• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAERAH PARIWISATA

MEMBANGKITKAN WIRAUSAHA KRAMA DESA SETEMPAT

Gambar 2: Pertandingan Sepak Bola Pantai di Pantai Kuta Dokumen : LPD Desa Adat Kuta

Keterlibatan LPD dalam menguatkan seni-budaya telah menempatkan LPD sebagai bagian dari modal budaya milik desa Adat setempat. Sesuai teori praktik sosial Bourdieu (1990), LPD telah menjadi modal budaya sekaligus sebagai modal ekonomi yang memberdayakan masyarakat Bali. LPD telah menguatkan seni-budaya dan tradisi masyarakat Hindu Bali. Berkat dukungan dana sosial dan dana pembangunan hasil keuntungan LPD, beragam seni kerajian, seni-budaya rakyat Bali (yang tergabung dalam sekaa gong, sekaa pesantian) serta kehidupan adat–keagamaan masyarkat Hindu Bali di tiap-tiap desa adat dapat dikembangkan. Keberadaan LPD dewasa ini tetap pada jati diri kediriannya, membesarkan dan menguatkan induknya, yaitu desa adat setempat yang melaksanakan Tri

Hita Karana.

MEMBANGKITKAN WIRAUSAHA KRAMA DESA SETEMPAT

Eksistensi dan perkembangan LPD tercermin dengan produk dan layanan yang dikembangkan. Secara umum produk layanan LPD adalah tabungan dan deposito, kredit usaha kecil, dan layanan jasa. Beberapa produk LPD desa adat Kerobokan dan Kuta terus dikembangkan sesuai trend pelayanan perbankkan modern. Tabungan dan deposito dikembangkan sesuai haraopan masyarakat setempat. Di LPD Kuta misalnya dikembangkan beberapa produk simpanan, yaitu (a) Simpanan Desa Adat Kuta (SIDESAKU), (b) Simpanan Masa Depan (SIMADE), (c) Simpanan Cerdas Anak Sekolah (SICERDAS), (d) Taksu Punia, yakni tabungan khusus krama Desa Adat Kuta yang berfungsi sebagai dana sosial dan non profit. Pesertanya hanya satu kali menyetor tabungannya sebesar Rp 100.000,00. Manfaatnya adalah yang bersangkutan akan mendapatkan santunan dari LPD Desa Adat Kuta sebesar Rp 2.500.000,00 pada saat meninggal dunia. Konsep produk ini sesuai dengan falsafah orang Bali yakni menyama braya atau tolong- menolong, dari LPD Desa Adat Kuta kepada krama Desa Adat Kuta.

LPD Desa adat Kerobokan dan Kuta juga mengembangkan berbagai produk pinjaman (kredit) untuk usaha masyarakat desanya, termasuk Pinjaman Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Krama LPD dan Pinjaman Program Community Base Development (CBD). Selain itu LPD juga memberikan pelayanan jasa yang amat dibutuhkan oleh nasabahnya. Diantara layanan jasa yang dikembangkan oleh LPD Desa adat Kerobokan dan Kuta adalah pembayaran listrik, telepon, pembayaran rekening air PDAM, dan pembayaran samsat kendaraan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, jasa fotocopy, dll. Pinjaman atau kredit yang dikucurkan kepada nasabah LPD terus meningkat seiring dengan respons positif masyarakat dalam memanfaatkan „jasa perbankan LPD‟. Dalam mengucurkan kredit, LPD Desa Adat Kerobokan dan Kuta mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia, yakni LKM di Indonesia termasuk LPD harus mempertahankan rasio pinjaman terhadap dana yang dihimpun (loan to

133 menjamin keamanan dana masyarakat yang ditempatkan di LPD (Arsyad, 2008:159). Evaluasi terkait

Loan to deposit ratio (LDR) terhadap LPD Desa Adat Kerobokan menunjukkan bahwa jumlah kredit

yang diberikan pada tahun 2008 sebesar Rp.36.093.379.150,00 sedangkan simpanan berjumlah Rp.53.783.706.992,00, sehingga LDR tahun 2008 sebesar 67,11 persen, sedangkan pada tahun 2009 jumlah kredit yang diberikan sebesar Rp.48.157.705.350,00 dan jumlah simpanan sebesar Rp.63.822.836.904,00 dengan tingkat LDR sebesar 75,46 persen. Selanjutnya, jumlah kredit yang disalurkan LPD Desa Adat Kuta pada tahun 2008 sebesar Rp 91.227.039.855,00, sedangkan simpanan berjumlah Rp.125.584.909.641,00, sehingga LDR tahun 2008 sebesar 72,64 persen, sedangkan pada tahun 2009 jumlah kredit sebesar Rp.131.864.220.430,00 dan jumlah simpanan sebesar Rp.159.640.168,00 sehingga LDR tahun 2009 sebesar 82,60 persen (Sadiartha, 2016).

