• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Kebijakan

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 154-157)

Terkait dengan kebijakan, perkembangan media tidak diragukan lagi akan terus menimbulkan berbagai tantangan baru. Menilik kapitalisasi media dan konsentrasi kepemilikan yang terjadi saat ini, pada level nasional ataupun lokal, pembuat kebijakan menghadapi fakta perlunya meregulasi industri media secara khusus. Industri media tidak dapat diperlakukan dengan cara konvensional seperti yang selama ini dilakukan.

Sebuah industri yang berurusan dengan sumber daya milik publik (frekuensi) tidak bisa dianggap sebatas bisnis seperti umumnya, karena dampaknya melebihi kalkulasi ekonomi rasional. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan mengingatkan kita bahwa UU Penyiaran harus selalu dipergunakan dalam menangani akuisisi dan merger media. Para regulator yang paling bertanggung jawab, yaitu KPI dan KPPU, harus mencapai mufakat dalam mengatasi permasalahan tersebut, terutama karena

8. Menjamin Hak Warga Negara atas

Media, Dahulu dan Kini: Implikasi dan

Kesimpulan

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia139

institusi media memiliki sifat-sifat yang berbeda dibandingkan dengan entitas bisnis pada umumnya. Untuk menghindari sengketa yang pernah terjadi, perpektif yang jelas harus disertakan dalam UU Penyiaran yang sudah direvisi. Selain itu, kode etik yang jelas juga mesti tercantum dalam regulasi pemerintah.

Kotak 6. Tantangan untuk Pembuatan Kebijakan

di Masa Depan

Sebagai kesimpulan dari riset ini, kami membayangkan tantangan terhadap proses pem- buatan kebijakan di masa depan, yaitu untuk memastikan akses terhadap media sem- bari menjamin kebebasan menghasilkan informasi.

Membandingkan dengan kerangka kerja regulasi di negara-negara lain dan juga melalui observasi tentang apa yang terjadi di Indonesia, kami menemukan bahwa konsentrasi kepemilikan telah menjadi salah satu perhatian para pembuat kebijakan. Di sini, kunc- inya adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara kebebasan untuk memiliki perusahaan dan perlindungan sarana dan kepentingan publik. Terutama, pembuat ke- bijakan dan masyarakat sekarang juga harus fokus kepada kebijakan yang mengatus aspek-aspek non-media, tetapi memiliki dampak pada aktivitas media, seperti misalnya RUU Rahasia Negara. Isunya kemudian diperluas menjadi hak-hak terhadap informasi, dan bukan sekadar hak-hak terhadap media.

Meski demikian, memastikan karakter publik dari media, dan menjamin aksesnya kepada masyarakat, bukan sekadar tugas pemerintah. Partisipasi aktif dan kritis dari warga ne- gara dan masyarakat sipil sebagai sebuah kesatuan juga diperlukan untuk memperkuat hasil kebijakan pemerintah yang ada. Sementara itu, para pembuat kebijakan perlu mempertajam perspektif mereka dalam mengelola media, mengkombinasikan aspek kegunaan dan nilai-nilai dalam memutuskan pilihan yang harus diambil demi menjaga fungsi media. Dalam konteks kita, agenda mendatang untuk semua pihak yang terlibat dalam lingkungan media, tanpa harus menjadi target jangka pendek, tergambar dalam diagram di bawah ini.

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 140

1. Merevisi UU Penyiaran No. 32/2022

2. Meningkatkan dan mengontrol infrastruktur 3. Melaksanakan USO

4. Mempertimbangkan dampak sosial kebijakan yang mempengaruhi hak warga negara atas media: RUU Rahasia Negara, RUU TIPITI.

Sumber: Para penulis (diagram); Dewan Ilmiah untuk Kebijakan Pemerintah Belanda (2006).

Di sini kami ingin mengingatkan bahwa mengatur stasiun televisi harus terus mendapat perhatian khusus dalam pembuatan peraturan (van Cuilenberg dan McQuail, 2003: 21) karena dampaknya yang begitu besar secara sosial-ekonomi, serta menekankan pentingnya penerapan sistem siaran berjaringan, karena sistem ini bisa jadi merupakan satu-satunya cara untuk mencapai keberagaman dari pilihan penyiaran yang diinginkan.

Praktik-praktik buruk dalam pengelolaan sumber daya dan konten media, seperti yang telah dijabarkan berbagai publikasi terdahulu dan kembali ditemukan dalam penelitian ini, juga menunjukkan perlunya pemerintahan yang cakap dan rasional (knowledgable governance) (Parsons, 1995: 427). Institusi-institusi yang bertanggung jawab, terutama Kemenkominfo, harus transparan dan mempublikasikan perizinan dan penggunaan frekuensi dalam laporan tahunan untuk memberi informasi kepada publik mengenai konstelasi kepemilikan media. Bagaimanapun, publik berhak mengetahui informasi tersebut.

Penyebaran infrastruktur media yang tidak merata menciptakan disparitas dan kesenjangan akses pada level dan kategori demografi yang berbeda (misalnya perkotaan vs pedesaan; perempuan vs laki-laki; dan area berkembang vs area kurang berkembang). Implikasinya jelas: dalam ekonomi yang semakin digerakkan oleh informasi dan pengetahuan, hal-hal semacam ‘kesenjangan non-fisik’ (misalnya akses) tidak lama lagi akan dimaterialisasi menjadi ‘kesenjangan konsekuensial fisik’ (seperti meningkatnya kesenjangan pendapatan dan memperluas permasalahan kemiskinan yang sudah ada). Jika pemerintah ingin mencapai target masyarakat informasi (information society) di Indonesia dalam waktu dekat (2018, seperti yang ditargetkan Kemenkominfo), yang mendesak untuk dilakukan adalah memastikan ketersediaan dan meratanya infrastruktur komunikasi yang memadai di seluruh Nusantara melalui kebijakan. Saat penetrasi seluler sudah cukup tinggi, penetrasi broadband kabel masih rendah dan ini menjadi tantangan terbesar untuk diatasi.

Ulasan terakhir dan paling penting mengenai dampak kebijakan adalah pelestarian ranah publik yang merupakan salah satu fungsi yang melekat pada media. Ranah publik yang sehat yang memungkinkan warga negara terlibat dalam interaksi bermakna yang difasilitasi media tidak dapat begitu saja diabaikan. Kebijakan harus mendorong media untuk mempertahankan fungsi sosial yang penting ini—salah satu caranya dengan memiliki konten yang berkualitas dan beragam. Di sini, ada dua implikasi: satu, harus ada sebuah organisasi publik yang independen yang memiliki mandat berdasarkan hukum untuk menjamin keberagaman dan ‘kecerdasan’ konten media—tanpa membahayakan kebebasan media dan pers. Memang, hal ini sulit, tetapi sangat penting untuk menunjukkan bahwa kita membutuhkan perubahan, bahkan reformasi kebijakan media. Dua, sangat penting untuk membangkitkan kembali dan merevitalisasi lembaga penyiaran publik Indonesia: RRI dan TVRI. Tanpa adanya penyiaran publik yang kuat dan berkualitas, tidak mungkin ada jaminan terciptanya ranah publik tempat warga negara dapat menyuarakan pandangan mereka dan dapat terlibat dalam interaksi yang sehat.

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia141

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 154-157)