dibayar dengan D)PA juga bukan. Kondisi kekurangan tenaga non teknis semakin bertambah dengan banyaknya PNS di sekretariatan yang pindah / diangkat menjadi tenaga teknis seperti jurusita pengganti, jurusita dan panitera pengganti.
Ketidakseimbangan pendapatan, gaji dan tunjangan antara tenaga non teknis dan tenaga teknis juga menjadi salah satu penyebab banyaknya tenaga non teknis ingin pindah menjadi tenaga teknis. Tentu ini menjadi persoalan. Di satu sisi mereka punya hak untuk memperbaiki kesejahteraan dan karirnya sehingga beralih menjadi tenaga teknis, di sisi lain tenaga non teknis yang telah dididik dan diberikan pelatihan semakin hari semakin berkurang baik karena pindah maupun karena pensiun. Saat ini kami sedang mengkaji suatu ketentuan agar tenaga non teknis tidak dengan mudah pindah menjadi tenaga teknis. Semoga saja selambat-lambatnya di akhir tahun ini sudah selesai.
Saya melihat ada kecenderungan di pengadilan tenaga kesekretariatan beralih menjadi tenaga teknis. Saya khawatir lama-lama bisa berkurang drastis tenaga kesekretariatan ini. Padahal, Mahkamah Agung telah melakukan berbagai pelatihan untuk tenaga kesekretariatan agar mereka handal dalam manajemen SDM, uang dan aset. Nah, ke depan saya ingin membatasi mutasi seperti itu.
Sejak beberapa tahun yang lalu, Mahkamah Agung mulai menggalakkan ISO pada pengadilan, lalu disusul dengan program Akreditasi Penjaminan Mutu di Peradilan Umum. Saat ini di peradilan agama juga telah dimulai program serupa yaitu Sertiϔikasi Manajemen Mutu. Apa kebijakan Mahkamah Agung kedepan terhadap semua program tersebut?
Program akreditasi yang saat ini digalakkan di peradilan umum itu
awalnya terinspirasi oleh program )SO yang diinisiasi oleh peradilan agama. Pengadilan Agama Stabat adalah pengadilan pertama di )ndonesia yang memperoleh serti ikat )SO. Saya pikir program akreditasi maupun serti ikasi manajemen mutu harus terus dikembangkan baik di peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan pengadilan tata usaha negara.
Saat ini kita lihat banyak perubahan di peradilan. Saya perhatikan, program penjaminan mutu dalam bentuk akreditasi dan serti ikasi manajemen mutu yang dilakukan secara kolektif lebih murah biayanya. Mahkamah Agung memandang penting ketersediaan anggaran untuk program tersebut, termasuk keberlangsungannya. Endurance atau
keberlangsungan menjadi sangat penting dalam program ini.
Saya berharap teman-teman di pengadilan tidak hanya sebatas mengejar mendapatkan serti ikat akreditasi saja tetapi lupa terhadap keberlangsungannya setelah itu. Jadi, perlu direncanakan dalam penganggaran agar kualitas program tetap terjamin pasca mendapatkan akreditasi atau serti ikasi. Saat ini telah banyak pengadilan yang memiliki gedung yang bagus. Gedung yang bagus juga harus diimbangi dengan kualitas layanan yang bagus dan SDM yang terjamin kredibilitasnya.
Pada tahun 2015, Mahkamah Agung telah berhasil mengadakan perlombaan inovasi pengadilan. Ada dua macam inovasi yang saat ini tengah dipilotprojekkan pada beberapa pengadilan. Apa kebijakan Mahkamah Agung terhadap inovasi tersebut?
Perlombaan seperti itu akan kita lanjutkan. Saya senang antusiasme teman-teman dari peradilan dalam mengikuti perlombaan tersebut. Saya lihat ada banyak inovasi yang
diajukan oleh peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara. Kedepan kita dorong agar teman- teman dari peradilan TUN dan Militer agar lebih banyak yang berpartisipasi pada perlombaan serupa.
Dua inovasi yang pemenang lomba yaitu E-SKUM dan ATR Audio to Text Recording telah kita jadikan
percontohan pada pengadilan pada tahun . Untuk tahun ini, kita berencana akan diaplikasikan pada hingga pengadilan. Kedua inovasi tersebut nantinya menjadi yang tidak terpisahkan dari pelayanan kepada masyarakat. Saat ini tengah dikaji untuk dimasukkan dalam Buku )) tentang Pola Pembinaan, Pengendalian dan Administrasi Peradilan.
Perlombaan inovasi itu memiliki dampak yang luar biasa dalam memberikan dorongan kepada pengadilan untuk berinovasi. Kalau Mahkamah Agung buat perlombaan serupa pada tahun atau , saya yakin panitia akan lebih kewalahan karena pesertanya akan lebih banyak dari perlombaan sebelumnya. Dari layanan di daerah yang saya amati dan laporan-laporan dari daerah yang saya peroleh, ternyata sangat menggembirakan. Banyak pengadilan yang telah
membuat inovasi-inovasi yang luar biasa. Ketua pengadilan akan sangat mewarnai satuan kerjanya. )ni saya lihat sebagai dampak dari kompetisi inovasi pelayanan peradilan yang telah dilaksanakan pada tahun yang lalu. Selain itu, ditambah pula kebijakan akreditasi penjaminan mutu yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dan kebijakan serti ikasi )SO di peradilan agama.
