HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Lokasi Penelitian
B. Lima Kode Pembacaan 1. Kode Hermeneutika
Kode Hermeneutika terlihat pada aspek pertanyaan, teka-teki dan enigma (kode). Mengapa seorang pria menggunakan pakaian formal tetapi menggunakan sepatu sepakbola? Mengapa dia menendang kotak suara seperti bola kaki? Kenapa dia menggunakan dasi belang- belang berwarna merah putih? Mengapa pria penendang kotak suara tersenyum? Mengapa di jas yang dipakai pria tersebut terdapat logo gedung DPR/MPR RI? Mengapa pria tersebut berkepala botak dan menggunakan kacamata bulat?
Kode visual hermeneutika terlihat pada visual berupa ikon seorang pria; seperti pejabat tinggi legislatif, meyakinkan dengan adanya logo sebuah institusi lembaga legislatif di Indonesia. Visualisasi dari ikon seorang pria menendang merupakan enigma (kode) dan parodi dari perkembangan politik Indonesia sama kotornya dengan perkembangan olahraga sepakbola nasional kita yang tidak jauh dari unsur-unsur kecurangan. Hal tersebut terlihat jika dilihat dari visual hermeneutika yang memperlihatkan seorang ‘oknum’ bermain sepak kotak suara (dibuat seperti permainan sepakbola). Visualisasi dari ikon itu merupakan sebuah enigma (kode) dan parodi dari bagaimana sebuah sistem pemerintahan di Indonesia, khususnya di parlemen dapat mempermainkan aturan atau konstitusi seakan seperti permainan, permainan sepak bola. Permainan sepak bola (sepak kotak suara). Ini seperti yang beberapa waktu lalu terjadi saat tim PSS Sleman bertemu dengan PSIS Semarang pada babak 8 besar Divisi Utama musim 2014. Pertandingan tersebut dimenangkan dengan ‘aneh’ oleh PSS Sleman dengan skor 3 untuk PSS dan 2 untuk PSIS Semarang. ‘Aneh’ di sini adalah skor dicetak oleh proses bunuh diri semua gol-nya. Dicurigai adalah permainan diatur
oleh seorang mafia skor, yang dimana ternyata memang kedua tim telah bersetuju untuk melakukan tindakan kurang terpuji ini.
“Proses kreatifnya ya gampang itu kan. Ini parodi, jenis-jenis ilustrasi salah satunya parodi. Jadi sepakbola, ya jelas ada itu sepak bola, ada yang sportif ada yang tidak sportif. Yang pasti olah raga sepakbola itu ada. Nah, yang ditendang itu pasti kan bola bukan hal yang lain. Nah aku parodi dari situ. Eh, kalo yang ditendang ini kotak suara, itu kan alangkah menyedihkan. Bola selama ini kan ga mendapat apa-apa, tendang sono tendang kemari, masuk dapat piala emang bola? Enggak . Gitu lho, jadi proses kreatifnya seperti itu.(Transkrip Wawancara Jitet, Hal 169 )
Seperti itulah enigma (kode) dari makna visualisasi hermeneutika dari ilustrasi pertama ini. Pemerintahan bisa diobrak-abrik, perubahan UU atau konstitusional dipermainkan sesuai dari permintaan pemimpin (mafia) koalisi, dan itulah bentuk moral dari kegilaan akan kekuasaan yang berujung dengan keinginan menghalalkan segala cara.
“Kita ini kan mengikuti Pemilihan Umum, ada yang bersih dan ada yang kotor. Selalu seperti itu, ada yang money politic, (suara memelan, mendalam) tapi itu kan ga bisa satu-satu digambarkan ke dalam ilustrasi itu. Tetapi setelah mereka mendapat suara terbanyak, ya kan suaranya itu memang buat rakyat. Pertanyaan, itu untuk kesejahteraan rakyat? Ga kan? Terus suara rakyat diapain? Dimainin sama dia. Tendang kesana, tendang kemari. Nanti misalnya aku dapat jabatan, nanti aku tak koalisi sama partai sono. Nanti kalo aku tak dapat kursi. Nah kayak gitu kan, emang untuk rakyat? Ga kan? Gitu lho yang mau aku sampaikan.” (Transkrip Wawancara Jitet, Hal 169)
2. Kode Proaretik (Narasi)
Seorang pria berpakaian semi-formal karena menggunakan sepatu bola terlihat tersenyum bahagia bermain bola kaki. Seorang pria berpenampilan seperti petinggi dan tersenyum saat mempermainkan sesuatu seperti seekor rubah yang senang bermain dengan seekor ayam. Ada sesuatu kepalsuan yang dipancarkan dari permainan itu dan ada tujuan lain kenapa dia bermain sepak bola (sepak kotak) tersebut. Dasi yang berwarna merah putih belang-belang tersebut memperlihatkan kecintaan untuk Indonesia, tetapi lagi-lagi kecintaan tersebut merupakan topeng yang menjadi mantel persembunyian kedok asli dirinya.“Ya
soal-soal suara rakyat itu (menegaskan suara), suara rakyat dimainkan, menjadi
permainan.”(suara kekecewaan).(Transkrip wawancara Jitet, Hal 169). Berkedok Indonesia namun ingin menghancurkan Indonesia. Mata yang sudah tidak bagus lagi memperlihatkan sebuah contoh nyata bahwa mereka-mereka yang pintar ini memiliki ketamakan akan kekuasaan. Senyuman, bibir agak ditarik ke belakang, menjelaskan bahwa pria tersebut senang dalam menjalani permainan sepak bola (sepak kotak) ini. Senyuman kebahagian atas
keberhasilan mempermainkan konstitusi atau UU. Tangan yang terlihat direntangkan seperti sebuah gambaran seekor burung yang lepas dari kandang, terbang tinggi dan bebas. Dalam ilustrasi ini anggota legislatif DPR ataupun MPR RI terlihat bebas akan suatu hal.
