LUGIYO
Balai Penelitian Ternak, P.O. Box 221, Bogor 16002
RINGKASAN
Keberhasilan usaha peternakan tergantung dari kecukupan tersedinya pakan hijauan yang berkelanjutan, maka perlu diupayakan usaha budidaya pakan hijauan sebagai pakan dasar usaha peternakan ternak ruminansia. Peningkatan produktivitas pada tanaman rumput dapat diusahakan dengan pengolahan tanah yang baik, pemupukan dan pemeliharaan tanaman. Salah satu jenis pupuk yang cukup baik agar sifat fisik tanah dapat dipertahankan adalah pupuk organik (dapat menggunakan kompos atau pupuk kandang). Kajian ini menggunakan pupuk kandang sapi, pupuk kandang domba dan pupuk kandang kelinci pada tanaman pakan ternak jenis rumput Panicum maximum cv. Riversdale. Kajian dilakukan dirumah kaca dan tanah kering dimasukkan polybag sebanyak 7 kg ditambah pupuk kandang 10 %. Pengamatan sampai umur 50 hari setelah tanam (hst) dan interval potong berikutnya setiap 42 hari, meliputi pertumbuhan, jumlah tunas, produksi hijauan berat segar dan berat kering. Hasil pengamatan secara keseluruhan bahwa pemupukan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan, jumlah tunas maupun produksi hijauan berat segar dan berat kering. Sementara tanpa pupuk kandang memberikan hasil yang terendah. Penggunaan pupuk kandang kelinci terhadap produksi hijauan segar lebih rendah 3,2 % dari pada pupuk kandang domba , namun jumlah tunas dan tinggi tanaman terbaik diperoleh pupuk kandang kelinci.
Kata kunc : Rumput Panicum maximum, pupuk kandang, produksi rumput.
PENDAHULUAN
Pada usaha peternakan, pakan adalah merupakan salah satu masukan yang penting. Penyediaan pakan hijauan merupakan masalah utama bagi setiap usaha pengembangan ternak ruminansia (Tillman dkk., 1983). Oleh karena itu keberhasilan usaha peternakan akan tergantung dari kecukupan tersedianya pakan hijauan yang berkelanjutan, maka perlu diupayakan usaha budidaya pakan hijauan sebagai pakan dasar usaha peternakan ternak ruminansia. Salah satu komponen pengelolaan yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam usaha budidaya hijauan pakan ternak adalah pemupukan (Susetyo dkk., 1969).
Pemupukan dilakukan untuk menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam setiap periode tumbuhnya. Peningkatan produktivitas pada tanaman rumput dapat diusahakan dengan pengelolaan tanah yang baik, pemupukan dan pemeliharaan tanaman. Dengan pemupukan kesuburan lahan garapan dapat dipertahankan atau bahkan dapat ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman rumput yang dibudidayakan (Rustandi dkk., 1990). Salah satu jenis pupuk yang cukup baik, agar sifat fisik tanah dapat dipertahankan adalah pupuk organik (dapat menggunakan kompos atau pupuk kandang). Pupuk ini dapat terbentuk dari daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung dan atau kotoran hewan yang sudah lapuk/hancur dan berubah menjadi bagian tanah (Murbandono, 1999).
Pupuk organik merupakan penyangga biologi yang mempunyai fungsi dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang (Kariada dkk., 2000). Pupuk organik yang banyak dipergunakan untuk tanaman pangan, sayuran dan tanaman pakan ternak umumnya dari kotoran sapi, domba dan ayam (Sajimin dkk.,2003). Dengan meningkatnya permintaan pupuk organik maka ketersediannya semakin sulit diperoleh. Ternak kelinci telah banyak dibudidayakan tapi pemanfaatan kotorannya sebagai pupuk organik belum pernah dilaporkan.
Dari hasil pemantauan tersebut timbul pemikiran penulis untuk memanfaatkan kotoran kelinci sebagai pupuk tanaman rumput hijauan pakan ternak. Sehubungan dengan itu maka dilakukan kajian untuk melihat sampai seberapa jauh pengaruh penggunaan tiga jenis pupuk kandang dapat meningkatkan produksi rumput Panicum maximum cv. Riversdale. Tujuan kajian ini untuk mengetahui pengaruh masing-masing pupuk kandang terhadap produksi berat segar dan produksi berat kering Panicum maximum cv. Riversdale.
BAHAN DAN CARA
Kajian dilakukan dilaboratorium rumah kaca Balai Penelitian Ternak Ciawi Tahun 2002/2003. Tanaman yang diuji rumput Panicum maximum cv. Riversdale. Media tanah yang digunakan adalah tanah dari Kebun Percobaan Balai Penelitian Ternak Ciawi. dengan menggunakan polybag yang diisi tanah sebanyak 7 kg dengan luas permukaan 0,5 m persegi. Sampel tanah dikeringkan udara selama 2 minggu, kemudian dihaluskan untuk menciptakan kondisi yang homogen pada media tanam. Bahan tanam pols rumput Panicum maximum cv. Riversdale, setiap polybag diisi satu tanaman.
Tanah yang dimasukkan polybag sebanyak dua belas kantong (Denah 1). Selanjutnya setiap polybag diacak untuk mendapatkan satu dari empat perlakuan pemupukan. Perlakuan dimaksud adalah : (A) pupuk kandang sapi, (B) pupuk kandang domba, (C) pupuk kandang kelinci dan (D) tanpa pemupukan. Jumlah pupuk yang diberikan adalah 10 % dari berat tanah yang dipolybag (0,7 kg) per kantong, selanjutnya disiram air sampai basah (jenuh). Hari berikutnya ditanam rumput Panicum maximum cv. Riversdale dengan menggunakan pols sepanjang +/- 25 cm.
Parameter yang diukur, tinggi tanaman setiap dua minggu sampai minggu ke VI. Cara mengukur dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi. Jumlah tunas dihitung bersamaan waktunya dengan mengukur tinggi tanaman dilanjutkan pengukuran produksi hijauan berat segar dan kering rumput Panicum maximum sebanyak enam kali pemotongan . Pemotongan pertama setelah tanaman berumur 50 hari dan interval potong berikutnya setiap 42 hari setinggi 5 cm dari permukaan tanah. Sebelum pengamatan tanaman yang ada diratakan pemangkasan terlebih dahulu untuk menyeragamkan pertumbuhan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 B D A C D C B A C B A D 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 0,5 m2 Gambar 1. Polybag kajian pemupukan tanaman rumput Panicum maximum di laboratorium
40 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi hijauan segar dan kering rumput Panicum maximum
Hasil pengukuran dari interval potong 42 hari dan enam kali pemotongan secara keseluruhan terlihat bahwa pemupukan sangat berpengaruh terhadap jumlah tunas, tinggi tanaman dan produksi rumput Panicum maximum. Sementara perlakuan dengan tanpa pemupukan memberikan hasil baik jumlah tunas, tinggi tanaman maupun produksi hijauan rumput yang terendah, tertera pada Tabel 1,2,3 dan 4.
Tabel 1. Rataan jumlah tunas rumput Panicum maximum (batang) untuk setiap perlakuan pemupukan di rumah kaca
Pemotongan Ke: *) Perlakuan
I II III IV V VI
Rataan Pupuk kandang sapi (A) 13,4 22,7 24,3 26,8 43,5 40,0 28,45 Pupuk kandang domba (B) 8,3 17,8 25,5 36,3 40,3 37,3 27,58 Pupuk kandang kelinci (C) 12,6 23,0 30,2 34,0 41,2 37,8 29,80
Tanpa pemupukan (D) 2,9 9,2 9,7 6,3 5,7 5,3 6,52
Keterangan : *) rataan dari tiga polybag
Tabel 2. Rataan tinggi tanaman rumput Panicum maximum (cm) untuk setiap perlakuan pemupukan di rumah kaca
Pemotongan Ke: *) Perlakuan
I II III IV V VI Rataan Pupuk kandang sapi (A) 92,6 83,3 80,7 81,0 80,5 76,3 82,40 Pupuk kandang domba (B) 90,9 89,3 99,8 91,2 85,2 81,0 89,57 Pupuk kandang kelinci (C) 93,1 89,8 91,0 102,2 97,0 92,8 94,32 Tanpa pemupukan (D) 46,1 64,8 75,5 60,7 55,2 53,7 59,33 Keterangan : *) rataan dari tiga polybag
Pada Tabel 1 dan 2 diatas terlihat bahwa rataan jumlah tunas pada perlakuan C. pupuk kandang kelinci, menghasilkan peringkat tertinggi (29,80 batang) kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan : A.pupuk kandang sapi (28,45 batang), B.pupuk kandang domba (27,58 batang) dan D.tanpa pemupukan (6,52 batang). Untuk tinggi tanaman pada perlakuan C.pupuk kandang kelinci menghasilkan peringkat tertinggi pula (94,32 cm) kemudian diikuti oleh perlakuan B.pupuk kandang domba (89,57 cm), A.pupuk kandang sapi (82,40 cm) dan D.tanpa pemupukan (59,33 cm).
Pertumbuhan jumlah tunas untuk perlakuan A,B dan C dari pemotongan I, II, III, IV,V dan perlakuan D dari pemotongan I, II dan III cenderung meningkat, sesudah pemotongan tersebut untuk perlakuan A, B, C dan D mulai menurun (Tabel 1). Untuk tinggi tanaman perlakuan A, B dari pemotongan I, II, III, IV, V tidak stabil dan pemotongan VI mulai menurun. Untuk perlakuan C dari pemotongan I, II, III, IV, V dan VI tidak stabil sedangkan untuk perlakuan D dari pemotongan I, II, III, cenderung meningkat tetapi mulai pemotongan IV, V dan VI cenderung menurun (Tabel 2).
Kalau kita perhatikan pada Tabel 1 dan 2 pertumbuhan dan perkembangan tunas mulai pemotongan VI cenderung menurun. Hasil produksi hijauan berat segar dan berat kering terjadi demikian juga, tertera pada Tabel 3 dan 4. Hal ini diduga pengaruh dari pupuk kandang sudah berkurang karena unsur hara yang diperlukan tanaman tidak tercukupi (Sajimin, 2000).
Tabel 3. Rataan produksi berat segar rumput Panicum maximum (gram/rumpun) untuk setiap perlakuan pemupukan di rumah kaca
Pemotongan Ke : *) Perlakuan
I II III IV V VI
Rataan
Pupuk kandang sapi (A) 176,8 140,9 68,8 67,3 63,5 43,0 93,38 Pupuk kandang domba (B) 130,3 151,7 94,7 105,8 93,8 60,7 106,17 Pupuk kandang kelinc (C) 170,2 60,2 88,5 80,2 72,7 45,5 102,88 Tanpa pemupukan (D) 8,0 34,0 40,7 13,8 6,3 6,0 18,13 Keterangan : *) rataan dari tiga polybag
Tabel 4. Rataan produksi berat kering rumput Panicum maximum (gram/rumpun) untuk setiap perlakuan pemupukan di rumah kaca
Pemotongan Ke : *) Perlakuan
I II III IV V VI
Rataan Pupuk kandang sapi (A) 28,3 30,3 16,7 16,6 14,8 12,3 19,83 Pupuk kandang domba (B) 19,3 28,3 31,2 26,0 20,0 16,0 23,47 Pupuk kandang kelinci (C) 25,8 34,7 22,8 21,2 16,3 12,5 22,22
Tanpa pemupukan (D) 2,4 9,4 11,2 3,8 2,2 1,5 5,08
Keterangan : *) rataan dari tiga polybag
Pada Tabel 3 dan 4 diatas terlihat bahwa rataan produksi berat segar dan berat kering menunjukkan tiap perlakuan sangat berbeda jika dibandingkan dengan tanaman kontrol (tanpa pemupukan). Pada perlakuan B.pupuk kandang domba menghasilkan peringkat tertinggi baik produksi berat segar maupun berat kering (106,17 ; 23,47) gram/rumpun, kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan C.pupuk kandang kelinci (102,88 ; 22,22) gram/rumpun, A.pupuk kandang sapi (93,38 ; 19,83) gram/rumpun dan D.tanpa pemupukan (18,13 ; 5,08) gram/rumpun.
Pada rataan jumlah tunas pupuk kandang domba bila dibandingkan dengan pupuk kandang kelinci maupun pupuk kandang sapi jumlahnya lebih rendah (27,58 batang). Bila dihubungkan dengan Tabel 3 dan 4 justru sebaliknya, produksi hijauan berat segar maupun berat kering menghasilkan peringkat tertinggi (106,17 ; 23,47) gram/rumpun. Kemungkinan yang menyebabkan jumlah tunas lebih rendah dikarenakan rumput lebih rimbun, diduga karena alat perkembangbiakan vegetatif, yaitu bagian tubuh tanaman yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru dan fotosintesa yang terjadi proses sintesa karbohidrat dari C02 yang dihisap dari dalam tanah dengan cahaya matahari sebagai sumber tenaga terganggu (Muchlis M. dkk. 1980).
KESIMPULAN
Pemberian pupuk kandang pada tanaman rumput Panicum maximum berfungsi memperbaiki sifat fisik tanah dan meningkatkan jumlah unsur-unsur hara di dalam tanah, sehingga dapat meningkatkan propduksi.Produksi hijauan berat segar dan berat kering rumput
42 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Panicum maximum terbaik diperoleh pemberian pupuk kandang domba (106,17 ; 23,47) gram/rumpun.
Penggunaan pupuk kandang kelinci produksi hijauan berat segar dan berat kering lebih rendah (3,2 % ; 5,6 %) dari pada pemberian pupuk kandang domba, namun untuk jumlah tunas dan tinggi tanaman rumput Panicum maximum terbaik diperoleh pupuk kandang kelinci dan diduga pupuk kandang kelinci memiliki mutu yang tinggi.
Dari hasil kajian ini disarankan perlu uji lapang dan multi lokasi dari berbagai jenis hijauan pakan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Endang Sutedi, S.Si Koordinator. Program Agrostologi dan Drs. Sajimin yang telah memberikan bimbingan serta dukungan dalam melakukan kajian ini, teman-teman Agrostologi yang telah membantu selama pengamatan ini berlangsung dan tak lupa ucapan terima kasih disampaikan kepada Pembahas dan Tim Makalah sehingga tulisan ini dapat selesai.
DAFTAR BACAAN
Kariada, I.K. dan I. Made Sukadana. 2000. Liptan IPPTP. No. Agdex : 253 dan 262/20. Denpasar - Bali. Muchlis, M. dan Hadmadi. 1980. Ilmu Hayat Dalam Pertanian . CV. Yasaguna, Jakarta.
Murbandono, L. 1999. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rustandi . 1982. Pengaruh Tingkat Pemupukan Kalium dan Tinggi Pemotongan terhadap Produksi dan Mutu Hijauan Rumput Gajah. Skripsi, LPP. Unsrat Menado.
Susetyo, Kismono dan B. Soewardi. 1969. Hijauan Makanan Ternak . Dir. Jen. Peternakan . Deptan, Jakarta.
Sosrosoedirdjo, R. S. , B. Rifai dan I. S. Prawira. 1990. Ilmu Memupuk. Cetakan 12. CV. Yasaguna , Jakarta
Sajimin, Yono C. Raharjo, Nurhayati D.P. dan Lugiyo. 2003. Integrasi Sistim Usaha Ternak – Sayuran Berbasis Kelinci Disentra Produksi Sayuran Dataran Tinggi. Laporan Akhir Tahun Balitnak, Ciawi-Bogor.
Tillman, A.D. , H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.Lebdosoekojo. 1983. Ilmu Makanan Ternak Dasar. UGM Press. Fafet UGM.