BAB III: Menata Hidup, Mengatur Konsumsi
C. Liyan Yang Tak Hijau
1. Keluhan Kepada Liyan
Sepanjang penelitian, baik ketika wawancara maupun saat melibatkan diri dalam kegiatan dan diskusi gaya hidup hijau, sangat jelas para
pelaku dan aktivis gaya hidup hijau ini berupaya menyatakan bahwa mereka berbeda dengan yang lain. Setidaknya ada 2 hal penting yang menjadi dasar mengapa mereka menjadi berbeda.
Yang pertama berkaitan dengan kemampuan DIY atau Do It Yourself. Yaitu kemampuan individu menjadi produsen untuk memenuhi kebutuhan harian diri sendiri dan keluarga yang sehat dan ramah lingkungan. DIY yang paling ideal menurut para aktivis hijau ini
adalahhomesteadGreen Family yang dipimpin oleh Pak Iman. Keluarga
besar Pak Iman menjadi keluarga hijau ideal karena dianggap telah berhasil menjadi produsen yang memproduksi seluruh kebutuhan harian keluarga yang memenuhi standar sehat dan ramah lingkungan.
Mereka memiliki homestead, kebun untuk memproduksi
makanan organik, energi listrik, gas dan air yang bersih, hutan, musholla dan sekarang sedang membangun sekolah dan sistem pendidikan sendiri. Semuanya dilakukan sendiri, meski dalam prakteknya ada karyawan yang berasal dari desa terdekat yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu.
Begitu juga dengan bahan pangan dan makanan siap konsumsi yang dibuat dengan tangan sendiri oleh produsen dan artisan jaringan komunitas pangan organik. Dalam level yang lebih sederhana juga dilakukan oleh komunitas Teman Berkebun, Mbak Nana dan Ibu Dian yang menanam beberapa jenis tanaman pangan.
Lantas, bagaimana dengan masyarakat yang tidak termasuk kelompok hijau? Hal penting yang sangat disesali para aktivis dan pelaku hidup hijau adalah situasi para petani dan para konsumen di Indonesia. Ada 2 kondisinya, pertama petani semakin langka ditemukan di Indonesia. Tidak ada lagi yang mau menjadi petani, terlebih para anak muda yang lebih suka menjadi konsumen karena kaya dan gaya.
Kondisi kedua adalah kemiskinan para petani sekarang karena mengikuti pola pertanian konvensional. Yaitu pola pertanian yang menggunakan bibit GMO, pestisida dan pupuk kimia, serta kebiasaan petani yang menjual hasil pertaniannya kepada tengkulak.
“Katanya petani banyak yang sakit, ya iya karna mereka pake pestisida, mereka disconnect to the nature, karna cuman pingin dapat untung yang banyak. Padahal seharusnya tidak. Kalau sekarang kamu tanya ke petani di sana, lho kok tetep susah hidupnya pak, makan aja susah, ya memang, hasil padinya dijual itu untuk saya beli lagi beras murah, aneh kan. Dia petani padi, untuk beli beras aja dia nggak mampu. Yang salah itu ya dia, karna dia pake urea, begitu dia mau nanam harus pake urea pestisida yang harganya selalu naik, dia nggak mampu beli, dia berhutang kan, dari awal dia harus hutang benih, harus hutang pestisida, harus hutang urea, padahal capek kepanasan keringetan sampe hitam, akhirnya pada waktu panen dihitung-hitung semua dia cuman dapat sedikit dari apa yang dia hasilkan. Kemudian dia butuh untuk anak-anaknya sekolah, berobat dan sebagainya dia jual berasnya, untuk beli beras 1 kilo nggak bisa, dan itulah beratnya, seandainya petani itu mau mulai lagi kompos daun dan kotoran hewan kan dia nggak harus beli pupuk, dia bisa dapat murah dari
apa yang dia tanam. Petani sekarang nggak mau, langsung beli urea melihat padinya kuning, padahal memang seharusnya padi itu agak kuning kecoklatan, tidak hijau, begitu padi itu hijau berarti keracunan nitrogen dan semua petani berlomba-lomba bikin hijau, ya kalau di-urea terus ya tanahnya mati dong.”
(Wawancara dengan Pak Soleh tanggal 7 April 2015)
Pak Soleh sangat yakin hal inilah yang menyebabkan kemiskinan para petani di Indonesia, yaitu tidak adanya kesadaran para petani. Pak Soleh menggambarkan situasi petani sekarang sudah terperangkap di dalam jerat kapitalisme yang semakin memiskinkan mereka dari waktu ke waktu. Satu-satunya jalan keluar dari perangkap itu adalah kesadaran diri si petani untuk memulai pertanian dengan menggunakan kembali pupuk kompos.
