OLEH CULICOIDES LAIN ICD-9 066.3
DEMAM, VIRUS BUNYAMWERA ICD-10 A92.8
PENYAKIT VIRUS BWAMBA ICD-10 A92.8
DEMAM RIFT VALLEY ICD-10 A92.4
DEMAM WEST NILE ICD-10 A92.3
PENYAKIT VIRUS GRUP C ICD-10 A92.8
PENYAKIT VIRUS OROPOUCHE ICD-10 A93.0
1. Identifikasi
Kelompok virus yang menyebabkan demam dan biasanya berlangsung selama satu minggu atau kurang. Kebanyakan dari penyakit virus ini menyerupai dengue (lihat tabel pada bab pendahuluan arbovirus untuk penyakit yang ditularkan oleh Nyamuk). Gejala awal berupa demam, sakit kepala, malaise, arthralgia atau mialgia dan kadang-kadang mual dan muntah. Pada umumnya ada konjungtivitis dan fotopobia.
Demam bisa atau tanpa bentuk difasik. Ruam biasa terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh Virus West Nile. Meningoensefalitis terkadang merupakan komplikasi dari infeksi virus West Nile dan Oropouche. Penderita Rift Valley Fever (RVF) bisa disertai dengan retinitis, atau hepatitis disertai dengan perdarahan yang bisa berakibat fatal. Beberapa virus grup C dilapokan menyebabkan kelemahan di bagian bawah tungkai dan lengan tapi jarang berakibat fatal. Jika terjadi wabah RVF dan Oropouche, insidens penyakit biasanya mencapai ribuan penderita.
48
Tes serologis dapat membedakan penyakit ini dengan penyakit virus lain atau yang tidak diketahui penyebabnya, tetapi pada umumnya virus dengan genus yang sama sangat sulit dibedakan secara serologis. Pada beberapa kasus, isolasi virus dilakukan dari darah yang diambil selama demam dan di suntikkan pada anak tikus atau kultur sel. Infeksi laboratorium bisa terjadi dengan beberapa jenis virus ini.
2. Penyebab penyakit.
Setiap penyakit disebabkan oleh virus yang berbeda namanya sama dengan penyakitnya.
Virus West Nile, Banzi, Kunjin, Spondweni dan Zika adalah masuk kelompok flavivirus; kelompok bunyavirus grup C adalah Apeu, Caraparu, Itaqui, Madrid, Marituba, Murutucu, Nepuyo, Oriboca, Ossa dan Restan. Oropouche adalah bunyavirus dari grup
Simbu. RVF termasuk dalam kelompok phlebovirus. Kelompok lainnya yang lebih kecil tertera dalam tabel pendahuluan.
3. Distribusi penyakit.
Virus West Nile menyebabkan KLB di Mesir, Israel, India, Perancis, Rumania, Republik Czecho dan tersebar di Afrika, daerah Mediteran Utara dan Asia Barat. Demam Rift Valley, Bwamba dan Bunyamwera sejauh ini hanya ditemukan di Afrika. Virus grup C terdapat di daerah tropis Amerika Selatan, Panama dan Trinidad. Demam Oropouche
ditemui di Trinidad, Panama dan Brazil. Virus Kunjin di Australia. Kejadian musiman tergantung pada kepadatan vektor. Penyakit biasanya muncul di daerah pedesaan, walaupun kadang-kadang RVF, Oropouche dan virus West Nile menimbulkan ledakan KLB di daerah “suburban” dan perkotaan.
4. Reservoir
Sebagian besar dari jenis virus ini tidak diketahui reservoirnya, beberapa jenis virus mungkin ada secara terus menerus dalam siklus nyamuk vertebrata di daerah tropis. Virus Oropouche bisa ditularkan oleh Culicoides. Burung adalah sumber dari infeksi nyamuk untuk Virus West Nile, tikus berperan sebagai reservoir pada virus grup C.
5. Cara penularan.
Kebanyakan cara penularan adalah melalui gigitan nyamuk infektif seperti yang tertera dibawah ini :
• Untuk virus West Nile, Culex univittatus di Afrika Selatan, C. modestus di Perancis dan C. pipiens di Israel.
• Untuk virus Bunyamwera, Aedes spp.
• Untuk virus grup C, spesies dari Aedes dan Culex (Melanoconion)
• Untuk virus Rift Valley (pada kambing dan binatang lain), vektor potensial adalah beberapa jenis nyamuk Aedes; Ae. mcinthoshi bisa terinfeksi secara transovarian dan bisa menjadi tempat tinggal virus RVF di daerah fokus enzootik.
