KARAKTERISTIK DAN KEUNIKAN AL QUR’AN
A. Karakteristik dan Keunikan Al qur’an ul kabiir 1 Gaya Bahasa
Karakteristik al-Qur’an dapat kita lihat dalam dimensi “ Gaya Bahasa “, hal ini dapat di bagi dalam dua bentuk :
a. Tidak Melampaui Pemahaman Umum dan tidak membatasi Tuntatan Khusus
Gaya bahasa al-Qur’an banyak di penuhi oleh bahasa sastera,
dan penyajiannya tidak akan melampaui pemahaman masyarakat umum, serta tidak membatasi tuntutan-tuntutan khusus. Walaupun demikian kedua tuntutan tersebut tidak akan pernah dan tidak akan bisa ditandingi oleh ahli bahasa manapun di dunia. Mereka hanya bisa berdalih dengan kaedah-kaedah “setiap tingkatan memiliki
gaya bicara sendiri”. Sedangkan untuk menemukan satu
pembicaraan yang bisa disampaikan dan diterima oleh semua kalangan, baik para cendikiawan, orang awam, raja, rakyat biasa, orang yang tergolong cerdas maupun yang lambat pikirannya (idiot), orang dewasa, dan anak-anak, laki-laki maupun perempuan, hanyalah ditemukan secara utuh dan sempurna dalam al-Qur’an.
Orang awam sekalipun bisa membaca al-Qur’an akan
merasakan keagungan al-Qur’an, merasakan manisnya ketenangan, dan tidak sulit untuk dipahami. Al-qur’an juga akan memberikan
perlindungan, terbuka membicarakan kondisi masa depan, dan
hidayahnya akan “mengguyurnya “, sehingga hati seseorang akan
selalu patuh, kedua matanya akan bersimbah air mata, dan dia selalu akan merasa selamat, serta mengakui kebenaran isi al-Qur’an.
Seseorang yang berilmu, jika membaca al-Qur’an akan
mengetahui keindahannya. Ilmu balaghah yang terkandung dalam al-Qur’an akan dipahami, penjelasan-penjelasan al-Qur’an akan dikuasai, ilmu-lmu pengetahuan yang termaktub baik bersifat tektual maupun kontektual terhadap ayat-ayat al-Qur’an, merasa
kagum terhadap berita-berita yang muncul dalam al-Qur’an, mampu
mengendalikan dan membimbing pikirannya, mengembangkan metode ilmu yang dimiliki, meluruskan pikirannya yang keliru, mendapat kedudukan yang tinggi. Sesuai dengan firman Allah swt.
“ Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. (QS. al-Mujadalah : 11)
b. Penggambaran yang bersifat maknawi
Maksud dari “Pengambaran“ adalah memunculkan pengertian
dengan kalimat yang hampir dikemas dalam bentuk personifikasi sehingga seakan akan bisa direngkuh dengan tangan kasar, dan meyeruak ke dalam kesadaran untuk kemudian mengerti secara sempurna, serta bentuk susunan kalimatnya tidak membebani hati. Juga keseluruhan pembahasan yang lebih serius dalam al-Qur’an
seolah – olah tidak akan memberatkan Anda.
Al-qur’an tidak pernah memaksa Anda untuk memahami dan
mengetahui cakupan lebih jauh, tetapi al-Qur’an akan membuat
Anda penasaran untuk selalu ingin tau, sehinga secara sadar terus mencetak, memperbanyak serta termotivasi ingin selalu mengkajinya. seperti pembahasan Sayid Quthub ulama besar dari Mesir, beliau menggunakan pola pengambaran makna, sehingga corak tafsir ini berbeda dengan tafsir – tafsir lain pada umumnya, dan bahkan banyak para Mufassir di lembaga-lembaga pengkajian Islam di Indonesia menjadikan sebuah rujukan dalam menyajikan dakwahnya, dan dalam kajian Ke-Islaman.
Personifikasi makna, kadangkala dengan visualisasi material, yang berarti menghadirkannya dalam bentuk fisik yang dapat menerima persamaan dan komperatif kata-kata yang sangat mendasar. Hal ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an, dimana Allah
swt mengidentifikasi Kata “ adzab “ sebagai suatu yang mendasar,
seperti dalam firmannya :
Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya, dan datanglah maut dari segenap penjuru, akan tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada adzab yang berat (QS. Ibrahim : 17)
Begitu pula halnya dengan kata “ Yaum” (hari) sebagai sesuatu
yng sangat “ “ berat “ seperti dalam firmannya :
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat [hari akhir] (QS. al-Insan : 27)
Jadi kata “adzab“ dinukilkan dari keadaan semula menjadi
makna yang mandiri (mujarrad) kepada sesuatu yang mempunyai dasar yang tinggi, sebagaimana yang terjadi pada nukilan kata “ yaum “ dari makna waktu penjelasan, yang tidak tertangkap (oleh indera) kepada sesuatu yang mempunyai persamaan atau keterbatasan dasar ukuran.
