Surat 7 ayat 50 ini, kalau diterjemahkan dengan bebas, maka artinya: Penghuni neraka memanggil pada penghuni surga “Hendaklah kamu menuangkan sebagian dari air itu kepada kami atau sebagian dari apa-apa yang Allah telah merezekikan kepada kamu!” Penghuni surga menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya atas orang-orang yang kafir.”
Ayat ini menunjukkan, bahwa penghuni neraka itu dapat bercakap-cakap dengan penghuni surga, bahkan mereka dapat melihat terhadap nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada penghuni surga itu, malahan mereka mengharapkannya dengan sangat.
Dari sini jelaslah, bahwa “neraka dan surga” itu bukanlah “suatu tempat secara fisik”, tetapi sesuatu “keadaan rohani” yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan fisik, melainkan dibatasi oleh batasan-batasan-batasan-batasan keadaan yang berbeda. Bahkan di dalam surat 3 ayat 133 dan surat 57 ayat 21 disebutkan, bahwa surga itu tidak ada batasnya, meliputi luas langit dan bumi.
Kita ambil sebuah contoh dua keadaan yang berbeda yang terjadi di dunia ini, baik dalam taraf orang-per orang, masyarakat-per masyarakat dan negara-per negara, seperti: Kita sering mendengar seseorang, suatu masyarakat, atau penduduk suatu negara yang hidupnya miskin lagi sengsara/dunianya tidak hasanah yang disebabkan oleh pola pikir dan tingkah lakunya yang tidak benar, mereka itu merengek-rengek minta bantuan kepada seseorang, kepada masyarakat lain, atau kepada negara lain yang hidupnya tenteram dan bahagia/dunianya hasanah, seraya mereka mengatakan, “Kapan kita dapat menjadi seperti mereka; betapa enaknya hidup tenteram dan bahagia seperti mereka; mereka dimuliakan dan dihormati di mana-mana, namanya harum dan lain … dan lain sebagainya.” Ungkapan-ungkapan dari penghuni neraka dunia seperti ini yang secara tidak langsung ditujukan kepada penghuni surga dunia, maka akan dengan sendirinya akan dijawab secara tidak langsung oleh mereka, “Semua kepandaian, kemajuan, keamanan, kebahagiaan, dan ketenteraman itu tidak pantas untuk kamu sekalian, karena kamu selama itu tidak amanah, tidak jujur, tidak disiplin, tidak adil, tidak bekerja keras dan tidak … tidak lainnya. Yang semuanya itu mencerminkan kekufuran dan pelanggaran kamu kepada peraturan-peraturan Allah.”
Contoh-contoh dari dua keadaan yang berbeda seperti itu, yang sama-sama kita saksikan dalam kehidupan ini adalah sebagai “permisalan-permisalan” yang diadakan oleh Allah, supaya kita dapat mengambil pelajaran darinya, sehingga minimal, kita dapat memahami walaupun sekecil mungkin terhadap
ungkapan-ungkapan Allah dalam Alquran tentang berbagai kehidupan sesudah kematian (surat 30 ayat 57, surat 39 ayat 27, dan surat 17 ayat 85).
67. “Penghuni Neraka” yang Terdiri dari Para Penganut Berbagai Agama
Surat 7 ayat 50 dan ayat 51 ini, kalau diterjemahkan dengan bebas, maka artinya: Penghuni neraka memanggil pada penghuni surga “Hendaklah kamu menuangkan sebagian dari air itu kepada kami, atau sebagian dari apa-apa yang Allah telah merezekikan kepada kamu!” Penghuni surga menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya atas orang-orang yang kafir,” yang mereka/orang-orang yang kafir itu adalah “orang-orang yang melalaikan dan mempermainkan ajaran-ajaran agama mereka, dan mereka telah terpedayakan oleh kehidupan dunia. Maka di hari mereka masuk neraka ini, Kami melupakan mereka seperti mereka dahulunya melupakan pada perjumpaan di hari mereka ini, dan seperti apa-apa yang mereka dahulunya mengingkari terhadap ayat-ayat Kami.”
Dalam ayat 51-nya itu menjelaskan: “Siapakah orang-orang yang kafir yang akhirnya mereka menjadi penghuni neraka seperti yang ada dalam ayat 50 sebelumnya?
Ayat 51 di atas menjelaskan, bahwa mereka itu adalah “orang-orang yang beragama dengan agama Allah, tetapi banyak peraturan-peraturan Allah yang ada dalam agama tersebut yang mereka lalaikan dan permainkan. Dan mereka telah menjadikan agamanya itu sebagai permainan dan kuda tunggangan untuk tujuan tercapainya kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompoknya demi mengejar kesenangan-kesenangan duniawi sesaat.”
