• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendelegasian Wewenang (Otoritas) Kepala Madrasah

Dalam dokumen An Nahdhah Vol 10 Edisi Januari Juni 2016 (Halaman 72-80)

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB DALAM AL QUR’AN DAN HADITS

F. Pendelegasian Wewenang (Otoritas) Kepala Madrasah

Kunci perbedaan otoritas dan tanggung jawab adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Istilah otoritas singkatan dari kekuasaan atau hak yang diberikan kepada seseorang untuk membuat keputusan yyang

disebut wewenang, sedangkan tanggung jawab adalah kewajiban untuk memelihara dan mengatur kewenangan ditugaskan.36

Delegasi wewenang adalah pelimpahan atau pemberian otoritas dan tanggung jawab dari pimpinan atau kesatuan organisasi kepada seseorang atau kesatuan organisasi lain untuk melakukan aktivitas tertentu. Hal ini didasarkan bahwa pada esensinya hampir tidak ada seorang kepala madrasah yang dapat secara pribadi menyelesaikan secara penuh seluruh tugas organisasi seorang diri. Kepemimpinan kepala madrasah yang sukses tampak pada kepemimpinan menejer yang mempengaruhi bawahan untuk mengerjakan suatu tugas. Apabila bawahan mengerjakan tugas tersebut, berarti kepala sekolah sukses dalam kepemimpinannya, tetapi hal tersebut tidaklah efektif. Namun apabila bawahan mengerjakan tugas tersebut dengan rasa ketidaksenangan dan melakukan tugas tersebut hanya karena otoritas seorang manajer maka manajer tersebut sukses dalam kepemimpinannya.37

Seorang ahli dari Inggris J.C Denyer dalam The Liang Gie menyatakan bahwa seseorang manajer perkantoran harus memiliki pendidikan dan latihan yang tepat maupun ciri-ciri perwatakan yang cocok dengan tugasnya. Selanjutnya harus memiliki kemampuan melimpahkan pekerjaan maupun kecakapan dalam organisasi.38

Pada dasarnya pelimpahan wewenang dan tanggung jawab didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:39

1. Agar organisasi dapat menggunakan sumber dayanya secara efisien, tanggung jawab atas tugas yang detail yang dilimpahkan kepada hierarki organisasi yang paling bawah yang mempunyai kemampuan dan informasi yang cukup untuk pelaksanaan tugas tersebut yang secara kompeten. Dampak yang diharapkan atas konsep ini adalah

36http://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.differencebetween.info

/difference-between-authority-and-responsibility&prev=search diakses tanggal 20 Oktober 2015

37 H.B. Siswanto, Pengantar Manajemen, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hal. 163 38 The Liang Gie, Administrasi Perkantoran Modern, (Yogyakarta: Liberty, 2000), hal. 12. 39 Ibid. hal. 164

agar setiap individu dalam organisasi dapat melaksanakan tugas secara efektif.

2. Agar delegasi wewenang dan tanggung jawab berlangsung secara efektif, para anggota organisasi harus eksistensi mereka dalam suatu rantai komando. Prinsip ini mempertegas bahwa dalam suatu organisasi harus terdapat suatu garis wewenang dan tanggung jawab yang jelas.

3. Agar delegasi wewenang dan tanggung jawab itu berlangsung efektif, setiap anggota organisasi melaporkan hanya kepada satu atasan.

Dalam organisasi lini (garis) pendelegasian wewenang dilakukan secara vertikal melalui garis terpendek dari seorang atasan kepada bawahannya. Pelaporan tanggung jawab dari bawahan kepada atasannya juga dilakukan melalui garis vertikal terpendek. Perintahan-perintah hanya diberikan seorang atasan saja dan pelaporan tanggung jawab hanya kepada atasan bersangkutan.

