Bagian I * diisi oleh peneliti 1 Usia :
Lampiran 6. Lembar Catatan Harian Peneliti CATATAN HARIAN
Hari/tanggal/waktu : Kamis/ 19 Maret 2009/ pukul 08.00 s.d. 09.00 Lokasi : Kantor Badan Lingkungan Hidup Kota Depok Nama Informan : Bapak Indra
Jabatan : Staf Bidang Pemberdayaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Pengelolaan Lingkungan
No. Panduan Pertanyaan Hasil
1. Latar belakang Program Komposting Rumah Tangga
-Adanya undang-undang tentang persampahan, yakni UU No. 18 tahun 2008
-Pengelolaan sampah sebagai isu utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang termasuk dalam Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu (SIPESAT) -Predikat Kota Depok sebagai kota
metropolitan terkotor pada penilaian Adipura tahun 2005 mengingat jumlah timbulan sampah yang meningkat seiring pertumbuhan penduduk beserta aktivitas konsumsi yang mengikutinya
-Lahan TPA Cipayung diperkirakan oleh peneliti hanya mampu menampung sampah kota hingga tahun 2009
2. Waktu dan lokasi pelaksanaan program
Program Mulai Diimplementasikan Pada Awal Tahun 2008 Dan Berjalan Hingga Sekarang Di RW 14 Perumahan Griya Pancoran Mas Indah, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok
3. Tujuan program Secara umum program ini bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam melakukan pengolahan sampah dengan cara 3R (Reuse - Reduce - Recycle) guna mereduksi sampah skala kawasan. Namun secara khusus tujuan khusus program sebagai berikut.
a.Membentuk Kader-kader Lingkungan di setiap RT untuk menjadi motor penggerak kebersihan di lingkungan rumah dan RT-nya. b. Mengajak setiap warga (Rumah) untuk
melakukan pemilahan sampah (organik dan anorganik).
c.Memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk dengan disediakan keranjang “TAKAKURA” d. Memanfaatkan sampah anorganik untuk
menjadi bentuk lain seperti tas, dompet dll. e.Mengubah pola kebiasaan masyarakat yang
tadinya membuang sampah, menjadi memilah dan memanfaatkan sampah bahkan bisa mendatangkan manfaat ekonomis.
f.Mensosialisasikan lubang resapan BIOPORI kepada masyarakat sebagai bagian dari media komposting sekaligus bermanfaat sebagai resapan air.
4. Stakeholder yang terlibat - Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) - Badan Lingkungan Hidup (BLH)
- Komunitas RW Hijau (warga RW 14) 5. Kegiatan yang tedapat
dalam Program
a.Membentuk Kader Lingkungan di setiap RT
b. Pembuatan kompos dari sampah organik dengan Metode Takakura
c.Mengajak warga untuk memilah sampah dan memanfaatkannya untuk dijual ke lapak atau dimanfaatkan untuk kerajinan d. Sosialisasi lubang resapan BIOPORI
sebagai media composting sekaligus sebagai resapan air
6. Sosialisasi program kepada warga
Sosialisasi program kepada warga dilakukan melalui kader-kader lingkungan yang telah dibentuk di setiap RT.
7. Respons warga terhadap program
Sangat baik mengingat program ini demi kebersihan lingkungan sekitar
8. Keterlibatan warga dalam perencanaan dan
pelaksanaan program
Warga dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Dalam perencanaan program warga yang diwakili oleh para tokoh masyarkat turut dilibatkan, sehingg program ini bersifat partisipatif
9. Evaluasi program Hingga saat ini belum ada evaluasi terhadap program yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait. Jika peneliti berkeinginan untuk membantu dalam evaluasi program ini, makapemerintah Kota Depok, dalam hal ini DKP dan BLH akan merasa sangat terbantu sekali.
