• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasulullah saw. tidak Pernah Membelenggu Kaumnya

Surat 3 ayat 161 ini kalau diterjemahkan dengan bebas, maka artinya: Dan tidak mungkin bagi seseorang nabi itu membelenggu kaumnya. Dan siapa saja yang membelenggu terhadap orang lain, maka dia akan datang di hari kiamat dengan pembelengguan yang telah dilakukannya; kemudian setiap orang akan dibalas sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya, sedangkan mereka tidak akan digelapkan hak-haknya/dizalimi.

Kalimat “Dan tidak mungkin bagi seseorang nabi itu membelenggu kaumnya” adalah terjemahan dari . Berdasarkan surat 5 ayat 64, maka kata adalah “fi’il Muta’addi,” karena di dalam ayat tersebut ada kata /isim Maf’ul, dan ada kata /fi’il Madli Majhul.

Kenapa kata dan kata dalam surat 3 ayat 161 ini diterjemahkan dengan “membelenggu?” Karena kata itu berdasarkan surat 7 ayat 43, surat 15 ayat 47, dan surat 59 ayat 10 adalah berasal dari Masdar/kata pokok , yang di dalam surat 7 ayat 157, surat 13 ayat 5, surat 34 ayat 33, surat 36 ayat 8, surat 40 ayat 71, dan surat 76 ayat 4 disebutkan kata jamak dari kata itu adalah , dengan arti “pembelengguan-pembelengguan/belenggu-belenggu.” Adapun maksud dari “bahwa seseorang nabi/rasul itu tidak akan mungkin membelenggu pada siapa pun” adalah “bahwa semua nabi/rasul, lebih-lebih Rasulullah saw. akan selalu berlapang dada, selalu bertoleransi, tidak pernah memaksakan kehendak, tidak otoriter, akan selalu menyampaikan kebenaran kepada pihak lain dengan berbagai argumen yang unggul lagi agung.” Karena, setiap nabi/rasul itu akan selalu menyadari bahwa dirinya itu hanyalah sebagai “penyampai yang menerangkan/ ” (surat 5 ayat 92 dan ayat 99, surat 16 ayat 35 dan 82, surat 36 ayat 17, dan lain-lain ayat yang jumlahnya lebih dari sepuluh ayat).

Jadi, kalau ada hadis-hadis palsu yang memberikan kesan bahwa Rasulullah saw. adalah seseorang yang tidak berlapang dada, tidak bertoleransi, suka memaksakan kehendak, sewenang-wenang, menindas, bengis dan yang sebangsanya, maka jelaslah hadis-hadis tersebut bukanlah berasal dari beliau saw. alias hadis palsu yang dibikin oleh orang-orang tertentu karena kepentingan-kepentingan tertentu pula. Ada pelajaran yang maha penting dari surat 3 ayat 161 tersebut di atas, yakni “kalau kita, kaum Muslimin menduduki jabatan atau menguasai daerah tertentu, maka kita dilarang melakukan tindakan

pembelengguan-pembelengguan seperti tersebut di atas terhadap orang-orang yang kita kuasai.” Kalau larangan itu kita langgar, maka kekuasaan yang kita dapatkan itu akan cepat lenyap. Dalam hal ini sudah banyak terbukti di masa-masa yang lalu dan juga di masa-masa yang sekarang.

50. “Nabi Isa a.s. tidak Dihukum Salib” Tapi “Beliau Disalib”

Kalimat yang ada dalam surat 4

ayat 157 diterjemahkan dengan “padahal tiadalah mereka (orang-orang Yahudi) itu membunuh pada dia/Isa dan tiadalah mereka menghukum salib (pada) dia/Isa dan tetapi dia/Isa telah diserupakan terhadap mereka.”

Dan kata di situ Naa`ibul Faa’ilnya adalah “dia” yang kembali kepada “Isa,” dan kata yang ada pada adalah “mereka/orang-orang Yahudi,” karena memang dari permulaan ayat tersebut, ungkapan yang ada hanyalah orang-orang Yahudi dan Isa. Tetapi walaupun begitu, di dalam kitab “I’roobul-Qur’aanil-Kariim wa bayaanuhu, karangan Muhyidin Addirwisy” dikatakan, bahwa yang menjadi “Naa`ibul Faa’il” dari “fi’il Majhul , bukanlah dia/Isa, tetapi adalah atau /yang dibunuh, karena bukan Isa yang diserupakan tetapi orang lain. Penguraian i’roob seperti ini timbul, karena yang bersangkutan memahami bahwa yang disalib itu orang lain yang diserupakan dengan wajah Isa … dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi kami penulis tidak menyetujui hal itu, dengan beberapa alasan:

1. Karena dalam ayat 157 tersebut sebelum kata jelas-jelas hanya disebut “orang-orang Yahudi dan Isa” dan dlomir “mereka” selalu kembali kepada “orang-orang Yahudi” dan dlomir “dia” selalu kembali kepada “Isa”. 2. Dalam ayat tersebut tidak pernah disebut-sebut orang lain selain keduanya. 3. Orang-orang Yahudi tidak pernah berhasil di dalam hendak “menghukum salib” pada Nabi Isa, karena yang namanya “Hukum Salib” adalah “mensalib seseorang sampai mati”.

Jadi, kalau seseorang dipenteng/dipalangkan di palang salib, tetapi tidak sampai mati, maka dia tidak kena hukum salib, seperti itulah halnya Nabi Isa. Orang-orang Yahudi, karena tidak percaya/kufur kepada Isa Al masih sebagai “nabi,” maka mereka berdaya upaya sekuat tenaga untuk dapat membunuh Nabi Isa, baik melalui hukum salib ataupun lainnya, dengan tujuan kalau mereka berhasil membunuhnya, berarti pada waktu itu sekaligus mereka dapat membuktikan bahwa Isa itu adalah “nabi palsu”. Karena menurut kitab mereka dalam ulangan 18 ayat 20 ditegaskan, “Nabi palsu itu matinya pasti dengan jalan mati terbunuh.” Dan Nabi Isa itu sendiri menyadari benar terhadap daya upaya jahat mereka itu. Sehingga dalam surat 3 ayat 55, Allah swt. menghibur Nabi Isa bahwa “daya upaya jahat mereka itu akan gagal dan kematianmu bukan di tangan mereka,” tetapi di tangan-Ku dengan wahyu-Nya “Wahai Isa, sesungguhnya Aku-lah yang akan mematikan engkau (secara wajar) dan Aku-lah yang akan mengangkat (derajat) engkau kepada-Ku, dan Aku-lah yang akan membersihkan engkau (dari tuduhan-tuduhan jahat) dari orang-orang yang mengufuri (pada engkau), dan

Aku-lah yang akan menjadikan orang-orang yang mengikuti pada engkau di atas/melebihi orang-orang yang mengufuri (pada engkau) sampai hari kiamat.

Di dalam surat 3 ayat 54, yakni sebelum ayat yang isinya Allah menghibur Nabi Isa tersebut di atas, maka di situ dikatakan “orang-orang Yahudi berdaya upaya (untuk membunuh Nabi Isa dengan tujuan seperti yang diutarakan di atas) dan Allah pun berdaya upaya pula (untuk melindungi dan menjaga Nabi Isa), dan Allah-lah yang sebaik-baik dari pada orang-orang yang berdaya upaya (atau dengan kata lain daya upaya mereka akan gagal dan daya upaya Allah-lah yang akan terwujud).

Dan Allah di dalam hendak menyelamatkan Nabi Isa dari daya upaya jahat mereka adalah sangat bijaksana, sangat halus, dan rapi. Oleh karenanya sesuatu hal yang mustahil bagi Allah kalau Dia tidak bijaksana di dalam hendak menyelamatkan Nabi Isa dari kematian terkutuk itu, dengan jalan “mencari orang lain yang rupa dan bentuknya diserupakan dengan rupa dan bentuknya Nabi Isa”. Dengan jalan yang seperti ini, apakah Allah swt. di dalam hendak menyelamatkan Nabi Isa itu sudah kehabisan daya upaya? Na’uudzubillaahi min dzaalik.

