Kegiatan bermain pada mereka yang remaja dan dewasa berbeda dengan kegiatan bermain pada anak. Menurut Edward Miller and Joan Almon (2009: 53-54), terdapat beberapa kategori utama permainan dalam dunia anak. Pertama, permainan motorik kasar (Large-motor play), contoh: anak yang melakukan kegiatan memanjat, berlari, meluncur, melompat, bermain ayunan, dan melakukan setiap jenis gerakan-gerakan yang mungkin dilakukan anak. Bermain pada kategori ini akan mengembangkan koordinasi dan keseimbangan tubuh. Bermain motorik kasar membutuhkan tempat atau area yang cukup luas, agar anak dapat menjelajah dengan bebas. Kedua, permainan motorik halus (Small-motor
play), contoh ketika bermain dengan mainan berukuran kecil dan dalam kegiatan seperti merangkai manik- manik, bermain dengan teka- teki (puzzle), dan menyortir benda tertentu untuk
mengembangkan ketangkasan. Ketiga, mastery play, yaitu kegiatan bermain yang dilakukan anak secara berulang-ulang yang
membuatnya menguasai atau mencapai mastery dalam permainan tersebut. Contoh anak yang secara berulang kali bermain di balok keseimbangan. Keempat, permainan berbasis aturan, anak TK dan SD sangat menikmati membuat aturan mereka sendiri. Mereka menikmati proses saat harus bernegosiasi serta
bersosialisasi dalam pembuatan aturan untuk setiap situasi bermain yang dilakukan.
Kelima, bermain konstruksi, contoh:
membangun rumah, kapal, benteng, dan membuat struktur lainnya yang merupakan bentuk dasar bermain yang membutuhkan keterampilan dan imajinasi. Bermain konstruksi dilakukan menggunakan balok-balok kayu atau balok yang terbuat dari plastic. Keenam,
permainan berpura-pura, kategori permainan ini menggabungkan jenis-jenis permainan lain dan sangat kaya dengan aspek
pengembangan bahasa, pemecahan masalah, dan imajinasi. Permainan ini
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
sering dimulai dengan pernyataan “Mari kita berpura-pura bermain …” Titik-titik tersebut dapat diisi dengan apa pun yang mungkin untuk dialami dan dibayangkan oleh anak.
Ketujuh, permainan simbolis, dilakukan saat anak menggunakan benda atau obyek di tangan mereka dan mengubahnya menjadi mainan melalui proses fantasi atau imajinasi. Misalnya , seorang anak prasekolah yang memperlakukan meja seolah- olah sebuah mobil dan berkata, “Aku sedang memperbaiki mobil,” saat ia meraih kaki meja tersebut.
Kedelapan, permainan bahasa, anak dapat
mengembangkan diri dengan bermain menggunakan kata, kalimat pendek, sajak, pantun, dan lagu. Mereka sangat senang diceritakan kisah, legenda ataupun fabel dan melakukan dramatisasi kisah tersebut. Mereka sangat terpesona dengan pengguna- an bahasa asing, terutama ketika disajikan dalam bentuk permainan bercerita,
bersanjak, dan ber-nyanyi. Kesembilan, permainan seni, anak dapat mengintegra- sikan semua bentuk seni ke dalam permainan mereka, menggunakan kedua tangan- nya, mereka menggunakannya untuk menggambar, membuat model, membuat lantunan nada-nada atau musik, mela- kukan pertunjukan panggung boneka, dan lain sebagainya. Mereka mengeksplorasi seni serta menggunakannya untuk
mengekspresikan gagasan, perasaan, dan ide-idenya.
Kesepuluh, bermain sensori, sebagian besar anak menikmati bermain dengan pasir, lumpur, air, dan bahan- bahan lainnya dengan
berbagai tekstur yang berbeda- beda, suara, dan aromanya. Bermain seperti itu berguna mengembangkan panca indera anak. Kesebelas, permainan mengambil risiko (Risk-taking playing), anak dapat diperluas keterampilannya melalui permainan mengambil risiko dan belajar untuk menguasai lingkungannya. Secara umum, anak sudah tahu sebe- rapa jauh mereka dapat ber- main tanpa melukai dirinya sendiri. Namun demikian, sebagian besar ruang bermain saat ini sudah dirancang untuk menjadi bebas risiko, sehingga sangat sedikit mem- berikan anak kesempatan untuk menilai risiko dan menetapkan batas-batasnya sendiri.