Keberadaan LPD berdampak positif bagi pengembangan usaha masyarakat setempat, termasuk Ni Luh Putu Sri Winanti, seorang nasabah penerima kredit puluhan juta rupiah dari LPD Desa Adat Kerobokan untuk pengembangan usaha kargo. Usaha kargo yang berlokasi di Padangsambian Klod telah melayani pengiriman barang dengan daerah tujuan utama ke Australia. Usaha Winanti terus berkembang, memperkejakan sebanyak 25 orang karyawan. Ia menjadi nasabah yang loyal terhadap LPD Kerobokan seperti penuturannya berikut ini:

“Saya memilih LPD Desa Adat Kerobokan karena saya sudah kenal baik dengan pengurusnya. Tempat tingal saya dekat dengan LPD, saya lebih mudah untuk menarik dan menyetor uang. Apalagi hari sabtu LPD buka, tidak seperti bank umum sehingga saya sangat terbantu apabila kekurangan modal untuk menarik dana saya di LPD. Banyak bank umum yang menawarkan produknya kepada saya, akan tetapi saya tetap memilih LPD Desa Adat Kerobokan karena sudah sejak lama saya dibantu dan saya tetap menyimpan dan mempergunakan kredit dari LPD Kerobokan (Sadiartha, 2016).

Ungkapan Sri Winanti menggambarkan loyalitas seorang nasabah LPD. LPD dianggap cepat memberikan pelayanan pada waktu ia membutuhkan dana. Dalam waktu dua hari kredit sudah dicairkan sehingga nasabah merasa terbantu pada saat mengalamai kesulitan keuangan.Pilihan Ni Luh Putu Sri Winanti untuk memilih layanan jasa keuangan LPD ini sesuai teori praktik sosial (Bourdieu, 1990) bahwa ranah operasional LPD di desa adat memang dibutuhkan oleh masyarakat desa adat setempat. Kehadiran LPD telah dirasakan manfaatnya oleh krama desa setempat untuk mendukung pengembangan usahanya.

Nasabah lainnya yang menikmati fasilitas kredit LPD Kerobokan adalah I Nyoman Sadrah Indrayana, pemilik Indra Mart yang berlokasi di Jalan Sember, Kerobokan. Pemilik Indra Mart ini telah sepuluh tahun menjadi nasabah LPD Desa Adat Kerobokan, menyerap tenaga kerja sebanyak 75 orang karyawan. Berbagai kebutuhan rumah tangga untuk konsumsi masyarakat yang dekat dan yang lewat disediakan roti, minuman kaleng, gula, kopi, pakaian dan juga alat-alat rumah tangga tersedia di mini market yang berlokasi di Banjar Semer, Kerobokan ini. Mini market ini mampu menyediakan kebutuhan pokok masyarakat di sekitarnya.

Selain mendukung usaha mini market, kredit LPD Kerobokan juga mendukung usaha jasa akomodasi. I Made Ariyasa misalnya menjadi penerima kredit LPD Kerobokan yang memanfaatkan lahannya untuk apartemen lengkap dengan kolam renangnya (Gambar 3).

134 Gambar 3: Apartemen yang dibantu dari Kredit LPD

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Apartemen I Made Ariasa terdiri dari dua puluh kamar dengan sewa mencapai Rp10.000.000,00 sebulan per kamar dan Rp 450.000,00. Per hari Apartemen ini menyerap tenaga kerja sebanyak 50 orang, berasal dari warga setempat. Bangunan apartemen ini terdiri atas dua lantai, yaitu di lantai pertama terdapat sepuluh kamar dan lantai dua sepuluh kamar.

