PROSES SILASE RUMPUT SETARIA NANI IRIANI
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perubahan Kadar Oksalat Selama Proses Silase
Rumput setaria mempunyai kandungan oksalat yang relatif tinggi. Diharapkan dengan proses silase sebagian oksalat dapat berkurang melalui aktifitas mikro organisme yang memanfaatkannya sebagai sumber karbon (Sutikno dkk, 1989). Dalam penelitian ini digunakan rumput setaria yang mengandung kadar oksalat awal sebesar 8%. Proses silase rumput setaria dengan penambahan molases ternyata tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Hal ini diperlihatkan pada Tabel 1. Penyimpanan selam 8 minggu hanya menyebabkan sedikit penurunan kadar oksalat total dari 8,2% sampai 6,2% (r-0,65). Walaupun telah terjadi penurunan sebesar 24% pada minggu ke 8, kadar oksalat totalnya masih cukup tinggi. Fraksi terlarut mengikuti pola penurunan yang serupa yaitu kadarnya turun dari 6,02 sampai 4,46% (r-0,02) terjadi penurunan sebesar 26 %. Sedangkan Fraksi terikat menunjukkan kurva yang hampir rata. Rendahnya penurunan ini mungkin disebabkan hanya sedikit oksalat yang dapat dimanfaatkan oleh mikro organisme sebagai sumber karbon selebihnya miko organisme memanfaatkan karbohidrat untuk dirubah menjadi asam laktat.
Tabel 1. Perubahan kadar oksalat (%) selama proses silase Rumput Setaria Lama Penyimpanan
(minggu) Oksalat Total Oksalat Terikat Oksalat terlarut
0 8,20 1,18 6,02 1 7,40 1,80 5,60 2 6,70 1,60 5,10 3 7,10 1,80 5,30 4 6,50 1,7 4,80 5 4,50 1,80 2,70 6 5,90 1,80 4,15 7 6,60 1,80 4,75 8 6,20 1,70 4,46
Gambar 1. Perubahan kadar oksalat selama proses silase rumput setaria dengan molases 3%.
B. Kontaminasi Jamur Selama Penyimpanan
Rumput yang disimpan relatif segar dapat terkontaminasi oleh jamur. Hal ini disebabkan karena rumput tersebut tidak disimpan dalam keadaan steril dan masih mengandung air yang tinggi, sehingga memungkinkan untuk pertumbuhan jamur.
Pada minggu pertama sampai minggu ke 4 diperoleh silase yang bersih tanpa jamur, berbau harum dan warna rumput masih segar. Akan tetapi pada minggu kelima mulai nampak kontaminasi jamur yang terus meningkat sampai minggu ke 8. Pada umumnya kontaminasi jamur terjadi dibagian atas dan samping sedangkan pada bagian dalam (tengah) masih segar. Hal ini masih disebabkan karena pada bagian samping lebih mudah kontak dengan udara luar dari pada bagian dalam, sehingga terjadi fermentasi aerobik, dan diduga jamur yang tumbuh adalah dari jenis chlostridia. Dalam pengamatan jamur yang terbentuk berwarna putih sampai ke kuning-kuningan akan tetapi tidak diidentifikasikan lebih lanjut. Berdasarkan pengamatan diatas, maka nampak proses silase tersebut hanya baik untuk masa penyimpanan sampai 4 minggu.
C. Pengukuran pH, Asam Laktat dan Asam Mudah Menguap
Selama proses silase dengan penambahan molases terjadi fermentasi oleh bakteri yang menghasilkan asam laktat, asam asetat dan asam butirat, sehingga mengakibatkan terjadi penurunan derajat keasaman (pH) seperti diperlihatkan pada Tabel 2.