Kegiatan bermain seperti diuraikan di atas, dewasa ini sudah mulai tereduksi dengan berkurangnya ruang terbuka publik, khususnya di kota besar. Kegiatan belajar di taman kanak-kanak pun mulai dibatasi oleh dinding sekolah, seakan terkurung dalam sebuah bangunan beton. Kurang mengajak anak menge- nali lingkungan alamiah. Demikian pula dengan kemunculan berbagai permainan digital interaktif pada perangkat multimedia ikut mereduksi permainan seperti kategori di atas.
Dalam hal ini peran orang tua, pendidik dan pemerintah sangat dibutuhkan. Orang tua dan para pendidik perlu memahami peran dan manfaat bermain bagi anak. Dengan membiarkan anak fokus pada permainan digital, maka kompetensi, keterampilan, dan sikap sosial-emosional yang diharapkan dari permainan yang dimaksud menjadi tidak tercapai optimal.
Bagi para pendidik dan pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, perlu mempertimbangkan
menambah jam istirahat atau waktu bermain bebas bagi anak, khususnya pada jenjang PAUD dan juga jenjang pendidikan SD. Sekolah pun perlu menyediakan aneka bentuk Alat Permainan Edukatif (APE) yang dibutuh- kan anak untuk bermain bersama-sama.
Ketersediaan ruang terbuka publik seperti lapangan dan tempat-tempat untuk melakukan kegiatan bermain dan menjelajah secara bebas sangat dibutuhkan anak. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah untuk menyediakan ruang terbuka publik tersebut sangat diharapkan. Ada baiknya setiap mal yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta juga dilengkapi dengan sarana bermain dan arena bermain bebas yang tidak fokus hanya pada permainan digital, namun juga
permainan tradisional yang mampu meningkatkan keterampilan anak.
Penutup
Mari renungkan pendidikan ala Ki Hajar Dewantara, tokoh pendiri Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara, memilih menggunakan kata ‘taman’ untuk sekolah yang dibangunnya. Hingga kini dalam dunia pendidikan, kata taman masih kita temukan, khususnya pada jenjang PAUD, yaitu taman kanak- kanak. Hal tersebut sangat selaras dengan filosofi Friedrich Froebel yang mewarnai pendidikan barat dengan menganut dan meng- gunakan kata kindergarten untuk taman kanak-kanak, karena kata ‘kinder’ berarti anak dan kata “garten” berarti taman. Kata ‘taman’ sangat erat kaitannya dengan anak dan bermain. Anak melaku- kan kegiatan bermain di taman. Di taman juga terdapat proses belajar, anak dapat melakukan eksplorasi, dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam suasana yang menyenangkan.
Namun demikian, pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, digunakan kata
‘sekolah’ dibandingkan taman. Kata ‘taman’ menyirat- kan makna alamiah dan fleksibel, dapat digunakan sebagai tempat bermain dan pada saat yang sama untuk belajar. Belajar pengetahuan, kompetensi atau keterampilan tertentu, karena proses berma- in yang dirancang sedemikian rupa dalam konteks yang edukatif. Pada sisi lain, kata
‘sekolah’ seolah menyiratkan makna yang lebih serius. Sekolah terkesan kaku, tidak fleksibel, karena bentuknya berupa bangunan buatan manusia. Sangat berciri akademis, seakan hanya untuk kepentingan ilmu dan pengetahuan, namun
mengabaikan unsur manusia yang humanis. Manusia yang juga membutuhkan bermain dan terlibat dalam suatu permainan.
Seyogyanya seorang guru atau pendidik mampu membuat kondisi pembelajar- an di kelas, seolah-olah seperti kegiatan bermain dalam suasana yang
menyenangkan. Anak dibawa dalam suasana seperti
sedang tidak belajar, melainkan seperti sedang bermain. Jika desain pembelajaran seperti itu dirancang dan
diimplementasikan secara tepat, niscaya akan mening- katkan produktifitas anak. Sambil menyelam, minum air. Kedua-duanya dapat dicapai, anak mengalami proses belajar, pada
saat yang sama mereka juga merasakan senang berada di sekolah. Hal yang
demikian akan menimbulkan keinginan untuk terus belajar tanpa henti. Dengan
melakukan hal itu, sekolah menjadi tempat yang kondusif untuk belajar, menimba ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk kehidupannya di masa kini dan masa depan.
