• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlunya Konvergens

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 143-145)

Secara teknologi, dan juga ekonomi, konvergensi media tampaknya merupakan perkembangan yang tidak dapat dihindari. Konvergensi ditandai dengan dijalankannya aktivitas media berbasis IP (Internet protocol). Pemahaman yang sederhana dari konvergensi adalah penggabungan penyiaran tradisional dengan telekomunikasi (Puddephatt, 2011: 3). Konvergensi utamanya merupakan isu teknologi. Sebagai konsekuensi langsung dari kemampuan teknologi ini adalah bahwa industri harus menyesuaikan diri dan mulai memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh keunggulannya. Sebagaimana yang diungkapkan salah satu responden:

Konvergensi itu sebetulnya technological threat kan. Jadi sebetulnya dia memaksa kita kerjasama itu karena teknologinya, bukan karena kita mau. Bukan karena keinginan saya. Tapi karena teknologinya. Backbone-nya yang membuat kita mau nggak mau [harus menerapkannya] (Nezar Patria, Vivanews, wawancara, 10/10/2011, huruf miring ungkapan asli narasumber).

Seperti yang telah ditunjukkan sejumlah peristiwa di seluruh dunia, teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijakan. Regulasi hanya dapat merespon perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Dengan

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 128

demikian, konvergensi dan digitalisasi teknologi pasti membawa kita menuju sebuah wilayah abu- abu antara bentuk intrastruktur yang berbeda dan saluran distribusi (Netherlands Scientific Council for Government Policy, 2006: 47). Demi menghindari area abu-abu ini, pembuat kebijakan harus merancang pedoman baru mengenai agenda media. Konsekuensinya, pemerintah harus memprakarsai RUU Konvergersi Media, yang sekarang sedang dalam proses legislasi sebagai revisi atas UU Telekomunikasi No. 36/1999.

Saya mengatakan RUU Konvergensi Telematika itu sangat heavy kepada kepentingan pemodal. Indikatornya antara lain [adalah] lebih kepada bentuk-bentuk lembaga- lembaga ekonomi, bentuk-bentuk usaha yang akan bergerak di dalam telematika (Paulus Widiyanto, wawancara, 14/10/2011, huruf miring ungkapan asli narasumber).

Sejumlah pihak telah mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa dengan perundangan yang ada saat ini, aplikasi TIK (termasuk situs) bisa jadi harus mendapatkan lisensi dari Kemenkominfo dengan membayar biaya (Freedom House, 2011: 11). Pembahasan RUU tersebut cukup intens, dan hingga kini belum ada tanda-tanda jelas pihak mana yang paling direpresentasikan dalam proses pengambilan keputusan. Kelompok kepentingan seperti Mastel telah memberikan masukan yang memadai kepada pembuat kebijakan55, dengan harapan akan ada prosedur yang lebih mudah untuk mendapatkan

perizinan dalam bisnis infrastruktur media.

Di sisi lain, korvergensi juga merupakan sebuah skema yang digunakan industri untuk mendapatkan cara yang lebih efisien dalam memproduksi informasi dan konten. Dengan memiliki sarana yang beragam tetapi hanya satu sumber informasi, produser media memiliki lebih banyak pilihan saluran tanpa harus menambah lini produksi mereka. Meski begitu, konvergensi bukanlah masalah teknis murni. Hal ini juga bersifat ekonomis. Seperti yang dikemukakan anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo:

Nah, sebenarnya isu konvergensi ini adalah efisiensi modal. Pengembangan teknologi baru untuk mengefisienkan investasi. Yang dibayangkan kalo merger itu, di setiap kota itu cukup ada 1 – 2 wartawan untuk semua grupnya, cetak, radio dan sebagainya (Agus Sudibyo, wawancara, 27/10/2011).

Dari sisi industri, perusahaan Visi Media Asia (ANTV-TVOne-Vivanews) telah dianggap sebagai perusahaan yang cukup ‘progresif’ dalam membaca tren media dan pasar, dan telah merancang agenda konvergensi.

