• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN : 2459-9743 | 97 program layanan bimbingan dan konseling,

baik yang bersifat preventif, pengembangan maupun kuratif, sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat

berjalan lebih efektif (Sudrajat, 2014).

Sehingga dalam penelitian ini penulis

membatasi masalah hanya pada Upaya

menurunkan perilaku agresif bertengkar

peserta didik laki-laki kelas XI. IPS SMA Negeri

3 Sekayu melalui pemberian layanan

bimbingan konseling kelompok. 2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah disampaikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: apakah teknik layanan konseling kelompok dapat menurunkan perilaku agresif bertengkar peserta didik laki-laki di kelas XI IPS SMA Negeri 3 Sekayu?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini

adalah menurunkan perilaku agresif

bertengkar peserta didik laki-laki kelas XI. IPS SMA Negeri 3 Sekayu melalui layanan bimbingan konseling kelompok.

4. Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat dalam membantu peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan yang

dihadapi antar sesama peserta didik,

membantu guru BK dalam memecahkan masalah yang dihadapi perserta didik, dan

menciptakan suasana sekolah yang

kondusifaman dan nyaman. B. Kajian Pustaka 1. Perilaku Agresif

Menurut Krahe (dalam Septiana, 2013) perilaku agresif adalah bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain baik secara fisik maupun verbal. Agresif secara fisik meliputi kekerasan yang dilakukan secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan lain sebagainya. Selain itu agresif secara verbal adalah penggunaan kata-kata kasar seperti bego, tolol. Selain bentuk agresif tersebut, ada faktor yang mempengaruhinya dalam perbuatan agresif diantaranya faktor belajar, faktor imitasi, faktor penguatan. Agresif seringkali digunakan oleh manusia sebagai jalan untuk mengungkapkan

perasaan dan menyelesaikan persoalan.

Agresif terjadi dimana saja seperti perkelahian antar pelajar,antar kampung bahkan antar negara. Agresi juga terjadi pada anak. Saat bermain anak saling bertengkar dengan mengejek, memukul atau melempar.

Perilaku agresif biasanya ditunjukkan

untuk menyerang, menyakiti atau melawan orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Hal itu bisa berbentuk pukulan, tendangan, dan perilaku fisik lainya, atau berbentuk cercaan, makian ejekan, bantahan dan semacamnya.

Perilaku agresifdianggap sebagai suatu

gangguan perilaku bila memenuhi persayaratan sebagai berikut:

a. Bentuk perilaku luar biasa, bukan hanya

berbeda sedikit dari perilaku yang biasa. Misalnya, memukul itu termasuk perilaku yang biasa, tetapi bila setiap kali ungkapan tidak setuju dinyatakan dengan memukul,

maka perilaku tersebut dapat

diindikasikan sebagai perilaku agresif. Atau, bila memukulnya menggunakan alat yang tidak wajar, misalnya memukul dengan menggunakan tempat minum.

b. Masalah ini bersifat kronis, artinya

perilaku ini bersifat menetap, terus-

menerus, tidak menghilang dengan

sendirinya.

c. Perilaku tidak dapat diterima karena tidak

sesuai dengan norma sosial atau budaya. Bentuk-bentuk perilaku agresif ini yang paling tampak adalah memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, tidak mau mengikuti perintah atau permintaan, menangis, atau merusak. Anak yang menunjukan perilaku ini biasanya kita anggap sebagai pengganggu atau pembuat onar. Sebenarnya, anak yang tidak mengalami masalah emosi atau perilaku juga menampilkan perilaku seperti yang disebutkan diatas, tetapi tidak sesering atau seimpulsif anak yang memiliki masalah emosi atau perilaku.

Anak dengan perilaku agresif biasanya mendapatkan masalah tambahan seperti tidak terima oleh teman- temannya (dimusuhi, dijauhi, tidak diajak bermain) dan dianggap sebagai pembuat masalah oleh guru. Perilaku agresif semacam itu biasanya diperkuat dengan didapatkan penguatan dari lingkungan berupa status, dianggap hebat oleh teman sebaya, atau

didapatkannya sesuatu yang diinginkan,

termasuk melihat temannya menangis saat dipukul olehnya.