Dan masih banyak lagi karakteristik yang dimiliki al-Qur’an
yang berhubungan dengan gaya bahasa, diantaranya adalah, susunan prosanya indah, ukuran puitisasinya bagus, sulaman kalimatnya kokoh dan rapi, gaya bahasanya bervariatif, mempunyai kesatuan makna pengertian, bersandingya kata-kata yang bersifat global, dapat memberikan penjelasan, dan lafal-lafalnya simpel, serta memiliki maknannya sempurna.
c. Terpelihara Lewat Hafalan
Diantara sekian kemuliaan, dan dari sekian banyak karakteristk al-Qur’an adalah, bahwa Allah swt memberi tanggung jawab kepada ummat yang mengimaninya untuk mengahafal seluruh isinya. Misinya adalah untuk menjaga al-Qur’an secara mutawatir, jika
tidak, maka seluruh ummat Islam berdosa, dan ini tidak berlaku bagi kitab selain al-Qur’an. Sedangkan kitab Injil dan Taurat, bagi yang mengimaninya tidak diperintahkan untuk mengahafalnya, hanya cukup dibaca saja, kecuali hanya terdapat segelintir orang saja. Tidak ada anjuran untuk melestarikan sebuah kitab dengan cara menghafalnya segencar anjuran terhadap al-Qur’an, sementara pada
kedua kitab selaian al-Qur’an di atas tidak ada ketetapan yang pasti
(qath’i), sehingga kalimat-kalimatnya mudah diganti, diubah dan dibolak balik (diamendemen).
Rasulullah saw tidak ada secara khusus atau tegas menganjurkan ummatnya menghafal al-Qur’an, tetapi beliau secara
tersirat membimbing dan mendorong ke arah jalan yang ditetapkan al-Qur’an dengan cara menghafalnya, sehingga para shahabat dan
para tabi’in dan orang-orang sesudahnya banyak yang hafal al-
Qur’an. Upaya ini berlangsung secara kontinyue, dan ummat Islam banyak yang hafal al-Qur’an dalam rangka menjaga kelestarian.
Tidak pernah terlintas dalam hati para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), juga tidak pernah diimpikan, tentang upaya-upaya pelestarian al-Qur’an. Hal ini dapat kita lihat pada penomena yang ada, dan dapat kita akui menjamurnya lembaga-lembaga tertentu dan Pondok Pesantren memprogramkan mencetak penghafal al-
Qur’an,hal sudah di awali sejak al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW hingga pada era sekarang. Sementara pada kitab yang lain, menurut oksidentalis hampir dipastikan lembaga-lembaga pendidikan pengahafal Injil atau Taurat, tentu saja faktanya sangat minim.
Menurut salah seorang orientalis bernama Laura Feglery mengatakan : Di Mesir sendiri, sangat banyak orang yang hafal al-
ur’an dibandingkan orang yang mempu membaca Injil di seluruh Eropa (Faglery, 1963 :59). Sementara menurut Jimmy Mitchyz mengatakan : Barangkali al-Qur’an adalah kitab yang paling banyak
dibaca orang di dunia, karena al-Qur’an mudah kalimatnya sama dan mudah dihafal (dikutip dalam Kisyik,tt : 28)
d. Sanadnya Bersambung
Mayoritas orang yang mempelajari baca'an al-Qur’an adalah
lewat metode listerning (pendengaran), dan kurang memuaskan hasilnya kalau hanya mempelajarinya lewat lembaran-lembaran yang terdafat dalam mushaf. Para guru yang mengajarkan al-Qur’an
juga menerima pelajaran bacaan al-Qur’an lewat metode
pendengaran dari para syaikh (guru)-nya. Metode ini diterapkan secara dinamis sejak pada masa Rasulullah saw, para sahabat,
tabi’in sampai pada era sekarang ini.
Maka sanad al-Qur’an selalu bersambung kepada Rasulullah
saw sampai akhir zaman, berbeda dengan kitab-kitab suci selain al-
Qur”an. Dan Allah swt memang memberikan keistimewaan tersendiri kepada ummat ini. Sanad al-Qur’an akan selalu
bersambung kepada Rasulullah saw, sehingga luput dari kesalahan dan terjaga dari tangan-tangan jahil.
e. Hanya Muthokhhiriin Yang boleh menyentuhnya.
