• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

2.1.3. Kualitas Pembelajaran

2.1.3.1 Pengertian Kualitas Pembelajaran

Kualitas pembelajaran artinya mempersoalkan bagaimana kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama ini dilakukan berjalan dengan baik serta menghasilkan luaran yang baik pula (Uno, 2011:153). Menurut Etzironi (dalam Hamdani, 2011:194) bahwa kualitas dapat dimaknai dengan istilah mutu atau keefektifan secara definitif, efektifitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan atau sasarannya. Efektivitas merupakan suatu konsep yang lebih luas mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar diri seseorang.

Dari kedua pendapat tersebut, kualitas pembelajaran dapat dimaknai sebagai mutu atau keefektifan suatu pembelajaran, mengacu pada usaha menciptakan keadaan yang baik untuk memperoleh hasil yang baik sebagai tingkat keberhasilannya sehingga dapat mencapai tujuan atau sasarannya.

2.1.3.2 Indikator Kualitas Pembelajaran

Indikator kualitas pembelajaran menurut DIKTI (2004:7) dalam buku “Peningkatan Kualitas Pembelajaran” antara lain adalah sebagai berikut:

a. Perilaku pembelajaran guru, dapat dilihat dari kinerjanya yaitu:

1) Membangun persepsi dan sikap positif siswa terhadap belajar dan guru. 2) Menguasai disiplin ilmu berkaitan dengan keluasan dan kedalaman

jangkauan substansi dan metodologi dasar keilmuan, serta mampu memilih, menata, mengemas dan merepresentasikan materi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

3) Agar dapat memberikan layanan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan siswa, guru perlu memahami keunikan siswa dengan segenap kelebihan, kekurangan, dan kebutuhannya. Memahami lingkugan keluarga, sosial budaya, dan kemajemukan masyarakat tempat siswa berkembang.

4) Menguasai pengelolaan pembelajaran yang mendidik berorientasi pada siswa tercermin dalam kegiatan merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi pembelajaran secara dinamis, untuk membentuk kompetensi siswa yang dikehendaki.

5) Mengembangkan kepribadian sebagai kemampuan untuk dapat mengetahui, mengukur, dan mengembangkan kemampuannya secara mandiri.

b. Perilaku dan dampak belajar peserta didik, dapat dilihat dari kompetensinya antara lain:

1) Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar, termasuk didalamnya persepsi dan sikap terhadap mata pelajaran, guru, media, dan fasilitas belajar serta iklim belajar.

2) Mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikapnya.

3) Mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan keterampilan serta memantapkan sikapnya.

4) Mau dan mampu menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya secara bermakna .

5) Mau dan mampu membangun kebiasaan berfikir, bersikap, dan bekerja produktif.

c. Iklim pembelajaran meliputi:

1) Suasana kelas yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan pembelajaran yang berkembangnya kegiatan pembelajaran yang menarik, menantang, menyenangkan dan bermakna bagi pembentukan profesionalitas kependidikan.

2) Perwujudan nilai dan semangat ketauladanan, prakarsa, dan kreativitas guru.

d. Materi pembelajaran yang berkualitas, tampak dari:

1) Kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai siswa.

2) Ada keseimbangan antara keluasaan dan kedalaman materi dengan waktu yang tersedia.

3) Materi pembelajaran sistematis dan kontekstual.

4) Dapat mengakomodasikan partisipasi aktif siswa dal;am belajar semaksimal mungkin.

5) Dapat menarik manfaat yang optimal dari perkembangan dan kemajuan bidang ilmu, teknologi, dan seni.

6) Materi pembelajaran memenuhi kriteria filosofis, profesional, psiko- pedagogis dan praktis.

e. Kualitas media pembelajaran, antara lain:

1) Dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

2) Mampu memfasilitasi proses interaksi antara siswa dan sisiwa, siswa dengan dosen, serta siswa dengan ahli bidang ilmu yang relevan.

3) Media pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. 4) Melalui media pembelajaran, mampu mengubah suasana belajar dari

siswa yang pasif menjadi aktif berdiskusi dan mencari informasi melalui berbagai sumber belajar yang ada.