2. Konseling Kelompok

a. Hakikat Konseling Kelompok

Layanan konseling kelompok (KKP)

adalah layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami sesuai dengan tuntutan karakter-cerdas yang terpuji melalui dinamika kelompok. Konseling

Sejuta | Upaya Menurunkan Perilaku Agresif Bertengkar

98 | ISSN : 2459-9743

kelompok juga didefinisikan layanan konseling yang mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok dengan konselor sebagai pemimpin kelompoknya untuk membahas masalah pribasi yang dialami oleh masing- masing anggota kelompok melalui dinamika kelompok.

b. Tujuan Konseling Kelompok

Tujuan umum layanan KKP adalah terkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Tujuan khusus KKP terfokus pada pembahasan masalah pribadi individu peserta kegiatan layanan. Melalui layanan kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah tersebut para peserta memperoleh:

1) Terkembangnya perasaan, pikiran,

persepsi, wawasan dan sikap terarah kepada tingkah laku khususnya dalam bersosialisasi/ berkomunikasi.

2) Terpecahnya masalah individu yang

bersangkutan dan diperolehnya imbasan

pemecahan masalah tersebut bagi

individu-individu lain peserta layanan konseling.

Dalam layanan Konseling Kelompok (KKP) berperan dua pihak, yaitu pemimpin kelompok dan peserta atau anggota kelompok. Pemimpin kelompok adalah konselor yang terlatih dan

berwenang menyelenggarakan praktik

konseling profesional. Untuk menjalankan kegiatan KKP, pemimpin kelompok harus :

1) Mampu membentuk kelompok dan

mengarahkannya sehingga terjadi

dinamika kelompok dalam suasana

interaksi antara anggota kelompok bebas, terbuka dan demokratik, konstruktif, saling mendukung dan meringankan

beban, menjelaskan, memberikan

pencerahan, memberikan rasa nyaman, menggembirakan dan membahagiakan serta mencapai tujuan bersama kelompok.

2) Berwawasan luas dan tajam sehingga

mampu mengisi, menjembatani,

meningkatkan, memperluas dan

mensinergikan konten bahasan yang tumbuh dalam aktivitas kelompok.

3) Memiliki kemampuan hubungan antar

personal yang hangat dan nyaman, sabar dan memberi kesempatan demokratik dan kompromistik dan mengambil kesimpulan dan keputusan tanpa memaksakan dalam ketegasan dan kelembutan, jujur dan tidak berpura-pura, disiplin dan kerja keras. c. Fungsi Layanan Konseling Kelompok

Fungsi utama KKP ialah fungsi

pengentasan, pencegahan dan pengembangan.

Fungsi pengentasan yaitu fungsi bimbingan

konseling yang akan menghasilkan

terentaskannya atau teratasinya berbagai permassalaah yang dialami oleh peserta didik. Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan

menganggu, menghambat ataupun

menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan

konseling yang akan menghasilkan

terpeliharanya dan terkembangkannya

berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap, optimal dan berkelanjutan

.

C. Hasil Penelitian

1. Data Awal Sebelum Tindakan.

Berdasarkan data yang ada di buku pembinaan peserta didik yang ada di konselor dan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan satu tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah peserta didik yang melakukan perilaku agresif bertengkar. Dari bulan Januari sampai dengan Juni 2014 terjadi 3 kasus pertengkaran antar peserta didik yang dilakukan oleh 13 peserta didik laki-laki kelas XI. IPS, data tersebut meningkat pada awal tahun ajaran baru dari bulan Agustus-November 2014 telah terjadi 5 kasus perkelahian yang dilakukan oleh 18 peserta didik kelas XI. IPS. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada peneliti

untuk segera mengambil tindakan agar

perilaku agresif peserta didik laki-laki

khususnya kelas XI. IPS menjadi berkurang, yaitu dengan cara memberikan layanan konseling kelompok.

2. Siklus Pertama a. Perencanaan

Siklus pertama dilakukan dua kali

pertemuan/ bimbingan. Pada pertemuan

pertama peneliti mempersiapkan materi

mengenai perilaku agresif yang diberikan pada

saat bimbingan konseling kelompok,

mempersiapkan lembar observasi perilaku peserta didik saat konseling kelompok dan

menyiapkan lembar evaluasi layanan.

Demikian juga pada siklus kedua, perlakuan yang diberikan sama dengan pertemuan kedua. b. Pelaksanaan

Pertemuan pertama konselor membagi peserta didik yang menjadi objek penelitian kedalam tujuh kelompok berdasarkan kelasnya masing-masing. Setelah konselor memberikan penjelasan teknis mengenai layanan konseling

ISSN : 2459-9743 | 99