Kebanyakan orang yang terinfeksi RVF karena menangani jaringan binatang pada waktu melakukan necropsy atau pemotongan hewan. Culex pipiens adalah vektor penyebab wabah RVF di tahun 1977 di Mesir yang menelan korban sedikitnya 600 kematian;
penularan mekanis oleh lalat hematopagus dan penularan melalui udara atau darah yang terinfeksi bisa menyebabkan terjadinya KLB RVF. Arthropoda lain bisa menjadi vektor, seperti Culicoides paraensis untuk virus Oropouche.
6. Masa Inkubasi.
Biasanya 3 – 12 hari.
7. Masa penularan
Tidak langsung ditularkan dari orang ke orang. Nyamuk yang terinfeksi mungkin menularkan virus sepanjang hidupnya. Terjadinya viremia, syarat penting untuk infeksi virus pada vektor, viremia pada manusia terjadi pada masa gejala klinis awal untuk kebanyakan virus.
8. Kerentanan dan kekebalan.
Semua golongan usia rentan terhadap penyakit ini, baik pria maupun wanita. Infeksi yang tidak jelas tanpa gejala dan penyakit ringan umum terjadi. Infeksi dapat menimbulkan imunitas, dan di daerah endemis anak-anak sangat rentan terhadap penyakit ini.
9. Cara-cara pemberantasan
A. Tindakan pencegahan.
1) Lakukan semua tindakan pencegahan yang diterapkan untuk ensefalitis yang ditularkan oleh nyamuk (lihat 9A1-6 dan 9A8). Untuk RVF, kewaspadaan umum perlu diperhatikan dalam penanganan binatang yang terinfeksi serta produknya, begitu juga terhadap penanganan darah fase akut pada manusia.
2) Vaksin RFV dalam taraf uji coba yang dibuat dari kultur sel yang diinaktivasi tersedia untuk manusia, sedangkan vaksin hidup dan vaksin dari virus yang diinaktivasi tersedia untuk imunisasi kambing, domba dan sapi.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya.
1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : pada daerah endemis tertentu dibanyak negara bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. Class 3B (lihat Tentang pelaporan penyakit menular). Untuk Rift Valley Fever, laporkan kepada WHO, FAO dan kantor International Epizootic di Paris.
2) Isolasi : Lakukan tindakan kewaspadaan universal sewaktu menangani darah dan cairan tubuh. Rawatlah penderita di ruangan yang telah diberi sekat kasa atau di tempat yang telah disemprot dengan insektisida setidaknya selama 5 hari sesudah onset atau hingga tidak ada demam. Darah dari penderita RVF mungkin menular. 3) Disinfeksi serentak : tidak diperlukan.
4) Karantina : tidak diperlukan.
5) Imunisasi kontak dan sumber infeksi: tidak diperlukan.
6) Investigasi dari kontak : Tanyakan dimana tempat tinggal penderita selama 2 minggu sebelum sakit. Cari penderita yang tidak dilaporkan atau yang tidak terdiagnosa.
50
C. Penanggulangan wabah :
1). Gunakan obat gosok anti nyamuk yang telah dirokemendasikan, untuk orang-orang yang terpajan gigitan nyamuk.
2). Hewan peliharaan yang sakit atau mati dan yang dicurigai terinfeksi RVF jangan dipotong.
3) Lakukan pengukuran kepadatan vektor nyamuk, cari dan musnahkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk.
4) Lakukan Imunisasi pada domba, kambing dan hewan ternak terhadap RVF.
5) Lakukan Identifikasi domba dan binatang-binatang lain yang terinfeksi (Rift Valley) dan lakukan survei serologis terhadap burung (West Nile) atau terhadap tikus (Virus grup C). Sebar luaskan informasi tentang prevalensi dari penyakit dan luasnya daerah yang terjangkit.
D. Implikasi bencana : tidak ada.
E. Tindakan internasional : Untuk RVF, lakukan imunisasi terhadap hewan dan dilarang memindahkan hewan dari daerah enzootik ke daerah bebas penyakit. Dilarang memotong binatang yang sakit ; untuk virus lainnya tidak ada tindakan spesifik kecuali upaya untuk mencegah perpindahan nyamuk melalui alat-alat transport seperti pesawat udara, kapal laut, dan kendaraan darat lainnya. Manfaatkan Pusat Kerjasama WHO.
