• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merebut Kembali Ranah Publik

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 73-76)

Mayoritas diskusi tentang media di Indonesia saat ini adalah mengenai rating, sensasi, komersialisasi, dan bahkan kecenderungan campur tangan dalam urusan orang lain—seperti yang diperhatikan sejumlah pengamat. Hanya sebagian kecil perhatian tentang bagaimana media seharusnya diperbaharui demi membantu warga negara terhubung satu sama lain. Lanskap media yang lebih mengikuti rating

dan sensasi daripada regulasi dan substansi tentu membuat kita bertanya: Sejauh apa partisipasi publik melalui media dapat benar-benar dijamin dan dimungkinkan? Apakah partisipasi publik yang ditawarkan media saat ini sungguh-sungguh asli, ataukah hanya sebatas simbol yang dikonstruksi oleh industri media sebagai bentuk baru alat pemasaran?

Dengan dikuasainya industri media oleh konglomerat yang memiliki agenda pribadi dan kepentingan politik tertentu, tantangan bagi warga negara Indonesia adalah memerangi monopoli opini publik. Dengan demikian, sangat penting bagi publik, baik individu maupun kelompok, untuk senantiasa mencari cara menyalurkan suara mereka. Indonesia telah melewati dinamika yang menarik dalam penggunaan Internet dan keterlibatan publik, dimulai dengan penggunaan milis (mailing list) pada

26 Fakta yang terobservasi ini, serta argumentasi dan wacana tentang menipisnya batasan antara “pribadi” dan “publik”, dikemukakan dalam festival video oleh ruang rupa di Jakarta, 2011. Lihat http://news.okvideofestival. org/.

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 58

awal gerakan reformasi. Selanjutnya, antara 1999 hingga 2000, perkembangan dunia blog di Indonesia mulai tampak, sebagian besar blog pada awalnya ditulis oleh warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja di bidang teknologi informasi (Freedom House, 2011). Jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 15.000 pada 2007 (Lim, 2011: 9). Blog kini telah menjadi bagian umum dari portal berita online besar. Hampir semua portal online besar memiliki blog terpisah, sehingga para pembacanya dapat berkontribusi.

Meski banyak diperdebatkan, fakta menunjukkan bahwa media baru memiliki kemampuan menciptakan gerakan sosial di dalam cakupannya. Studi sebelumnya (Nugroho, 2011a: 80) menggarisbawahi bagaimana kombinasi penggunaan media baru dan media sosial berhasil memperluas ruang publik. Beberapa kasus telah menunjukkan bahwa media dapat mengangkat sejumlah agenda dan memaksa pemerintah merespons dan bereaksi. Bagaimanapun, kasus seperti Prita Mulyasari, unjuk rasa Cicak- Buaya yang fenomenal, dan beberapa kejadian lain telah mengajari kita bahwa publik dapat berperan sebagai kelompok berpengaruh, serta bahwa suara publik dapat diangkat hingga ke level yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Di sisi lain, ‘eksodus menuju Facebook’27, menimbulkan skeptisisme atas efektivitas media online dalam

mendorong warga negara bereaksi secara lebih langsung pada ruang offline. Click-activism (didiskusikan dalam Nugroho, 2011a: 80) mengacu pada perilaku umum pengguna Internet yang menunjukkan keterlibatan hanya melalui dunia online, tetapi tidak pernah melibatkan diri dalam gerakan secara

offline dan langsung. Meskipun Click-activism bisa jadi memiliki andil dalam menyuarakan dan menyebarkan gagasan di Internet, jika berdiri sendiri, perilaku ini tidak akan cukup untuk membuat perubahan. Alasannya jelas: karena perubahan hanya terjadi di dunia nyata yang offline. Lebih lanjut, dunia online pada dasarnya problematik. Ini adalah kasus yang sering ditemukan dalam bisnis media: menciptakan informasi yang mengarah dari kelompok bawah ke atas, yang dihasilkan oleh para pengguna memang mungkin terwujud, tetapi hanya sejauh industri tersebut memiliki kuasa untuk mengarahkan agenda. Partisipasi publik melalui tulisan di blog dan komentar interaktif dalam program media tertentu (misalnya dalam surat kabar online, televisi online, atau radio) merupakan contoh yang pas. Saat di satu sisi masukan publik benar-benar asli dan langsung, program-program yang digunakan (dan bahkan cara berinteraksi) berada di bawah kepentingan media, dan tentu hanya akan bereaksi terhadap komentar atau mengambil langkah sesuai dengan kepentingan mereka. Dengan demikian, partisipasi bisa dimungkinkan jika ada ketertarikan media arus utama untuk menghasilkan cara baru dalam pembuatan informasi, yang menghasilkan nilai-nilai komersial/material baru. Media pun telah beralih menjadi institusi ekonomi semata dan mengabaikan perannya dalam fungsi sosial. Anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo, dalam wawancara pada 27/10/2011, juga memiliki pandangan yang sama kuatnya mengenai hal ini.