Catatan kaki:
1http://www.bbc.com/news/
ed uc at i on -2 405 82 27 diakses pada 13 Juni 2016 2h t t p : / / w w w . p a u d - d i k - mas.kemdikbud. go.id/ berita/909.html diakses pada 16 Juni 2016
Daftar Pustaka
Brown, S. L., & Vaughan, C. C.(2009). Play: How it shapes the brain, opens the imagination, and invigorates the soul. New York: Avery, Penguin Group, 131
Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Kemasyara- katan. Surat Edaran No. 2519/C.C2.1/DU/2015 tentang Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (PAUD) diakses dari http://paud- anakbermain belajar. blogspot.co.id/ 2015/ 12/download-surat- edaran-dirjen-paud. html pada 10 Juni 2016 Edward Miller and Joan
Almon. (2009). Crisis in the kindergarten: Why children need to play in school, college park, MD: Alliance for Childhood, 71 Einon, D. (2004). Permainan
kreatif untuk anak: Mengenali dan
merangsang bakat-bakat alami dalam diri anak anda. Batam: Karisma Publishing Group, 157.
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
Gleave, J. & Cole-Hamilton, I. (2012). A world without play: A literature review on the effects of a lack of play on children’s lives. United Kingdom: Play England, 32
Goldstein, J. (2012). Play in children’s development, health and well-being. Brussels: Toy Industries of Europe, 42
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Permendik- bud No. 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional
Pendidikan Anak Usia Dini
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Permen- dikbud No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini
Makovichuk, L., Hewes, J., Lirette, P., & Thomas, N. 2014. Play, participation, and possibilities: an early learning and child care curriculum framework for Alberta diunduh dari
h t t p : / / c h i l d c a r e framework.com/play- p a r t i c i p a t i o n - a n d - possibilities/ pada 16 juni 2016.
Santrock, John. (2011). Child developmen: An introduction 13th editions.
New York: McGraw- Hill, 604. Sutton-Smith, B. (2001). The ambiguity of play. M a s s a c h u s e t t s : Harvard University Press, 276.
erawal dari kepekaan penulis dalam menangkap ‘kegalauan’ beberapa orang tua dalam mendidik anak- anaknya, Christine Wibhowo menulis buku ini untuk menyadarkan dan ‘menguatkan’ orang tua agar lebih aware
terhadap peran mereka sebagai ‘model’ yang pertama dan utama bagi anak-anak yang dianu- gerahkan Tuhan kepada mereka.
“Ayo kita pergi ke dokter dengan memakai ‘baju berangkat!’, seru saya kepada mereka. Mereka langsung mau bergegas ke dokter. Di ruang praktik dokter, saya tunjukkan kepada mereka, bahwa saya bersahabat dengan sang dokter yang saya pilih karena memang terkenal
ramah. Ini manfaatnya juga ganda. Selain anak tidak takut dengan dokter, ia juga akan meniru Anda yang bisa bersahabat dengan siapa saja,
termasuk gurunya di sekolah, teman, sampai ke dokter”… (h. 208). ‘Baju berangkat’ adalah istilah yang digunakan penulis dan anak-anaknya untuk menyebut baju yang dikenakan untuk jalan-jalan sore.
Kalimat di atas meru- pakan cuplikan dari buku karya Christine Wibhowo yang berjudul Anak, Sang Peniru Andal. Dalam’uku ini, penulis mengajak pembaca, khususnya para orang tua yang telahiliki anak, untuk melihat beberapa hal yang patut diketahui mengenai cara- cara menjadi orang tua yang baik, serta menjadi ‘model’ yang baik bagi anak. Pada awal buku, Christine menuliskan pentingnya ‘start’ atau awal yang tepat dalam membangun keluarga, yaitu memasuki dunia pernikahan dengan berbagai persiapan yang matang.
