baik yang bersifat preventif, pengembangan maupun kuratif, sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat
berjalan lebih efektif (Sudrajat, 2014).
Sehingga dalam penelitian ini penulis
membatasi masalah hanya pada Upaya
menurunkan perilaku agresif bertengkar
peserta didik laki-laki kelas XI. IPS SMA Negeri
3 Sekayu melalui pemberian layanan
bimbingan konseling kelompok. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah disampaikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: apakah teknik layanan konseling kelompok dapat menurunkan perilaku agresif bertengkar peserta didik laki-laki di kelas XI IPS SMA Negeri 3 Sekayu?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari dilakukannya penelitian ini
adalah menurunkan perilaku agresif
bertengkar peserta didik laki-laki kelas XI. IPS SMA Negeri 3 Sekayu melalui layanan bimbingan konseling kelompok.
4. Manfaat Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat dalam membantu peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi antar sesama peserta didik,
membantu guru BK dalam memecahkan masalah yang dihadapi perserta didik, dan
menciptakan suasana sekolah yang
kondusifaman dan nyaman. B. Kajian Pustaka 1. Perilaku Agresif
Menurut Krahe (dalam Septiana, 2013) perilaku agresif adalah bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain baik secara fisik maupun verbal. Agresif secara fisik meliputi kekerasan yang dilakukan secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan lain sebagainya. Selain itu agresif secara verbal adalah penggunaan kata-kata kasar seperti bego, tolol. Selain bentuk agresif tersebut, ada faktor yang mempengaruhinya dalam perbuatan agresif diantaranya faktor belajar, faktor imitasi, faktor penguatan. Agresif seringkali digunakan oleh manusia sebagai jalan untuk mengungkapkan
perasaan dan menyelesaikan persoalan.
Agresif terjadi dimana saja seperti perkelahian antar pelajar,antar kampung bahkan antar negara. Agresi juga terjadi pada anak. Saat bermain anak saling bertengkar dengan mengejek, memukul atau melempar.
Perilaku agresif biasanya ditunjukkan
untuk menyerang, menyakiti atau melawan orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Hal itu bisa berbentuk pukulan, tendangan, dan perilaku fisik lainya, atau berbentuk cercaan, makian ejekan, bantahan dan semacamnya.
Perilaku agresifdianggap sebagai suatu
gangguan perilaku bila memenuhi persayaratan sebagai berikut:
a. Bentuk perilaku luar biasa, bukan hanya
berbeda sedikit dari perilaku yang biasa. Misalnya, memukul itu termasuk perilaku yang biasa, tetapi bila setiap kali ungkapan tidak setuju dinyatakan dengan memukul,
maka perilaku tersebut dapat
diindikasikan sebagai perilaku agresif. Atau, bila memukulnya menggunakan alat yang tidak wajar, misalnya memukul dengan menggunakan tempat minum.
b. Masalah ini bersifat kronis, artinya
perilaku ini bersifat menetap, terus-
menerus, tidak menghilang dengan
sendirinya.
c. Perilaku tidak dapat diterima karena tidak
sesuai dengan norma sosial atau budaya. Bentuk-bentuk perilaku agresif ini yang paling tampak adalah memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, tidak mau mengikuti perintah atau permintaan, menangis, atau merusak. Anak yang menunjukan perilaku ini biasanya kita anggap sebagai pengganggu atau pembuat onar. Sebenarnya, anak yang tidak mengalami masalah emosi atau perilaku juga menampilkan perilaku seperti yang disebutkan diatas, tetapi tidak sesering atau seimpulsif anak yang memiliki masalah emosi atau perilaku.
Anak dengan perilaku agresif biasanya mendapatkan masalah tambahan seperti tidak terima oleh teman- temannya (dimusuhi, dijauhi, tidak diajak bermain) dan dianggap sebagai pembuat masalah oleh guru. Perilaku agresif semacam itu biasanya diperkuat dengan didapatkan penguatan dari lingkungan berupa status, dianggap hebat oleh teman sebaya, atau
didapatkannya sesuatu yang diinginkan,
termasuk melihat temannya menangis saat dipukul olehnya.