Jadi, amat salahlah pemahaman dan ungkapan yang mengatakan, “Orang-orang yang kafir itu hanyalah tertuju kepada “Orang-orang-“Orang-orang yang tidak beragama atau orang-orang yang di luar agama Islam.”
Berdasarkan ayat 50 dan ayat 51 tersebut, ternyata orang-orang yang beragama, baik yang beragama Islam ataupun lainnya itu bisa mendapat predikat “orang-orang yang kafir,” jika mereka banyak melalaikan dan mempermainkan terhadap peraturan-peraturan Allah yang ada di dalam agamanya.
Di dalam Alquran surat 29 ayat 61, surat 29 ayat 63, surat 31 ayat 25, surat 39 ayat 38, surat 43 ayat 9, dan surat 43 ayat 87, dan masih banyak lagi ayat yang mengatakan dengan jelas, “Orang-orang yang kafir itu bukan berarti mereka tidak percaya kepada Allah dan sifat-sifat-Nya. Mereka itu percaya kepada-Nya
dan sifat-sifat-Nya, tetapi tingkah lakunya banyak yang bertentangan dengan ketetapan-ketetapan Allah/banyak melanggar peraturan-peraturan-Nya.”
Dari situ jelaslah, bahwa “hakikat kufur kepada Allah” itu dapat terjadi pada orang-orang di luar agama Islam, dan juga dapat terjadi pada orang-orang yang beragama Islam itu sendiri. Oleh karena itu, kaum Muslimin di dalam menjalankan nilai-nilai yang islami yang jumlahnya ratusan itu, minimal di dalam persentasenya harus lebih banyak jika dibandingkan dengan orang-orang yang di luar agama Islam. Jangan sampai terbalik, karena kalau terbalik, maka kaum Muslimin akan lebih kafir dari mereka, dan mereka akan lebih islami dari kaum Muslimin. Na’uudzubillahhi min dzaalik!
68. “Pelajaran Penting” Dalam “Kisah Firaun yang Otoriter dengan Nabi Musa a.s.”
Dalam surat 7 ayat 103 s/d ayat 155 disebutkan secara garis besar tentang “kisah Nabi Musa berhadapan dengan Firaun, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang dialami oleh Nabi Musa di dalam mendidik kaumnya sesudahnya itu”. Di mana dalam kisah tersebut, Nabi Musa dibangkitkan semangatnya oleh Allah selaku Rasul-Nya untuk sesuatu tugas yang maha berat, yakni:
yang pertama: untuk mengajak Firaun dan kaumnya kepada ajaran Allah, dan yang kedua: untuk memboyong Bani Israil yang sudah lama diperlakukan semena-mena dan ditindas oleh Firaun di Mesir.
Di saat itu Nabi Musa berusaha dengan sembunyi-sembunyi untuk dapat menyadarkan Bani Israil, bahwa mereka adalah suatu bangsa yang punya potensi (sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah kepada nenek-moyang mereka) untuk menjadi suatu bangsa yang besar lagi berkuasa. Setelah bertahun-tahun usaha itu dilakukan, maka banyaklah orang-orang Bani Israil yang sadar tentang hal itu, dan mereka pun dengan pimpinan Nabi Musa mengatur strategi agar mereka dapat mengkoordinir dengan rapi, sehingga orang-orang Bani Israil dapat diboyong untuk dibawa menuju ke tanah nenek-moyang mereka yang ada di Kanaan. Dan setelah segala sesuatunya untuk rencana itu dapat diatur dengan baik dengan berbagai dukungan dari orang-orang Bani Israil yang cerdik pandai yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam kerajaan Firaun di Mesir, maka Nabi Musa pun yang dibantu oleh Nabi Harun, secara resmi datang menghadap pada Firaun untuk menyampaikan rencananya itu, yang sekaligus pada waktu itu beliau telah diangkat oleh Allah sebagai Rasul-Nya. Akhirnya, terjadilah adu argumen antara Nabi Musa dengan Firaun; berbagai orang-orang yang cerdik pandai dari pengikut-pengikut setia Firaun dikumpulkan untuk dapat menjatuhkan dan mengalahkan argumen-argumen Musa. Tetapi usaha mereka itu gagal, karena argumen-argumen Musa yang datang dari Allah itu maha cemerlang lagi memukau dan punya kekuatan yang maha hebat yang dapat mempengaruhi pola pikir orang-orang yang berhati bersih. Sehingga pengaruhnya itu dapat menjalar ke mana-mana, yang akhirnya dapat mengalahkan/menelan terhadap argumen-argumen yang dikemukakan oleh para cerdik pandai dari pengikut setia Firaun. Bahkan para cerdik pandai (yang berhati bersih) dari pengikut setia Firaun itu sendiri, setelah mereka kalah dalam beradu argumentasi, maka mereka pun banyak yang mengaku kalah dan langsung menyatakan beriman kepada Allah, Rabbnya Musa dan Harun.