Judul Buku :
Anak, Sang Peniru Andal
Pengarang :
Christine Wibhowo
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo Jakarta Tahun Terbit: 2012 Jumlah Halaman : xii + 248 halaman ISBN: 978-602-00-2138-6 Resensi oleh :
Inge Pudjiastuti Adywibowo E-mail: [email protected] TKK 11 PENABUR Jakarta
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal
Buku ini terdiri dari tujuh bab yang tersusun secara sistematis, dimulai dari ‘Keluarga sebagai Pendahuluan’pada bab 1. Pada bab ini, penulis melakukan survey melalui jaringan sosial tentang makna ‘keluarga’ dalam satu kata. Jawaban yang diperolehnya beragam, mulai dari ‘luar biasa’, ‘mengagumkan’, ‘menyenangkan, ‘menyebalkan’, hingga ‘sempurna’. Dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa pada umumnya kita mudah sekali menggambarkan tentang keluarga. Mungkin karena keluarga adalah hal yang paling dekat dengan kehidupan kita. Singkatnya, keluarga adalah satu kata dengan berjuta makna.
Menurut peresensi, survei yang dilakukan penulis untuk mendapatkan jawaban atas ‘makna keluarga’ melalui jaringan sosial (Facebook) dengan subjek / peserta survey yang berasal dari golongan
/ status sosial dan pendidikan tertentu bukanlah merupakan representasi keselu- ruhan masyarakat kita, karena pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial ingin ‘terlihat baik / bahagia’ di depan orang lain (dalam bahasa gaul:
jaim / jaga image), sehingga kadang jawaban / komentar yang diberikan (dalam hal ini: makna keluarga) cenderung positif. Meski demikian, satu hal yang pasti: keluarga adalah tempat bertumbuh dan berkembang yang pertama dan utama dalam kehidupan.
Pada bab 2 penulis ini memaparkan tentang keunikan yang dimiliki oleh setiap anak. Pembaca diajak untuk mengingat kembali perilaku anak mereka yang ternyata merupakan hasil meniru dari orang tuanya. Ditekankan, pentingnya peran orang tua dalam memberikan stimulasi yang tepat bagi anak-anaknya karena anak adalah peniru andal. Penulis juga memberikan motivasi bagi pembaca, bahwa “tidak ada orang tua yang tidak pantas untuk menjadi model bagi anak-anaknya”.
Orang tua sebaiknya melakukan introspeksi diri (biasanya dilakukan setiap malam / sebelum tidur) untuk mengingat-ingat kembali ucapan dan perilaku mereka terhadap anak-anak yang ada di sekitarnya. Kesibukan kerja dan banyaknya permasalahan yang dihadapi orang tua dewasa ini seringkali membuat kita ‘lupa’ atau ‘tidak sadar’ bahwa anak’membutuhkan stimulus dan contoh yang baik untuk ditiru. Kurangnya pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh para orang tua merupakan salah satu penyebab kekurang- sadaran mereka sebagai ‘model’. Beberapa kiat/ tip sederhana dari penulis buku ini dapat menjadi salah satu referensi yang tepat untuk menambah wawasan dan informasi tentang parenting bagi pembaca.
Pernikahan merupakan awal dari terben- tuknya sebuah keluarga. Oleh karena itu,
pernikahan yang patut ditiru/dibang- un adalah pernika- han yang berawal dari NOL, bukan
Minus. Di sini juga dijelaskan bagaima- na peran pernikahan terhadap tingkah laku dan kepriba- dian anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, beberapa tips dalam pernikahan, termasuk cara menyelesaikan masalah, cara bertengkar yang sehat dalam pernikahan juga diungkap dengan sederhana namun jelas pada bab 3 buku ini.
Beberapa ‘pasangan muda’ memulai pernikahan mereka tidak dari ‘NOL’, bahkan ada yang menganggap pernikahan sebagai alternatif jalan keluar, bahkan tempat pelarian dari permasalahan mereka semasa lajang. Beberapa pasangan juga menikah karena faktor lingkungan, seperti: ‘jengah’ dengan pertanya- an orang lain/keluarga saat ditanya penyebab seseorang belum menikah di usia yang menurut masyarakat dianggap usia yang matang untuk menikah. Motivasi yang kurang tepat untuk memasuki gerbang pernikahan akan membuat