Ketika terjadi Pandemi SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) tahun 2002-2003, saya kembali bekerjasama dengan Bu Endang. Di Badan Litbangkes, beliau bertanggungjawab mengkoordinasikan konirmasi laboratorium kasus suspek SARS. Sedangkan saya yang saat itu bertugas di bidang Surveilans Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra, bertanggung- jawab dalam surveilans SARS. Selama beberapa minggu, saat Pandemi SARS merebak, setiap hari mulai pukul 08:00 pagi diadakan rapat koordinasi di Departemen Kesehatan yang dipimpin langsung oleh Menteri Kesehatan (waktu itu Dr Sujudi). Rapat koordinasi itu dihadiri para pejabat terkait serta para klinisi dan para peneliti di bidang penyakit menular. Bu Endang tidak pernah absen dalam rapat yang setiap hari berlangsung selama 3-4 jam itu.
Pada tahun 2005, kasus lu burung yang disebabkan virus Inluenza H5N1 mulai bermunculan di Indonesia. Dalam Pengendalian Flu Burung, Bu Endang bertugas mengkoordinasikan pemeriksaan spesimen dan pengembangan kapasitas laboratorium virus Inluenza H5N1. Ketika itu saya bertugas sebagai Sekretaris Tim Penanggulangan Flu Burung internal Departemen Kesehatan. Sebetulnya bidang yang ditekuni Bu Endang adalah Medical
Anthropology dan Epidemiology, tetapi beliau selalu menekuni dengan sungguh-sungguh bidang apa pun yang menjadi tugas dan tanggung-jawab beliau. Di Badan Litbangkes beliau bertugas di laboratorium yang juga melaksanakan kegiatan virologi inluenza. Oleh karena itu pengetahuan dan pemahaman Bu Endang tentang inluenza tidak perlu diragukan.
Pada tahun 2006, ketika Dr. Siti Fadilah Supari menjabat Menteri Kesehatan, Indonesia mempelopori perubahan atau reformasi tatanan Pandemic Inluenza Preparedness: Sharing of Virus and Sharing of Vaccines and Other Beneits di lingkungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Reformasi ini dimaksudkan agar tatanan yang berlaku di WHO tidak merugikan negara berkembang dan agar menganut prinsip adil, transparan dan setara (fair, transparent, and equitable). Dalam negosiasi antara negara berkembang (yang dipelopori Indonesia) dan negara maju (yang dipelopori Amerika Serikat) tentang reformasi tatanan tersebut, Bu Endang adalah negosiator Delegasi Indonesia dalam aspek tehnis virologi Inluenza. Beliau sangat disegani oleh delegasi negara-negara yang berpihak maupun yang berseberangan dengan Indonesia. Negosiasi berlangsung alot dan untuk mencapai titik temu antara negara berkembang dan negara maju, WHO harus menyelenggarakan beberapa kali IGM (Inter Governmental Meeting) dan beberapa kali Open Ended Working Group (OEWG) di Jenewa sepanjang hampir lima tahun (2006-2011). Ada kejadian lucu dalam salah satu sidang OEWG di Jenewa. Ketika itu Bu Endang sebagai negosiator Delegasi Indonesia bertahan pada posisi Indonesia untuk bunyi suatu paragraf dalam draft MTA (Material Transfer Agreement). Sementara itu, pihak Amerika juga bertahan pada posisinya. Ketika waktu makan siang tiba, Delegasi Amerika Serikat mengusulkan agar sidang ditunda untuk istirahat makan siang. Bu Endang, segera mengangkat lag – isyarat minta bicara pada Ketua Sidang - dan sambil tersenyum beliau menyatakan bahwa Indonesia dapat menyetujui usul Amerika untuk istirahat makan siang. Seluruh peserta sidang tertawa dan Ketua Sidang mengatakan : ”Inilah pertama kalinya Delegasi Indonesia dan
Delegasi Amerika dapat menyepakati sesuatu, yaitu sepakat untuk istirahat makan siang”.