Bagaimanakah caranya Allah swt. dengan daya upaya-Nya yang sangat bijaksana, halus, dan rapi di dalam hendak menyelamatkan Nabi Isa itu? Yakni dengan jalan: Untuk sementara waktu, sesuai dengan rahasia Allah, orang-orang Yahudi dengan bantuan tentara Romawi dapat menangkap dan menaikan Nabi Isa di kayu salib, sesuai rahasia Allah pula, pada waktu itu adalah hari Jumat sore menjelang malam hari Sabtu, hari yang dianggap suci oleh orang-orang Yahudi. Di saat Nabi Isa pingsan di kayu salib, orang-orang Yahudi menyangkanya mati, di saat itulah Allah Yang Maha bijaksana, Maha halus dan Maha rapi di dalam daya upaya-Nya sedang bekerja untuk menyelamatkan Nabi Isa dari kematiannya di kayu salib; Nabi Isa dipingsankan oleh Allah, pikiran dan hati orang-orang Yahudi pada waktu itu dikaburkan oleh Allah, sehingga melihat Nabi Isa yang pingsan itu disangkanya mati, sehingga mereka merasa puas telah berhasil membuktikan bahwa Nabi Isa adalah “Nabi palsu”. Karena mereka menyangkanya sudah mati, dan menurut peraturan agama mereka, bahwa malam hari Sabat, hari yang dianggap suci oleh mereka itu, adalah tidak boleh ada orang yang masih berada di tiang salib, maka mereka datang kepada murid-murid Nabi Isa sambil mengejek, dan mereka mengatakan “uruslah bangkai dari gurumu itu,” padahal pada waktu itu Nabi Isa belum mati, dan hal itu disadari oleh murid-muridnya yang lantas mereka menurunkan Nabi Isa dari kayu salib, dan kemudian mereka mengurusnya dengan baik, dan Yusuf Arimatea beserta Nekodemos selaku tabib terkenal dan juga selaku murid setia Nabi Isa, mengobati bekas luka-lukanya sehingga sembuh … dan seterusnya dan seterusnya.

Dari peristiwa “tidak matinya Nabi Isa di kayu salib,” yang hal mana diakui juga oleh kitabnya orang-orang Kristen dalam perjanjian baru, maka dengan

sendirinya akan batal dan gugurlah dua keyakinan pokok yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, yaitu:

1. Akan batal dan gugurlah keyakinan orang-orang Yahudi yang berkeyakinan bahwa Nabi Isa itu adalah “Nabi palsu”. Karena dia terbukti tidak mati dikayu salib.

2. Akan batal dan gugurlah keyakinan orang-orang Nasrani/Kristen yang berkeyakinan bahwa “Nabi Isa mati di kayu salib” adalah “untuk menebus dosa umat manusia”. Padahal sesuai dengan kitab mereka sendiri sebagaimana peristiwa yang disebutkan di atas, bahwa “Nabi Isa itu tidak mati di kayu salib”.

Dari perselisihan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tentang “masalah Isa” tersebut, maka Alquran menyelesaikan dan memutuskannya dengan kalimat: padahal tiadalah mereka/Yahudi membunuh pada dia/Isa dan tiadalah mereka menghukum salib/menyalib sampai mati pada dia/Isa, dan tetapi dia/Isa diserupakan (waktu pingsan seperti mati) kepada mereka/Yahudi. Dan sesungguhnya orang-orang yang masih juga memperselisihkan tentang masalah Isa itu (yang satunya menganggapnya “nabi palsu”, dan yang satunya lagi menganggapnya “nabi benar,” yang lantas dianggapnya dia mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia, yang lantas lagi dianggapnya sebagai Tuhan), maka mereka-mereka itu sebenarnya dalam keraguan dan tiada pengetahuan yang pasti tentang hal itu, dan benar-benar mereka/Yahudi tidak membunuhnya secara yakin, tetapi Allah mengangkat (derajatnya) Nabi Isa kepada-Nya dan Allah adalah Maha Perkasa lagi Yang Maha memutuskan (surat 4 ayat 157 dan ayat 158).

51. Kisah “Dua Anak Manusia, Habil dan Qabil,” dan Pelajaran yang