Penurunan pH mulai terjadi dari bahan awal (pH 5,26) sampai silase minggu pertama (pH 3,74). Pada minggu selanjutnya penurunan pH tidak nampak terjadi bahkan relatif stabil. pH yang baik bagi silase adalah pH 4,2 atau lebih rendah di bawah itu (Catchpoole 1970) Perubahan ini erat hubungannya dengan pembentukan asam-asam mudah menguap.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Penyimpanan (minggu) Kadar ( % )
108 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Tabel 2. Perubahan pH selama silase Rumput Setaria
Ulangan Lama Penyimpanan I II III Rata-Rata S. D 0 5,27 5,27 5,23 5,26 0,01 1 3,70 3,73 5,25 3,74 0,05 2 3,74 3,74 3,79 3,76 0,03 3 3,76 3,79 3,79 3,78 0,02 4 3,72 3,75 3,81 3,76 0,05 5 3,71 3,79 3,84 3,78 0,07 6 3,80 3,73 3,78 3,80 0,03 7 3,71 3,71 3,71 3,71 0,00 8 3,78 3,75 3,79 3,77 0,02
Pembentukan asam asetat mulai meningkat pada minggu ke 4 sebesar 3,81 % diikuti dengan pembentukan asam propionat dan mengalami penurunan pada minggu ke 8 sebesar 0,15 %. Kandungan asam iso butirat cukup rendah sebesar 0,01 % pada minggu ke 8, demikin pula untuk asam isovalerat 0,02 % pada minggu ke 6. Pembentukan n-butirat terjadi pada minggu ke 2 dan ke 4 sebesar 0,06 %. Selama proses pemeraman tidak terjadi pembentukan asam n-valerat. Selama proses silase menunjukkan akumulasi asam-asam mudah menguap (sebagai asam asetat) lebih besar di bandingkan asam-asam mudah menguap lainnya, hal ini mempengaruhi kestabilan pH dan memperlambat tumbuhnya jamur Tabel 3.
Tabel 3. Perubahan asam mudah menguap (%) selama silase Rumput Setaria Lama
Penyimpanan (Minggu)
Asetat Propionat Iso Butirat n-Butirat Iso-valerat n-Valerat
1 0,22 - 0,02 - 0,13 - 2 3,42 - 0,11 0,06 0,71 - 3 0,4 - 0,04 - 0,11 - 4 3,81 0,25 - 0,06 - - 5 0,19 0,02 0,01 - 0,01 - 6 2,43 0,08 - - 0,02 - 7 0,14 - - - - - 8 0,15 - 0,01 - - -
Asam laktat terbentuk dari hasil fermentasi karbohidrat dalam hijauan tersebut (Mc. Donald, 1964). Rata-rata pembentukan asam laktat memperlihatkan hasil yang hampir sama yaitu sebesar 12% pada minggu pertama sampai minggu ke 4, tetapi terjadi penurunan pada minggu ke 5 sampai 9,84 %. Penurunan ini disebabkan pada minggu ke 4 terjadi kebocoran pada plastik sehingga terjadi kontaminasi jamur. Pembentukan asam laktat tertinggi terjadi pada minggu ke 7 sebesar 14,12 %. Penambahan molases sangat berpengaruh terhadap pembentukan asam laktat, karena fermentasi asam laktat tergantung dari gula tersedia yang ada dalam bahan, penambahan molases akan meningkatkan gula tersedia sehingga meningkatkan fermentasi asam laktat. Besarnya kandungan asam laktat tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap pembentukan pH karena asam ini termasuk asam lemah dengan harga konstanta dissosiasi yang rendah dibanding asam-asam mudah menguap lainnya, tetapi asam laktat mempengaruhi mutu silase
yang dihasilkan lebih berbau harum dan disukai oleh ternak, sedangkan asam mudah menguap lainnya terutama asam butirat akan mengakibatkan silase berbau tengik dan tidak disukai oleh ternak.
Tabel 4. Perubahan asam laktat (%) selama silase Rumput Setaria Ulangan
Lama Penyimpanan
(minggu) I II III Rata-Rata S. D
1 11,13 13,01 12,37 12,18 0,05 2 9,5 12,11 13,01 12,21 2,75 3 12,4 11,01 12,40 12,1 0,98 4 12,61 12,31 12,51 12,46 0,15 5 11,92 7,80 9,58 9,84 2,06 6 11,82 10,92 15,52 12,69 2,51 7 12,82 17,43 12,1 14,12 2,89 8 10,53 16,53 - 13,53 4,24 KESIMPULAN
1. Berdasarkan data analisis yang diperoleh, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
2. Proses silase menurunkan kadar oksalat total sebesar 2,4% dan oksalat terlarut sebesar 2,6%.
3. Proses silase berlangsung cukup baik diperlihatkan dengan penurunan pH yang rendah (pH 3,74).
4. Akumulasi asam-asam mudah menguap (sebagai asam asetat) lebih besar dibandingkan asam mudah menguap lainnya, proses ketengikan hanya sedikit terjadi yang diperlihatkan dengan pembentukan asam butirat sebesar 0,01%.