Meski kemudian di lain momen, Mas Janu, seorang aktivis petani organik Yogyakarta mengeluh tentang para petani organik di sekitar lereng Merapi yang ternyata menjual hasil pertaniannya. Ia katakan setidaknya 80% para petani organik itu tidak memakan makanan sehat yang diproduksinya sendiri. Ia menyebut situasi itu sebagai situasi yang
“menjadi absurd, karena panenan mereka bukan untuk makanan mereka sendiri, sementara mereka sendiri justru makan sampah”.75
Bagi para aktivis ini petani tradisional di Indonesia telah mengalami genosida atau pemberantasan besar-besaran. Padahal 75Diskusi “Jaga Lingkungan dari Meja Makan” di National Museum Yogyakarta tanggal 22 April
menurut aktivis Jogja Berkebun, negara yang sejahtera dimulai dari kesejahteraan para petaninya. Dunia pertanian Indonesia sedang menghadapi masalah yang sangat pelik. Petani yang baik itu seharusnya petani yang melakukan DIY, bertanam pangan kemudian menjadi orang pertama yang menikmatinya. Contohnya ya seperti mereka. Untuk hal ini aktivis hijau menekankan sikap mereka sebagai inspirator.
Tapi apakah semua orang kemudian lantas harus menjadi petani? Mbak Susi dari Warung Salad menyatakan hal itu sulit dilakukan. Harus semakin banyak yang menjadi petani, namun tidak semua orang dapat menjadi petani. Yang tidak mampu menjadi petani ini tetap bisa membantu mengatasi krisis pangan di Indonesia dengan cara tidak membuang-buang makanan atau bahan pangan dengan gampangnya. Salah satu caranya adalah memiliki kemampuan sebagai artisan makanan.
Pendapat Mbak Susi sama dengan yang dilakukan oleh anggota komunitas pasar organik yang tak hanya diisi oleh produsen makanan organik namun juga para artisan. Dengan demikian makanan DIY dianggap menjadi lebih enak dan lebih menarik, dengan berbagai macam menu. Makanan akan dilahap dan akhirnya tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Mbak Susi mengeluhkan masyarakat kekinian yang dianggapnya lebih suka menjadi konsumen makanan di berbagai
cafedan restoran mewah yang mahal. Semakin sedikit orang yang suka mengolah makanannya sendiri.
Pendek kata para pelaku dan aktivis hidup hijau mengeluh tentang ketidakmandirian masyarakat Indonesia yang lebih suka menjadi konsumen daripada belajar membuat sendiri atau memproduksi kebutuhan hariannya atau DIY. Persoalan kedua yang dikeluhkan adalah tiadanya kesadaran warga untuk menjadi konsumen
hijau, yaitu konsumen cerdas(smart consumer)yang mampu membuat
pilihan konsumsi yang ramah lingkungan mulai dari pra konsumsi hingga pasca konsumsi.
Pak Soleh dan Mbak Aminah mengeluhkan masyarakat yang kini begitu doyan membangun rumah dengan gaya modern. Rumah yang dibangun dengan batu dan semen, seringkali dibuat tinggi berlantai 2 dan 3. Masyarakat meninggalkan jenis rumah tradisional yang menurut mereka sebenarnya lebih cocok untuk daerah tropis dan mampu tetap kokoh ketika gempa bumi datang.
Menurut mereka selera rumah demikian bahkan tidak hanya terjadi di kota saja, melainkan juga di desa, yang seharusnya menjadi pewaris utama tradisi kearifan lokal yang tercetak lewat rumah-rumah tradisional itu. Akibat dari pemilihan rumah demikian adalah AC dan kipas angin harus dipasang karena desain rumah modern ini umumnya
kecil dan panas, padahal menurut Mbak Aminah, AC adalah teknologi yang sangat jahat.
“Kalo sekarang ini settingan rumahnya itu udah tertutup sama sekali, yang kecil-kecil gitu lho, maka otomatis harus pake AC. Padahal menurutku itu yang harus digugat, gaya hidup hijau itu memang sudah seharusnya sejak dalam pikiran kita, lalu kemudian itu membuat kita mempunyai pertimbangan-pertimbangan, perspektif-perspektif, lalu sampai ke persoalan pemilihan, rumah yang dipilih kayak apa, sampah yang akan kita hasilkan seperti apa. Itu yang aku sayangkan, orang-orang dalam keseharian bagaimana memilih rumah itu juga jahat gitu lho menurutku, dari awal mau settingannya punya AC, aku mau punya rumah yang kamar-kamarnya pake AC, supaya nyaman. Iya, lu nyaman di rumah, tapi di luarnya nggak nyaman, banyak orang gak paham AC itu kan sebenarnya produk yang sangat egois, karna memberikan kenyamanan di dalam, tapi panasnya itu dirasakan oleh orang di luar rumah, itu yang orang gak paham. Jadi tidak menggunakan AC itu sebenarnya praktik berempati, tapi kan orang malas ya berempati gitu, yang paling enak ya ngurus diri sendiri ajalah gitu ya.”