II. Demam Virus yang ditularkan kutu ICD-9 066.1
Demam kutu Colorado ICD-10 A93.2
Demam kutu lainnya ICD-10 A93.8
1. Identifikasi.
Demam kutu Colorado (Colorado Tick Fever, CTF), adalah penyakit virus dengan gejala demam akut (kadang-kadang difasik) disertai ruam. Sesudah muncul gejala awal biasanya terjadi remisi singkat diikuti dengan serangan kedua demam yang berlangsung 2 – 3 hari disertai dengan neutropenia dan trombositopenia yang hampir selalu terjadi pada saat demam hari ke 4 – 5. Ciri-ciri khas dari CTF adalah penyakit dengan gejala klinis yang sedang, kadang-kadang disertai dengan ensefalitis, miokarditis dan cenderung terjadi perdarahan. Kematian jarang terjadi. Virus Bhanja dapat menyebabkan kelainan syaraf yang berat dan dapat menimbulkan kematian; infeksi SSP juga terjadi dengan virus Kemerovo dan Thogoto (yang terakhir mungkin menyebabkan hepatitis).
Konfirmasi hasil tes laboratorium dari CTF dibuat dengan mengisolasi virus dari darah yang disuntikkan pada tikus muda atau kultur sel atau dengan melihat adanya antigen pada eritrosit dengan metode IF (Virus CTF bisa berada dalam eritrosit sampai dengan 120 hari). Metode IFA dapat mendeteksi serum antibodi kira-kira 10 hari sesudah onset penyakit. Berbagai metoda diagnosa untuk konfirmasi demam virus yang ditularkan oleh
kutu bervariasi satu sama lain walaupun hanya sedikit, kecuali dalam hal penggunaan serum untuk isolasi virus sebagai pengganti penggunaan eritrosit.
2. Penyebab penyakit.
Adalah virus Demam kutu Colorado, penyakit domba Nairobi (Ganjam), Kemerovo, Lipovnik, Quaranfil, Bhanja, Thogoto dan virus Dugbe.
3. Distribusi penyakit.
Demam kutu Colorado endemis di pegunungan dengan ketinggian diatas 5000 kaki di bagaian barat AS dan Kanada. Virus diisolasi dari kutu Dermacentor andersoni di Alberta dan British Columbia. Penyakit ini sering terjadi di tempat rekreasi atau terpajan di tempat kerja (tempat pendakian, tempat memancing), pada lokus-lokus enzootik; variasi musiman paralel dengan tingginya aktivitas kutu (bulan April – Juni di pegunungan Rocky
Mountain di AS). (Distribusi geografis dari virus lain bisa dilihat pada tabel).
4. Reservoir
Reservoir dari CTF adalah mamalia kecil seperti bajing, landak, bajing tanah dan
Peromyscus spp; termasuk juga kutu terutama D. andersoni.
5. Cara penularan.
Melalui gigitan kutu yang infektif. Kutu yang belum dewasa (D. andersoni) mendapatkan virus CTF pada waktu mengisap darah binatang yang mengalami viremia; mereka menularkan virus dengan cara trans stadial dan menularkan pada manusia ketika kutu dewasa menghisap darah.
6. Masa inkubasi : biasanya 4 – 5 hari.
7. Masa penularan
Tidak langsung ditularkan dari manusia ke manusia kecuali melalui transfusi darah. Siklus pada kehidupan liar berlangsung dalam tubuh kutu, yang tetap infektif sepanjang hidupnya. Virus ada dalam darah selama demam, sedangkan pada CTF, virus ada didalam eritrosit dari 2 hingga 16 minggu atau lebih sesudah mulai sakit.
8. Kerentanan dan kekebalan.
Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Jarang terjadi serangan kedua.
9. Cara – cara Pemberantasan
A. Cara Pencegahan : perlindungan individu dengan menghindari gigitan kutu, lakukan tindakan pengendalian kutu dan hewan pengerat (lihat Lyme Disease, 9A).
B. Pengawasan Penderita, Kontak & Lingkungan Sekitarnya :
1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat : di daerah endemis tertentu (AS), dan di kebanyakan negara, bukan merupakan kasus yang wajib dilaporkan, Kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2). Isolasi : hati-hati terhadap cairan tubuh dan darah penderita, tidak boleh menjadi donor selama 4 bulan setelah sembuh dari sakit.
52
4). Karantina : tidak diperlukan. 5). Imunisasi : tidak ada.
6). Investigasi kontak dan sumber infeksi : selidiki daerah yang terjangkit kutu. 7). Perawatan spesifik : tidak ada.
C. Tindakan Penanggulangan Wabah : tidak diterapkan.
D. Implikasi Bencana : Tidak ada
E. Tindakan Internasional : manfaatkan pusat kerjasama WHO.
III. DEMAM VIRUS YANG DITULARKAN PHLEBOTOMINE
ICD-9066.0; ICD-10 A93.1