DAFTAR BACAAN
Barnett, A.J.G., 1954. "Silage Fermentation" Aust. J. Exp. Agric. And Animal Husbandry., 6: 76-80. Catchpoole, V. R., 1970. The silage fermentation of some tropical pasture plant Tropical Grassland
Husbandry : 316 - 323.
Hodgkinson, A., 1977. Oxalic acid in biologi and medicine. Academic Press. London : 26 - 29, 214 - 216. Jonas, R.J., A.A. Seawrigh and D.A. Little., 1970. Oxalic poisoning in Animal Grazing the Tropical
Grass Setaria Sphaculata. J. of the Aust. Inst. Agric. Sci., 36: 41-43
Mc. Donald, P., 1964. Fermantation studies on Inoculated Herbage. J. Sci. Food. Agric. 15 : 429 - 435. Sutikno, A.I., B. Tangendjaja dan S. Kompiang, 1989. Laporan Akhir Hasil Penelitian IV-I/5/4/3/01.
Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Watson, S.J. and Nash, M.J., 1960. The convertion of grass and forage crops. Aust. J. Exp Agric and
110 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
GEJALA UMUM AKIBAT KEKURANGAN MINERAL PADA
TERNAK RUMINANSIA YANG MENYEBABKAN KEMATIAN
SUWANDI
Balai Penelitian Ternak PO.BOX 221 Bogor 16002
RINGKASAN
Ternak ruminansia termasuk ternak memamah biak, yang diberi pakan hijauan di kandang percobaan maupun yang suka merumput di padang pengembalaan, apabila ternak tersebut kekurangan mineral dalam ransumnya, maka ternak terdorong nafsunya untuk memakan apa saja yang dirasa mengandung mineral antara lain tanah, batu bata, senar, rambut, papan/kayu dan bekas kantong plastik, makanan tersebut di dalam lambung besar tergulung menjadi bentuk bola (Bolus). Bola/gumpalan ini tak dapat dicerna dan makin membesar bila ternak berulang kali memakan bahan yang sama, pada volume maksimal, gumpalan akan mengganggu ruminansi dan mulailah muncul gejala-gejala gangguan kesehatan yang mengakibatkan kematian.
Kata Kunci : Ternak ruminansia, Defisiensi, Mineral.
PENDAHULUAN
Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris sejak dahulu selalu berusaha untuk berswasembada pangan. Berbagai usaha telah diusahakan namun kendala yang muncul pun demikian kompleks, sehingga keinginan dan usaha yang telah dilakukan belum menunjukkan hasil yang sesuai dengan keinginan baik melalui pengembangan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan secara umum maupun melalui peternakan terutama untuk memenuhi kebutuhan protein hewani (Talib.C, 2001)
Ternak ruminansia mampu menghasilkan pangan bagi manusia dari sumber serat dan bahan bukan protein tanpa bersaing dalam memenuhi kebutuhan pakannya. Proses penggunaan pakan tersebut menjadi tersedia bagi produksi ternak sangat didukung oleh kegiatan mikroba di perut depan/rumen (Kuswandi, 1992). Sistim pencernaan pada ternak ruminansia adalah unik dan komplek. Hal ini disebabkan oleh besarnya peranan mikrobia yang mendiami reticulo-rumen dalam mengolah setiap bahan makanan yang di konsumsi. Pada sistim pencernaan seperti ini ternak tergantung kepada perkembangan populasi mikrobia yang berperanan sebagai sumber protein yang utama dan hasil proses pengolahan pakan oleh mikrobia (fermentasi) berupa asam lemak terbang (asam asetat, propionat butirat, valerat) yang berperanan sebagai sumber energi utama. Di samping itu, mikrobia mampu mensintesis vitamin (vitamin B kompleks dan vitamin K) yang sangat diperlukan dalam proses produksi (Doyle, 1987). Saluran pencernaan di dalam tubuh selain mempunyai fungsi mencerna makanan, menyerap zat-zat makanan juga mengeluarkan sisa-sisa makanan, namun ada beberapa aspek fisik yang ditemukan di dalam alat pencernaan yang mengganggu jalannya pencernaan sehingga dapat mengakibatkan kematian pada ternak karena adanya bolus/gumpalan yang sebelumnya termakan ternak baik berupa rambut, kantong plastik maupun senar.
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penyebab kematian yang terjadi pada ternak ruminansia.
GAMBARAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA DI LAPANGAN