2. Konseling Kelompok
a. Hakikat Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok (KKP)
adalah layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami sesuai dengan tuntutan karakter-cerdas yang terpuji melalui dinamika kelompok. Konseling
Sejuta | Upaya Menurunkan Perilaku Agresif Bertengkar
98 | ISSN : 2459-9743
kelompok juga didefinisikan layanan konseling yang mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok dengan konselor sebagai pemimpin kelompoknya untuk membahas masalah pribasi yang dialami oleh masing- masing anggota kelompok melalui dinamika kelompok.
b. Tujuan Konseling Kelompok
Tujuan umum layanan KKP adalah terkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Tujuan khusus KKP terfokus pada pembahasan masalah pribadi individu peserta kegiatan layanan. Melalui layanan kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah tersebut para peserta memperoleh:
1) Terkembangnya perasaan, pikiran,
persepsi, wawasan dan sikap terarah kepada tingkah laku khususnya dalam bersosialisasi/ berkomunikasi.
2) Terpecahnya masalah individu yang
bersangkutan dan diperolehnya imbasan
pemecahan masalah tersebut bagi
individu-individu lain peserta layanan konseling.
Dalam layanan Konseling Kelompok (KKP) berperan dua pihak, yaitu pemimpin kelompok dan peserta atau anggota kelompok. Pemimpin kelompok adalah konselor yang terlatih dan
berwenang menyelenggarakan praktik
konseling profesional. Untuk menjalankan kegiatan KKP, pemimpin kelompok harus :
1) Mampu membentuk kelompok dan
mengarahkannya sehingga terjadi
dinamika kelompok dalam suasana
interaksi antara anggota kelompok bebas, terbuka dan demokratik, konstruktif, saling mendukung dan meringankan
beban, menjelaskan, memberikan
pencerahan, memberikan rasa nyaman, menggembirakan dan membahagiakan serta mencapai tujuan bersama kelompok.
2) Berwawasan luas dan tajam sehingga
mampu mengisi, menjembatani,
meningkatkan, memperluas dan
mensinergikan konten bahasan yang tumbuh dalam aktivitas kelompok.
3) Memiliki kemampuan hubungan antar
personal yang hangat dan nyaman, sabar dan memberi kesempatan demokratik dan kompromistik dan mengambil kesimpulan dan keputusan tanpa memaksakan dalam ketegasan dan kelembutan, jujur dan tidak berpura-pura, disiplin dan kerja keras. c. Fungsi Layanan Konseling Kelompok
Fungsi utama KKP ialah fungsi
pengentasan, pencegahan dan pengembangan.
Fungsi pengentasan yaitu fungsi bimbingan
konseling yang akan menghasilkan
terentaskannya atau teratasinya berbagai permassalaah yang dialami oleh peserta didik. Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan
menganggu, menghambat ataupun
menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling yang akan menghasilkan
terpeliharanya dan terkembangkannya
berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap, optimal dan berkelanjutan
.
C. Hasil Penelitian
1. Data Awal Sebelum Tindakan.
Berdasarkan data yang ada di buku pembinaan peserta didik yang ada di konselor dan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan satu tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah peserta didik yang melakukan perilaku agresif bertengkar. Dari bulan Januari sampai dengan Juni 2014 terjadi 3 kasus pertengkaran antar peserta didik yang dilakukan oleh 13 peserta didik laki-laki kelas XI. IPS, data tersebut meningkat pada awal tahun ajaran baru dari bulan Agustus-November 2014 telah terjadi 5 kasus perkelahian yang dilakukan oleh 18 peserta didik kelas XI. IPS. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada peneliti
untuk segera mengambil tindakan agar
perilaku agresif peserta didik laki-laki
khususnya kelas XI. IPS menjadi berkurang, yaitu dengan cara memberikan layanan konseling kelompok.
2. Siklus Pertama a. Perencanaan
Siklus pertama dilakukan dua kali
pertemuan/ bimbingan. Pada pertemuan
pertama peneliti mempersiapkan materi
mengenai perilaku agresif yang diberikan pada
saat bimbingan konseling kelompok,
mempersiapkan lembar observasi perilaku peserta didik saat konseling kelompok dan
menyiapkan lembar evaluasi layanan.
Demikian juga pada siklus kedua, perlakuan yang diberikan sama dengan pertemuan kedua. b. Pelaksanaan
Pertemuan pertama konselor membagi peserta didik yang menjadi objek penelitian kedalam tujuh kelompok berdasarkan kelasnya masing-masing. Setelah konselor memberikan penjelasan teknis mengenai layanan konseling