Sisi Allah dan Akan Mengalami Kehidupan Yang Damai
Surat 2 ayat 62 ini kalau diterjemahkan dengan bebas, maka artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari yang kemudian dan dia mengerjakan amal yang baik, maka mereka akan mendapatkan pahala dari sisi Rabb mereka dan rasa khawatir tidak akan menimpa pada mereka dan tidak pula mereka akan berdukacita.
Ayat yang seperti ini juga tercantum dalam surat 5 ayat 69, cuma susunan kalimatnya agak sedikit berbeda, tetapi intinya sama. Dari dua ayat tersebut, jelaslah bahwa “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari yang kemudian dan mengerjakan amal-amal yang baik, mereka akan mendapatkan balasan pahala dari Allah, baik orang-orang yang sudah beriman pada Rasulullah saw., ataupun orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, orang-orang Shabiin, dan lain-lain, sehingga mereka dalam kehidupannya tidak akan pernah mengalami rasa khawatir dan tidak pernah pula berdukacita/hidup mereka akan tenteram.”
Adapun tentang orang-orangYahudi, orang-orang Nasrani, orang-orang Shabiin, dan lain-lain, yang mana “dakwah Islam yang benar” belum pernah sampai kepada mereka, tetapi di dalam kehidupannya, mereka beriman kepada Allah/tidak musyrik, beriman kepada hari yang kemudian dan mengerjakan amal-amal yang baik, maka mereka-mereka itu akan mendapatkan balasan pahala dari sisi Allah, sehingga mereka dalam kehidupannya tidak akan pernah mengalami rasa khawatir dan tidak pernah pula berdukacita/hidup mereka akan tenteram, baik di dunia ini ataupun sesudah kematian nanti.
Dan adapun tentang orang Yahudi, orang Nasrani, orang-orang Shabiin, dan lain-lain, yang mana “dakwah Islam yang benar” telah sampai kepada mereka, tetapi karena keangkuhannya, mereka menolaknya, maka mereka akan mendapatkan dosa/dampak-dampak negatif dari penolakannya itu. Dan mengenai seberapa besar dosa yang diperoleh mereka, maka hal itu akan tergantung dari seberapa banyak kebenaran-kebenaran ajaran Islam yang mereka tolak, karena kebenaran-kebenaran ajaran Islam itu jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Dan dosa-dosa yang disebabkan oleh penolakan mereka itu, akhirnya akan ditimbang bersama dengan kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan. Dan kalau hasilnya “timbangan amal-amal kebaikannya” lebih berat jika dibanding dengan
“timbangan dosa-dosanya,” maka mereka akan berada dalam kehidupan yang senang. Tetapi sebaliknya, kalau “timbangan amal-amal kebaikannya” lebih ringan jika dibanding dengan “timbangan dosa-dosanya,” maka mereka akan berada dalam kehidupan yang serba susah dan sengsara/dalam gejolak api yang panas (surat 101 ayat 6 s/d ayat 11).
Perlu diberi tanda petik bahwa “berapa banyak dari penganut sesuatu agama, baik Islam ataupun Yahudi, Nasrani, Shabiin, dan lain-lain, yang mana mereka memeluk agamanya karena tradisi nenek-moyang dan lingkungan, bukan didasarkan atas dasar ilmu. Sehingga, apabila mereka dilahirkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang sudah mayoritas Islam, maka mereka dengan sendirinya akan menjadi orang-orang yang beragama Islam. Begitu pula mereka akan menjadi orang-orang yang beragama Yahudi, beragama Nasrani, beragama Shabiin, dan lain-lain, kalau seandainya mereka dilahirkan dalam keluarga dan lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama dengan agama-agama tersebut.” Oleh karena itu, masing-masing dari pemeluk agama-agama itu perlu menjawab pertanyaan di bawah ini:
Kenapa mereka memeluk agamanya dan kenapa pula mereka menolak agama-agama yang lain? Kalau masing-masingnya menjawab “karena agama-agama kamilah yang paling baik,” maka akan timbul pertanyaan “ajaran-ajaran yang manakah yang paling baik dari agama Anda itu?” Dan “ajaran-ajaran agama lain yang manakah yang Anda katakan kurang baik atau salah itu?” Kalau masing-masing dari mereka tidak bisa menjawab dengan baik, maka berarti mereka itu memeluk agamanya karena tradisi nenek-moyang dan lingkungan, bukan karena didasarkan atas ilmu yang dapat mendatangkan kesadaran. Tetapi sebaliknya, kalau masing-masing mereka bisa menjawabnya dengan baik dengan menunjukkan “ini yang baik, ini yang lebih baik dan itu yang jelek, itu yang kurang baik,” maka berarti mereka memeluk agamanya bukan karena tradisi nenek-moyang, tetapi karena ilmu/pengetahuan yang benar, sehingga mereka dapat memilah-milah.
