• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi bagi Masyarakat Sipil

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 158-163)

Saat Habermas mengemukakan pentingnya ‘ranah’ yang terpisah dari negara dan memiliki posisi yang sejajar terhadap kekuatan negara (Habermas, 1989), tantangan yang kini dihadapi warga negara menjadi berlipat ganda: jalinan ranah yang mampu berdiri berhadapan dan sejajar dengan industri, dan dalam sebuah relasi yang dapat sejajar menghadapi industri dan pemerintah. Warga negara yang otonom akan mengandalkan eksistensi ranah yang seperti ini.

Selain itu, pertanyaan mengenai proses pembuatan keputusan telah memberi pelajaran. Bisa disimpulkan bahwa cara yang umum dipakai, yaitu yang lebih efektif dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan, adalah dengan menggunakan pendekatan ‘pintu belakang’, alih-alih melobi dan beradvokasi secara ‘tradisional’, seperti yang tercantum dalam studi sebelumnya (Lim, 2011: 26). Analisis kebijakan juga memberi kita dua pemahaman: pertama, terkait pentingnya keberadaan pelaku yang berpengaruh dan kepentingannya; kedua, bahwa proses pengambilan keputusan merupakan jalan yang panjang dan memerlukan pengawasan yang stabil dan berkelanjutan dari masyarakat sipil. Penting bagi masyarakat sipil untuk mempertahankan energinya demi mampu memonitor proses tersebut sampai selesai.

Dalam kaitannya dengan kebijakan media, keteguhan seperti itu telah terbukti efektif dalam pembebasan frekuensi 2,4 GHz, yang terutama didorong oleh para aktivis TI sampai akhirnya diterima oleh kementerian. Pendekatan yang mirip bisa jadi efektif, terutama terkait penggunaan infrastruktur alternatif dan upaya mendorong inklusi konten lokal. ‘Praktik-praktik terbaik’ dan inovasi warga negara sering kali dapat membangkitkan perubahan besar dibandingkan dengan kebijakan yang tidak efektif. Keadaan dan tantangan ini pada akhirnya memerlukan strategi dan pendekatan baru yang harus digerakkan oleh organisasi masyarakat. Seperti yang dikemukakan dalam penelitian Open Society Foundation, bahwa kerjasama antara para teknokrat dan aktivis hak asasi manusia harus didorong secara aktif, demi berkembangnya peranti pendukung hak asasi manusia yang inovatif (Puddephatt, 2011: 20). Pentingnya piranti pendukung ini membuat masyarakat harus mengkaji ulang cara dan strategi mereka dalam berinteraksi dengan media massa, serta mempergunakan media sosial untuk menyampaikan opini publik dan menciptakan tekanan sosial agar dapat mempengaruhi proses pembuatan kebijakan. Berbagai bukti nyata (seperti yang banyak dikemukakan dalam Nugroho, 2011a) menunjukkan bahwa hal ini mungkin untuk diwujudkan.

Akhirnya, kami menawarkan beberapa implikasi praktis dengan sejumlah catatan.62 Pertama, jika

memang angin zaman saat ini berhembus ke sisi ‘kebebasan individual’ dibandingkan pada ‘otoritas publik’, beragam upaya untuk memperbaiki ‘otoritas publik’ (misalnya melalui aparat administratif negara, agen publik, dan kebijakan publik) dapat dipastikan akan menghadapi penolakan yang kuat. Prasangka timbul bukan karena upaya-upaya ini tidak didasari niat yang baik, melainkan karena di Indonesia, idiom zaman akan menganggap upaya semacam ini tak layak dilakukan (persis dengan bekerjanya prinsip kawanan atau ‘herd principles’). Kedua, melihat kondisi yang ada, sekecil apapun kemungkinannya, harapan harus ‘ditemukan’ atas dasar ‘kebebasan individual’. Ketiga, meski berisiko klise, isu ini menggarisbawahi perlunya re-edukasi atas selera masyarakat. Namun, ada keterkaitan di sini: upaya re-edukasi atas selera masyarakat akan mustahil jika mediumnya (yaitu media massa) yang digunakan untuk menyebarkannya juga kosong melompong. Karena itu cara dari sisi yang lain adalah dengan memberikan re-edukasi kepada para pekerja dan profesional media. Namun, gagasan ini hanya masuk akal jika kita berasumsi bahwa pekerja media masih mempertahankan independensi

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia143

mereka—sebuah asumsi yang dalam kenyataannya terlalu dangkal—dan bahwa ada institusi yang mampu melakukannya. Kami sangat menyadari kesulitan ini. Namun, di sinilah kesempatan bagi masyarakat, warga negara, dan jurnalis yang peduli: seperti AJI dan KPI seharusnya didorong untuk menjalankan lembaga pendidikan yang mampu mere-edukasi pekerja media. Hasilnya akan memiliki efek jangka panjang, sayangnya upaya ini masih belum dikembangkan dengan serius.

8.2 Menjamin Hak-Hak Warga Negara atas Media Melalui

Kebijakan: Sejumlah Kesimpulan

Kewarganegaraan yang aktif dan kritis telah dimungkinkan melalui reformasi dan perkembangan media terbaru. Kebijakan yang saat ini ada di Indonesia, utamanya UU Penyiaran dan UU Pers, telah memberikan arah normatif yang harus dijadikan acuan oleh pelaku media dan non-media. Prasyaratnya telah ditetapkan.