Akhirnya setelah Firaun melihat keadaan yang tidak diharapkannya itu, maka dia pun melakukan ancaman-ancaman kepada mereka-mereka yang sudah terpengaruh oleh keterangan dan argumen Musa yang sangat memukau itu, lebih-lebih lagi terhadap mereka yang sudah menyatakan beriman kepada Rabbnya
Musa dan Harun. Mereka itu diancam akan dilepas dari kedudukannya, akan diboikot, sehingga benar-benar mereka akan mengalami nasib yang terpaku di atas kesengsaraan. Tetapi mereka pun tidak gentar, dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah yang sudah mereka imani itu, mereka tetap beriman kepada-Nya, dan mereka selalu berdoa kepada Allah agar selalu tabah di dalam menghadapi ancaman-ancaman Firaun itu.
Keadaan di seantero kerajaan Firaun pada waktu itu, masyarakatnya benar-benar sudah terpecah menjadi dua, yang memihak dan yang simpati pada Musa dan mengakui bahwa dia adalah Rasul Allah, dan yang satu lagi tetap membandel dan memihak lagi selalu menjilat kepada Firaun. Bahkan pihak yang terakhir ini selalu menghasut Firaun dengan berbagai macam hasutan agar Firaun bertindak tegas kepada mereka-mereka itu, dan Firaun pun termakan oleh hasutan-hasutan itu sehingga dia mengatakan, “Nanti kami akan benar-benar bunuh anak-anak lelaki mereka dan akan kami beri hidup pada perempuan-perempuan mereka dan kami sangat berkuasa untuk itu.”
Berdasarkan kisah Firaun dan Musa, sesuai dengan urutannya yang ada dalam ayat 103 s/d ayat 155 itu, ada yang perlu diberi tanda petik, bahwa “ancaman Firaun ini dikatakan olehnya setelah dia kalah berargumen di dalam menghadapi Musa dan Harun seperti yang sudah dijelaskan”.
Jadi ancamannya, “bahwa anak-anak lelaki benar-benar akan dibunuh dan para perempuan akan benar-benar dibiarkan hidup” itu adalah “bukan di saat Nabi Musa belum lahir,” sebagaimana cerita-cerita yang sering kita dengar selama ini.
Adapun ancaman tersebut merupakan penegasan/pengukuhan ulang terhadap berbagai kebijakannya yang sudah-sudah. Karena Firaun selama berkuasa selalu melakukan kebijakan-kebijakan yang absolut lagi otoriter, tidak memberi peluang terhadap kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan mengeluarkan pendapat, tidak mau menerima kritik, mereka-mereka yang berpendapat lain disikatnya habis-habisan, atau dengan istilah Alquran diungkapkan dengan “anak-anak lelaki dibunuh oleh dia dan oleh para pengikutnya yang suka menjilat kepadanya.” Dan sebaliknya, Firaun dan para pengikutnya yang setia lagi suka menjilat kepadanya, selalu mengembangkan budaya-budaya; asal Firaun senang, asal atasan senang, suka memuji-muji, suka menjilat, suka mencari muka dan lain-lainnya, yang semuanya itu diibaratkan menurut istilah Alquran dengan ungkapan “mereka memberi/membiarkan hidup terhadap para perempuan mereka”.
Tetapi, kebijakan-kebijakan Firaun yang jahat lagi terkutuk itu, akhirnya tidak membuahkan hasil sebagaimana yang dia kehendaki, dan seterusnya … dan seterusnya …. Sehingga Bani Israil dengan pimpinan Musa dapat diboyong dari Mesir menuju ke tanah Kanaan. Dan Firaun beserta pengikutnya ditenggelamkan dalam sebuah “selat” yang ada di Laut Merah.
Perlu diperhatikan, bahwa cerita seseorang penguasa yang seperti Firaun dengan berbagai karakter jahat seperti yang diungkapkan dalam Alquran itu, adalah menunjukkan, bahwa “di masa-masa yang akan datang akan banyak muncul di dunia ini penguasa-penguasa yang absolut lagi otoriter semacam dia”. Oleh sebab itu, semua cerita tentang penguasa-penguasa yang jahat dan berbagai hukumannya yang diceritakan dalam Alquran itu, semuanya adalah sebagai “peringatan dan pelajaran penting” agar karakter-karakter jahat mereka itu tidak ada pada kita apabila kita menjadi seseorang pemimpin atau penguasa. Sehingga dengan perantaraannya, kita dapat mengambil pelajaran darinya, dan akhirnya kita dapat sadar, bahwa kalau karakter-karakter jahat itu kita tiru, maka akhirnya kita pun akan dibinasakan oleh Allah seperti mereka (surat 30 ayat 57, surat 39 ayat 27, dan lain-lain).
69. Kitab Taurat dan Injil Telah Mengkabargaibkan Kedatangan