Asaha kargo, mini market dan jasa akomodasi (apartemen, villa) memang bisa dikembangkan di sekitar wilayah pusat pariwisata Kuta dan kerobokan. LPD setempat turut andil mdalam meberikan pembiayaan usaha yang terkait dengan sektor pariwisata ini. Kucuran kredit LPD Desa Adat Kuta dan LPD Desa adat kerobokan telah menggairahkan wirausaha krama desa setempat. Wirausaha ekonomi yang dikembangkan masyarakat Desa adat Kuta dan Kerobokan antara lain diwujudkan dengan membuka toko seni, warung sembako, toko asesoris, souvenir, pedagang kaki lima dan berjualan di kios-kios pasar-pasar tradisional. Dua pasar tradisional yang didukung LPD adalah pasar Seni Kuta, Kecamatan Kuta dan krama Desa Adat Kerobokan yang berjualan di Pasar Taman Sari, Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara Kabupten Badung. Kedua pasar tradisional di pusat aktivitas pariwisata Kuta ini memang dikelola oleh desa adat setempat. Para pedagang yang berjualan di Pasar Taman Sari Kerobokan mendapatlan modal usaha dari LPD Desa Adat Kerobakan, sedangkan ratusan pedagang di Pasar Seni Kuta mendapatkan dukungan permodalan (kredit usaha) dari LPD Desa Adat Kuta.

Gambar 4: Pasar Taman Sari Kerobokan Sumber: Dokumentasi Peneliti

Lokasi Pasar Taman Sari berada di pinggir jalan. Pasar ini milik pribadi, sehingga

fasilitas kredit yang diberikan dipergunakan untuk membangun kios-kios dengan jumlah

135

kurang lebih 30 kios. Di dalam pasar terdapat rumah makan masakan Bali, sate kambing dan

ayam, dan beberapa masakan dari daerah Jawa. Selain itu di dalam pasar dijual pula kebutuhan

rumah tangga dan jenis daging seperti ayam dan sapi. Kebutuhan tas, pakaian, serta beberapa

penjual canang dari Bali ada di kelompok sisi sebelah dalam. Sebagian besar pedagang di

pasar Taman Sari mejadi nasabah LPD Desa Adat Kerobokan.

Gambar 5: Pasar Seni Kuta, Sumber: Dokumentasi Peneliti

Selain itu, di wilayah Kuta terdapat Pasar Seni Kuta. Gambar 5 menunjukkan papan nama LPD Desa Adat Kuta dan pasar seni Kuta. Tulisan ini mencerminkan bahwa LPD Desa adat Kuta memang menjadi mitra potensial bagi para pedagang yang berjualan di Pasar Seni Kuta yang banyak dikunjungi para turis ini. Salah satu nasabah LPD Desa Adat kuta yang berjualan di Pasar Seni Kuta adalah Ni Nyoman Ariani, 42 tahun. Ia telah menjadi nasabah LPD Desa Adat Kuta lebih dari 10 tahun. Ia bersama teman-teman pedagang di Pasar Seni Kuta lainnya memperoleh kredit dari LPD Desa adat Kuta. Ia merasa terlayani karena bisa menabung tiap hari kepada petugas LPD yang datang tiap hari ke kiosnya, seperti uangkapannya sebagai berikut:

“Saya dilayani dengan baik karena petugas LPD Kuta datang menjemput tabungan. Rata-rata saya menabung Rp 50.000,00-Rp 100.000,00 per hari. Sebagian tabungan yang saya setorkan, dipergunakan untuk membayar kredit pada akhir bulan. Tanpa terasa, saya selalu bisa melunasi kredit LPD yang saya pinjaman” (Sadiartha, 2016)”.

Itulah testimoni terkait pelayanan LPD Desa Adat Kuta. Ariani dan puluhan pegang di Pasar Seni Kuta lainnya bisa mengembangkan wirausahanya berkat kucuran kredit LPD desa setempat. “Budaya melayani konsumen sepenuh hati” seperti yang diterapkan oleh bank-bank komersial umum lainnya, juga diterapkan oleh LPD. LPD berperan dalam mengatasi permasalahan masyarakat desa adat di Bali. Strategi pencairan kredit LPD yang relatif cepat telah menguatkan citra postif LPD bagi krama desa setempat (Sadiartha, 2016). Pelayanan LPD telah berhasil membangun kepuasan dan loyalitas para nasabahnya. LPD telah menguatkan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat desa adat setempat (Yoni, 2005; Sadiartha, 2016). LPD telah mampu menopang penguatan adat, budaya dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

136 2. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Aset dan laba LPD desa adat Kerobokan yang didirikan tahun 1991 dan LPD Desa adat Kuta yang didirikan pada tahun 1995 terus berkembang. Dukungan dana pembangunan (20%) dan dana sosial (5%) keuntungan kedua LPD tersebut mampu membankitkan seni-budaya masyarkat desa setempat. Selain itu kucuran kredit LPD juga telah menumbuhkan kegiatan wirausaha masyarakat setempat.

