Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
Meskipun pendekatan yang digunakan dalam PK berbeda, obyek PK tetap sama yaitu misi gereja dalam dunia, peranan komunitas iman, pemahaman seseorang, dan tempat pengajaran atau pembelajaran.25 Karakteristik keempat
pendekatan PK berhadapan dengan dunia, jemaat setempat sebagai setting utama, refleksi teologis sebagai metodologi, menekankan terjadinya pembelajaran yang religius dalam suasana yang ramah, adil, dan terbuka untuk percakapan dan pengungkapan kebenaran.26
Sebelum berbicara mengenai PK Transfor- matif, perlu dimengerti terlebih dahulu mengenai transformasi. Transformasi merupa- kan perubahan rupa (bentuk sifat), mengubah struktur inti atau beberapa inti menjadi struktur lahir. Pendekatan ini bertujuan membantu orang dan komunitas untuk mempromosikan kewar- ganegaraan yang setia dan perubahan sosial. Guru dalam pendekatan ini ialah sponsor yang mengundang peserta didik dalam kemitraan untuk refleksi dan aksi. Peserta didiknya agen- agen sejarah yang bebas dan bertanggungjawab mencakup pribadi dan komunitas. Fokus dalam pendekatan ini adalah pada diri sendiri dan orang lain untuk terjadinya transformasi dalam hidup baik komunal maupun pribadi sehingga dapat berpartisipasi dalam masyarakat. Guru dan peserta didik bertumbuh bersama dalam pemuridan yang bertanggungjawab dan melibatkan visi hidup bersama Tuhan, kebaikan Kristus, tempat bagi Tuhan.27 Proses pendidikan-
nya dengan melihat, menilai, dan beraksi. Konteksnya gereja yang berbela rasa dan pelayanannya di dalam dan bersama dunia. Implikasi untuk pelayanan dengan mendukung panggilan gereja untuk jadi cara alternatif dalam melihat kehidupan, berada, dan hidup.
Ada beberapa hal penting yang masih berhubungan dengan ini yaitu beberapa pandangan dari Paulo Freire. Freire telah mela- kukan transformasi di berbagai tempat, salah satunya di Guinea Bissau, dengan pemberan- tasan buta huruf. Jika melihat dan membaca buku Paulo Freire maka dapat disimpulkan bahwa Freire menekankan pendidikan yang membawa pada upaya penyadaran (konsietisasi) tentang keadaan yang penuh penindasan yang dilakukan melalui refleksi kritis atas pengala-
pendidikan alternatif (pendidikan hadap masalah) yang berlawanan dengan pendidikan gaya bank. Misalnya, pada pendidikan gaya bank terjadi hubungan yang monolog antara guru dan murid sedangkan pendidikan hadap masalah terjadi hubungan yang bersifat dialog dari guru ke murid dan sebaliknya.
Pendekatan transformasi sosial mengan- dung diakonia sebagai wujud dari aksi, diakonia dibagi menjadi tiga yaitu diakonia karitatif, diakonia reformatif, dan diakonia reformatif.28
Ada empat kondisi yang perlu dalam diakonia yang berarti yaitu:29
a. Kesediaan untuk menderita dengan melaya- ni dan memberi diri.
b. Kerendahan hati sebagai penentang superioritas terhadap diri sendiri dan menghormati terhadap penentang menuju ke sikap merendahkan diri untuk jadi pelayan.
c. Tidak menggunakan diakonia sebagai penyebab untuk dominasi, orang-orang yang memiliki hak istimewa, dan pangkat d. Kesediaan untuk identitas pelayan sebagai
poin kehidupan yang jatuh untuk kepen- tingan.
Dalam pendekatan ini, kita juga mengenal komunitas basis dan komunitas sel. Komunitas basis adalah suatu persekutuan umat yang relatif kecil, saling mengenal, tinggal berdekatan atau memiliki kepentingan bersama yang secara berkala mengadakan pertemuan.30 Komunitas sel
memiliki ciri lebih ke arah pembinaan dan perse- kutuan yang beranggotakan 5-10 orang. Selain itu, dalam pendekatan ini juga terdapat pendidi- kan multikulturalisme.
Transformasi Dalam Rahmat Allah
Berdasarkan uraian hermeneutika dosa, bisa sedikit disimpulkan bahwa dosa merupakan teror yang senantiasa menyerang keberadaan manusia secara etis. Teror tersebut bisa ditangkis melalui relasinya dengan Allah. Relasi dengan Allah bukan semata perilaku doa saja, melainkan menekankan keintiman. Keintiman bukanlah sebuah formula dan ujian, tetapi hubungan. Keintiman bukan pula berbicara tentang kompetensi dan kesempurnaan. Keintiman
dimulai saat kita memasuki kekacauan hidup. Menerima kenyataan bahwa kita lemah, memiliki kehidupan yang cacat merupakan awal dari keintiman, bukan karena keintiman akan menghapus kelemahan kita namun karena alih-alih mencari kesempurnaan. Kita kini mencari Allah. Dia yang hadir di tengah kekusutan hidup kita. Maka, keintiman sekali lagi bukanlah tentang memperbaiki kerusakan kita melainkan melihat Allah yang hadir di dalam kemelut ketidakberesan kita.
Setiap manusia memang rapuh dan berdo- sa. Namun, ia memiliki Allah yang bertangan terbuka bila manusia senantiasa berupaya mencari Dia. Hubungan Allah dan manusia bisa digambarkan melalui metafora ibu dan anaknya. Ketika anak itu masih kecil, tangan sang ibu terbuka untuk memeluk, menggendong, merawat, mengasuh, dan menyelimutinya dari dinginnya udara malam. Ketika anak itu sudah tumbuh besar dan pergi ke tempat yang jauh, tangan sang ibu terlipat untuk merangkul dan menyertainya dengan doa-doa. Allah penuh kasih dan tidak pernah memaksakan pikiran dan kehendak guru pada para murid. Allah melihat memberikan masukan dan arahan memang baik. Namun, memaksakan keinginan atau kehendak justru bisa melukai hati manusia itu sendiri. Allah hanya ingin hidup intim dengan manusia.
Dalam Lukas 5: 8 tertulis, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu, iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku karena aku ini seorang berdosa.” Ayat tersebut menggambarkan bagaimana pengala- man iman mendasar yang menyentak pribadi Simon. Batinnya masih bergolak antara percaya dan tidak percaya pada peristiwa yang dialaminya. Keagungan Allah turun dan menaungi kesadarannya. Awalnya, Simon dan teman-temannya terlalu mengandalkan kekuatan manusia belaka. Mereka berjuang keras semalam-malaman untuk menangkap ikan. Hasilnya nihil dan tubuh terasa lelah. Keputusa- saan melanda karena mereka tidak mendapatkan ikan. Tidak mendapat ikan bisa menjadi sebuah ancaman bagi rejeki hidupnya beserta seluruh keluarganya. Kesadaran akan jati diri sebagai insan berdosa menyelimuti dirinya.
PK Transformatif diharapkan dapat menginspirasi bagaimana manusia bisa semakin membangun keintiman dengan Allah. PK transformatif dapat semakin menempatkan keseluruhan manusia di bawah terang cahaya Ilahi. Manusia diajak semakin mengalami bahwa tindakan Ilahi akan menguatkan tindakan manusiawi.31 Dalam kegelapan, Allah
telah menyinari dan menguatkan dengan Roh Kudus-Nya. Oleh karenanya, semakin kita melihat diri di bawah terang penciptaan Allah dengan kesadaran dosa dan kerapuhan. Kita bisa semakin masuk dan menikmati daya penebusan Ilahi dan dikaruniakan kepada manusia adanya daya keberanian dan kekuatan untuk bertindak di dalam kebersamaan dengan Kristus untuk melibatkan diri secara utuh dan aktif secara transformatif.
Secara global, PK Transformatif mengingat- kan bahwa Tuhan ingin menggunakan manusia sebagai perpanjangan tangannya untuk menyelamatkan manusia lain dan semesta. Tuhan memanggil kita untuk ikut membangun Yerusalem lama menjadi baru melalui membangun manusia lama menjadi baru dengan semakin menyerupai citra Allah sendiri. Tuhan tidak melihat dosa atau kerapuhan manusia. Sufiyanta mengingatkan, Tuhan lebih optimistis melihat keutuhan pribadi umat-Nya yang di dalamnya ada daya dan potensi untuk diikutsertakan dalam proyek pembangunan Kerajaan Allah di dunia.32 Perubahan bisa terjadi
apabila manusia mampu menjala hati diri dan sesamanya untuk menghayati dan memper- juangkan nilai keutamaan agar hidup mereka memiliki kelimpahan berkah. Tuhan mengguna- kan pribadi yang lemah untuk dijadikan perpanjangan tangan-Nya. Pada akhirnya melalui PK Transformatif ini, manusia diharap- kan mampu menyatakan diri secara utuh bahwa ia telah mengerjakan yang terbaik seturut kemampuan talenta yang diberikan Tuhan kepadaku; selebihnya kupercayakan pada Roh Kudus untuk menyempurnakannya.
