicatatkan sebagai beban gaji. Selain itu, beban rujukan kepada laboratorium pihak ketiga naik sebesar 7,4% menjadi Rp71,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp66,6 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan jumlah pemeriksaan yang dirujuk ke pihak eksternal.
Total beban pokok pendapatan Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 12,6% menjadi Rp511,2 miliar pada tahun 2015 dari Rp453,9 miliar pada tahun 2014.
Laba kotor
Sebagai akibat dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas, laba kotor Perseroan naik sebesar 7,8% menjadi Rp686,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp637,0 miliar pada tahun 2014.
Laba kotor Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 9,5% menjadi Rp686,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp626,7 miliar pada tahun 2014.
Beban usaha
Beban usaha Perseroan naik sebesar 8,2% menjadi Rp606,5 miliar pada tahun Rp560,4 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan meningkatnya beban imbalan kerja serta gaji dan tunjangan. Beban imbalan kerja naik sebesar 57,5% menjadi Rp62,7 miliar pada tahun 2015 dari Rp39,8 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan pembayaran satu kali sebesar Rp19,2 miliar yang diklasifkasikan sebagai “kelebihan imbalan yang dibayar oleh pengelolaan aset”, yang merupakan tunjangan pensiun yang dibayarkan kepada karyawan senior tertentu yang pensiun pada tahun 2015. Pada laporan laba rugi Perseroan, beban imbalan kerja pada tahun 2015 mencakup beban imbalan kerja yang diakui di laba rugi sebesar Rp48,1 miliar, pesangon sebesar Rp9,5 miliar dan premi asuransi pesangon sebesar Rp5,0 miliar. Pada tahun 2014, beban imbalan kerja Perseroan mencakup beban imbalan kerja yang diakui di laba rugi sebesar Rp26,2 miliar, pesangon sebesar Rp8,6 milar dan premi asuransi pesangon sebesar Rp5,0 miliar. Gaji dan tunjangan (gaji untuk karyawan administrasi dan manajemen) naik sebesar 3,0% menjadi Rp165,2 miliar pada tahun 2015 dari Rp160,4 miliar pada tahun 2014 seiring dengan implementasi program jaminan hari tua di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, yang mewajibkan Perseroan untuk meningkatkan pembayaran iuran imbalan kerja pasti, yang dibukukan sebagai beban gaji. Kenaikan beban gaji ini juga di-offset dengan beban gaji dari Entitas Anak yang Dialihkan yang tidak lagi dihitung sebagai beban Perseroan.
Beban usaha Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 12,5% menjadi Rp606,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp539,3 miliar pada tahun 2014.
Pendapatan lainnya
Pendapatan lainnya Perseroan naik sebesar 136,6% menjadi Rp35,4 miliar pada tahun 2015 dari Rp15,0 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan kenaikan laba penjualan aset tetap sebesar 404,3% dari Rp4,6 miliar pada tahun 2014 menjadi Rp23,2 miliar pada tahun 2015 sehubungan dengan Transaksi Jual dan Sewa.
Pendapatan lainnya Perseroan dengan basis standalone naik sebesar 115,2% menjadi Rp35,4 miliar pada tahun 2015 dari Rp16,5 miliar pada tahun 2014.
Beban lainnya
Beban lainnya Perseroan naik secara signifikan menjadi Rp18,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp0,8 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan beban pajak terkait hasil penjualan aset terkait bangunan dan lahan.
Beban lainnya Perseroan dengan basis standalone naik secara signifikan menjadi Rp18,5 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 dari Rp1,5 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014.
Laba usaha
Laba usaha Perseroan naik sebesar 6,7% menjadi Rp96,9 miliar pada tahun 2015 dari Rp90,8 miliar pada tahun 2014, sebagai hasil dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya dan penjualan atas Entitas Anak yang Dialihkan. Sebagai hasil dari pengalihan entitas anak, hasil usaha untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015 tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan hasil usaha untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2014. Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015,
entitas anak tersebut diklasifikasikan sebagai aset lancar tersedia untuk dijual. Oleh karena itu, sesuai dengan PSAK 58, pendapatan dan beban atas entitas anak tersebut tidak dapat dikonsolidasikan dengan akun relevan Perseroan ketika menyusun laporan keuangan konsolidasi. Namun, rugi bersih atas entitas anak tersebut untuk periode sejak 1 Januari 2015 hingga tanggal dijualnya masing-masing entitas anak tersebut dibukukan sebagai bagian rugi sebelum divestasi, yang muncul di bawah laba usaha pada laporan laba rugi. Oleh karena itu, kenaikan laba usaha Perseroan, pada basis konsolidasi, menunjukkan pengecualian atas kontribusi negatif dari Entitas Anak yang Dialihkan terhadap laba usaha tahun 2015. Laba usaha Perseroan dengan basis standalone turun sebesar 5,3% menjadi Rp96,9 miliar pada tahun 2015 dari Rp102,4 miliar pada tahun 2014 terutama sehubungan dengan kenaikan sebesar 12,3% pada beban usaha.
Bagian rugi entitas anak sebelum divestasi
Akibatnya, rugi bersih dari empat entitas anak tersebut untuk periode sejak tanggal 1 Januari 2015 sampai dengan tanggal dijualnya masing-masing entitas anak diakui sebagai bagian rugi entitas anak sebelum divestasi sebesar Rp1,4 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2015.
Beban keuangan - bersih
Beban keuangan – bersih Perseroan naik sebesar 27,5% menjadi Rp18,5 miliar pada tahun 2015 dari Rp14,5 miliar pada tahun 2014, terutama dikarenakan beban bunga dari penarikan fasilitas pinjaman
revolving Perseroan, yang digunakan untuk modal kerja dan membiayai renovasi laboratorium klinik
tertentu. Perseroan melunasi pinjaman jangka pendek tersebut dalam waktu satu tahun sehingga pinjaman tersebut tidak tercantum di dalam laporan posisi keuangan Perseroan per tanggal 31 Desember 2015. Perseroan juga memiliki beban bunga atas pinjaman bank yang digunakan untuk