Oleh karena itu, ranah publik sebenarnya terbuka untuk keterlibatan aktif warga negara. Media telah diberi mandat untuk memastikan praktik-praktik yang mereka jalankan tetap berada dalam batasan- batasan ideal tersebut. Namun, perkembangan industri media yang terutama digerakkan oleh logika pasar sedikit banyak berkontribusi pada perubahan karakter ranah publik yang kini menjadi lebih pragmatis. Kondisi ini semakin suram karena tiadanya kebijakan media yang mampu meregulasi industri media sehingga nilai-nilai komersialnya juga bisa berkontribusi secara positif bagi perbaikan kehidupan masyarakat. Kami menemukan bahwa upaya terbaru dalam merevisi UU Penyiaran dan digitalisasi lebih dipengaruhi oleh nilai komersial dan berpotensi memarginalisasi penyiaran komunitas yang sebenarnya merupakan salah satu media yang memiliki potensi besar berkontribusi pada perbaikan masyarakat.

Bagaimanapun, untuk meminta pemerintah memformulasikan kebijakan seperti itu, kita perlu menyadari bahwa ada ancaman potensial dari pemerintah sendiri. Melihat dinamika politik Indonesia saat ini, proses pembuatan kebijakan telah menjadi sebuah arena pertarungan, atau pasar, dari kelompok-kelompok berbeda yang memiliki kepentingan untuk mempengaruhi kebijakan. Yang terburuk adalah adanya sejumlah tendensi yang jelas terlihat dari negara untuk kembali mengontrol ranah publik melalui sarana-sarana baru, termasuk kebijakan. Meskipun tindakan tersebut tidak berasal dari dalam sektor media sendiri, tetapi langkah-langkah kontrol akan memukul tepat pada inti pelaksanaan hak-hak warga negara atas media, dan akan terlihat dari ukuran yang dipakai pemerintah dalam menilai wacana kebebasan berpendapat.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, sudah tiba saatnya bagi warga negara untuk mengambil peran lebih aktif dalam memastikan dan menjalankan hak mereka atas media: dalam mengakses infrastruktur media, dalam mengakses konten media, dan dalam mengakses proses pembuatan kebijakan media. Hal ini tidak pernah menjadi tugas yang mudah, bahkan dimensi ‘perjuangannya’ hampir tanpa batas. Saat ada banyak bentuk keterlibatan, fokus kami lebih kepada prinsip pengorganisasiannya: jaringan warga negara yang peduli. Hanya lewat jaringanlah wacana mengenai transformasi dan perubahan dapat tertanam dalam keterlibatan warga negara—yang sangat signifikan saat diterjemahkan dan dimaterialisasikan menjadi pergerakan.

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 144

8.3 Agenda ke Depan

Ada sedikitnya empat agenda praktis yang dapat dipertimbangkan untuk segera diimplementasikan: Pertama, melanjutkan proses revisi UU Penyiaran. Meskipun agenda politik di dalamnya tampak jelas, sulit untuk melibatkan publik dalam proses pembuatan kebijakan. Di sinilah muncul permintaan bagi warga negara yang aktif dan peduli untuk secara terbuka menuntut proses revisi dibuat transparan agar dapat dilihat publik. Revisi UU Penyiaran harus digunakan sebagai momentum publik untuk menetapkan landasan baru bagi keterlibatan warga negara dalam memastikan perlindungan terhadap hak-hak mereka atas media.

Kedua, demi kepentingan publik, agenda selanjutnya seharusnya adalah mengembalikan otoritas KPI. Tanpa otoritas penuh, KPI hanya akan mendampingi Kemenkominfo dalam meregulasi lanskap media. Dengan adanya KPI sebagai institusi publik yang independen dan memiliki otoritas, maka KPI akan memastikan eksistensi kanal publik untuk menyampaikan kekhawatiran terkait kinerja media di Indonesia.

Ketiga, temuan-temuan kami menunjukkan bahwa media (atau forum) alternatif sangatlah penting untuk memberi kesempatan warga negara mengambil peran aktif dalam isu-isu yang secara langsung berhubungan dengan mereka. Seperti yang kami perlajari dari riset ini, media komunitas menawarkan lebih dari sekadar wacana publik: media komunitas menyediakan akses untuk pengalaman komunal dan, yang paling penting, menawarkannya sebagai bagian dari jaringan proyek sosio-kultural dan sosio- politik. Kebijakan-kebijakan media tidak boleh membahayakan eksistensi media alternatif di Indonesia, tetapi justru harus memeliharanya.

Terakhir, meski kami banyak memberi perhatian terhadap adopsi TIK besar-besaran dalam media, definisi yang kabur dalam UU ITE harus diklarifikasi. Publik dan masyarakat sipil harus meminta peraturan pemerintah yang membatalkan pemberlakuan Pasal 27 UU ITE.

Sepanjang laporan penelitian ini, kami telah menegaskan pentingnya peran kebijakan dalam perkembangan media di Indonesia. Kebijakan-kebijakan media, atau justru ketiadaannya, memiliki implikasi luar biasa terhadap media sebagai industri dan kehidupan masyarakat di Indonesia. Berangkat dari sini, kami menyerukan perlunya gagasan-gagasan di masa mendatang yang dapat memberdayakan warga negara dan organisasi masyarakat untuk secara strategis menjalankan hak- haknya atas media dan pada akhirnya, akan mengarah ke perubahan dalam masyarakat. Pelaksanaan hak-hak tersebut akan membantu mengkonstruksi media kita sehingga mampu mempertahankan fungsi dasarnya, yaitu memediasi publik.

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia147

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 158-163)