Jas hitam dengan bros atau tempelan gedung DPR/MPR RI menjelaskan bahwa ia merupakan anggota legislatif dari DPR atau MPR RI.Dalam hal ini DPR RI lah yang memiliki kewenangan untuk merumuskan atau mengubah konstitusi yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Bisa dikatakan bahwa DPR RI mempunyai peran untuk mengubah nasib bangsa Indonesia menuju kebaikan atau kehancuran. Kaki pria tersebut sangat tinggi terangkat ketika menendang kotak suara. Kotak suara yang lusuh ditendang ke atas dengan kekuatan maksimal, itu menunjukkan sebuah keinginan sebuah euforia atas perginya sang pengganggu. Mungkin pengganggu kekuasaan mereka. “Ya, DPR, karena aku kasih simbol di situ. Ya yang di dadanya.” (Transkrip Wawancara Jitet, Hal 169)
Pada ilustrasi ini bercerita tentang seorang intelektual atau pejabat pemerintahan sebuah institusi lembaga legislatif DPR/MPR RI. Dengan mengenakan pakaian semi-formal karena menggunakan sepatu sepak bola, pria ini terlihat tersenyum bahagia kegirangan ketika menendang sebuah kotak suara. Kotak suara itu digunakan untuk proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Umum (Pemilu). Dalam ilustrasi, pria tersebut menjadikan sebuah kotak sakral, kotak suara menjadi sebuah permainan sepak bola. Sepak bola yang di mana permainannya di Indonesia belum terlalu menjunjung sportivitas. Mafia skor, judi antara klub, dan gaji yang tidak jelas merupakan gambaran dari carut marutnya olah raga nasional ini. Dalam ilustrasi ini, kotak suara dipermainkan, diatur-atur, diubah sesuka hatinya.
“Iya lah, jadi baguslah. Sebelumnya mohon maaf, kalangan menengah ke bawah (yang lebih aktif memperhatikan). Jadi ga bodoh amat, yang penting datang duit. Suara ini, dia ga tau dampaknya. Gitu loh…. Kita nyinyir aja selama lima tahun sekali, kita ngomong soal itu lagi. Lima tahun sekali dibodohin lagi kayak gitu terus
(suara kekesalan). Gitu lho, itu yang pertama terus yang kedua curang. Curang itu maksudnya gini, dari TPS (Tempat Pemungutan Suara –red) itu sendiri mungkin jujur, jumlah suaranya emang segitu. Jadi banyak faktor, nah masalahnya, ayo kita sama-sama. Dari Pemilu itu kawal suaranya untuk sebuah perubahan jika kita bareng-bareng mau. Nah iya diliat, misalnya besok pagi partai ini ngocol, partai ini juga, partai ini juga. Oke saya besok ga pilih dia. Tapi emang yang lain mau begitu kalau dikasih duit, belum tentu. Itu lho yang aku bilang penyadaran. (Transkrip Wawancara Jitet, Hal 169 - 170)
3. Kode Simbolik
Dalam ilustrasi memperlihatkan sesosok yang pintar, berasal dari kalangan DPR/MPR RI. Sesosok yang pintar, mencintai Indonesia namun memiliki sebuah tabiat yang kurang baik yaitu suka mempermainkan kotak suara atau tidak sportif dalam menjalankan perannya dalam pemerintahan. Pria tersebut juga memperlihatkan ketidakseriusan dalam menjalankan pemerintahan, dan keseriusan dalam menancapkan kekuasaannya.
