Di dalam berbagai ayat Alquran itu sangat banyak sekali disebutkan
kalimat: , dan yang
sejenisnya, yang di antaranya di dalam surat 3 ayat 32 dan ayat 132, surat 24 ayat 54, surat 4 ayat 59, surat 5 ayat 92, dan lain-lain, yang arti kalimat itu adalah “hendaklah kamu mematuhi pada Allah dan rasul-Nya.” Perintah dalam kalimat tersebut ditujukan, khususnya kepada orang-orang yang beriman.
Kita, kaum Muslimin disuruh mematuhi Allah dan mematuhi rasul-Nya, maksudnya adalah “mematuhi terhadap ketetapan-ketetapan Allah yang ada dalam Alquran dan mematuhi terhadap jejak-jejak Rasulullah saw. di dalam mengamalkan risalah Alquran. Kalau mengenai ketetapan-ketetapan yang ada dalam Alquran itu sudah jelas ayat-ayatnya berasal dari Allah.” Tetapi, walaupun begitu, maksud ayat-ayat tersebut masih bisa disalahpahami oleh masing-masing orang, karena latar belakang ini dan itu. Dan untuk mengatasi hal tersebut, dalam rangka mencari pemahaman yang benar, masing-masing dari kaum Muslimin haruslah berlapang dada dan berkewajiban untuk menyampaikan argumen-argumennya secara santun lagi qurani yang dapat mendukung terhadap pemahaman masing-masing yang dianggap dan diyakininya sebagai “pemahaman yang benar.”
Sedangkan, mengenai jejak-jejak Rasulullah saw., apakah dia berbentuk ucapannya, perbuatannya ataupun ketetapannya, maka hal itu akan lebih sulit lagi untuk dapat mendeteksinya, apakah benar hal yang dibilangkan berasal dari Rasulullah saw. itu benar ucapannya, benar perbuatannya dan benar-benar ketetapannya? Karena ketiga hal tersebut, kebanyakannya tidak ditulis atau tidak dicatat di zaman Rasulullah saw., atau dengan kata lain ketiga hal tersebut ditulis dan dicatat sekitar dua abad, bahkan ada yang tiga abad lebih setelah Rasulullah saw. wafat, yakni berdasarkan laporan dari si A, dan si A dapat dari si B, dan si B dapat dari si C, dan si C dapat dari si D, dan si D dapat dari si E, dan si E dapat dari sahabat, kemudian dari Rasulullah saw., yang akhirnya dikatakan bahwa Rasulullah saw. mengatakan ini dan itu, berbuat ini dan itu, dan menetapkan ini dan itu. Jadi, ketiga hal tersebut yang konon dikatakan sebagai hadis atau sunnah Rasul itu didapat melalui laporan dari seseorang ke seseorang di dalam masa sekitar lima generasi. Oleh karena itu, amat sulitlah untuk dapat mendeteksi bahwa ketiga hal tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah saw. Tetapi walaupun begitu, ada cara yang sangat mudah untuk dapat mendeteksinya, yakni dengan memakai alat Alquran yang di dalam surat Yasin ayat 2, dikatakan, bahwa Alquran itu sebagai “sesuatu yang dapat memutuskan/menghakimi,” yakni memutuskan apa saja secara benar, termasuk memutuskan “apakah benar yang dikatakan hadis ini dan hadis itu adalah benar-benar ucapan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah saw.?” Kalau memang hal itu benar-benar berasal dari
Rasulullah saw., maka kita pun wajib mengikutinya. Karena pada waktu itu, berarti kita mengikuti Alquran. Karena bagaimanapun ucapan, perbuatan, dan ketetapan-ketetapan Rasulullah saw. itu adalah merupakan manifestasi dari pengamalan Alquran itu sendiri, sehingga karenanya telah disebutkan, bahwa “akhlak-akhlak/ jejak-jejak Rasulullah saw. itu adalah Alquran.” Jadi, kalau ada sesuatu yang konon dikatakan sebagai hadis atau sunnah Rasul, tetapi isi dan jiwanya bertentangan dengan isi dan jiwa Alquran, maka hal tersebut jelas bukan hadis atau sunnah Rasul, atau dengan kata lain hadis dan sunnah Rasul yang sengaja dibikin-bikin/hadis maudhuu. Sehingga, amat bijaksanalah para ahli ilmu hadis yang mengatakan, bahwa: “syarat pokok hadis sahih itu adalah isi dan jiwanya tidak boleh bertentangan dengan Alquran.”