Pendelegegasi wewenang merupakan suatu faktor yang penting di dalam manajemen dikarenakan: (a) menetapkan hubungan organisatoris formal diantara anggota-anggota badan usaha, (b) memberikan kekuasaan manajerial agar mereka mampu bertindak apabila keadaan memaksa dan (c) mengembangkan bawahan dengan cara memberi izin kepada mereka untuk mengambil keputusan dan menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh.40

Jika otoritas tidak pernah menjadi masalah, orang akan ingin mendelegasikan tanggung jawab secara maksimum. Dalam rangka paling lengkap untuk mewujudkan potensi dari setiap anggota, dan jaminan terbaik keberhasilan organisasi, pimpinan akan ingin memiliki semua orang merasa bertanggung jawab. Otoritas adalah cukup sederhana kemampuan untuk membuat keputusan tertentu tanpa harus meminta izin orang lain.

Modulasi otoritas adalah masalah yang lebih halus dari pada penyebaran tanggung jawab. Tidak seperti tanggung jawab, yang harus sepenuhnya didistribusikan mungkin, otoritas harus lebih hemat dibagikan.41 Wewenang dan tanggung jawab adalah fungsi dasar dipertimbangkan pada tahap utama dalam sistem manajemen. Dalam perusahaan sukses, ini adalah fungsi dasar yang dikelola oleh otoritas masing-masing organisasi.

Otoritas adalah suatu entitas atau kekuasaan untuk menegakkan hukum-hukum tertentu, aturan dan harapan. Kekuatan otoritatif selalu diberikan dengan kebebasan mengambil keputusan dan mengelola kendali yang diperlukan, untuk kepentingan organisasi.

Otoritas sebagai hak untuk memberi perintah. Tanpa otoritas, kepala madrasah tidak lagi menjadi manajer, karena ia tidak bisa mendapatkan kebijakannya dilakukan melalui orang lain. Dalam pendelegasian wewenang berjalan mengalir ke bawah, yaitu bekerja dari atasan atas ke pengikut lebih rendah.

Otoritas adalah kekuatan untuk memberi perintah dan mendapatkannya dipatuhi atau dengan kata lain itu adalah kekuatan untuk mengambil keputusan. Tanggung jawab berarti keadaan yang

akuntabel atau jawab untuk setiap kewajiban, kepercayaan, utang atau sesuatu atau dengan kata lain berarti kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan pada waktu dan dengan cara terbaik. Wewenang dan tanggung jawab yang terkait erat dan ini menyatakan prinsip bahwa kedua harus berjalan seiring. Ini berarti bahwa otoritas yang tepat harus didelegasikan untuk memenuhi tanggung jawab.

Berikut ini adalah perbandingan antara wewenang dan tanggung jawab:

41JonathanWallacedalamhttp://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.

Kewenangan Tanggung jawab Definisi Otoritas adalah kekuatan untuk

memberi perintah, membuat keputusan, dan menegakkan kepatuhan.

Tanggung jawab adalah fakta memiliki tugas untuk berurusan dengan sesuatu, atau memiliki kendali atas seseorang.

Pada dasarnya

Kekuatan. Tugas.

Fungsi utama 1. Perintah

2. Perintah memainkan peran penting.

1. tugas

2. Ketaatan memainkan peran penting.

Durasi Waktu

Jangka waktu lebih lama dibandingkan dengan tanggung jawab.

Itu akan selesai dengan selesainya tugas sehingga memiliki waktu yang lebih singkat.

Arus arah Mengalir ke bawah. Mengalir ke atas. Delegasi Hal ini dapat didelegasikan kepada

orang lain.

Hal ini tidak dapat didelegasikan. Contoh Hak manajer untuk perintah

bawahannya.

Kewajiban bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan.

Tanggung jawab adalah kewajiban, wewenang adalah hak, ketika hak dilaksanakan, kewajiban terlaksana, ketika hak dilaksanakan, kewajiban dilaksanakan maka tidak akan terganggu, kalau kewajiban terlaksana maka hak orang lain terpenuhi. Kewajiban dilanggar, maka hak tidak terpenuhi. Maka sepantasnya seorang kepala madrasah melaksanakan hak dan kewajiban dengan menjalankan weweenang dan tanggung jawab.