Al-qur’an dinuzulkan lewat perantaraan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw orientasinya untuk kemaslahatan ummat yang muncul fil-ardi ini dengan kaffah. Fungsi al-Qur’an diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw untuk membebaskan mereka dari kegelapan menuju dunia yang cerah, membersihkan virus-virus kebodohan (jahil). Untuk itu, suatu kewajiban ummat Islam untuk
selalu siap “Membaca“ al-Qur’an serta harus dalam kondisi “suci” atau “ Orang yang suci “, suci dalam arti sempit bebas dari hadats
kecil dan besar yang dipahami sebagian orang, tetapi suci dalam arti luas, yaitu sebagai berikut :
1. Harus suci dari sifat kufur dan syirik, karena itu orang kafir tidak boleh menyentuh al-Qur’an, dan mashaf al-Qur’an tidak
boleh dibawa ke negara-negara orang kafir.
2. Hati juga harus suci dari sifat riya’ (pamer) dan nifaq
(munafik), serta suci dari keinginan yang bersifat duniawi. 3. Tubuh harus suci dari hadats kecil dan besar. Bagi yang
berhadats besar harus mandi janabah, dan bagi yang berhadats
kecil disunatkan berwudhu’. Tidak ada perdebatan
berkepanjangan mengenai pendapat ini, tetapi ada sebagian ulama yang lebih ekstrim mewajibkan untuk berwdhu’.
4. Busana harus suci, yaitu pakaian yang layak dan seharusnya menggunakan pakaian yang suci, bersih, dan rapi, pakaian yang terbaik, bahkan sebaiknya menggunakan parfum atau berharum- haruman, seakan mengahadap raja.
5. Suci Mulut, artinya membersihkan mulut, bersiwak, atau menggosok gigi, karena ia merupakan sunnah Nabi Muhammad saw, dan dibudayakan oleh para sahabatnya. Hal ini khusus untuk membaca al-Qur’an, bukan kitab-kitab yang lain.
f. Terpelihara Sepanjang Zaman.
Berkenaan dengan ini Allah swt telah mngeluarkan statemennya melaui jalur firman-Nya dalam surah al-Hijr : 9
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-hijr : 9)
Sejak al-Qur’an diturunkan hingga sekarang, banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar, seperti peperangan, permusuhan atau bentrok antar ummat manusia, aktivitas pembakaran mashaf al-
Qur’an, Namun seandainya hal tersebut dialami oleh kitab selain al-
dialami kitab-kitab samawi terdahulu, yang isinya banyak di amendemen oleh tangan-tangan jahil manusia untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Fakta sejarah Islam terdahulu ada segelintir orang-orang kafir yang berusaha untuk melakukan perubahan, penggantian, dan pemutarbalikkan tulisan dan isi kandungan al-Qur’an, tetapi selalu
gagal dan tidak berhasil, serta selalu mendapat reaksi kritikan keras dari ummat Islam di seluruh penjuru dunia, karena Allah swt sendiri selalu memberikan cahaya yang menakjubkan kepada al-Qur’an.
Sementara kepada kitab-kitab terdahulu, Allah swt tidak berjanji untuk selalu menjaga dan memeliharanya, bahkan pemeliharaannya dipasrahkan sepenuhnya kepada pemeluknya, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab Taurat (yang) didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (QS. Al-maidah : 44)
g. Memiliki Multi Keunikan.
Al-qur’an memiliki keunikan sebagai sarana pembuka pintu untuk memberikan kemudahan-kemudahan kepada orang yang mempelajarinya sehingga mengerti seluk beluk Ilmu Syari’ah,
karena al-Qur’an itu sendiri adalah “ Fakultas Syari’ah “ tiang
agama, sumber hikmah, tanda-tanda risalah, serta sebagai cahaya mata dan akal. Tidak ada yang terbaik selain al-Qur’an untuk
menuju ke jalan Allah, dan tidak ada pelindung yang berharga selain dia, maka jangan sampai Anda berpegang kepada sesuatu yang berbeda dengan al-Qur’an (Syatibi : 346)
Al-qur’an adalah kalam Allah yang mulia, petunjuk jalan Allah yang lurus, konstitusi Allah yang kokoh, mampu memberikan kebahagiaan dan ketenangan bathin, kitab risalah Allah yang abadi, bukti kemukjizat yang abadi dan sangat luar biasa, rahmat dan hikmah yang indah, serta suatu nikmat yang amat sempurna.
Al-qur’an posisinya adalah sebagai landasan hujjah fundental Rasulullah, ayat-ayatnya sebagai saksi keotentikan kerasulan, sebagai alat realistis terhadap kenabian Nabi Muhmmad saw, kitab bagi ummat Islam yang membahas tentang Aqidah, ibadah, hikmah, hukum, etika, kepribadian atau karakteristik manusia, membicarakan tentang kisah atau sejarah, nasehat-nasehat, sains, informasi- informasinya berkualitas, sumber dan sarana hidayah, bukti kasih sayang Allah swt kepada seluruh ummat manusia, alat argumentasi jika ada kritikan, serta sebagai sentral petunjuk bagi manusia agar tidak terjerumus kedalam jurang kesesatan.
h. Memperoleh Syafa’at bagi Pembaca dan pendengar.
Keunikan yang dimiliki al-Qur’an bahwa ia bisa memberikan syafa’at pada hari kiamat kepada orang-orang membaca, mengkaji, dan mendengarnyo. Hal ini berdasarkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahi.i, bahwa Rasulullah saw telah bersabda :
“Bacalah al-Qur’an, ia akan datang pada hari kiamat sebagai
pemberi syafa’at kepada ashhab-nya. (HR. Muslim : 533)
Maka wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, di perintahkan untuk membaca, wahyu ini memberikan suatu simbol, bahwa orang muslim harus mau belajar al-Qura’an, gemar membaca al-Qur’an, kerna membaca al-Qur’an itu suatu ibadah yang amat mulia, dan akan memperoleh syafa’at
i. Sebagai Sarana Penyembuh.
Al-qur’an juga memiliki keunikan lain, fungsinya dapat
dijadikan sebagai alat penyembuh. Sejalan dengan apa yang diungkapkan dalam al-Qur’an yang berbunyi, artinya :
“Dan Kami turunkan al-Qur’an ayat-ayat yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman“. ( QS. al-Isra’ : 82)
“Katakanlah al-Qur’an itu petunjuk dan penawar“ . ( QS.
Fushshilat :44)
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada“. (QS. Yunus : 57)
Perlu kita pahami, bahwa Allah swt memberikan sifat kepada al-Qur’an sebagai “ penyembuh “ (syifa’), bukan sebagai “ obat ” (dawa’ ). Artinya kata penyembuh adalah upaya yang dihasilkan obat dan tujuan yang diharapkan, sedangkan maksud kata “ obat “
adalah upaya penyembuhan, yang kadang-kadang bisa sembuh dan tidak. Dan al-Qur’an di beri sifat sebagai penyembuh merupakan
sebagai ta’kid (penguat) terhadap hasil pengobatan yang melalui
proses perenungan yang bersumber dari al-Qur’an.
Tamsil Fenomena ini pernah diceritakan oleh Siti Aisyah, bahwa Rasulullah saw memberikan contoh penyembuhan lewat al-
Qur’an :
“Bahwa Nabi Muhammad saw meniup dirinya dengan (ayat- ayat) al-Ma’iidzat ketika sakit menjelang wafatnya. Maka ketika keras (sakitnya) aku meniup beliau dengan ayat-ayat tersebut dan mengusap dengan tangan beliau, mengharapkan barakahnya“ (Bukhari VII : 1979 :22).
Al-qur’an adalah penyembuh bagi penyakit jiwa. Sementara
mayoritas masyarakat modern beranggapan : tidak perlu berobat kepada ayat-ayat al-Qur’an, karena al-Qur’an dianggap obat yang “
Kurang Mujarab “. Hal ini berlaku di zaman ini yang menjadikan
hawa nafsu materealistis, keinginan pemuasan jasmani dan kelezatan kehidupan duniawi sebagai ajang kompetisi yang lagi ngetrend dan aktual. Merajalelanya penyakit-penyakit rohani disebabkan oleh berpalingnya manusia dari al-Qur’an dan minim
mengingat Allah. Sebagaimana firman Allah swt.
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sesak (QS.Thaha : 124)
Barang siapa berpaling dari Tuhan yang Maha Pemurah, kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman setianya (QS.az-Zuhruf : 36)
Untuk di ketahui dan dipahami bahwa penyembuhan adalah sangat erat dengan dzikir untuk memperoleh ketenangan, Sesuai dengan firman Allah swt.
Ingatlah!. Hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang (QS. ar-Ra’d : 28.
Selain itu yang termasuk karakteristik al-Qur’an di bidang
keutamaan, kemuliaan dan kedudukannya adalah bahwa membacanya mempunyai nilai ibadah, nama dan sifat yang dimiliki sangat banyak, orang yang membaca dan yang mendengarkanya diberi pahala, al-Qur’an diturunkan dengan dua cara serta diturunkan untuk meramal masa sekarang dan masa depan, yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab samawi sebelumnya. Al-qur’an
sendiri mengalami dua macam penurunan, sekaligus dan berangsur