Untuk mewujudkan reformasi tatanan tersebut, Indonesia bersama beberapa negara berkembang (like minded countries) harus berjuang keras dalam lima Sidang Majelis Kesehatan Sedunia (World Health Assembly), yaitu tahun 2007, 2008, 2009, 2010, dan 2011. Akhirnya, pada tahun 2011, sewaktu Bu Endang menjabat Menteri Kesehatan, perjuangan itu berhasil dengan sukses. Tatanan baru yang adil, transparan dan setara berhasil disepakati oleh seluruh negara anggota WHO dalam Sidang Majelis Kesehatan Sedunia ke-64 tahun 2011.
Ketika Bu Endang menjabat Menteri Kesehatan (2009-2012), saya ditugasi membantu beliau sebagai Staf Khusus Menteri Kesehatan. Beliau melaksanakan tugas Menteri Kesehatan dengan profesional, penuh dedikasi, dan dengan komitmen kuat. Hal ini tercermin dalam tag line beliau, yaitu : pro-rakyat, responsif, efektif, inklusif dan bersih. Dalam kesibukan sebagai Menteri Kesehatan, Beliau tetap membaca dengan teliti semua surat, dokumen, e-mail, dan SMS yang diajukan kepadanya. Bahkan beliau menandai dengan coretan jika dalam suatu dokumen ada salah ketik, salah ejaan, pilihan kata yang tidak tepat atau ada data atau informasi yang tidak masuk akal. Beliau bukan hanya membaca tetapi juga menilai akurasi data yang disajikan dalam dokumen yang diajukan staf. Beliau selalu memberikan umpan balik pada hasil pekerjaan staf disertai ucapan terima kasih. Umpan balik beliau dapat berupa pujian, kritik, atau teguran. Beliau mengarahkan agar semua surat, e-mail, sms dan telpon yang masuk ke Kementerian Kesehatan dari siapa pun harus direspons segera. Beliau sendiri bekerja cepat, semua berkas yang diajukan kepada beliau rata-rata sudah “turun” dalam waktu 1 X 24 jam. Dalam setiap rapat, diskusi, dan saat menerima staf atau tamu, beliau selalu mencatat sendiri hal-hal yang penting dalam buku catatan. Jika beliau mengikuti Sidang Kabinet, maka catatan beliau disampaikan kepada staf dalam Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) untuk ditindaklanjuti. Ada
mekanisme unik yang berlaku bagi saya setiap beliau memimpin rapat. Dalam rapat tersebut, bila saya ingin menyampaikan sesuatu, saya akan memandang beliau dan beliau paham bahwa saya mohon diberi kesempatan bicara. Mekanisme unik ini tidak pernah dibicarakan atau disepakati sebelumnya, berlaku begitu saja.
Pada tahun 2010, beberapa bulan setelah Bu Endang menjabat Menteri Kesehatan, diadakan pertemuan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat di Jakarta untuk membahas kelanjutan kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dengan US Namru-2 (US Naval Medical Research Unit-2), termasuk membahas masa depan Laboratorium Namru-2 yang terletak di kompleks Badan Litbangkes, Jakarta. Delegasi Indonesia mendapat arahan langsung dari Bu Endang selaku Menteri Kesehatan agar memegang teguh prinsip kepentingan nasional di atas kepentingan segalanya. Bersama beberapa teman, saya ditugasi Bu Endang untuk menjadi anggota Delegasi Indonesia. Ternyata sampai akhir perundingan, tidak tercapai
titik temu antara kedua belah pihak. Akhirnya, kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dengan US Namru-2 diakhiri pada tahun 2010 itu juga. Selanjutnya, seluruh staf asing US Namru-2 dipulangkan, dan peralatan yang ada di laboratorium ex-Namru-2 tersebut diserahkan kepada pihak Indonesia. Setelah kerjasama tersebut berakhir, laboratorium ex-Namru-2 dikuasai dan dikelola oleh Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan. Masa-masa berteman, bekerjasama, dan membantu tugas Bu Endang sebagai Menteri Kesehatan adalah masa-masa yang indah bagi saya. Tapi kehendak Allah yang berlaku di alam semesta ini. Seperti dikatakan seorang penceramah dalam tausiah memperingati tujuh hari wafatnya Almarhumah Bu Endang : “Allah lebih mencintai beliau. Karena itu beliau dipanggil berpulang ke Rahmatulah”. Sesungguhnya, segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Arwah Almarhumah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Amin.