(Wawancara dengan Mbak Aminah tanggal 5 Oktober 2015)
Bagi Mbak Aminah sedari awal seharusnya orang sudah mempertimbangkan kehidupan seperti apa yang seharusnya ia hidupi, rumah seperti apa, dan sampah seperti apa yang akan dihasilkan. Sampah adalah soal yang paling banyak disesalkan oleh partisipan.
Mas Farah dan Mbak Karen mengeluhkan masyarakat yang abai sekali soal sampah, suka membuang sampah dengan sembarangan di mana saja. Mas Farah bahkan pernah mengejar seorang pengemudi sebuah mobil yang membuang sampah ke jalanan dan melemparkan kembali sampah itu ke dalam mobil si pembuang sampah.
Sementara Mbak Karen termasuk aktivis PungutSampah yang cukup rajin menegur dan mengajari orang-orang untuk membuang sampah-sampahnya di tempat sampah. Dalam beberapa kesempatan mengikuti acara PungutSampah di KM 0, hanya dalam radius sekian meter Mbak Karen sudah menegur dan mengajari cukup banyak orang-orang yang sedang asik bercengkrama agar membuang sampahnya di tempat yang telah disediakan. Padahal saat itu terlihat hanya ada 1 tempat sampah yang tersedia dan sudah dalam keadaan penuh sehingga “wajar” sampah-sampah itu kemudian meluber.
Mbak Karen mengaku sangat kesal dengan para pedagang di sekitar KM 0 yang menurutnya tidak memperdulikan sama sekali sampah yang mereka hasilkan. Menurutnya hal ini membuat pemandangan KM 0 menjadi sangat kotor, padahal tempat itu adalah salah satu ikon kota Yogyakarta.
Mbak Nana juga mengeluh mengenai tetangga di sekitar kost-nya yang suka membakar sampah. Menurutnya tindakan itu mengganggu kesehatan dan kenyamanan, sekaligus menunjukkan tidak adanya rasa empati kepada orang lain dan kesadaran pada si pembakar sampah. Demikian juga para pedagang di warung-warung kecil yang merasa aneh saat plastik yang ditawarkannya ditolak oleh Mbak Nana. Walaupun bisa mengerti alasan keberatan si pedagang yang
mengatakan “ora elok”jika tidak memakai plastik, bagi Mbak Nana hal itu tetap sesuatu yang mengganggu.
Demikian juga dengan Mbak Aminah saat berbelanja di pasar tradisional, ia selalu berusaha menolak plastik yang ditawarkan si pedagang. Ia keberatan dengan para pedagang yang tetap memberikan kantong plastik cuma-cuma dengan alasan yang sama, “ora elok”. Menurutnya seharusnya konsumen yang menolak memakai kantong plastik diberikan penghargaan tertentu seperti yang dilakukan Toko Superindo.
Pemakaian kantong plastik memang menjadi perhatian utama partisipan, seiring isu bahaya kantong plastik semakin banyak dibicarakan media. Bagi Pak Soleh memakai kantong plastik berarti ikut membunuh hewan-hewan yang terluka dan mati karena tak sengaja menelan kantong plastik yang terbawa ke kebun binatang, hutan dan laut. Katanya masyarakat harusnya berbelanja dengan memakai kardus atau membawa tas belanja sendiri.
Bagi partisipan perilaku masyarakat menangani sampah sangat mengecewakan, mulai dari boros plastik hingga suka membuang sampah dengan sembarangan, serta suka merusak fasilitas publik.
“Kami sering ketemu sama sampah-sampah plastik yang dibuang sama orang di pinggir jalan, karna tempat kami agak terpencil gitu ya trus kemudian orang merasa bisa membuang sampahnya disitu, bayangkan betapa mereka nggak tanggung jawab. Mereka mau mengkonsumsi segala
sesuatu tapi mereka nggak mau tanggung jawab sama sampahnya, dan sampahnya dibuang ke tempat orang lain, orang lain dapat ampasnya.”
Kekecewaan yang dirasakan Mbak Aminah diatas memang didasarkan pada pengalamannya sendiri. Rasa terganggu mendapati banyak sampah di sekitar rumahnya tanpa kejelasan siapa yang bertanggung-jawab hingga sampah-sampah itu tiba di lokasi rumahnya. Bagi Mbak Aminah, juga partisipan pada umumnya, setiap konsumen harus bertanggung-jawab kepada sampahnya masing-masing, dibuang kemana atau diperlakukan seperti apa.