4. Kode Kebudayaan (Cultural)
Pakaian semi-formal para pejabat yang mempermainkan kotak suara tersebut mempunyai arti signifikasi. Pada sebuah sistem pemerintahan khususnya demokrasi, ada pihak-pihak yang menjadi pengganti suara rakyat di parlemen atau badan legislatif. Pada suatu ketika, ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan jabatannya untuk kepentingan pihak-pihak pribadi. Kejahatan itu dikenal dengan kejahatan kerah putih (white collar crime). Ukuran yang digunakan untuk membedakan seseorang melakukan kejahatan kerah putih dari kejahatan lainnya adalah, bahwa tindakan yang dilaksanakan merupakan bagian dari peran jabatan yang dilanggar; suatu peran yang biasanya menempati dunia bisnis, politik, atau profesi (Green dalam Puskom Humas,1990) mengatakan bahwa ini merupakan kejahatan versi baru; berbeda dengan kejahatan tradisional seperti melakukan pencurian atau pembunuhan.
Sutherland (1940) menjelaskan pengertian dari kejahatan kerah putih merupakan kejahatan yang melakukan penguakan, pembeberan keras dan tegas, yang mendokumentasikan pelaku hukum oleh korporasi dan perseorangan dalam eselon masyarakat bagian atas. Simbol dari pria yang menggunakan ini sangat menjelaskan sebuah kejahatan yang tersistematis, rapi, dan termanajemen dengan baik. Pada umumnya dilakukan oleh para broker, pegawai bank, ataupun individu pejabat dari instansi pemerintahan untuk mengeruk keuntungan secara pribadi ataupun organisasi yang berbentuk saham dan lainnya. Pada umumnya kejahatan ini menggunakan jabatan yang dimiliki untuk menggelapkan, menyelewengkan atau melebarkan kekuasaan yang dimilikinya.
Sepak bola merupakan olahraga populer di dunia yang dimainkan oleh dua tim dengan masing-masing tim terdiri dari sebelas pemain. Olahraga tersebut menjadi sangat populer karena mudah untuk diterapkan oleh siapapun dan tidak menuntut harga yang mahal untuk peralatannya. Olahraga sepakbola ini mengintegrasikan kecepatan otak mencari
peluang dan bagaimana seluruh anggota tubuh mampu luwes menjalankan perintah otak. Peraturan dalam sepak bola sangatlah sederhana, sehingga pada penerapannya sering terjadi ketidakpuasan antara tim. Inspektur pertandingan atau wasit kadangkala menjadi sasaran oleh para mafia skor untuk disuap agar memihak salah satu tim. Juga yang baru-baru ini terjadi sepak bola gajah merupakan proses yang dihalalkan oleh kedua tim untuk keuntungan masing. Dalam sejarah sepak bola Indonesia, pertandingan yang menghasilkan lima gol bunuh diri itu bukanlah yang pertama. Pada tahun 1988 sebuah pertandingan Liga Indonesia yang mempertemukan Persebaya Surabaya melawan Persipura FC. Persebaya mengalami kekalahan 12-0 dari Persipura FC. Itu bertujuan untuk menjegal salah satu saingannya PSIS Semarang dengan cara mengalah dengan skor minimal 0-4. Pada pertandingan tersebut lahirlah istilah sepak bola gajah, yang didasari asal wasit yang dari Lampung, di mana gajah-gajah pada saat itu banyak yang bisa bermain bola di Lampung, namun sering melakukan gol bunuh diri.
5. Kode Semik
Ilustrasi ini memuat pesan bahwa seperti inilah gambaran dari kinerja anggota DPR/MPR RI yang bermain-main dalam pemerintahan dan tidak mementingkan rakyat dalam melaksanakan penggubahan atau perumusan konstitusi. Ilustrator menegaskan ini bentuk mengenai apa yang terjadi jika UU Pilkada tersebut disetujui. Dalam ilustrasi ini dapat kita ambil beberapa kesimpulan, yaitu pertama anggota DPR RI bermain atau sedang melakukan sebuah intrik untuk melanggengkan kekuasaan mereka di pemerintahan. Mereka ingin bebas dan terus berkuasa. Kedua, anggota legislatif DPR/MPR RI melakukan tindakan yang berusaha untuk menghancurkan demokrasi itu sendiri. Bahkan kotak suara dari Pemilihan Umum saja ditendang-tendang seperti sepakbola. Ketiga, proses perumusan UU atau konstitusi banyak didalangi oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan kekuasaan pribadi.
“Sebetulnya itu aku belum nemu judulnya (nada keceriaan di suara), karena itu kan bercerita suara rakyat ya kayak sepak bola gajah atau kayak sepak bola senayan (judul ilustrasi pertama) jika ingin diberi judul. Jadi suara rakyat itu dibuat mainan,
dibuat opo… tendang sana tendang kemari gitu lho, dipakai buat mainan.”
4.2.2 Analisis Ilustrasi Kedua (2)
Gambar 4.2
A. Analisis Leksia