Oleh karena itu, masing-masing kita dari kaum Muslimin hendaklah sangat berhati-hati terhadap hadis-hadis yang ada dalam berbagai kitab hadis, hendaklah kita menggunakan Alquran sebagai alat untuk dapat menyeleksi, mana hadis-hadis yang benar dari Rasulullah saw., dan mana-mana yang bukan. Untuk mengetahui hal itu, janganlah kita hanya menggunakan alat-alat yang dibikin oleh manusia, yang pengetahuannya sangat relatif dan tidak mengetahui yang gaib itu, yakni dengan jalan menggunakan alat, yang dengan alat mana konon dapat diketahui bahwa si A, si B, si C, dan seterusnya yang meriwayatkan hadis-hadis itu adalah orang yang terpercaya, orang yang takwa, orang-orang yang kuat hafalannya, dan lain-lain, sehingga dengan perantaraannya, hadis-hadis yang konon diriwayatkan oleh mereka-mereka itu dianggap dan diyakini sebagai “hadis sahih.”
Padahal, untuk mengetahui orang-orang tersebut yang hidupnya jauh ratusan tahun bahkan ribuan tahun sebelum kita, yakni bahwa orang-orang itu bertakwa atau tidak, terpercaya atau tidak, itu bukan urusan dan tanggung jawab kita, karena masalah itu adalah masalah hati seseorang dan hanya Allah yang dapat mengetahuinya. Di samping itu, bahwa orang yang sejujur apa pun, pasti akan pernah melakukan kesalahan yang tidak disengaja, sehingga ada doa “Ya Allah, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan yang tidak disengaja.” Dan di samping itu juga, bahwa orang-orang yang konon meriwayatkan hadis-hadis itu, baik si A, si B, si C, dan seterusnya, dapat saja terjadi bahwa bukan mereka yang meriwayatkannya, tetapi orang lain yang sengaja mengada-adakan riwayat hadis dengan dikatakan bahwa yang meriwayatkannya itu adalah mereka, karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Hal yang seperti ini sangat mungkin terjadi, sebagaimana sangat mungkin terjadinya hal tersebut pada diri Rasulullah saw. Sehingga beliau bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan dusta atas namaku, maka hendaklah dia bersiap-siap untuk menempati tempat duduknya dari api/akan sengsara (hadis Mutaawatir).” Maksudnya adalah, akan banyak orang yang memakai nama beliau, sehingga beliau dikatakan, mengatakan ini dan berbuat itu, padahal beliau saw.
tidak pernah mengatakan dan memperbuatnya. Bagi mereka yang melakukan kedustaan seperti itu, diancam oleh Rasulullah saw. dengan ancaman yang sangat keras, seperti yang telah disebutkan.
Jadi, sekali lagi sangat hati-hatilah terhadap hadis-hadis palsu/maudhuu yang ada dalam berbagai kitab hadis, karena dia adalah merupakan “berhala” yang apabila kita sembah, kita yakini, dan kita amalkan, maka hal itu akan dapat mengakibatkan hal-hal yang buruk yang akan menimpa umat Islam ini. “dampak-dampak buruk yang ditimbulkan oleh hadis-hadis palsu” itu dipakai judul oleh Muhammad Naashiruddiin al Albanii di dalam kitabnya yang berjudul lengkap: