• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 89-91)

Badan regulator utama media, Kementerian Komunikasi dan Informatika, telah berevolusi seiring waktu. Kementerian ini diresmikan pada awal berdirinya negara (1945) hingga akhir era Soeharto (1999) dengan nama Departemen Penerangan. Departemen ini pernah dibubarkan (1999-2001) dan difungsikan kembali menjadi Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi (2001-2005), lantas menjadi Kementerian Komunikasi dan Informatika (2005-sekarang). Perlu diketahui bahwa setelah dibubarkan sebagai bagian dari agenda reformasi (1998), Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi akhirnya dihidupkan kembali pada tahun 2001. Meski ada sejumlah perubahan, institusinya (yaitu staf, pegawai negeri, dan sumber daya material lainnya) tidak pernah benar-benar ditinggalkan dan dipersiapkan untuk sebuah transformasi menyeluruh: dari menjadi perpanjangan pemerintah dalam mengontrol dan meregulasi ranah publik menjadi pembuat kebijakan dan pelayan publik di bidang informasi dan komunikasi.

Kotak 2. Bagaimana Cara Mengajukan Izin Penyiaran?

Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) No. 28/2008, berikut adalah prosedur dalam mendapatkan izin penyiaran yang disebut Izin Prinsip Penyelenggaraan Penyiaran (IPPP). Aturan ini berlaku bagi semua entitas penyiaran, baik swasta maupun yang berbasis komunitas. Pada awalnya, berdasarkan UU Penyiaran No. 32/2002, izin ini diberikan oleh KPI. Namun, akibat adanya uji materi perundangan dan PP No. 50/2005, pengajuan perizinan kini diserahkan kepada Kemenkominfo, dan pemberian izin melalui diskusi dengan KPI.

Lembaga penyiaran pada dasarnya wajib memiliki lisensi lebih dulu sebelum bersiaran. Hal ini berlaku bagi penyiaran swasta ataupun komunitas. Prosedur formal dalam memperoleh izin adalah sebagai berikut:

Permohonan

diserahkan kepada â

Pemerintah (Kementerian Komunikasi dan Informatika); dan Komisi Penyiaran Indonesia

â

Evaluasi Dengar Pendapat

â

Forum Rapat Bersama

â

Izin Prinsip Penyelenggaraan Penyiaran

â

Uji Coba Siaran

(6 bulan untuk radio, 12 bulan untuk televisi)

Praktik yang baik dari penyiaran mensyaratkan tiap stasiun televisi dan radio mengajukan izin penyiaran. Permasalahannya terletak di level nasional, yaitu KPI Pusat di mana sebagian besar perizinan berada. Sementara itu, penyelenggara penyiaran komunitas, misalnya yang bersiaran dalam skala sangat terbatas, menunggu perizinan diterbitkan. Dengan demikian, dalam level tertentu, perizinan semacam ini dapat bersifat kontraproduktif dengan kebutuhan penyelenggara penyiaran skala kecil.

Namun, seperti yang dapat ditemukan di lapangan, praktik ini sering dibayangi oleh perdagangan dan kesepakatan mengenai perizinan. Hal ini juga diungkapkan oleh KPI: “Kalau di atas kertas, kalau kita nanya sih nggak ngaku ada unsur-unsur apa gitu, ya. Maksudnya jual beli...frekuensi dan lain-lain gitu, ya. Tapi kita nggak tahu lah, ya. Namanya orang bisnis, akalnya banyak. Selalu mendahului regulator. Perizinan, ya, kita

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 74

Perubahan dari kementerian menjadi pembuat kebijakan terbukti menjadi tugas yang sepele, tapi rumit, karena banyak birokrat level atas (eselon I hingga eselon IV) yang sebelumnya bertugas di Departemen Penerangan. Mereka masih mempertahankan sikap dan watak masa lalu di mana departemen menjadi aparatur negara untuk mengontrol publik. Padahal, kini mereka adalah pembuat kebijakan yang harus melindungi hak-hak warga negara atas media dan informasi. Kelihatannya hampir tidak mungkin untuk mengubah sikap tersebut, sehingga tidak mengejutkan bahwa banyak kebijakan yang kontraproduktif terhadap semangat reformasi dan merefleksikan ketakutan terhadap kebebasan berekspresi (FI dan FNS, 2010: 38). Jika harus memperlebar spekulasi ini, situasi di dalam Kemenkominfo akan membuat proses pembuatan kebijakan media rentan diintervensi kelompok kepentingan lain (misalnya, firma bisnis, partai politik, dan otoritas keagamaan), terutama karena tidak adanya kepekaan mengenai hak- hak warga negara atas media serta bagaimana hak tersebut bisa dilindungi melalui kebijakan.

juga ikut, tapi eksekusinya, ya ... saya mau cabut, pelanggaran. Kita nggak bisa. Harus Kominfo. Kalau perizinan, sih, kita terlibat. Berapa kali sih kita [menemukan bahwa] wah ini nggak bener. Jadi gini, kalau lagi proses perizinan itu ada tiga yang menilai. Yang satu, KPI di isi siarannya. Ya kedua, administrasi, Kominfo [yang menilai]. Yang ketiga, Balmon. Karena undang-undangnya masuk PPI. Itu soal frekuensinya. Mereka pakai frekuensi bener, nggak, alatnya apa kebesaran atau apa. Siaran ga selama tiga bulan, dan lain-lain itu Balmon. Nah, tiga unsur ini yang saling ketemu, lalu ya bicara soal itu” (Ezki Suyanto, KPI, wawancara, 16/09/2011, huruf miring ungkapan asli narasumber).

Hal yang relatif tidak diketahui berkenaan dengan prosedur formal, dan berlawanan dengan apa yang diketahui secara umum, adalah kisah yang diceritakan kepada kami di bawah ini. Perusahaan media di sini mengandalkan celah dan siasat yang diberikan makelar tertentu yang memiliki data tentang frekuensi. Perusahaan yang ingin memperluas jangkauan siar, atau memperbarui lisensi, sering terpaksa (dan lebih sering secara sengaja) menggunakan jasa orang dalam untuk memotong jalur prosedur dan menyelesaikan urusan. Penjelasan mendalam mengenai bisnis kotor yang dilakukan di belakang layar ini diberikan oleh responden yang meminta identitasnya tidak diungkapkan:

“Nah, di sisi yang lain ada dua alternatif, [untuk] memecahkan masalah lastmile connection. Yang pertama lewat satelit, dan yang kedua lewat TV lokal [yaitu baik] TV lokal yang punya frekuensi, maupun TV kabel lokal. Karena susahnya ngurusin PLN sama Telkom yang regulasinya sudah tertata dengan baik, [karena] mafia segala macamnya sudah berkumpul semua di situ, akhirnya mereka pakai cara jual beli frekuensi. Masuk lewat di mana [ada] akses ke satelit. TV X sekarang bekerja sama dengan asosiasi TV kabel lokal Indonesia, dengan beberapa TV yang diam-diam dan dirahasiakan, bukan dibeli ya, tapi dibeli sahamnya oleh A. Targetnya sih sekitar [yang] diperlukan untuk menjalankan bisnis plan yang dirancang oleh B, C. … supaya itu running sebenernya [dibutuhkan] minimal 30 TV lokal pada frekuensi, dan 60 TV kabel. ... Nah itu ya, ini masih permukaannya; ya nanti kita gali lebih dalam. Nah, berikutnya kelompok Y itu cukup unik dibandingin grup yang lain. Kalau kita tanya mantan pemred PU-nya Y, konten itu yang punya siapa? YY. Perusahaan apa? Y. Siapa yang punya? Nggak ada yang bisa menjelaskan. Padahal, yang dicari yang punya perusahaan siapa? Nggak ada yang bisa menjelaskan. ..Bagaimana soal agenda setting? Agenda setting itu gara-gara konglomerasi ini lebih brutal loh sekarang. Rapat [redaksi] di ZZ itu dipimpin langsung oleh D [yang datang ketika] mereka rapat agenda setting. [D tanya] Itu gimana soal air bersih? Seluruh PT ngomongin. [Lalu diteruskan] Oke kalo kepentingan publik. [Jadi, lihatlah] agenda settingnya dikendalikan oleh pemilik langsung. Sedangkan mereka ini sudah tertata seluruh frekuensinya dan sudah dikuasai seluruh bentuk medianya. [Semua] sudah mereka punya. [Bahkan] agenda setting-nya sudah di satu ruangan news room.” (Nama disamarkan; nama perusahaan disamarkan; huruf miring ungkapan asli narasumber)

Sumber: E. Suyanto (wawancara, 16/09/2011); responden dengan nama yang disamarkan (Oktober, 2011).

Centre for Innovation Policy and Governance

Memetakan Kebijakan Media di Indonesia 75

Dalam dokumen Riset kerjasama antara Didukung oleh (Halaman 89-91)