)novasi itu tidak harus membutuhkan biaya mahal. E-SKUM itu contohnya. Konsepnya simpel dan biayanya juga relatif murah. Kita inginkan dengan inovasi yang simpel dan biaya murah dapat memberikan layanan yang bagus kepada masyarakat pengguna pengadilan.
Apa konsep Mahkamah Agung berkenaan dengan reward bagi pengadilan-pengadilan yang berprestasi?
Pimpinan Mahkamah Agung menjadikan prestasi suatu pengadilan sebagai salah satu pertimbangan untuk mempromosikan pimpinan pengadilan. Dari wakil dipromosikan jadi ketua. Dari ketua kelas )b menjadi wakil kelas )A. Dari wakil kelas )A menjadi ketua kelas )A. Dari ketua kelas )a menjadi hakim tinggi, dan sebagainya.
Prestasi dalam memimpin penga- dilan harusnya berkesinam bungan. Maksud saya begini, ketika seorang pimpinan pengadilan telah berhasil memajukan pengadilan, maka harus- nya ia juga wajib membagikan ilmu kepada penggantinya. Begitu juga dengan pimpinan penggantinya harus juga bisa mempertahankan prestasi yang telah dicapai pada pimpinan sebelumnya. Begitulah seterusnya.
Saya melihat masih banyak pengadilan yang semula berhasil membawa pengadilan menjadi baik, kemudian seiring dengan pindahnya pimpinan pengadilan yang bersangkutan dan digantikan dengan
pimpinan yang baru, berangsur- angsur kualitas keberhasilan pengadilan tersebut menurun dan merosot. (al ini tidak boleh terjadi. Oleh karena itu saya berharap antara pimpinan pengadilan yang lama dan yang baru dapat bertemu untuk berdiskusi untuk menjamin keberlangsungan kebijakan yang telah dibangun ini.
)ni penting. Oleh karena itu setidak-tidaknya pengadilan tinggi dapat memfasilitasi forum untuk mendiskusikan kebijakan antara pimpinan yang baru dan yang lama ketika acara serahterima jabatan. Baiknya seperti apa bentuknya kita serahkan kepada pimpinan pengadilan tinggi di wilayahnya yang akan mengkoordinasikannya.
Prestasi sebuah pengadilan sesungguhnya adalah hasil kerja tim, bukan hanya hasil kerja ketua, wakil, panitera atau sekretaris saja. Pimpinan pengadilan tidak mungkin dapat bekerja sendiri. Mereka didukung oleh personil lain di pengadilan seperti kasubag, panitera pengganti, jurusita, jurusita pengganti, staf, bahkan honorer. Maka selayaknya reward
juga diberikan kepada mereka, tidak hanya pada pimpinan pengadilan saja. Saya melihat saat ini kiprah mereka seperti kurang dihargai. Saya ingin ke depan mereka diberikan penghargaan tersendiri.
Tenaga T) misalnya. Banyak tenaga T) di pengadilan saat ini masih honorer. Padahal peran mereka sangat krusial dalam memajukan pengadilan. Ke depan kita akan coba rumuskan reward yang tepat dan pantas buat mereka.
Saya lihat saat ini ada yang tidak berimbang antara punishment dan reward ini. Di mata masyarakat dan
stakeholders terkait, khususnya media lebih merasa puas untuk memberikan punishment terhadap
kekurangan atau kesilapan yang dilakukan pengadilan dari pada mengapresiasi prestasi yang telah diraih. Kesalahan kecil menjadi berita besar di media seolah-olah seluruh pengadilan buruk semua. Satu dua orang hakim atau pegawai pengadilan berbuat cela seolah- olah seluruh hakim dan pegawai pengadilan jelek semua. Kita perlu memaksimalkan peran humas kita untuk menyeimbangkan itu. Pada umumnya peran humas di pengadilan yang dijabat oleh hakim masih lemah. Maka diperlukan lembaga humas yang menjadi lembaga formal di setiap pengadilan dan mendapatkan tunjangan atau honor tersendiri.
Dalam sebuah acara pembinaan bagi sekretaris pengadilan tingkat banding, Bapak pernah memberikan arahan bahwa sekretaris adalah supporting unit bagi pengadilan. Bagaimana penjelasan Bapak terhadap hal ini?
Ya, sekretaris dan jajarannya adalah supporting unit di pengadilan.
Sebenarnya itu bukan hal yang baru. Ketentuan perundang-undangan memang sudah memposisikan keseketariatan sebagai supporting unit. Mari kita lihat tupoksi utama