Dari kelima indikator yang dijelaskan di atas sudah ada dan sudah tercapai dalam pembelajaran. Namun indikator yang perlu ditingkatkan dalam penelitian ini adalah perilaku pembelajaran guru dan dampak belajar peserta didik. Dari dua

hal tersebut dalam mengamati kualitas pembelajaran terdapat tiga unsur yaitu keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar. Ketiga unsur tersebut diuraikan sebagai berikut:

2.1.3.2.1 Keterampilan Guru

Mengajar pada hakikatnya merupakan suatu proses mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar (Hamdani, 2011:17). Sedangkan menurut Sardiman (2011:47) mengajar merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Untuk mengatur dan menciptakan lingkungan yang kondusif maka guru perlu menguasai keterampilan- keterampilan yang disebut dengan keterampilan dasar mengajar guru.

Menurut hasil penelitian Turney (dalam Mulyasa, 2011:69) terdapat 8 keterampilan mengajar yang harus dikuasai guru, yaitu: 1) keterampilan bertanya; 2) keterampilan memberi penguatan; 3) keterampilan mengadakan variasi; 4) keterampilan menjelaskan; 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran; 6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil; 7) keterampilan mengelola kelas; 8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. 8 keterampilan dasar mengajar tersebut secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

a. Keterampilan bertanya

Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena dalam hampir setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan

kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban peserta didik. (Mulyasa, 2011:70).

Dalam proses pembelajaran, bertanya memainkan peranan penting karena pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik melontarkan pertanyaan yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu: (a) meningkatkan pastisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, (b) membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dibicarakan, (c) Mengembangkan pola pikir dan cara belajar aktif dari siswa, karena pada hakikatnya berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya, (d) Menuntun proses berpikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik, dan (e) memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Depdiknas, 2008:26-27).

b. Keterampilan memberi penguatan

Penguatan (reinforcement) merupakan segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal yang merupakan bagian modifikasi dari tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindakan dorongan ataupun koreksi (Usman, 2011:80). Keterampilan memberikan penguatan adalah keterampilan dalam memberikan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut yang dapat dilakukan secara verbal, dan non verbal, dengan prinsip kehangatan, keantusiasan,

kebermaknaan, dan menghindari respon yang negatif (Mulyasa, 2011:77- 78).

Cara yang dapat dilakukan guru dalam memberikan penguatan adalah sebagai berikut (Depdiknas, 2008:28):

1) Penguatan kepada pribadi tertentu. Penguatan harus jelas kepada siapa ditujukan, sebab bila tidak jelas akan tidak efektif.

2) Penguatan kepada kelompok siswa, yaitu dengan memberikan penghargaan kepada kelompok siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

3) Pemberian penguatan segera setelah muncul tingkah laku siswa yang diharapkan karena penguatan yang ditunda kurang efektif.

4) Variasi dalam penggunaan sehingga tidak menimbulkan kebosanan. c. Keterampilan mengadakan variasi

Keterampilan memberikan variasi adalah keterampilan guru dalam mengadakan perubahan dalam proses kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan (Mulyasa, 2011:78). Djamarah (2006:158) berpendapat bahwa penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat menggairahkan belajar anak didik. Pada suatu kondisi tertentu anak didik merasa bosan dengan metode ceramah yang disebabkan mereka harus dengan setia dan tenang mendengarkan guru tentang suatu masalah. Maka perlu dialihkan dengan suasana lain misalnya dengan tanya jawab, diskusi, dan penugasan sehingga kebosanan dapat terobati.

Terdapat komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi menurut Usman (2011:85-88):

1) Variasi dalam cara mengajar guru, antara lain: penggunaan varisi suara (teacher voice), pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence), mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), gerakan badan mimik, dan pergantian posisi guru di dalam kelas dan gerak guru (teachers movement).

2) Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran, antara lain: variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids), variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif aids), variasi alat atau bahan yang dapat diraba dimanipulasi dan digerakkan (motorik), dan variasi alat atau bahan yang dapat didengar dilihat dan diraba (audio-visual aids). 3) Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa, meliputi: pola guru-murid,

pola guru-murid-guru, pola guru-murid-murid, pola guru-murid murid-guru murid-murid, serta pola melingkar.

d. Keterampilan menjelaskan

Keterampilan menjelaskan adalah keterampilan guru dalam mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta, dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. (Mulyasa, 2011:80). Sejalan dengan pendapat Usman (2011:88-89) bahwa keterampilan menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi

secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya.

Dalam memberikan penjelasan dalam suatu pembelajaran ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan, antara lain: (1) perencanaan penjelasan, yaitu isi pesan yang akan disampaikan dan peserta didik, dan (2) penyajian penjelasan, yang meliputi: pengucapan bahasa yang jelas, intonasi yang sesuai, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, memberi definisi jika ada kata yang baru, serta penjelasan dapat diterima oleh peserta didik. Sardiman (2011:164) menambahkan bahwa penyampaian materi akan lebih mantap dan dinamis jika guru menguasai bahan pelajaran lain yang dapat memberikan pengayaan serta memperjelas dari bahan-bahan bidang studi yang akan diajarkan.

e. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran

Keterampilan membuka pelajaran merupakan upaya guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada pelajaran yang akan disajikan. Sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah upaya guru untuk mengetahui pencapaian tujuan dan pemahaman peserta didik terhadap meteri yang telah dipelajari, serta mengakhiri kegiatan pembelajaran. (Mulyasa, 2011:84).

Usman (2011:92-93) menjelaskan ada beberapa komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran yang perlu diperhatikan guru antara lain:

1) Komponen keterampilan membuka pelajaran, meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan, serta membuat kaitan atau hubungan diantara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai siswa.

2) Komponen keterampilan menutup pelajaran, meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan evaluasi.

Kegiatan membuka dan menutup pelajaran merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan seorang guru untuk memulai dan menutup pembelajaran. Jika kedua kegiatan ini dilakukan secara profesional maka akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pembelajaran, antara lain membangkitkan motivasi belajar peserta didik, kejelasan peserta didik akan tugas-tugas yang harus dikerjakan, dan mengetahui tingkat keberhasilan yang harus dicapai oleh peserta didik.

f. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Diskusi kelompok merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran sudah sering digunakan. Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah (Usman, 2011:94).

Tidak setiap guru mampu membimbing siswanya untuk berdiskusi tanpa mengalami latihan. Untuk itu ada beberapa komponen yang perlu

diperhatikan guru dalam membimbing diskusi, antara lain: (1) memusatkan perhatian peaerta didik pada tujuan dan topik diskusi, (2) memperluas masalah atau urunan pendapat, (3) menganalisis pandangan peserta didik, (4) meningkatkan partisipasi peserta didik, (5) menyebarkan kesempatan berpartisipasi, dan (6) menutup diskusi. (Mulyasa, 2011:89)

g. Keterampilan mengelola kelas

Mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran (Mulyasa, 2011:91). Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut (Usman, 2011:98-100):

1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, meliputi: menunjukkan sikap tanggap, memberi perhatian, memusatkan perhatian kelompok, memberi petunjuk-petunjuk yang jelas, menegur secara verbal, dan memberi penguatan.

2) keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal yang meliputi modifikasi tingkah laku, mengelola kelompok dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Sudirman N (dalam Djamarah 2006:178) mengemukakan bahwa secara umum mengelola kelas memiliki tujuan menyediakan fasilitas bagi kegiatan belajar siswa yang bermacam-macam baik itu dalam lingkungan

sosial, emosional, maupun intelektual dalam kelas. Fasilitas-fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, tercipta suasana yang memberi kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.

h. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan

Mulyasa (2011:92) mengatakan bahwa pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik. Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas, yaitu berkisar antara 3-8 orang untuk kelompok kecil dan seorang untuk perseorangan.

Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian, membimbing dan memudahkan belajar, perencanaan penggunaan ruangan, dan pemberian tugas yang jelas, menantang serta menarik. (Mulyasa, 2011:92)

Berdasarkan8 keterampilan mengajar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa guru harus dapat menguasai dan mengembangkan keterampilan- keterampilan tersebut melalui pendekatan kooperatif tipe think-pair-share dengan media audiovisual dalam kegiatan pembelajarannya agar kegiatan pembelajaran dapat berkualitas dan tujuan pembelajaran dapat tercapai maksimal.