10. Manfaat Program Dapat mereduksi jumlah sampah skala kawasan yang terangkut ke TPA 11. Kendala dalam
pelaksanaan program
- Warga mulai enggan melakukan composting dengan metode takakura, karena alasan kesibukan kerja
- Kekurangan ketrampilan dalam membuat kerajinan layak jual dari sampah anorganik 12. Upaya yang dilakukan
untuk mengatasi kendala
- Kader lingkungan gencar dalam memotivasi warga untuk terus
yang ada melaksanakan program
- Monitoring rutin oleh ketua RT dan RW setempat
Hari/tanggal/waktu : Kamis/ 19 April 2009/ pukul 14.30 s.d. 15.30 Lokasi : Kantor Badan Lingkungan Hidup Kota Depok Nama Informan : Bapak Maman
Jabatan : Ketua Pokja RW Hijau
No. Panduan Pertanyaan Hasil
1. Kapan dan dimana kelembagaan RW Hijau terbentuk
Kelembagaan RW hijau terbentuk pada bulan Mei 2008 sesaat setelah adanya instruksi dari DKP Kota Depok mengenai pilot project
Program Komposting Rumah Tangga di Perumahan Griya Indah Pancoran Mas (RW 14)
2. Siapa inisiator kelembagaan
Warga RW 14 langsung berinisiatif membentuk kelembagaan RW Hijau 3. Bagaimana proses
pembentukan
kelembagaan RW Hijau
Melalui forum rapat kelompok kerja RW Hijau pada Jumat, 2 Mei 2008 dirumuskan beberapa tahapan dalam pembentukan kelembagaan ini yaitu:
(1)Pembentukan kepengurusan kelompok kerja (POKJA) RW Hijau yang dilaksanakan oleh RW 14
(2)Pembentukan tim pemantauan pelaksanaan pemilahan sampah di setiap rumah tangga (Kader lingkungan) yang diprakarsai oleh ibu-ibu PKK RT masing-masing sebanyak empat orang
4. Apakah fungsi
kelembagaan RW Hijau
sebagai wadah untuk melaksanakan program secara berkelanjutan
5. Apa saja bentuk kegiatan kelembagaan RW Hijau
(1)Rapat persiapan seremonial acara pelatihan komposting sampah rumah tangga sekaligus memeriahkan acara hari lingkungan hidup se-dunia yang akan dihadiri oleh ibu-ibu PKK se-Kota Depok dan pejabat Pemkot Depok Sosialisasi tata cara komposting di setiap pertemuan rapat atau arisan
(2)Pembagian keranjang Takakura, bor Biopori, dan keranjang kawat di setiap RT (3)Pengumpulan barang yang terbuang tapi
mempunyai nilai ekonomis atau nilai jual yang akan ditampung oleh Ketua Pokja melalui ibu-ibu PKK yang ditunjuk dari setiap RT
(4)Menyelenggarakan penilaian kebersihan lingkungan rumah dan penghijauan halaman
6. Struktur kelembagaan RW Hijau
Seiring turunnya surat keputusan dari DKP Depok mengenai pejabat pelaksana teknis kegiatan pilot project composting rumah tangga (SK Nomor. 001/KJL-PPKRT/V/2008) ditetapkan bahwa:
- Ketua RW Hijau: Maman Suparman - Sekretaris: Yaya Suryadarma
- Anggota: Hartawi (ketua RT 01), Husein (ketua RT 02), M. Yusuf (ketua RT 03), Langgeng (ketua RT 06), dan Syahril (ketua RT 07)
7. Bagaimana partisipasi anggota dan pengurus
Anggota dan pengurus berpartisipasi aktif dalam kelembagaan ini
8. Adakah pertemuan rutin? Kapan dan berapa kali dalam seminggu
Ada pertemuan rutin yang dilaksanakan yakni sekali dalam sebulan
9. Bagaimanakah tanggapan warga dengan adanya kelembagaan RW Hijau
Warga mendukung keberadaan kelembagaan ini tetapi hanya di awal saja (aktif tiga bulan pertama program)
10. Apakah kegiatan dalam kelembagaan RW Hijau berlanjut
Hari/tanggal/waktu : Rabu/ 10 Juni 2009/
Lokasi : Kediaman Ibu Atik (blok C8/No.1) Nama Informan : Ibu Atik
Jabatan : Kader Lingkungan RT 05
No. Konteks Hasil
1. Profil Informan Ibu Atik menjadi ibu rumah tangga sejak Mei 2008, sebelumnya beliau bekerja di Carrefour Depok sebagai kepala kasir. Semenjak resign dari Carrefour, beliau mulai aktif di kegiatan sosial masyarakat, seperti arisan RT/RW, pengajian, senam (hari selasa dan jumat), dan kegiatan kebersihan lingkungan.
Keluarga ibu Atik terdiri dari suami (bapak Agus) dan tiga orang anak, yakni Nayaka (SDIT kelas 1), Nairha (TK A), dan Naisha (2 tahun). Bapak Agus bekerja pada malam hari karena mendapat shift malam di bagian sirkulasi harian kota Daily News. Keluarga ibu Atik telah tinggal di perumahan ini sejak tahun 2000.
2. Sejarah Perumahan Awalnya perumahan ini bernama Griya Pasaraya karena diperuntukkan bagi karyawan Pasaraya. Kemudian berubah nama menjadi Griya Indah Pancoran Mas pada tahun 2003.
3. Kegiatan kerja bakti Jarang ada, “palingan kalo ada yang lagi bebersih, kita ikutan bebersih..”
4. Kapan menjadi Kader Sejak resign dari kerja (Mei 2008) sudah 1 tahun menjadi kader
5. Alasan bersedia menjadi kader
Menjadi kader lingkungan ditunjuk oleh RW setempat dan saya bersedia karena saya sekarang sudah tidak bekerja lagi (ibu rumah tangga), sehingga mempunyai waktu lebih
6. Tugas dan kewajiban kader lingkungan
Di setiap RT terdapat pos untuk mengumpulkan sampah anorganik yang dikumpulkan di keranjang belanja di masing-masing rumah tangga, kader bertugas untuk mengambilnya setiap hari minggu dari rumah warga. Namun, ada warga yang mengantarkan sendiri ke pos atau ke rumah kader. Sampah yang sudah terkumpul di pos kemudian diambil oleh lapak.