Dalam Islam, kita dilarang mengikuti sesuatu, apa pun bentuknya, terutama ajaran-ajaran yang tanpa di dasari oleh ilmu (surat 17 ayat 36), karena hanya dengan perantaraan ilmu/pengetahuan yang benar itulah kesadaran seseorang akan timbul dan akhirnya akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang keji, yang jahat dan yang mungkar.
Untuk masing-masing penganut agama-agama, termasuk penganut agama Islam, maka juga berlaku pertanyaan di bawah ini:
Kalau Anda menolak sesuatu agama lain, maka ajaran-ajaran manakah yang berasal dari agama tersebut yang sudah sampai kepada anda yang akhirnya anda tolak? Kalau mereka bisa menjawab dengan baik dengan menunjukkan alasannya yang benar, maka berarti mereka telah menerima dan menolak sesuatu berdasarkan atas ilmu/pengetahuan yang benar.
Tetapi kalau ajaran-ajaran dari agama lain tersebut belum sampai kepada Anda, karena lemahnya dakwah mereka, maka apakah Anda akan menolak terhadap sesuatu yang belum sampai kepada Anda? Kalau hal ini Anda lakukan, maka berarti Anda telah menerima agama Anda dan menolak agama lain karena tradisi dan lingkungan yang membelenggu Anda.
Dari situasi dan kondisi yang terakhir semacam inilah yang umumnya ada pada kebanyakan berbagai penganut agama yang ada. Yang hal tersebut karena keterbatasan kemampuan berpikir mereka, maka Allah pun memaklumi dan memaafkan keterbatasan mereka itu (surat 23 ayat 62, surat 65 ayat 7 dll.). Dan akhirnya, Allah akan tetap memberikan balasan kepada mereka, kalau toh mereka benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir dan mengerjakan amal-amal kebajikan … sebagaimana yang ada dalam surat 2 ayat 62 itu.
Tetapi di samping itu, dari masing-masing penganut berbagai agama itu pasti akan muncullah orang-orang yang jujur/objektif, selalu berpikir, selalu merenung, selalu menuntut ilmu, dan selalu mengembangkan wawasannya, sehingga mereka-mereka ini akhirnya akan bertemu dalam berbagai titik persamaan kebenaran/kalimatin sawaa` yang mereka temukan di dalam agama mereka masing-masing. Jika situasi dan kondisi seperti ini ada pada mereka, maka satu sama-lain dari mereka akan menjadi “saling pengertian, saling menghormati, saling rukun, saling mau mendengar, saling mau mengambil dan memberi” walaupun masing-masing mereka berbeda agama. Dengan perantaraan mereka-mereka yang sudah terkeluarkan dari tradisi nenek-moyang seperti itulah, maka kerukunan antar umat beragama akan dapat terwujud. Dan hal ini telah terwujud di masa-masa yang lalu, yakni dalam masa-masa kejayaan dan kegemilangan Islam, baik di Kufah, Bagdad, Persia, Mesir, Spanyol, ataupun Turki dan lain-lain.
57. Rasulullah saw. tidak Mengetahui yang Gaib, Kecuali yang Allah