Pengembangan Konsep Diri Dalam Pendidikan Kristiani Transformasi di Sekolah
PK Transformasi tidak mungkin terjadi apabila peserta didik belum memiliki konsep diri yang
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
positif. Namun, kita harus sadar bahwa setiap manusia memiliki perbedaan dan unik. Namun, hal ini barulah terlihat setelah mereka masuk dalam proses interaksi. Yesus turut memiliki banyak variasi dalam mengajar para murid dan orang banyak, di antaranya melalui penggunaan kata-kata dan perumpamaan yang dikaitkan dengan situasi konkrit kehidupan sekitar. Yesus melakukannya karena Yesus sepenuhnya menyadari bahwa manusia itu unik. Hal ini tergambar ketika Yesus berhadapan dengan kasus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah (Yoh. 8: 2-11). Perempuan itu dihadapkan kepada Yesus untuk diberikan pengadilan atau hukuman seturut aturan adat istiadat yang berlaku. Yesus hanya bangkit berdiri dan berkata: “Barang siapa tidak memiliki dosa, dia yang pertama kali melempari perempuan ini dengan batu.” R u p a n y a , tindakan Yesus menulis di atas pasir membawa makna positif berkenaan deng- an konsep diri. Menulis di atas
tanah berarti membiarkan kesalahan dan kekurangan itu cepat hilang tertiup angin. Yesus ingin mengajar orang banyak itu untuk tidak mudah menghakimi, tetapi lebih terintrospeksi. Yesus menggunakan seluruh kemampuan individual-Nya untuk bertindak dengan tujuan yang jelas, berpikir secara rasional, dan semuanya terkait erat dengan lingkungan yang sedang dihadapi-Nya. Dasar utama tindakan Yesus yaitu cinta kasih. Yesus tidak bermaksud menghukum perempuan itu, melainkan mengangkatnya agar memiliki konsep diri yang positif.
Pembangunan konsep diri membutuhkan keteladanan. Namun, perlu dimiliki kesadaran bahwa memberikan keteladanan belum tentu otomatis dapat mendorong setiap pribadi mengalami perubahan. Secara konkrit, hal itu dituangkan melalui upaya menanamkan nilai keutamaan dan visi hidup yang disertai keteladanan hidup sebagai sarana efektif untuk
untuk menghadapi masa depan secara mandiri dan bertanggungjawab. Mengajarkan nilai kepada sesama tentang hidup berarti, mereka harus mengenali diri terlebih dahulu dengan diiringi konsep diri yang positif. Setelah mereka melakukannya, mereka harus tahu apa yang ingin dicapai dan bagaimana mencapainya. Hal ini menjadi penting karena konsep diri positif berangkat dari adanya kesadaran bahwa mereka berbeda dan tidak perlu merasa tersaingi dan harus iri terhadap orang lain, dan sebagainya.
Bila dilihat lebih jauh, konsep diri positif biasa hilang karena adanya budaya takut. Budaya takut rupanya sengaja dibangun guna terciptanya suasana kesatuan palsu agar identi- tas pribadi terlebur dalam identitas kelompok. Sebagai akibat, tidak ada keberanian untuk menampilkan identitas dan jati diri yang otentik. Manusia bisa tenggelam pada takut adanya perbedaan. Hal ini terjadi karena ia takut tidak dite- rima dan dising- kirkan teman- teman. Lingkung- an yang tidak menghargai keunikan dan perbedaan khas pribadi dapat mempertajam rasa takut untuk berani tampil otentik di hadapan umum. Akar mendasar dari ketakutan tersebut ialah takut kehilangan identitas di dalam kelompok yang memberinya rasa nyaman dan aman. Ia takut bahwa diriku yang berjumpa dengan diri yang lain akan menantangku bahkan memaksaku untuk melakukan perubahan di dalam hidupku. Pola ini bisa disebut dengan mentalitas kemapanan dan tidak mau berubah. Hal ini biasa diungkapkan melalui kalimat “Ya inilah aku, kalau mau ya terimalah diriku seperti ini apa adanya …” Mentalitas ini sepintas terkesan menarik, tetapi sebenarnya berbahaya karena bisa merusak konsep diri yang otentik.
Joyce mengingatkan konsep diri yang kuat harus diiringi dengan perilaku aktualisasi diri pula. Hal ini ditandai dengan adanya capaian menuju lingkungan dengan kepercayaan diri yang kuat bahwa interaksi yang terjadi akan