7. Kendala selama menjadi kader
Alhamdulillah selama menjadi kader tidak mendapat kendala yang berarti, karena warga sangat kooperatif. Misalnya, dalam mengumpulkan sampah anorganik tidak usah menunggu didatangi oleh kader, tetapi warga aktif mengumpulkan ke pos.
Hari/tanggal/waktu : Rabu/ 10 Juni 2009/
Lokasi : Kediaman Ibu Kusmedi (blok /No.) Nama Informan : Ibu Kusmedi
Jabatan : Kader Lingkungan RT 03
No. Konteks Hasil
1. Profil Informan Informan tinggal di perumahan ini sejak perumahan dibangun yakni tahun 1998. Ibu Kus, begitu beliau akrab disapa dulunya seorang wiraswasta. Bersama suaminya beliau membuka toko da menjadi agen distributor aqua gallon, gas elpiji, dan minyak tanah. Usahanya sukses dengan meraup omset maksimal 40 juta rupiah setiap bulannya dan mampu mempekerjakan 4 orang pegawai serta memeiliki 3 buah mobil pick up untuk menjalankan bisnisnya. Namun,semenjak krisis ekonomi usahanya pun terpaksa gulung tikar. Kemudian beliau aktif menjadi kader lingkungan dengan menghasilkan karya dari sampah, seperti ‘menyulap’ potongan sedotan air mineral kemasan gelas menjadi beragam pernak- pernik, seperti taplak, tas, dompet, tempat handphone, dan sebagainya.
2. Kapan menjadi Kader Sejak program bergulir sudah 1 tahun menjadi kader lingkungan ditunjuk oleh RW setempat karena beliau aktif di berbagai kegiatan RT dan juga kreatif.
5. Alasan bersedia menjadi kader
Bersedia menjadi kader lingkungan karena dapat menyalurkan kreativitas yang dimiliki seperti membuat barang-barang kreasi dari sampah
anorganik 6. Tugas dan kewajiban kader
lingkungan
- Mengumpulkan sampah anorganik dari rumah masing-masing warga setiap hari sabtu
- Memantau pengomposan ‘takakura’ sebulan sekali
- Memilah sampah (sesuai jenisnya) yang telah dikumpulkan di pos sampah
- Penyambung lidah RW menyampaikan informasi dari RW kepada warga
- Menyadarkan warga untuk menjaga kebersihan 7. Kendala selama menjadi
kader
- Ada beberapa rumah tangga yang sulit untuk memilah sampah, bahkan ada yang tidak mau mengumpulkan sampah anorganik dan membuat kompos karena mereka merasa highclass sehingga tidak perlu melakukan itu - Kesulitan bahan baku (sedotan air mineral
kemasan gelas) untuk membuat kreasi
- Kekurangan keahlian dalam menjahit dan membuat pola barang yang akan dibua sehingga harus mengandalkan tukang jahit keliling Hari/tanggal/waktu : Rabu/ 20 Juni 2009/ 16.30 s.d. 17.45
Lokasi : Kediaman Ibu Alia (blok /No.) Nama Informan : Ibu Alia dan Ibu Yuni
Jabatan : Kader Lingkungan RT 03
No. Konteks Hasil
1. Alasan menjadi kader lingkungan
Menjadi kader ditunjuk dari RW (karena sebagai RT) kemudian dalam memilih kader lingkungan di RT 2 terpaksa menunjuk karena jarang ada warga yang mau.
2. Pelaksanaam program Kegiatan pemilahan dan pengumpulan sampah anorganik berjalan baik sampai bulan februari 2009, kemudian mandeg karena tidak ada tempat pengumpulan sampah (pos digusur untuk membangun masjid)
3. Penjualan sampah ke lapak Sampah anorganik yang dijual ke lapak mendapatkan harga jual lebih tinggi daripada RT lain karena pemilahan sampah paling rapih dan banyak, sehingga lapak (Bapak Rifai) menjadi senang dan memberikan harga tinggi. Smapi bulan januari-februari 2009 hasil penjualan sampah tertinggi yakni lebih dari Rp 500.000,- 4. Solusi guna keberlanjutan
program
Setiap pertemuan atau arisan, ibu RT selalu mengingatkan untuk tetap memilah sampah dan membuat kompos, namun karena kegiatan ‘mulung sampah’ mandeg jadi menganjurkan warga untuk tetap pilah sampah, tetapi sampah anorganik bias diberikan kepada pemulung atau juga dapat dijual langsung kepada lapak.