IPO VIVA itu menunjukan keseriusan dari ANTV kemudian TVOne dan vivanews dot com itu bersama-sama dalam grup VIVA untuk mewujudkan konvergensi media (Zulfiani Lubis, wawancara, 16/11/2011).

VMA telah mempersiapkan gedung baru untuk mengakomodasi kebijakan ‘satu atapnya’, di mana ketiga perusahaan media akan bekerja dan berkolaborasi. VMA juga telah merancang ruang kendali digital dan peralatan teknis lainnya. Mereka juga memiliki rencana yang lebih jelas untuk pembagian tugas dan telah merancang peran-peran perusahaannya, yaitu Visi Media Asia akan berperan sebagai penyedia konten dan Bakrie Telecom56 akan bertindak sebagai penyedia jaringan.

55 Untuk pengamatan mendalam mengenai dokumen yang membahas RUU tersebut, lihat www.mastel.or.id (02/12/2011).

56 Visi Media Asia dan Bakrie Telecom merupakan perusahaan yang beroperasi di bawah Bakrie Group yang dimiliki oleh pemimpin partai yang pernah berkuasa, Golkar, Aburizal Bakrie.

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia129

ANTV dalam posisi yang mendukung konsep bahwa entitas bisnis boleh menjadi network provider dan juga menjadi content provider (Zulfiani Lubis, wawancara, 16/11/2011, huruf miring ungkapan asli narasumber).

Sebuah pandangan yang lebih menarik diberikan oleh salah satu eksekutif Lippo Group yang secara terbuka mengkonfirmasi ketertarikan perusahaannya atas konvergensi dan menilainya sebagai strategi yang menguntungkan, dan bukan hanya sebagai sebuah konsekuensi teknologi:

Pada umumnya kita melihat apa konvergensi. Iya kan? [Pertama,] konvergensi sebagai sesuatu yang nggak bisa dihindari. Terus kedua, itu adalah masalah leveraging infrastructure. Ya antara kebetulan dan bukan kebetulan juga, ya, karena ini merupakan bagian dari kelompok usaha Lippo. Dari sisi shareholder juga kan mengarahkan ... apa yang bisa di-

leverage – infrastruktur yang sudah ada ya digunakanlah. Ya sah-sah saja kan, [karena] itu punya kita. Sebagai contoh misalnya jaringan kabel optik. Di Jakarta kita sudah banyak

nih kabel optik. Apa itu bisa digunakan sebagai ... misalnya alat komunikasi kita? Untuk mengkomunikasikan data misalnya. Atau misalnya dalam kapasitas TV ... kita bisa bikin mini studio di mana-mana gitu, kan bagus. Harus free lah itu. Nah, contoh kedua mungkin kita punya jaringan misalnya hotel-hotel ... misalnya ada Sea Games di Palembang ... [dan] kita ada properti-properti di situ. Itu ya bisa dibayangkan ... harusnya jauh lebih memudahkan untuk operasional, misalnya jurnalis atau operasional kegiatan marketing communication [untuk meliput acara itu] (Edy Sambuaga, mantan CEO Beritasatu Media Holdings, wawancara, 10/12/2011, huruf miring ungkapan asli narasumber).

Langkah ini menggambarkan strategi kerjasama yang digunakan Kompas TV (Kompas Gramedia) yang pada awalnya bekerja sama dengan First Media (Lippo Group) untuk menyediakan jaringan telekomunikasinya. Di sisi lain, permasalahan konvergensi bisa jadi segera diambil alih oleh ‘suguhan teknologi’ yang lain, yaitu digitalisasi.

Negara-negara lain telah membangun sistem penyiaran digital, dan Indonesia lagi-lagi tertinggal dalam mengadopsi sistem tersebut. Namun, hal ini tidak akan bertahan lama.

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 143-145)