• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA USAHA DIPERKIRAKAN TUMBUH LEBIH BAIK

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 136-140)

tercermin dari saldo bersih akses kredit selama 3 (tiga) bulan terakhir sebesar - 3%, naik dibanding triwulan IV 2015 yang sebesar -22%. Hasil survei mencatat sebesar 19% responden menilai akses terhadap kredit perbankan lebih mudah, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 0%. Sementara 59% responden berpendapat akses terhadap kredit perbankan berada dalam kondisi normal dan 22% yang menyatakan lebih sulit.

Peningkatan kegiatan usaha juga terindikasi pada tingkat penggunaan tenaga kerja yang tercermin dari SBT penggunaan tenaga kerja triwulan I 2016 sebesar -7,89%, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar -20,14%. Peningkatan penggunaan tenaga kerja sebagian besar terjadi pada sektor perdagangan hotel dan restoran dengan nilai SBT 0,41%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai -5,42%. Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, rata-rata kapasitas produksi terpakai pada triwulan I 2016 juga menunjukkan peningkatan yaitu pada level 76,20%, lebih tinggi dibanding 69,93% pada triwulan sebelumnya. Peningkatan kapasitas produksi terutama terjadi pada sektor industri pengolahan yaitu 79,16%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 70,29%. Seiring dengan peningkatan kinerja dunia usaha, perkembangan investasi juga menunjukkan peningkatan dari -3,71% di triwulan IV 2015 menjadi -2,82% pada triwulan I 2016. Sektor utama yang menunjukkan peningkatan investasi adalah industri pengolahan (nilai SBT naik dari -1,09% pada

triwulan IV-2015 menjadi -0,07% di triwulan I 2016). Peningkatan juga terjadi pada sektor pertanian yang mengalami kenaikan SBT dari -6,88% di triwulan IV 2015 menjadi -4,09% pada triwulan I 2016.

Sementara tekanan harga jual pada triwulan I 2016 terindikasi menurun, tercermin dari nilai SBT yang mengalami kontraksi sebesar -0,91%, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 18,48%. Penurunan harga jual terutama terjadi pada sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai SBT pada triwulan I 2016 masing-masing sebesar -4,88% dan 0,19%, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 11,46% dan 1,79%. Secara rata-rata responden memperkirakan inflasi pada tahun 2016 sebesar 4,75% (yoy), lebih tinggi dibanding realisasi inflasi tahun 2015 yang sebesar 2,75%, namun masih dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2016 yang sebesar 4% ± 1%.

Peningkatan kinerja usaha diperkirakan akan berlanjut pada triwulan II 2016. Secara triwulanan, perkembangan usaha diperkirakan mengalami ekspansi pada triwulan II 2016 seperti tercermin dari SBT perkiraan kinerja usaha triwulan II 2016 sebesar

17,74%. Ekspansi kegiatan dunia usaha terutama diperkirakan terjadi pada sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan hotel dan restoran serta sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan. Sejalan dengan ekspektasi peningkatan kinerja usaha pada triwulan II 2016, penggunaan tenaga kerja juga terindikasi menunjukkan peningkatan dengan nilai SBT perkiraan tenaga kerja sebesar -4,85%,meskipun masih mengalami kontraksi namun tumbuh lebih baik dibanding triwulan sebelumnya. Perkiraan peningkatan penggunaan tenaga kerja terutama terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, sejalan dengan perkiraan ekspansi usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha di kedua sektor tersebut. Dengan ekspektasi peningkatan kinerja pada triwulan II 2016 tersebut, beberapa pelaku usaha berencana meningkatkan investasi yang terindikasi dari peningkatan nilai SBT triwulan II 2016 sebesar -1,66%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar -2,82%. Pelaku usaha juga memperkirakan terjadinya peningkatan harga jual seiring perkiraan meningkatnya volume penjualan pada triwulan II 2016 yang tergambar dari nilai SBT perkiraan harga jual sebesar 3,32% lebih tinggi dibanding realisasi SBT triwulan I 2016 yang sebesar -0,91%.

Tabel 1. Perkembangan Realisasi dan Perkiraan Kegiatan Usaha (Saldo Bersih Tertimbang-SBT)

Tabel 2. Perkembangan Kapasitas Produksi Terpakai (Persentase)

Tabel 4. Perkembangan Realisasi dan Perkiraan Penggunaan Tenaga Kerja (Persentase Saldo Bersih Tertimbang-SBT)

Tabel 3. Perkembangan Indikator Lainnya (Persentase)

Tabel 5. Perkembangan Realisasi Investasi (Persentase Saldo Bersih Tertimbang-SBT)

Tabel 6. Perkembangan Realisasi dan Perkiraan harga Jual (Persentase Saldo Bersih Tertimbang- SBT)

Tabel 7. Perkiraan Inflasi Tahunan (% yoy)

Metodologi:

Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) merupakan survei triwulanan yang dilaksanakan sejak tahun 2008. Pada triwulan I-2016, jumlah responden mencapai 130 responden yang tersebar di seluruh Wilayah Provinsi Bali dan dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner oleh responden baik melalui hardcopy kuesioner maupun secara online melalui website. Metode perhitungan dilakukan dengan metode saldo bersih (SB-net balance), yakni dengan menghitung selisih antara persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “meningkat” dengan persentase jumlah responden yang memberikan jawaban “menurun” dan mengabaikan jawaban “sama”. Khusus untuk perhitungan saldo bersih kegiatan usaha, harga jual, penggunaan tenaga kerja, kondisi investasi dilakukan dengan metode saldo bersih tertimbang (SBT-Weighted net balance) yang diperoleh dari hasil perkalian sakdo bersih sektor/sub sektor yang bersangkutan dengan bobot sektor/sub sektor yang bersangkutan sebagai penimbangnya.

BOKS H

Smart city adalah pengembangan dan pengelolaan

kota dengan pemanfaatan teknologi informasi. Pengembangan dapat dilakukan pada berbagai aspek untuk menjadi solusi terhadap permasalahan terkait pelayanan masyarakat, sumber daya, kemacetan, dan permasalahan sosial lainnya dalam suatu kota. Melalui pengembangan smart city, masyarakat dapat turut berperan aktif dalam menyampaikan aspirasi membangun perkotaan yang nyaman sebagai tempat tinggal, tempat bekerja, dan tempat untuk dikunjungi. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, tujuan pembangunan smart city adalah untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan, melalui pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas hidup masyarakat, serta membentuk suatu kota yang aman, nyaman bagi warganya serta mendorong daya saing perekonomian kota yang pada gilirannya dapat menopang pembangunan perekonomian di daerah sekitarnya, dan karena itu Pemerintah mendorong terbentuknya smart city di Indonesia. Dalam upaya mewujudkan Smart City, Kementerian PPN/ Bappenas telah menetapkan 25 strategi pada 6 (enam) komponen smart city di Indonesia, yang terdiri atas smart infrastructure,

smart economy, smart living, smart environment, smart governance, dan smart people.

Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Bank Indonesia, pengembangan smart city khususnya di Provinsi Bali (yang berpotensi diterapkan oleh 9 Kabupaten/ Kota), akan memberikan berbagai macam nilai tambah terhadap perekonomian Provinsi Bali secara

PANDANGAN BANK INDONESIA TERHADAP

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 136-140)