asisten di Tim B. Setelah itu ia menjadi asisten koordinator sampai tahun
.
Ketika ada pergantian Wakil Ketua MA, Pak Edi berhenti menjadi askor. Memang de jure ia askor, tapi de facto
tidak menjadi askor. Askor berganti orang seiring pergantian wakil tadi. Selama beberapa tahun ia tidak menjadi askor, tidak juga menjadi asisten.
Kebetulan ia pada waktu itu sedang menyelesaikan kuliah. Jadi ia memiliki cukup waktu luang untuk menyelesaikan kuliah. Kemudian Pak Edi diturunkan menjadi (akim Tinggi di PTA Jakarta. Sebelumnya, pada tahun bersamaan dengan hakim agung Pak Mukti Arto, Pak Edi sudah berstatus (akim Tinggi di PTA Jakarta, hanya saja diperbantukan di Mahkamah Agung.
Setelah turun menjadi hakim tinggi di PTA Jakarta, Pak Edi ditarik lagi ke Mahkamah Agung. Kali ini menjadi Panitera Muda Perdata Agama sejak Juni .
Studi S3 cumlaude
Perjalanan Edi Riadi menyelesaikan studi Doktoral S nya penuh dengan liku. (ampir saja ia tidak tamat studi
S nya di Universitas )slam Negeri U)N Syarif (idayatullah Jakarta. Ada yang mengatakan Pak Edi salah strategi, termasuk almarhum hakim agung Prof. Dr. Rifyal Kabah. (obi membaca Pak Edi membuatnya ingin memasukan semua hal baru yang ia temukan ke dalam disertasinya. Alhasil, bahasan disertasi menjadi tidak fokus, terlalu melebar. Ujung- ujungnya, disertasi pun menjadi agak terbengkalai.
Kebetulan pula, ia memperoleh promotor yang super ketat, Prof. Dr. Atho Mudzhar. Banyak mahasiswa yang menghindar dipromotori tokoh mumpuni dan idealis seperti Prof. Atho. Jangankan promotor, untuk sekedar kuliah saja ada yang menghindar. Pak Edi justru setiap ada mata kuliah Prof. Atho, selalu ikut.
Ceritanya. satu bulan menjelang ujian, Pak Edi akan di-drop out DO
dari kampus. )a datang menemui Prof. Atho. Wah kamu tidak bisa selesai sebulan lagi. Nanti jangan jadi sarjana cengeng. Kalau tinggal satu hari lagi nangis-nangis di depan saya minta tanda tangan, kata Prof Atho waktu itu.
Pak Edi menjawab bahwa ia tidak termasuk mahasiswa seperti
itu. Kalau memang disertasi saya tidak selesai, ya sudah. Saya bukan maqamnya jadi doktor, kata Pak Edi. Oh jangan begitu, kamu teruskan, timpal Prof. Atho.
Pak Edi melanjutkan menggarap disertasi. Tapi tak urung, deadline
penggarapan disertasi pun habis. )a dinyatakan Drop Out. Setelah
itu ia menghadap Prof Atho lagi. )a sampaikan bahwa disertasinya yang berjudul Dinamika Pemikiran Mahkamah Agu ng” sudah habis
tenggat waktunya deadline .
Tapi syukurnya, tidak lama kemudian ada kebijakan dari kampus U)N Jakarta bahwa mahasiswa paska sarjana yang disertasinya sudah selesai tapi deadline habis, dapat
mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru. Pak Edi pun mendaftar ulang dan membayar sebagai mahasiswa baru.
Tidak lama setelah mendaftar menjadi mahasiswa baru, disertasinya langsung diuji. Pak Edi pun lulus
cumlaude.
Karena sebagai mahasiswa baru, saya jadi lulus cumlaude. Coba
kalau sebagai mahasiswa lama, tidak mungkin cumlaude, seloroh Pak Edi.
Dalam disertasinya, Pak Edi meneliti putusan waris. Bukan hanya puluhan putusan waris Mahkamah Agung yang ia kaji, tapi ribuan. Tidak heran jika disertasinya menggambarkan dengan amat jelas bagaimana dinamika pemikirian seputar hukum waris di Mahkamah Agung. Menurutnya, jika ada perkara di MA datang kepadanya, dalam waktu singkat ia akan dengan mudah saja memahaminya. )tu karena sudah ribuan putusan yang ia baca dan kaji.
Selama ujian Pak Edi tidak pernah grogi. Kalaupun grogi, hanya satu atau dua menit di awal-awal ujian. Disertasinya dikerjakan melalui penelitian lapangan. Jadi, di atas kertas, ia sangat menguasai materi.
Kalau teori, dosen yang lebih tahu. Tapi kalau praktik, saya lebih tau, kata Pak Edi meyakinkan diri.
Akhirnya ujian disertasi dibawanya menjadi suasana santai diselingi tertawa para penguji dan pengunjung sidang terbuka promosi doktor. Tak disangka, suasana ujian disertasi yang santai dan penuh canda itu kemudian tereplikasi ketika Pak Edi diuji sebagai calon hakim agung di Komisi Yudisial maupun di DPR.
Pesan Pak Edi
Melalui redaktur Majalah Peradilan Agama, Pak Edi berpesan kepada hakim-hakim juniornya.
Pertama, disiplin waktu dan disiplin
kerja.
Pak Edi dikenal sangat disiplin.
Ketika menjadi asisten hakim agung yang juga mantan Wakil Ketua MA, Pak Syamsuhadi )rsyad, sering kali setiap jam pagi, Pak Syamsu menelepon Pak Edi untuk memastikan apakah Pak Edi sudah di kantor atau belum. Saya tidak tahu, Pak Syamsu ini maksudnya menguji saya atau bukan, kata Edi Riadi.
Meskipun tinggal di Bogor, Pak Edi tidak pernah terlambat ke kantor di Jakarta. )a berangkat dari Bogor sebelum Subuh. Sholat Subuh di stasiun Kereta Api. Bahkan waktu bekerja di PTA Jakarta, kalau jam tujuh pagi baru sampai kantor itu dianggapnya terlambat, karena biasanya jam enam ia sudah standby
di ruangannya.
)tu salah satu disiplin waktu dan
disiplin kerja yang dicontohkan Edi Riadi. Jangan menunda pekerjaan. Begitu ada pekerjaan, selesaikan dulu. Waktu PTA juga kalau saya mau keluar kantor, saya pastikan pekerjaan telah saya selesaikan lebih dahulu, kata Pak Edi.
Pesan kedua, rajinlah membaca.
Pak Edi mengakui bahwa ia bukan ahli baca kitab. Tapi ia prihatin jika mendengar ada hakim peradilan agama apalagi calon pimpinan yang belum lancar membaca kitab. Pak Edi setiap hari menyempatkan diri membaca kitab-kitab ikih, kitab hadits atau kitab lainnya. Dari alokasi waktunya, ia pasti sempatkan membaca kitab kuning, selembar atau pun dua lembar.
|Mahrus AR, Photo: Abdul Rahman|
Dr. Edi Riadi cukup dikenal sebagai hakim progresif yang sangat
menguasai hukum acara dan teknis yudisial. Banyak gagasannya yang out of the box dan cenderung berbeda dengan arus pemikiran mainstream di lingkungan peradilan.
Kepada Tim Redaksi Majalah Peradilan Agama, ia panjang lebar berbagi ide mengenai pembaruan pemikiran dan manajemen kelembagaan. Karena keterbatasan ruangan, edisi kali ini hanya menyajikan beberapa butir gagasannya sebagai berikut:
• Perkara cerai cukup hakim tunggal & ‘Isbat Cerai’
Menurut Edi Riadi, proses penyelesaian perkara khususnya di bidang perceraian harus ada perubahan hukum acaranya. Saat ini hukum acara ()R dan RBG digunakan untuk masalah kebendaan, bukan untuk masalah-masalah kekeluargaan.
(ukum acara di pengadilan agama lebih mengedepankan aspek litigasi, pembuktian-pembuktian. Padahal masalah perceraian dan akibatnya seharusnya mediasi yang dikedepankan.
Bayangkan, sekarang boleh saja Mahkamah Agung
Dr. H. Edi Riadi, S.H., M.H.