Namun kini di banyak tempat jangan harap anda bisa membuang sampah anda di tempat sampah milik orang lain. Ternyata sampah pribadi harus berakhir di tempat sampah sendiri, sebelum diangkut oleh petugas pengumpul sampah. Kini sampah pun menjadi persoalan privat, konsumen tidak boleh membuang sampah di tempat orang lain, hanya di tempatnya sendiri atau di toko tempat ia berbelanja. Tempat sampah itu bukan milik umum.
Demikian juga dengan persoalan hemat listrik dan air. Mas Yuki mengatakan bahwa sebenarnya krisis air bersih dan kekeringan sumur air yang dialami oleh banyak warga di Yogyakarta adalah karena kesalahan warga sendiri. Mereka boros sekali memakai air untuk kebutuhan mencuci pakaian, mandi dan segala keperluan rumah
tangga. Mas Yuki cukup yakin dengan hal ini karena informasi ini disampaikan langsung oleh seorang akademisi bidang hidrologi yang mengajar di sebuah kampus negeri Yogyakarta yang menyatakan data tersebut sebagai hasil statistik. Secara kebetulan pernyataan itu disampaikan dalam acara seminar lingkungan hidup yang disponsori oleh PT Danone Indonesia yang memproduksi air minum dalam
kemasan ber-merk AQUA.76 Senada dengan Mbak Bia, relawan
komunitas MaenAir, ia menyatakan “cewek-cewek kan banyak tuh
yang kalo mandi suka lama dan kerannya dibiarin hidup, airnya meluber, boros.”77
Ibu Dian mengeluh tentang beberapa rekan kerjanya yang mencampurkan begitu saja kertas-kertas bekas dengan sampah-sampah lainnya. Menurutnya hal itu disebabkan rasa malas memilah-milah sampah. Rasa malas itu juga ada pada asisten rumah tangganya yang mencampurkan segala macam sampah ke satu tempat, tidak dipilah-pilah, termasuk sampah sisa makanan. Ia juga mengeluhkan masyarakat yang suka merusak fasilitas umum.
Mas Hari, penggagas komunitas SaveEnergy sangat yakin tidak adanya kesadaran masyarakat adalah pangkal persoalan krisis energi
yang melanda Indonesia, mereka begitu boros, “..bahwa 20% daerah
Indonesia belum mendapat akses terhadap listrik dan ironinya 80% 76Wawancara dengan Mas Yuki tanggal 11 Agustus 2015.
rakyat Indonesia adalah pengguna listrik terboros di Asia Tenggara. Masyarakat Indonesia yang cenderung melupakan hal-hal kecil dalam penghematan listrik membuat pemerintah cukup kewalahan untuk memfasilitasi listrik di daerah terpencil.”78, dan korbannya adalah pemerintah yang harus bekerja keras –bahkan kewalahan memenuhi kebutuhan energi listrik yang tiada akhir itu.
Dengan pendapat demikian maka rasanya wajar saat pemerintah Indonesia melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengundangnya menjadi salah satu peserta dalam Youth Forum dalam Bali Clean Forum. Konferensi ini diadakan untuk membicarakan soal kampanye, edukasi dan advokasi penghematan energi kepada kawula muda.
Mas Hari dan komunitas SaveEnergy adalah komunitas yang dianggap sebagai pemuda-pemuda yang positif dan menginspirasi sehingga komunitas ini diliput oleh Majalah Energi milik Kementrian ESDM edisi 05 Agustus 2015. Komunitas mereka bahkan diliput dalam acara Coffee Break TV One edisi 19 November 2015 yang disponsori – masih oleh Kementrian ESDM. Di Yogyakarta, Mas Hari ditunjuk menjadi salah satu pemateri dalam diskusi Membedah Peran Local Youth Dalam Perkembangan Kota Hijau dalam acara Festagama UGM 2016.
78Diambil dari selebaran SaveEnergy Community dengan judul “Everyday is EarthDay: Nyalakan Seperlunya Ya”, dibagikan pada 4 Oktober 2015 di KM 0 Yogyakarta.
Pak Iman dan Pak Soleh bersama Green Family kini bukan lagi satu-satunya yang menjadi tokoh inspirasi yang hidupnya ramah lingkungan. Ada Mas Hari, komunitas pasar organik yang disebut Mbak Aminah sebagai aktorfair trade, juga Mbak Nisa dan Mbak Susi lewat Warung Salad, Teman Berkebun, dan masih banyak lagi. Mereka adalah pahlawan lingkungan. Tapi pahlawan biasanya tidak akan muncul tanpa musuh, dan –entah disadari atau tidak- yang ditunjuk sebagai musuh lingkungan itu adalah masyarakat biasa. Seseorang dalam sebuah diskusi lingkungan hidup pernah mengeluh kira-kira begini,“Kenapa ya saya perhatikan warga miskin ini justru nggak mau menjadi konsumen hijau?”.79