G. Kesimpulan

Manajemen dalam sebuah organisasi pada dasarnya dimaksudkan sebagai suatu proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan organisasi melalui wewenang dan tanggung jawab dalam penggunaan sumber daya organisasi. Wewenang adalah hak dan kekuasaan untuk

bertindak, membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain. Adapun bentuk-bentuk wewenang adalah: wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal), wewenang resmi dan tidak resmi, wewenang pribadi dan territorial, wewenang terbatas dan menyeluruh. Pendelegasian wewenang (otoritas) adalah pelimpahan atau pemberian otoritas dan tanggung jawab dari pimpinan atau kesatuan organisasi kepada seseorang atau kesatuan organisasi lain untuk melakukan aktivitas tertentu.

Tanggung jawab adalah keharusan untuk melakukan semua tugas- tugas (kewajiban) yang dibebankan kepada seseorang, sebagai akibat dari wewenang yang diterimanya atau dimilikinya. Tanggung jawab adalah kewajiban untuk melakukan sesuatu yang timbul karena seseorang telah menerima wewenang, maka dari itu, antara wewenang dan tanggung jawab harus seimbang.

DAFTAR PUSTAKA

Abu 'Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, al Jami' al-Sahih al- Musnad min Hadis Rasulillah Sallallahu 'alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi, Jilid. IIIKairo: al-Matba'ah al- Salafiyyah, 1403 H.

Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam,Taisirul-Allam Syarh

Umdatul-Ahkam, Jeddah: Maktabah As-SAWady Lit-

Tauzi’,1412/1992

Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar, CV Pustaka Setia, Bandung 1999 Ahmad Sunarta dan Syamsuddin Noor, Himpunan Hadits Shahih

Bukhari, Jakarta: An Nur, 2009

Al-‘Asqalani, Syihab al-Din Abu al-Fadl Ahmad ibn ‘Ali ibn

Hajar. Nuzhat al-Nazr Syarh Nukhbah. Mesir. al- Munawwarah. t.th. Ibn Hajar al-'Asqalani

Amin Abdullah, Membangun Paradigma Keilmuan Interkonektif Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-Interkonektif,

Cetakan: I, Februari 2006

Definisi Wewenang, http://artikata.com/arti-383651-wewenang.html George R. Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara,

2009

H.B. Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011

Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, Surabaya, CV. Haji Mas Agung, 1997

Hamka, Tafsir al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988, cet. I, juz XXII

Hari Suderadjat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah, Bandung: Cipta Cekas Grafika, 2004.

'Imad al-Din Abu al-Fida' Isma'il ibn Kasir al-Dimasyqi, Tafsir al- Qur'an al-Azim, jil. XI Kairo: Muassasah Qurtubah, 2000 M. Dawam Raharjo, Ensiklopedi Islam, Tafsir Sosial berdasarkan

Konsep-konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 2002

M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008

M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-

Qur’an,Jakarta: Lentera Hati, 2002

Malyu S.P Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012

Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Terjemah Shahih Muslim Riyadhus Shalihin Jilid III

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014, Tentang Kepala Madrasah

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 28 tahun 2010 Tentang Penugasan guru sebagai kepala sekolah/ madrasah, 20 Juni 2010

Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership, Yogyakarta: DIVA Press, 2008

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, 2008

Robbin dan Coulter, Manajemen (edisi kedelapan), Jakarta: PT Indeks, 2007

Roderik Martin, Sosiologi Kekuasaan, ter. Herjoediono, Jakarta: Rajawali Press, 1990

Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pres, 1990 Sudarwan, Menjadi Komunitas Pembelajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2003 The Liang Gie, Administrasi Perkantoran Modern, Yogyakarta: Liberty,

2000

Thomas Gordon, Kepemimpinan yang Efektif, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994

Wohjosumidjo, Kepimpinan Kepala Madrasah, Jakarta: Raja Grafindo Persada), cetakan ke 3.

MENDIDIK KELUARGA BAHAGIA

Dalam dokumen An Nahdhah Vol 10 Edisi Januari Juni 2016 (Halaman 72-80)