• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pembelajaran Orang Dewasa

Dalam dokumen Jurnal No26 Thn15 Juni2016 (Halaman 76-78)

Yuli Kwartolo

Email: [email protected]

Pengajar freelance di beberapa satuan pendidikan

A

Abstrak

gar proses pendidikan dapat memberikan kemampuan berpikir tingkat tinggi kepada peserta didik, berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran dikembangkan oleh guru. Akan tetapi, berbagai kendalaa masih dihadapi dan hasil yang dicapai belum sepenuhnya seperti yang diharapkan. Tulisan ini membahas taking learning to tasksebagai saalah satu strategi pembelajaran yang sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi bagi orang dewasa. Merujuk pada berbagai sumber, tulisan ini membahas dan menganalisis secara deskriptif teori dan pendapat yang terkait serta menarik kesimpulan bagaimana strategi ini dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran orang dewasa. Tulisan ini juga dilengkapi dengan sejumlah saran bagaimana strtegi ini dapat diterapkan dengan baik.

Kata-kata kunci: strategi pembelajaran, berpikir tingkat tinggi, pembelajaran orang dewasa, tugas belajar, taking learning to task

Taking Learning to Task, Adult Instructional Strategy Abstract

To provide the students with high thinking order skill, the teachers have been developing a number of instructional approaches and strategies. However, the teachers and the students still face a lot of problems and the results have not fully satisfied. This article discussed ‘taking learning to task’ as one of the strategies appropriate to develop high thinking order skill for the adult. Having describing and analyzing several theories and opinions, the article concluded ‘taking learning to task’ can be used as an effective instructional strategy for the adult. This article is also included some suggestions in implementing this strategy. Keywords: instructional strategy, high order thinking, adult learning, learning task, taking learning to task

Taking Learning to Task

Pendahuluan

Proses pembelajaran merupakan sebuah aktivitas yang tidak berjalan di dalam ruang hampa udara. Artinya, kedalaman pengalaman belajar, kebermaknaan belajar, dan di ujung tercapainya tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh berbagai faktor pendukung serta kontribusi guru dan peserta didik. Pembelajaran modern menempatkan guru dan peserta didik sebagai subjek aktif untuk belajar bersama-sama. Pada satu titik, guru bisa belajar dari peserta didik dan pada titik tertentu, peserta didik pasti belajar dari gurunya. Jadi, guru bukan satu- satunya komponen pembelajaran yang paling diterminan.

Salah satu prinsip belajar yang menjamin keberhasilan peserta didik dalam mempelajari sesuatu adalah, adanya keterlibatan langsung peserta didik. Proses pembelajaran harus melibatkan partisipasi peserta didik, meskipun dalam derajad yang rendah. Harus ada respon bermakna dari peserta didik manakala guru memberi stimulus. Peserta didik harus memberi- kan kontribusi yang signifikan, bahkan lebih supaya transfer of knowladge dan transfer of skill dapat tercapai. Inilah yang diharapakan.

Namun demikian, apa yang diharapkan tersebut belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Dalam perspektif ini menarik untuk diperhati- kan pernyataan Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan (2014 - 2016), bahwa materi pembelajaran yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) akan ditingkatkan, bahkan mulai dari SD (Kompas, 14 Juli 2016). Pernyataan Anies Baswedan tersebut mengindikasikan, selama ini secara umum pembelajaran yang mengarah pada berpikir tingkat tinggi belum terealisasi.

Berpikir tingkat tinggi (Crowl, 1997) meliputi berpikir kritis, berpikir logis, berpikir kreatif, dan metakognitif (pengetahuan sese- orang mengenai proses dan hasil berpikirnya atau apapun yang berkaitan dengan proses dan hasil berpikir tesebut).Disamping itu, Quirk (2006) mengungkapkan metakognitif adalah “the ability to think about one’s thinking and feeling and to predict what others are thinking,” atau kemam-

puan seseorang untuk berpikir tentang pikiran dan perasaannya sendiri dan untuk mempre- diksi apa yang orang lain pikirkan.

Sejumlah metode dan stategi pembelajar-an terus dicoba untuk memberi dimensi dan perspektif baru terhadap aktivitas pembelajaran. Tulisan ini memaparkan sebuah strategi pembelajaran yang diperuntukkan bagi orang dewasa (adult learning), yaitu taking learning to task yang dapat membawa peserta didik (orang dewasa) pada berbagai tugas belajar yang menuntut berpikir tingkat tinggi. Oleh karena dengan menggunakan strategi ini, peserta didik harus memberi respon yang kritis, logis, dan kreatif terhadap stimulus (tugas belajarnya). Dalam hubungannya dengan taking learning to task, dalam tulisan ini dibahas pengertian tugas belajar, pembelajaran orang dewasa, karakteris- tik peserta didik dewasa, konsepsi taking learning to task, model-model pembelajaran untuk tugas belajar, dan keunggulan dan kelemahan taking learning to task akan menjadi fokus pembahasan.

Pembahasan

Tugas Belajar

Dalam konteks pembelajaran, secara substantif, ‘tugas’ berkaitan dengan berbagai aktivitas yang harus dilakukan oleh peserta didik. Ada tiga hal prinsip berkaitan dengan konsep tugas (http:// www.learnersdictionary.com/definition/task), yaitu: (1) a usually assigned piece of work often to be finished within a certain time (tugas belajar diberikan dan diselesaikan dalam waktu tertentu), (2) something hard or unpleasant that has to be done (kadang-kadang membutuhkan kerja keras untuk menyelesaikan bahkan tidak menyenangkan), dan (3) duty, function (ada tugas dan fungsi).

1. Tugas belajar diberikan dan diselesaikan dalam waktu tertentu

Batasan waktu atau dapat dikatakan sebagai sebuah ‘rule’ (aturan, ketentuan) yang diberikan oleh guru dan harus ditaati oleh peserta didik dalam menyelesaikan tugas belajarnya. Namun demikian, guru

harus memahami adanya sebuah prinsip pembelajaran yang disebut ‘individual differcences’ atau perbedaan individu. Maksudnya, setiap peserta didik memiliki kecepatan belajar sendiri-sendiri. Dengan kata lain, peserta didik belajar menguasai pengetahuan, keterampilan menurut kecepatannya.

2. Membutuhkan kerja keras untuk menyele- saikan, bahkan tidak menyenangkan Prinsip ini ingin menegaskan, peserta didik kadang-kadang harus mengeluarkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan tugas belajarnya. Bahkan harus melalui hal-hal yang tidak menyenangkan seperti rasa bosan, jenuh, tingkat kesulitan yang tinggi, dan harus melalui prosedur yang ketat untuk memecah-

kan suatu masa- lah. Namun, hal ini bukanlah suatu kendala menyelesaikan tugas belajarnya. 3. Ada tugas dan

fungsi.

Prinsip ini mak- sudnya adalah dalam sebuah tugas belajar, di dalamnya ter- dapat berbagai

tugas yang harus dikerjakan dan ada berbagai fungsi yang harus diperankan oleh peserta didik. Misalnya, seorang guru memberi tugas belajar kepada sebuah kelompok peserta didik untuk mengumpul- kan data/informasi yang dibutuhkan untuk mencari tahu alasan mengapa banyak perempuan terpaksa menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Maka, setiap peserta didik di dalam kelompok tersebut memiliki tugas sendiri-sendiri untuk mencari data/informasi berdasarkan sejumlah variabel yang sudah dirumuskan, dan memiliki fungsi sebagai penggali data/ informasi (interviewer).

Tugas merupakan sebuah aktivitas atau proses untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan. Aktivitas ini bisa merujuk pada

Taksonomi Bloom, baik dari sisi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik atau pada sisi kedalamannya (sequences).

Dari sisi kedalamannya, berdasarkan Taksonomi Bloom versi terbaru peserta didik dapat melakukan aktivitas mengingat (remem- bering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisa, mengurai (analysing), menilai (evaluating), sampai mencipta (creating). Aktivitas yang menunjukkan gradasi dari yang paling mudah (sederhana) sampai ke yang paling sulit (kompleks) dapat dirinci lagi ke dalam sejumlah kata kerja operasional yang menunjukkan sejumlah indikator/kompetensi tertentu.

Belajar atau learning dalam bahasa Inggris adalah, the activity or process of gaining knowledge or skill by studying, practicing, being taught, or experien- cing something; the activity of someone who learns know- ledge or skill gained from learning ( h t t p : / / w w w . l e a r n e r s dictionary.com/ definition/task). Terjemahan bebas- nya adalah, bela- jar merupakan aktivitas atau proses untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan dengan mempelajari, berlatih, proses berpikir, atau mengalami sesuatu oleh seorang peserta didik yang mempelajari pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari aktivitas belajar. Belajar akan berhasil manakala ada perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/mengalami langsung, pengulangan, tantangan, feedback, penguatan.

Pengertian lain menyebutkan, belajar esensinya adalah sebuah proses, mencari, menemukan, melakukan, melalui tahapan yang teratur dan sistematis. Belajar melibatkan semua aspek yang ada dalam diri peserta didik, baik psikis maupun fisik. Hakikat belajar yang dimaksud adalah, proses menemukan dan

Dalam dokumen Jurnal No26 Thn15 Juni2016 (Halaman 76-78)