Saran

Peran LPD yang memberdayakan masyarakat desa di pusat pariwisata ini perlu dipertahankan dan dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, lincolin, 2008. Lembaga Keuangan Mikro Institusi, Kinerja, dan Sustanabilitas. Yogyakarta: ANDI

Bourdieu, Pierre. 1990. (Habitus X Modal) + Ranah= Praktik : Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Bourdie. Bandung: Jalasutra. Sumber terjemahan An Introduktion to the work of Pierre Bourdie: The Practice Theory. Editor Richard Harker. 1990. The Macmillan Press Ltd: London.

LP-LPD. 2017. Neraca Lembaga Perkreditan Desa periode 2011 – 2016.

Dendawijaya, Lukman. 2005. Manajemen Perbankan, Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Koperasi dan UKM, dan Gubernur Bank Indonesia, dengan Nomor: 351.1/KMK.010/2009, Nomor: 009-639 A Tahun 2009, Nomor: 01/SKB/M.KUKM/2009, dan Nomor: 11/43A/KEP.GBI/2009, tanggal 7 September 2009, tentang Strategi Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro. Pemerintah Provinsi Bali. 2002. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang

Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2012 tentang Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Sadiartha, Anak Agung Ngurah Gede. 2016. Implementation of Tri Hita Karana - Based Organizational Culture by Lembaga Perkreditan Desa at Kuta Traditional Village. Discovery, Vol. 52, No. 252, December 1, 2016. Diakses 1 Desember 2016.

Sadiartha, Anak Agung Ngurah Gede. 2016. Hegemoni dan Kontra Hegemoni Pengelolaan Lembaga

Perkreditan Desa. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denasar.

Rosyad, Soleh dkk. 2012. Pengaruh Human Relation Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Dinas Pendapatan Dan Pengelolaan Keuangan Daerah Di Kabupaten Lebak, E-jurnal Management, Volume 1 Nomor 2, Tahun 2012, hlm., 2.

Undang-Undang Pemerintah RI No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaka Keuangan Mikro (LKM)

Yoni, I Gusti Ayu. 2005. ”Peran Serta Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Parakyatn Ubung, Denpasar dalam Menunjang Kewirausahaan Nasabahnya: Perspektif Kajian Budaya” Tesis. Denpasar: Universitas Udayana.

Biodata Penulis:

Dr. Anak Agung Ngurah Gede Sadirtha, MSi, MM, kelahiran Denpasar pada tanggal 5 Mei 1961. Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Penulis menamatkan sarjana S1 Jurusan Manajemen Perbankan pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ABI di Surabaya (1986), lulus Program Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar (2005), tamat doktor di bidang Kajian Budaya, Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar (2011). Sebelum menjadi akademisi, penulis juga sebagai praktisi perbankan: tenaga honorer di Dolog Bali 1986, bekerja di Bank Duta Denpasar (1989-2002), Pengajar di sekolah Kepribadian

137 John Robert Power Denpasar (2003-2007), menjadi tim penyempurnaan Peraturan Daerah Pemerintah Provinsi Bali No. 4 Tahun 2012 tentang Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Penulis aktif menjadi narasumber di berbagai petemuan lokal maupun nasional seputar masalah manajemen, Lembaga Perkreditan Desa dan budaya Bali. Karya ilmiah penulis antara lain diwujudkan dalam bentuk buku, yaitu: Hegemoni dan Kontra Hegemoni Pengelolaan Lembaga Perkreditan Desa (2016) dan Budaya

Entrepreneurship Dalam Tradisi Masyarakat Hindu Bali (2016) yang diterbitkan oleh Universitas

138

PELUANG DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN WISATA MICE DI

BATAM

I Wayan Thariqy Kawakibi Pristiwasa

Politeknik Pariwisata Batam, 1028098303

[email protected]

Abstract

This study aims to find the opportunity components and development of mice tourism in the form of strategic plans that can be developed to determine the challenges of mice tourism development and improve the welfare of the community. This research uses descriptive qualitative research method with reference to the concept of tourism development mice. Population in this research is in the form of social situation with the participant that is in it that is Government and perpetrator of tourism, tourist and community. Intruments in this study are observation, and interviews using model coding, interpretation and congrulation. The results of this study indicate that the development of mice tourism can bring positive and negative impacts. Positive impact can be seen in the improvement of the community's economy and also contributes to the acquisition of local revenue while negative impacts such as availability of accessibility and amenity.

Keywords: Tourism Mice, accessibility, amenity, government, stakeholder, community

1. PENDAHULUAN

Pariwisata merupakan salah satu sektor utama dalam sumber penerimaan devisa Negara di Indonesia disamping minyak dan gas bumi, kelapa sawit, batu bara, dan karet olahan. Keberagaman pariwisata dimiliki oleh Indonesia, seperti wisata alam, wisata buatan, dan wisata minat khusus. Salah satunya yaitu Wisata MICE yang pada saat ini menjadi tren baru yang berbasis pada aktifitas untuk pemenuhan keinginan wisatawan secara spesifik. Wisata MICE dapat menjadi sebuah indikator kuat bagi pembangunan pariwisata di Indonesia, dalam penyelenggaraannya membutuhkan infrastruktur dan pengelolaan yang baik terutama jika event ini diadakan secara nasional maupun internasional.

Pengembangan wisata mice di batam propinsi kepulauan riau masih berjalan di tempat seperti masih minimnya fasilitas dan amenitas . peluang dan tantangan menjadikan batam sebagai daerah tujuan wisata mice membuka lapangan kerja dan mempengaruhi peningkatan pendapatan daerah dan memiliki kepedulian terhadap pengembangan pariwisata ,melibatkan masyarakat local dan menjaga kelestarian budaya masyarakat setempat.

Beberapa ahli mendefenisikan pengertian wisata mice adalah akronim meetings,incentives,conventions dan exhibitions ( Webber dan zhang 2012). kegiatan wisata mice melibatkan berbagai sektor seperti transportasi, perjalanan, rekreasi, akomodasi, makanan dan minuman, tempat penyelenggaraan acara ,teknologi informasi, perdagangan dan keuangan sehingga wisata mice dapat di gambarkan sebagai industri multi faset.di banyak daerah kegiatan mice di kategorikan di bawah payung industri event ( Dwyer dan mistilis 2000;getz,2008 dalam seebaluck et al,2013).

Setiap istilah di dalam kegiatan wisata mice memiliki arti yang berbeda-beda walaupun kegiatan mice itu sendiri merupakan kegiatan jangka pendek yang memiliki signifikansi ekonomi yang besar bagi pariwisata ( law 1987 pearson dan mckanna dalam Hall :2003). Istilah meeting dalam mice

139 dapat didefenisikan sebagai suatu acara terstruktur yang dapat menyatukan sekumpulan orang secara kolektif untuk mendiskusikan topik yang menjadi kepentingan bersama.( seebaluck at al:2013).

Menurut mair ( 2009) meting umumnya membahas masalah dengan substansi yang relatif kecil dengan jumlah delegasi dan biasanya dapat di selenggarakan di lingkungan perusahaan ,hotel atau ruang pertemuan.

Meeting juga dapat di defenisikan sebagai berikut

It‘s a gathering of 10 or more participants for a minimum of 4 hours in a hired venue. The term ‗meetings‘ include conventions, conferences, congresses, trade shows and exhibitions, incentive events, corporate and business meetings, and other meetings and all exclude social activities (wedding receptions, holiday parties, etc.), permanently established formal educational activities (primary, secondary or university level education), purely recreational activities (such as concerts and shows of any kind), political campaign rallies, or gatherings of consumers or would-be customers by a company for the purpose of presenting specific goods or services for sale (consumer shows), which would rather fall under the scope of retail or wholesale trade.(UNWTO dalam Seebaluck et al., 2013, p.2).

Incentives travel dalam MICE adalah kegiatan perjalanan yang semua biaya perjalanannya

ditanggung oleh organisasi sehingga dapat digunakan sebagai faktor yang memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja dalam memenuhi tujuan yang diinginkan organisasi, seperti target penjualan (Rogers, 2003; Campiranon dan Arcodia, 2008 dalam Seebaluck et al., 2013). Istilah incentive mengacu kepada jenis perjalanan di mana sebuah perusahaan membayar karyawannya untuk bepergian, untuk menghadiri konferensi atau pameran, untuk kesenangan, sebagai penghargaan atas kinerja yang berhubungan dengan pekerjaan (Mair, 2009).

Conferences merupakan elemen ketiga dari wisata MICE yang dapat diartikan sebagai suatu

pertemuan partisipatif yang dirancang terutama untuk tujuan diskusi, mencari dan berbagi informasi, memecahkan masalah dan konsultasi. Conferences biasanya memiliki keterbatasan waktu dan memiliki tujuan khusus (Seebaluck et al., 2013). Conference mirip dengan meeting di mana suatu acara conference melibatkan 10 orang atau lebih selama minimal empat jam dalam satu hari atau lebih dan kegiatan conference diadakan di luar perusahaan itu sendiri (CIC, 2011 dalam Seebaluck et al., 2013).

Istilah exhibitions digunakan untuk menggambarkan event yang dirancang untuk mempertemukan pemasok produk, peralatan industri dan jasa di suatu tempat di mana para peserta dapat mendemonstrasikan dan mempromosikan produk dan jasa yang mereka tawarkan (Montgomery dan Strick, 1995 dalam Hall, 2003). Exhibitions dapat berkaitan dengan perdagangan dari industri tertentu saja di mana seluruh pengunjung bekerja dalam industri terkait yang sedang dipamerkan, atau exhibitions bisa terbuka untuk umum sehingga setiap orang dapat menghadiri exhibitions tersebut (Mair, 2009). Exhibitions juga dikenal sebagai exposition karena exposition memiliki tujuan untuk mempertemukan pemasok yang berbeda di dalam suatu lingkungan di mana para suplier tersebut dapat mempromosikan produk atau jasa mereka kepada peserta exhibitions (Seebaluck et al., 2013). Fokus utama dari kegiatan ini adalah menciptakan hubungan antar bisnis – business to business relationship - baik untuk mempromosikan produk baru maupun untuk mendapatkan klien baru (Fenich, 2005; Jurisevic, 2002 dalam Seebaluck et al., 2013).

Menurut ( Crouch dan Ritchie , 1998 dalam crouch dan louviere 2004) di dalam Pengembangan wisata mice terdapat faktor utama yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan tersebut yaitu:

1. Aksesbilitas 2. Dukungan lokal

3. Peluang kegiatan tambahan 4. Fasilitas akomodasi

140 6. Informasi

7. Keadaan lokasi 8. Kriteria lainnya

Ketersediaan faktor utama yang mempengaruhi kegiatan tersebut dapat mempengaruhi pengambilan keputusan mengenai lokasi diadakannya wisata MICE. Bahkan faktor keamanan di lokasi rapat dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peringkat suatu destinasi potensial untuk diselenggarakannya wisata MICE.

Batam sebuah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galangdan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. memiliki Visi Pariwisata terwujudnya “Batam Sebagai Kawasan Budaya Bangun Bangsa dan Menjadi Pintu Gerbang Pariwisata Indonesia Bagian Barat ” dan memiliki Misi “ Mengembangkan Industri Pariwisata yang Berdaya Saing, Destinasi yang unggul serta pemasaran dan promosi pariwisata yang berkelanjutan ” Peluang dan tantangan pengembangan wisata mice di batam mengacu terhadap UU no 9 tahun 1990 menjelaskan bahwa wisata mice merupakan suatu kegiatan yang di selenggarakan oleh suatu badan atau lembaga tertentu dan mitra untuk membahas suatu pertemuan untuk mencapai suatu hasil dari pertemuan tersebut. 2. METODE PENELITIAN

Hal yang di kaji penulis dalam penelitian ini adalah mengenai peluang dan tantangan pengembangan wisata mice di Batam. Penelitian ini di lakukan berdasarkan observasi langsung oleh peneliti langsung di lokasi objek penelitian. Sedangkan, untuk data sekunder, peneliti juga mendapatkan bantuan dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang berkutat di masalah pariwisata yaitu Dinas Pariwisata. Wawancara, observasi, dan studi dokumentasi adalah berbagai macam cara dan metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Dalam rangka pengumpulan data sekunder maka peneliti menggunakan wawancara. Sedangkan dalam rangka pengumpulan data primer, peneliti melakukan observasi langsung dan juga melakukan studi dokumentasi selama beberapa hari di lapangan. Dalam proses ini, peneliti juga melakukan wawancara tidak terstruktur terhadap warga sekitar kawasan wisata. Pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul. Dalam proses pengolahan data ini dilakukan proses pemilahan dan pengelompokan terhadap data yang diperoleh langsung di lapangan serta data sekunder. Hasil dari pengklasisfikasian