Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
Paulus Eko Kristianto
Email: [email protected] S2- STF Driyarkara Jakarta
Opini
D
Abstrak
osa kerap kali dimaknai secara tidak tepat sehingga menjadi teror yang menyerang keberadaan manusia secara etis. Masalah ini perlu diatasi dengan pemaknaan dosa secara benar. Tulisan ini membahas makna dosa dan cara manusia membebaskan diri dari dosa dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Setelah melalui pembahasan yang kritis, tulisan ini berkesimpulan, Pendidikan Kristiani Transformasi sebagai pendekatan menolong semua orang beriman untuk hidup sesuai kehendak Tuhan dan mengalami perubahan serta menjadi agen perubahan itu sendiri. Pendidikan ini diharapkan dapat membangun dan mengembangkan perubahan yang dapat terjadi apabila orang mampu menjaga hati diri dan sesamanya untuk menghayati dan memperjuangkan nilai keutamaan agar hidup memiliki kelimpahan berkah. Titik pijak perubahan yakni berangkat dari konsep diri yang positif.
Kata-kata kunci:dosa, hermeneutika, pendidikan kristiani transformatif, konsep diri
Interpreting Sin Through Christian Education Abstract
Sin often is interpreted incorrectly so that a terror attack human existence ethically. This issue needs to be addressed with the meaning of sin correctly. This paper discussed the meaning of sin and human way to free themselves from sin by using hermeneutic approach. After a critical discussion, this paper concluded, Transformative Christian Education as an approach to help all the faithful to live according to God’s will and subject to change and become agents of change themselves. This study is expected to build and develop the changes that can occur when the heart is able to catch ourselves and each other to live and fight for the primacy of that life has an abundance of blessings. The point of departure changes that depart from a positive self concept.
Pendahuluan
Sering kali orang lain menuduh kita melakukan berbagai dosa, tanpa memahami makna dosa itu sendiri. Dikhawatirkan, kita hanya terjebak pada pelabelan saja agar semua terlihat eksis dan ikut arus saja. Secara sederhana, dosa dipa- hami sebagai sebuah perbuatan yang melanggar hukum atau perintah Allah sehingga menduka- kan hati Allah. Akan tetapi, masalahnya tidak sesederhana itu, karena pemaknaan dosa menimbulkan konsekuensi lebih lanjut. Pelang- garan hukum Allah yang disebut dosa itu akan mendatangkan hukuman, tidak hanya di akhirat tetapi dapat terjadi di dunia. Begitu besar akibat dosa itu, sehingga dosa berat dapat memutuskan hubungan antara manusia dengan Allah.
Akibat dosa dapat mempengaruhi suasana batin dan tingkah laku orang yang berbuat dosa. Akan tetapi pemaknaan dosa itu belum tentu benar dan tidak jarang berbuat salah atau kelalaian dianggap juga sebagai dosa. Perasaan berdosa dapat muncul dari diri sendiri atau diberikan oleh orang lain pada hal belum tentu pemahaman atas dosa itu tepat. Acuan umum, melanggar salah satu atau lebih dari Sepuluh Perintah Allah adalah dosa, tetapi besar kecilnya atau berat ringannya pelanggaran dapat bersifat subjektif. Namun, pada dasarnya manusia wajib menghindari perbuatan dosa dan kalau sudah melakukannya, segera memulihkan hubungan dengan Allah melalui pertobatan.
Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terdapat berbagai contoh dosa yang dilakukan manusia serta hukuman yang diberikan Allah serta juga cara bagaimana Allah mengampuni orang berdosa. Artikel ini mengajak pembaca memahami makna dosa dan bagaimana manusia bisa bebas dari dosa. Untuk sampai pada tujuan tersebut, penulis mengajukan pendekatan hermeneutika dalam memahami makna dosa. Pendekatan ini diadopsi dari kajian filsafat. Manusia harus segera mengambil tindakan. Manusia tidak boleh terjebak lebih dalam ke lembah dosa sehingga ia membutuh- kan sosok penolong guna melewatinya.
Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib dipandang sebagai tindakan penebusan.
Penebusan dilakukan karena perwujudan kasih- Nya bagi dunia. Hal ini makin diperkuat dengan ungkapan-Nya sendiri berupa “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 14-15). Pengorbanan Yesus tidak dilalui dari jalan mulus, melainkan proses peradilan. Peradilan berjalan begitu rupa sehingga kematian-Nya benar-benar menggenapi tuntutan hukum. Cerita akan jadi lain, jika Yesus dibunuh secara diam- diam oleh pembunuh bayaran para imam.
Berkenaan dengan pemahaman tersebut, penulis mengajukan Pendidikan Kristiani Transformasi sebagai pendekatan yang menolong semua orang beriman untuk menyadari keberadaannya secara utuh dan otentik, pengorbanan Yesus Kristus di salib, dan menimbulkan hasrat untuk berubah secara spiritual dan berani tampil menjadi agen perubahan bagi dunia dan sekitar. Bagi penulis, hal ini memang tidak mudah. Namun, kita harus terus mengupayakannya dengan menanamkan terlebih dahulu konsep diri yang positif.
Pembahasan
Hermeneutika
Bila ditelaah dalam bahasa Yunani, kata ‘hermeneutika’ berasal dari hermeneunein. Kata tersebut berarti menafsirkan. Rupanya, upaya tersebut telah mengingatkan pada tokoh mitologis yang bernama Dewa Hermes. Hermes digambarkan sebagai sosok yang memiliki kaki bersayap dan lebih dikenal dengan sebutan Mercurius dalam bahasa Latin. Tugas Hermes yakni menerjemahkan pesan dari dewa di gunung Olympus dalam berbagai bahasa yang mudah dipahami manusia.1 Tugas Hermes
dapat dikatakan vital karena bila terjadi kesalahan maka menimbulkan kefatalan bagi seluruh kehidupan manusia. Berpijak pada tugas dan identitas dewa Hermes, hermeneutika dipahami sebagai sebuah proses pengubahan sesuatu dari kondisi tidak tahu menjadi mengerti.
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
Hermeneutika telah dikembangkan dalam berbagai bentuk sepanjang perjalanan sejarah dan kronologi waktu. Setidaknya, Hardiman memetakannya berikut beserta filsuf produsennya: Hermeneutika Reproduktif Schleiermacher, Hermeneutika Reproduktif Dilthey, Hermeneutika Faktisitas Heidegger, Hermeneutika Demitologisasi Bultman, Hermeneutika Filosofis/ Produktif Gadamer, Hermeneutika Kritis Habermas, Hermeneutika Kritis Ricoeur, Hermeneutika Radikal Derrida.2
Dari berbagai bentuk tersebut, kita bisa memahami bahwa pengertian yang sangat luas dari hermeneutika itu merupakan kesibukan filsafat. Dengan demikian, ajaran, asas, nilai, dan norma religius yang mengikat dapat ditafsirkan dengan berbagai cara tertentu, dan karena cara tafsir
bisa berbeda, termasuk herme- neutika menjadi tempat kelahiran aliran pema- haman teks yang baru.
Dalam kajian h er m e ne u t ik a , perlu dipahami dua hal penting
yakni antara memahami dan menafsirkan atau interpretasi. Hardiman menunjukkannya secara kolaboratif demikian, dengan menafsirkan atau interpretasi, kita mengacu pada kegiatan memahami melalui menyiratkannya secara verbal dan diskursif, sementara kegiatan memahami tidak harus demikian. Sisi lain, untuk menafsirkan, perlu dipahami, tetapi memahami tidak harus dengan menafsirkan, meski cukup kerap melibatkan penafsiran.3 Dengan demikian,
seorang penafsir menunjukkan kompetensi dalam memahami, tetapi kompetensi seperti yang dimiliki penafsir tidak perlu dimiliki seseorang yang ingin memahami. Namun, perlu diketahui, tujuan akhir dari proses interpretasi ialah memahami.
Hermeneutika Sebagai Upaya Memahami