Kesadaran warga negara dan publik merupakan faktor krusial dalam memperoleh kembali ranah publik melalui media. Individu dan komunitas harus memahami hak-hak dan tanggung jawab mereka terkait akses terhadap media dan infrastruktur. Mengutip McChesney (2007), Arsenault dan Castells (2008) meyakini bahwa kesadaran dan kepedulian warga negara mengenai kebijakan media makin besar meski korporasi media sering mempengaruhi keputusan tentang regulasi (p. 10). Dalam konteks Indonesia, gerakan yang berbasis Internet dapat mengindikasikan kesadaran ini. Namun, tanpa menjadi terlalu skeptis, secara umum publik masih tidak sadar akan adanya oligopoli media dan industrialisasi. Dibutuhkan advokasi untuk mengatasi masalah ini. Sesuai dengan pernyataan anggota dewan Pers, Agus Sudibyo:

Kontrol publik ini belum kuat. Dalam artian bahwa media literacy kita itu masih lemah. Oleh karena itu, tidak ada sense of belonging dari masyarakat terhadap media. Masyarakat masih melihat media sebagai institusi bisnis; media sebagai property pribadi milik pemiliknya. Masyarakat belum tumbuh kesadarannya bahwa media itu sebagai institusi sosial. Nah jadi tidak ada public demand terhadap media yang benar-benar menggambarkan

27 Ekspresi ini digunakan untuk menggambarkan peningkatan besar-besaran pengguna Facebook di Indone- sia (Puthut et al., 2010:78).

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 59

kepentingan publik. Lemahnya public demand menjadi alasan untuk industri media untuk mengesampingkan dimensi-dimensi kepentingan publik (Agus Sudibyo, Dewan Pers, wawancara, 27/10/11, huruf miring ungkapan asli narasumber).

Sangatlah penting untuk menyadari kembali peran warga negara sebagai sebuah agen (pribadi aktif atau aktor) dan mengenali dimensi perubahan yang ganda, yaitu aktor dan struktur. Dalam hubungan yang dilandasi asumsi (atau ‘dualitas’; seperti yang diuraikan dalam Theory of Structuration oleh Giddens, 1984), aktor selalu merupakan subyek dari struktur yang memaksakan kekuasaan, tetapi secara bersamaan selalu memelihara otonomi relatif melalui refleksivitas yang dapat digunakan untuk menciptakan ruangnya sendiri dalam mengubah praktik-praktik media—atau dengan kata lain, menciptakan sebuah struktur alternatif. Dengan begitu, media dan media sosial dapat berguna sebagai alat untuk memfasilitasi tanpa merusak peran aktif warga negara sebagai aktor28. Sekali lagi, kita

dapat melihat bahwa di dalam demokrasi, kebijakan formal adalah alat untuk mengatur pelaksanaan dan praktik media yang pada akhirnya merupakan aspek penting untuk memungkinkan terjadinya keterlibatan publik dan masyarakat sebagai inti dari demokrasi itu sendiri.

4.5 Mengatur Media melalui Kebijakan

Saat berdiskusi mengenai kebijakan media di Indonesia, akan sangat membantu untuk terlebih dahulu menyusun daftar kebijakan yang mengatur, atau setidaknya mempengaruhi, kinerja media. Lihat Tabel 4.4 di bawah ini.

Kebijakan Media Konten/Isu

1 UU Hak Asasi Manusia No. 39/1999 Hak mengakses informasi

2 UU Telekomunikasi No. 36/1999 Menghapuskan monopoli Telkom

3 UU Pers No. 40/1999 Kebebasan pers, Dewan Pers

4 UU Penyiaran No. 32/2002 Siaran berjaringan, KPI

5 PP No. 49/2005 Aktivitas penyiaran asing

6 PP No. 50/2005 Penyiaran swasta

7 PP No. 51/2005 Penyiaran komunitas

8 PP No. 52/2005 Penyiaran berlangganan

9 UU ITE No. 11/2008 Transaksi elektronik, pencemaran nama

baik

10 UU Keterbukaan Informasi Publik No. 14/2008 Akses publik terhadap informasi

11 UU Perfilman No. 33/2009 Produksi dan distribusi film

12 RUU Konvergensi (dikeluarkan Januari 2012

sebagai revisi atas UU Telekomunikasi) Konvergensi media

Tabel 4.4 Kebijakan-kebijakan media di Indonesia Sumber: Para penulis.

Seperti yang dapat dilihat, ada sejumlah kebijakan yang mengatur cara kerja media. Namun, jika ada, apa sajakah dasar pemikiran dari kebijakan-kebijakan tersebut? Apa saja implikasinya terhadap media dan masyarakat, baik yang disengaja maupun tidak?

28 Meski ada tren penggunaan media sosial dan keterlibatan sosial, kita harus ingat bahwa bagaimanapun media sosial lebih bersifat sosial dan tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan ger- akan yang mengandalkan momentum seperti revolusi Arab (Arab spring). Seperti yang diungkapkan Lawrence Lessig, “tantangannya adalah menabur keragu-raguan” (Lessig, 2001:19).

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 60

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 73-76)