2.1.3.2.2 Aktivitas Siswa

Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang dilakukan siswa yaitu belajar sambil bekerja untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan aspek- aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat (Hamalik, 2008:172). Sardiman (2011:95) menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar, subyek didik atau siswa harus aktif berbuat. Dengan kata lain, bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik.

Menurut Paul B. Diedrick (dalam Hamalik, 2008:172) ada 8 macam aktivitas siswa, antara lain:

a. Visual activities (kegiatan visual), seperti membaca, melihat gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja.

b. Oral activities (kegiatan lisan), seperti mengungkapkan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.

c. Listen activities (kegiatan mendengarkan), seperti: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan radio.

d. Writing activities (kegiatan menulis), seperti: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.

e. Drawing activities (kegiatan menggambar), seperti: menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola.

f. Motor activities (kegiatan metrik), seperti: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun.

g. Mental activities (kegiatan mental), seperti: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan- hubungan, dan membuat keputusan.

h. Emotional activities (kegiatan emosional), seperti; menaruh minat, membedakan, berani, tenang, dsb.

Dari delapan klasifikasi kegiatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Jika kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah secara baik tentu saja kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan akan memperlancar peranannya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa adalah segala kegiatan yang dilakukan melalui pendekatan kooperatif tipe think- pair-share dengan media audiovisual dalam proses interaksi (guru dan siswa) yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

2.1.3.2.3 Hasil Belajar

Menurut Suprijono (2009:5) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Sedangkan pendapat Rifa’i (2009:85) mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut bergantung pada apa yang dipelajari pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep.

Berdasarkan dari uraian dan pendapat para pakar pendidikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku peserta didik setelah mengalami aktivitas belajar yang berupa pola-pola perbuatan, nilai- nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.

Benyamin S. Bloom menyampaikan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affektive domain), dan ranah psikomotorik (psychomotoric domain) (Rifa’i, 2009:86-89). Berikut penjabarannya:

a. Ranah kognitif

Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori mengingat (remember), memahami (understand), mengaplikasikan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta/membuat (create).

b. Ranah afektif

Ranah afektif berkaitan dengan perasaan, sikap, minat, dan nilai. Kategori tujuannya mencerminkan hirarkhi yang berentangan dari keinginan untuk menerima sampai dengan pembentukan pola hidup. Kategori tujuan peserta didikan afektif adalah penerimaan (receiving), penanggapan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), pembentukan pola hidup (organization by a value complex).

c. Ranah psikomotorik

Ranah psikomotorik berkaitan dengan kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf. Penjabaran ranah psikomotorik ini sangat sukar kerena seringkali tumpang tindih dengan ranah kognitif dan afektif. Kategori jenis perilaku untuk ranah psikomotorik menurut Elizabeth Simpson adalah persepsi (perception), kesiapan (set), gerakan terbimbing (guided response), gerakan terbiasa (mechanism), gerakan kompleks (complex overt response), penyesuaian (adaptation), dan kreativitas (originality).

Tiap ranah terbagi menjadi beberapa yang berurutan secara bertingkat mulai dari keterampilan yang paling sederhana hingga yang kompleks. Representasi taksonomi Bloom yang paling banyak dirujuk adalah piramida keterampilan kognitif yang terdiri dari enam tingkat (dikenal dengan C1 hingga C6), yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Berikut adalah piramida keterampilan kognitif dari taksonomi Bloom:

(Maksum, 2012)

Bagan 2.1 Tingkatan Taksonomi Bloom Revisi

Dalam penelitian ini, hasil belajar yang diperoleh lebih dominan pada ranah kognitif yaitu pada hasil belajar siswa yang berupa nilai hasil evaluasi setiap individu. Evaluasi dilaksanakan setiap akhir pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan melalui pendekatan kooperatif tipe Think-Pair-Share dengan media audiovisual.